NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 — Di Balik Pintu yang Tertutup

Festival itu berakhir tanpa penutup yang megah.

Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada teriakan terakhir. Hanya bunyi besi bertemu besi saat properti panggung diturunkan, kain dekorasi Halloween yang sebelumnya menari kini terkulai lesu, dan kabel-kabel hitam digulung kembali ke peti seolah suara yang pernah mengalir di dalamnya tak pernah ada.

Lampu panggung mati satu per satu.

Yang tersisa hanyalah cahaya lampu taman kampus yang kekuningan dan langkah-langkah panitia yang menyeret tubuh lelah mereka pulang.

Silent Echo masih berada di belakang panggung.

Tapi satu orang tidak.

Ren berdiri di sisi tangga, tubuhnya kaku, seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya bergerak. Matanya menyapu setiap sudut dengan harapan yang semakin tipis. Lorong gedung musik. Area parkir. Tenda logistik yang kini hanya bayangan gelap.

Tidak ada Airi.

Tidak ada jaket hitam itu.

Tidak ada rambut panjang yang biasanya diikat asal.

Tidak ada suara yang memanggil nama mereka dengan nada meminta maaf.

“Dia ke mana?” gumam Haruto.

Suaranya terdengar asing, bahkan bagi dirinya sendiri.

Mei menggeleng pelan. Riasan Halloween di pipinya kini tampak seperti noda yang salah tempat. “Airi nggak balik ke sini, Ren.”

Ren menoleh cepat. “Enggak.”

Satu kata. Terlalu pendek. Terlalu kosong.

Yukito berdiri agak menjauh. Stik drumnya masih berada di tangannya, digenggam terlalu erat sampai ruas jarinya memutih. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya berputar mundur, memutar satu adegan yang sama berulang-ulang.

Bunyi mikrofon jatuh.

Tatapan Airi yang kehilangan pijakan.

Langkahnya yang mundur.

Lalu lari.

“Itu bukan panik biasa,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh angin malam. “Itu kayak… orang yang ditarik balik.”

Hinami yang sejak tadi memeriksa daftar panitia berhenti. Clipboard di tangannya turun sedikit. “Ditarik ke mana?”

Yukito mengangkat bahu kecil, gerakan yang tak meyakinkan siapa pun. “Ke tempat yang sama,” katanya lirih. “Ke pola yang sama.”

Kata-kata itu tidak menjelaskan apa pun, tapi udara terasa makin berat.

“Kita cari,” kata Hinami tegas.

Mereka berpencar tanpa banyak bicara.

Ren menyusuri lorong gedung musik dengan langkah cepat, membuka setiap kemungkinan yang tersisa. Haruto menuju area parkir, menyusuri barisan motor dan mobil yang mulai berkurang. Mei berlari kecil ke arah stand makanan, bertanya pada panitia yang masih membereskan.

Yukito tetap di dekat panggung.

Berdiri seperti penjaga waktu, seolah Airi bisa muncul begitu saja dari balik tirai dan berkata ia hanya butuh udara sebentar.

Tidak ada.

Waktu bergerak dengan cara yang kejam. Tidak berlari, tidak berhenti. Hanya menekan.

Pukul sepuluh lewat.

Sebelas kurang sedikit.

Lampu kampus mulai diredupkan.

Hinami kembali dengan langkah cepat. Wajahnya tidak lagi sekadar lelah. Ada sesuatu yang mengeras di sana. “Aku cek daftar izin. Airi nggak ada laporan pulang lebih dulu. Nggak ada yang lihat dia keluar.”

Perut Ren terasa mengeras, seperti ditarik ke dalam.

Ia mengeluarkan ponsel. Menekan satu nama yang sudah terlalu sering ia hubungi malam ini.

Tidak aktif.

“Airi…” gumamnya, lebih seperti doa.

Lalu ponselnya bergetar.

Bukan dari Airi.

Nama yang muncul membuat jantungnya seolah jatuh ke perut.

Ibu Airi.

Ren menelan ludah sebelum mengangkatnya. “Halo, Bu.”

Suara di seberang terdengar ditahan, rapuh di sela kesopanan. “Ren? Maaf ganggu malam-malam. Airi belum pulang. Dia juga nggak ngabarin. Biasanya… biasanya dia selalu bilang.”

Ren menutup mata.

Maaf.

Kata itu sudah siap di lidahnya, tapi terasa terlalu kecil.

“Bu,” katanya pelan, memaksa suaranya stabil. “Airi masih di kampus tadi. Kami lagi nyari.”

“Nyari?” Suara itu naik sedikit. Bukan marah. Panik yang bocor. “Kenapa nyari?”

Ren meremas ponselnya. “Ada kejadian di panggung. Dia kelihatan nggak enak badan.”

Di seberang sana, ada jeda. Napas yang ditahan.

“Kenapa kamu nggak jaga dia?” suara itu bergetar.

Kalimat itu menghantam tepat di dada Ren.

Kenapa kamu nggak jaga dia?

“Itu salah saya, Bu,” jawab Ren tanpa ragu.

Ia tidak menyalahkan festival. Tidak menyalahkan jadwal. Tidak menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.

“Airi janji pulang,” lanjut ibunya lirih. “Kalau ada apa-apa—”

“Kami akan cari sampai ketemu,” potong Ren cepat, takut suaranya pecah. “Saya janji.”

Telepon ditutup dengan doa yang tak sempat diucapkan.

Ren menurunkan ponsel. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa kehilangan kendali.

Hinami mendekat. “Ibu Airi?”

Ren mengangguk. “Dia khawatir.”

“Ini bukan sekadar butuh waktu sendiri,” kata Hinami tegas.

Ren tahu itu. Dan pikirannya sudah berlari lebih jauh, menyusun potongan-potongan kecil yang membentuk bayangan yang tidak ia sukai.

Airi menjauh darinya.

Ren mengepalkan tangan.

Di sisi lain kampus, jauh dari cahaya dan sisa kebisingan, Airi duduk di kursi penumpang mobil Takahashi.

Jalanan lengang. Lampu kota memantul di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang bergerak lambat. Airi memeluk tasnya di pangkuan. Jari-jarinya saling bertaut, lalu terlepas, lalu bertaut lagi.

“Kamu nggak perlu pulang malam ini,” kata Takahashi lembut. “Kondisimu belum stabil. Aku nggak mau kamu sendirian.”

Airi mengangguk kecil.

Ponselnya ada di dalam tas. Layar gelap. Ia tahu ibunya mungkin menunggu. Ia tahu Ren mungkin mencarinya. Pikiran itu muncul, lalu tenggelam di bawah suara Takahashi yang tenang, teratur, seolah dunia sedang baik-baik saja.

“Kamu butuh istirahat,” lanjutnya. “Di tempatku kamu aman.”

Mobil berhenti di depan sebuah apartemen sederhana namun rapi. Terlalu sunyi untuk malam festival. Tidak ada tawa. Tidak ada musik.

Takahashi turun lebih dulu, membukakan pintu.

Airi ragu sepersekian detik, lalu ikut keluar.

“Masuk saja,” katanya lembut. “Besok kita bicara pelan-pelan.”

Pintu apartemen menutup di belakang mereka.

Bunyi yang terlalu tenang.

Di kampus, Ren berdiri di bawah lampu taman yang hampir padam. Angin malam membawa sisa musik dari kejauhan, seperti gema yang datang terlambat.

“Aku seharusnya ngejar dia dari awal,” katanya pelan.

Haruto menoleh. “Ren—”

“Aku lihat dia goyah,” lanjut Ren. “Aku lihat. Tapi aku pikir… dia kuat.”

Yukito mendekat. “Ini bukan soal salah satu dari kita.”

“Tapi aku janji ke ibunya,” kata Ren lirih.

Kalimat itu membuat semuanya diam.

Hinami menatap gedung klinik dari kejauhan. Terlalu rapi. Terlalu sepi.

“Ada pintu yang tertutup malam ini,” katanya pelan. “Dan Airi ada di balik salah satunya.”

Ren mengangkat kepala.

Firasat itu tidak lagi samar.

Ia jelas.

Dan ia datang terlambat.

Malam semakin dalam.

Dan di antara kampus yang kembali sunyi, satu pintu tertutup rapat—menyimpan seorang gadis yang percaya ia akhirnya aman.

Sementara di luar, orang-orang yang mencintainya baru menyadari bahwa kehilangan itu nyata.

---

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!