NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Baru Tanpa Zizi

Rumah itu sama, tapi terasa lebih kosong.

Arman membuka kemejanya dengan gerakan kesal. Ruang tamu rapi, terlalu rapi, seolah tidak pernah benar-benar ditinggali. Tidak ada aroma masakan, tidak ada suara langkah lembut, tidak ada perempuan yang menyambutnya di depan pintu.

Sejak hari itu.

Sejak Zizi berjalan keluar dari kehidupannya dengan kepala tegak tanpa menoleh lagi.

Anggun duduk di sofa sambil menyeduh teh. Wajahnya terlihat puas, bukan sedih. “Sudah kubilang dari awal,” gumamnya ringan. “Perempuan itu memang tidak pantas untuk keluarga kita. Sekarang hidupmu lebih ringan, kan?”

Arman tidak menjawab. Ia hanya duduk dan menyalakan televisi, tapi tidak benar-benar menonton. Ada jeda di dadanya yang tidak mau ia akui sebagai sepi.

Yang ia pikirkan hanya satu hal:

Bagaimana Zizi hidup sekarang?

Ia membayangkan Zizi keluar dari rumah tanpa tempat tujuan, mungkin bekerja serabutan, mungkin tinggal di kamar sewa kecil, mungkin menangis diam-diam.

Arman mendengus kecil.

“Dia yang minta cerai,” gumamnya pada diri sendiri. “Biar saja dia merasakan hidup susah.”

Namun kalimat itu tidak sepenuhnya hangat di dadanya. Ada perasaan aneh—bukan rindu, bukan cinta—lebih mirip sesuatu yang mengganjal.

Selama ini ia terbiasa melihat Zizi selalu ada, selalu diam, selalu melayani.

Kini rumah itu terlalu sunyi.

Pintu diketuk.

Susan masuk membawa kantong plastik berisi kue. Senyumnya manis, gerakannya percaya diri, tidak canggung sedikit pun. “Tante, aku bawakan makanan kesukaan Arman,” katanya pada Anggun.

Anggun langsung berseri. “Nah, ini baru calon menantu yang tahu diri.”

Susan duduk di sebelah Arman tanpa diminta. “ Arman, kamu kelihatan capek. Kerjaannya berat, ya?”

Arman menghela napas. “Biasa.”

Belakangan pekerjaannya memang terasa lebih berat. Beberapa proyek tidak berjalan mulus, investor mulai rewel, ada laporan yang tidak sesuai rencana. Semua itu belum bisa disebut kegagalan, tetapi cukup membuat kepalanya penuh.

Susan mencondongkan tubuh sedikit. “Kalau ada apa-apa, kamu cerita ke aku. Aku ada kok.”

Kalimat sederhana, tapi berbeda dengan Zizi.

Zizi dulu hanya diam.

Zizi tidak pernah protes.

Zizi tidak pernah meminta apa pun.

Dan entah mengapa, bayangan itu muncul sekilas—Zizi berdiri di dapur dengan celemek, wajahnya lelah namun tetap tersenyum.

Arman menggeleng cepat, menepisnya.

“Sudah lewat,” batinnya. “Perempuan seperti dia tidak akan bisa mengikuti hidupku.”

Ia tidak tahu. Bahwa perempuan yang ia kira sedang berjuang hidup…sedang duduk di ruang rapat ber-AC dingin, …menandatangani dokumen penting, …dengan nama baru yang bahkan tidak ia kenal.

Dia tidak tahu bahwa Zizi bukan lagi Zizi. Bahwa dunianya sendiri sedang berjalan menuju jurang kehidupan.

Bukan karena doa siapa pun.

Tapi karena dirinya sendiri.

Sementara itu, di luar rumah, langit tampak biasa saja.

Hanya saja, sesuatu sudah bergeser.

Arman kehilangan sesuatu yang tidak ia hargai…dan belum menyadarinya.

Belum.

.

.

Ruang rapat kecil itu penuh, namun terasa dingin.

Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena cara beberapa orang memandang Dara — bukan sebagai CEO, tetapi sebagai “anak bos” yang dianggap numpang nama.

Pak Bram, salah satu direksi paling senior, duduk bersandar santai. Rambutnya memutih rapi, senyum tipis di bibirnya tidak sepenuhnya ramah.

Orang-orang terbiasa melihatnya memimpin, dan kini ia merasa kursinya perlahan bergeser.

“Baik,” ucap Dara, menutup berkas presentasinya. “Kita akan mulai digitalisasi penuh di tiga divisi dulu sebagai pilot project. Evaluasi enam bulan, lalu meluas.”

Beberapa kepala mengangguk.

Bram mengangkat tangan pelan. “Saya boleh bicara, Bu Dara?” nada sopan, tapi dingin.

“Silakan,” jawab Dara tenang.

Bram menyilangkan tangan. “Saya hanya khawatir, keputusan sebesar ini dibuat terlalu… emosional.”

Beberapa direksi lain langsung pura-pura sibuk dengan kertas di depan mereka.

“Perusahaan ini sudah berjalan puluhan tahun tanpa digitalisasi besar-besaran. Tidak perlu terburu-buru hanya demi… menunjukkan sesuatu.” Tatapannya tajam, namun senyumnya tetap.

Semua orang paham maksudnya. Bukan demi perusahaan demi membuktikan diri sebagai CEO baru.

Dara menatapnya. Tidak menunduk, tidak pula meninggikan suara.

“Terima kasih masukannya, Pak Bram.”

Bram melanjutkan, kini tanpa upaya menyamarkannya,

“Lagipula, pengalaman Anda di dunia bisnis masih sangat… muda. Memimpin rumah tangga dan memimpin perusahaan itu berbeda jauh.”

Kata-kata itu memukul tepat sasaran.

Beberapa orang terdiam.

Ada yang tersenyum miring.

Ada yang menunggu Dara jatuh.

Namun Dara tidak menunduk. Perlahan ia tersenyum.

“Benar, Pak,” ucapnya tenang. “Memimpin rumah tangga memang berbeda. Di sana saya belajar hal yang tidak tertulis di buku manajemen.”

Bram mengernyit sedikit.

“Saya belajar,” lanjut Dara, “bagaimana rasanya diremehkan, dianggap tidak mampu, dan tidak diberi kesempatan untuk bicara. Dan saya berjanji, hal itu tidak akan terjadi pada siapa pun di perusahaan ini.”

Ruangan itu hening.

“Digitalisasi bukan soal gaya,” lanjutnya mantap. “Ini soal bertahan. Kalau kita tidak berubah, pasar akan menghapuskan kita tanpa belas kasihan. Dan saya tidak berniat membiarkan perusahaan ini pelan-pelan mati hanya karena kita nyaman dengan cara lama.”

Bram mengetukkan jarinya ke meja. “Dan kalau keputusan Anda salah?”

“Kalau salah,” jawab Dara, menatapnya lurus, “saya bertanggung jawab. Di depan komisaris, di depan pemegang saham, di depan semua karyawan. Tapi saya tidak akan membiarkan rasa takut menjadi alasan kita berhenti bergerak.”

Tidak ada suara tepuk tangan.

Namun wibawa itu terasa.

Bram hanya tersenyum tipis kali ini, tanpa ejekan. Ia sadar satu hal, Gadis lembut bernama Zizi sudah mati.

Perempuan bernama Dara Valencia tidak bisa dipatahkan dengan kata-kata meremehkan.

Ketika rapat bubar, beberapa direksi muda menghampirinya sekilas, seolah tidak berani terang-terangan, namun mengangguk singkat dukungan diam-diam.

Bram duduk bersandar di kursinya, kedua jarinya mengetuk meja pelan. Ia sudah puluhan tahun duduk di jajaran direksi, melewati tiga CEO, krisis finansial, pergantian kebijakan, dan drama internal lain yang bagi dirinya hanyalah angin lalu.

Baginya, Dara hanyalah badai kecil yang akan reda sendiri.

“Anak kemarin sore,” gumamnya pelan, senyum miring terbit di sudut bibir. “Ganti nama, ganti rambut, pikir sudah jadi pemimpin.”

Ia masih menyebutnya Zizi dalam hati, sebagai bentuk merendahkan yang sengaja ia pertahankan.

Bukan Dara.

Bukan CEO.

Hanya anak pemilik.

Di ruangannya, Bram membuka berkas laporan internal. Ia menemukan apa yang ia cari—proyek lama yang sengaja diperlambat, kerjasama yang menggantung, dan beberapa divisi yang loyal padanya.

“Kita lihat sejauh apa kamu bisa bertahan tanpa fondasi yang benar,” desisnya.

Bukan frontal.

Bukan kasar.

Ia memilih cara yang lebih halus yakni membuat Dara tampak tidak cakap di mata dewan.

Dengan tenang ia menyusun rencana:

menunda laporan penting

“salah paham” instruksi kecil

menggiring tim untuk pasif menunggu

membiarkan proyek macet seolah kesalahan pucuk pimpinan

“Tugas CEO terlalu berat untuk anak muda,” begitu kalimat yang sudah disiapkannya.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!