NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuhan kok nolong

Tak ada yang lebih aneh sore itu selain Hamka yang wajahnya meringis sambil menahan sakit di lengan dan kakinya .Tapi lebih aneh lagi, ia sedang dibonceng Naura.

Tetangga yang melihat sampai mengucek mata dua kali.

“ITU NAURA?”

“ITU HAMKA?”

“BONCENGAN?!”

Padahal seisi komplek Andoro tahu, Hamka dan Naura itu lebih sering adu mulut daripada adu argumen di debat calon ketua kelas.

Motor Hamka melaju pelan. Naura menyetir dengan wajah datar, sementara Hamka duduk kaku di belakang, satu tangan memegangi perut, satu lagi nyaris melayang karena takut jatuh.

“Pegangan yang bener, Ka,” omel Naura.

“Gimana caranya? Ini tangan gue sakit,” sahut Hamka ketus.

“Ya jangan peluk gue juga!”

“Siapa yang mau meluk elo!”

“Terus kenapa jaket gue ketarik?”

“ANGIN!”

Sesampainya di depan rumah Hamka, Babe Ramli langsung keluar begitu mendengar suara motor. Matanya membelalak lebar saat melihat pemandangan tak masuk akal itu.

“Ya Allah… Hamka?”

Lalu tatapannya pindah ke Naura.

“NAURA?!”

Bu Tika menyusul dari dalam rumah, membawa sapu. Begitu melihat Hamka turun terpincang-pincang dari motor yang dikendarai Naura, sapunya nyaris jatuh.

“Ini… ibu lagi mimpi atau gimana?”

Naura turun dari motor sambil menyerahkan kunci. “Hamka kecelakaan kecil, Bu. Saya anterin pulang.”

Padahal mulutnya sudah gatel mau ngadu kalo putra kesayangan Babe Ramli ini jatuh karena balapan motor .

Babe Ramli langsung memegangi dada.

“Zaman sudah akhir,Bu. Anak kita diantar pulang sama orang yang biasanya bikin dia pulang tantrum .”

Hamka nyengir tipis. “Jangan salah, Be. Ini darurat.”

Naura melipat tangan. “Tenang, saya juga nggak seneng. Tapi masa saya biarin dia rebahan di pinggir jalan?” Kallea sambil mendelik kesal, alisnya terangkat tajam dan bibirnya manyun tak terima, seolah berkata jangan salah paham, ini cuma karena kemanusiaan antar tetangga , bukan karena peduli.

Bu Tika menepuk lengan Hamka pelan.

“Makanya kalau naik motor jangan kebut-kebutan. Untung ada Naura.”

Lalu ia melirik Naura sambil tersenyum penuh arti.

“Terima kasih ya, Nak. Ternyata kalian bisa juga akur.”

Serempak Hamka dan Naura menjawab,

“NGGAK!”

Babe Ramli terkekeh.

“Ya sudahlah. Yang penting Hamka selamat. Tapi jujur aja, Be bangga… akhirnya ada juga yang bisa nyetirin motor ini selain dia.”

Naura mendengus. “Besok-besok jangan harap lagi, Be.”

Hamka menimpali cepat, “Tenang, gue juga nggak mau diantar sama Lo lagi.Apaan... jalannya kaya siput," omel Hamka sambil meringis, bahunya naik sebelah dan wajahnya manyun sok galak.Padahal nadanya lebih terdengar ngambek daripada marah.

Namun saat Naura pergi, Bu Tika berbisik ke Babe Ramli,

“Bang… kayaknya anak kita cocok sama Naura.”

Babe Ramli mengangguk mantap.

“Iya. Musuhan tapi saling nolong. Itu tanda-tanda.”

Dari kejauhan, Naura tiba-tiba bersin.

Sementara Hamka,entah kenapa..tersenyum kecil meski lengannya masih sakit.

****

Keesokan harinya, seperti biasa, Naura berangkat sekolah dengan ojek online. Ayahnya masih di luar kota, jadi rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Ia sudah rapi dengan seragam, tas menggantung di bahu, tinggal menunggu abang ojol yang sebentar lagi sampai.

Namun tepat saat ia hendak melangkah keluar, ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Dari tetangga kampretnya.

Hamka Kampret : Nanaw.....kata ibu gue, suruh lo sarapan di rumah. Jangan banyak alasan.

Naura mendelik ke layar ponsel.

“Dasar kampret,” gumamnya sambil mengetik balasan cepat.

Me : Gak laper. Makasih.

Belum sempat mengunci layar, pesan berikutnya masuk.

Hamka Kampret : Ibu gue udah masak. Katanya kalau lo gak datang, ibu bakal nyamperin rumah lo.

Naura menghela napas panjang. Ia membayangkan Bu Tika berdiri di depan rumahnya sambil membawa piring dan senyum tak bisa ditolak. Pilihannya jelas: datang sekarang atau dipaksa nanti.

Tanpa berpikir panjang lagi, Naura membelokkan langkah ke rumah Hamka. Gerbang sudah terbuka, aroma nasi hangat langsung menyambut. Dari teras, Hamka terlihat duduk sambil meringis, lengannya masih diperban.

Begitu melihat Naura, ia nyengir.

“Cepet juga. Kirain bakal drama dulu.”

Naura melirik sinis.

“Gue ke sini bukan karena lo. Gue takut sama ibu lo.”

Hamka terkekeh.

“Pinter. Itu keputusan paling waras hari ini.”

Dari dalam rumah, suara Bu Tika terdengar ceria,

“Nanaww, masuk, Nak! Sarapannya keburu dingin.”

Naura melangkah masuk sambil menghela napas pasrah.

Pagi itu, ia sadar satu hal: kadang yang paling menakutkan bukan tetangga kampret, tapi ibu tetangga kampret yang terlalu baik.

Di meja makan, suasana langsung berubah jadi medan perang kecil.

Naura baru saja duduk ketika Bu Tika dengan penuh semangat menyendokkan nasi ke piringnya.

“Ini buat Naura. Banyakin ya, kamu kurus.”

Naura menelan ludah.

“Tante… ini porsinya buat satu RT ya?”

Bu Tika tertawa. “Ah, kamu bercanda. Makan aja.”

Hamka yang duduk di seberangnya menatap piring Naura, lalu melirik piringnya sendiri yang isinya jauh lebih sedikit.

“Bu… itu nasi gue kayaknya nyasar ke piring tetangga.”

Babe Ramli yang sudah duduk sambil menyeruput teh langsung nyeletuk,

“Makanya luka. Badan kurang gizi.”

Hamka mendengus. “Be, gue kecelakaan, bukan anemia.”

Naura mulai makan pelan. Baru satu suap, Bu Tika sudah muncul lagi membawa telur balado.

“Naura, telur satu lagi ya.”

“Tan...”

“Dua sekalian.”

Telur mendarat manis di piring Naura.

Hamka menatap dengan mata sendu.

“Itu telur favorit gue, Bu.”

Bu Tika tanpa dosa menjawab,

“Biar kamu gak iri, ibu ambilin sambel aja.”

Babe Ramli hampir tersedak teh karena tertawa.

“Hamka, sabar. Tamu itu raja.”

Hamka menoleh ke Naura.

“Raja yang nyusahin rakyat.”

Naura mendelik sambil mengunyah.

“Lo fokus sembuhin luka aja. Gue makan karena dipaksa.”

Saat Naura hendak minum, Hamka refleks meraih gelas.Ia lupa kalau tangannya masih sakit.

“ADUH!”

Gelas hampir jatuh, Naura sigap menangkapnya.

“Makanya jangan sok gesit!”

Semua mendadak diam.

Lalu Bu Tika tersenyum lebar.

“Lihat, Bang. Cocok kan?”

Serempak Hamka dan Naura bersuara,

“ENGGAK!”

Babe Ramli tertawa terbahak-bahak.

“Belum juga sarapan, rumah udah rame kayak lebaran.”

Naura menghela napas sambil menatap piringnya yang masih penuh.

Dalam hati ia bergumam, Salah satu kesalahan terbesar hidup gue: nurut ajakan sarapan tetangga kampret.

Setelah sarapan dengan porsi makan siang, Naura akhirnya menyerah. Perutnya terasa penuh sampai ia yakin bisa bertahan hidup tanpa makan seharian penuh.

Ia berdiri sambil mengusap perut.

“Tante… makasih ya. Saya pamit dulu. Abang ojeknya udah nunggu.”

Bu Tika langsung panik.

“lho Ini nasinya masih sisa!”

Naura menoleh ke piringnya yang isinya tinggal satu sendok.Ia menghela napas kecil lalu berkata dengan wajah pasrah,

“Tan, ini sisa buat kenang-kenangan aja.”

Hamka nyengir dari kursinya.

“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut kayak siput lagi.”

Naura berhenti di ambang pintu, menoleh dengan senyum tipis berbahaya.

“Tenang. Yang naik motor kan gue, bukan yang tangannya dibalut.”

Babe Ramli terkekeh.

“Hati-hati, Ka. Mulut kamu bisa bikin lukanya nambah.”

Naura melangkah keluar, menyapa abang ojeg yang sudah menunggu sambil menahan tawa.

Begitu motor melaju, ia menghela napas panjang.

“Pelajaran hari ini,” gumamnya lirih,

Jangan pernah bilang' nggak laper 'di rumah ibu tetangga.

Saat Naura sudah melangkah keluar, Hamka tiba-tiba bersuara dari teras,

“Hei, Nanaww!”

Naura menoleh setengah malas.

“Apa lagi?”

Hamka nyengir sok santai.

“Besok kalo gue sembuh, gantian ya. Gue yang anter lo… biar tau rasanya naik motor nggak kayak siput.”

Naura mendelik, lalu membalas tanpa kalah tajam,

“Mimpi aja dulu, Ka. Sembuhin tangan lo. Mulut lo belakangan.”

Wajah Hamka langsung berubah antara kesal dan geli. Ia mendengus panjang sambil menahan senyum, tangan yang masih dibalut perban diangkat setengah, seolah mau membalas, tapi ujung-ujungnya cuma bisa nyengir tipis.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!