Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Penguasa Kuno
Udara di ruang bawah tanah itu terasa berat, seolah-olah waktu sendiri telah membeku dan membusuk di sana. Cahaya keunguan yang memancar dari sarkofagus batu itu berdenyut selaras dengan suara detak jantung yang lambat namun sangat keras—suara yang bergetar hingga ke tulang sumsum Elara.
"Zian, mundurlah," bisik Elara, tangannya mengepal erat pada gagang tombak energi yang ia rampas dari prajurit Immortal.
Zian tidak bergerak. Dia mengokang senjatanya, matanya tertuju pada sosok yang perlahan bangkit dari dalam peti batu tersebut. "Apa pun itu, dia tidak terlihat seperti manusia purba yang ramah."
Sesosok makhluk ramping dengan tinggi hampir dua setengah meter berdiri tegak. Kulitnya berwarna kelabu pucat dengan pola urat keperakan yang bersinar di bawah permukaan. Wajahnya memiliki fitur manusia yang sempurna namun terlalu simetris, dengan mata yang sepenuhnya berwarna emas tanpa pupil. Inilah "The First", sang penguasa kuno yang menjadi fondasi genetik Proyek Keabadian.
"Aegis... apa ini?" Elara bertanya, matanya tak lepas dari makhluk itu.
"Analisis bio-metrik gagal total," suara Aegis terdengar penuh gangguan statis. "Energi yang dipancarkannya... itu bukan hanya biologis. Ada frekuensi elektromagnetik yang tidak teridentifikasi. Dia bukan hanya organisme, Elara. Dia adalah wadah energi."
The First menoleh ke arah Elara. Gerakannya begitu halus, nyaris tanpa gesekan udara. Saat mata emas itu menatap Elara, Elara merasakan serangan sakit kepala yang hebat. Bayangan-bayangan tentang kota-kota emas yang runtuh dan langit yang terbakar melintas di benaknya.
"Darah... dari sang Penjaga..." Suara itu tidak datang dari mulut makhluk itu, melainkan bergema langsung di dalam kepala Elara.
"Dia melakukan penetrasi telepatik!" teriak Zian. Dia melepaskan tembakan ke arah The First.
Peluru-peluru itu berhenti di udara, hanya beberapa inci dari kulit keperakan makhluk itu, seolah-olah menghantam dinding air yang sangat padat, lalu jatuh ke lantai dengan denting yang sia-sia. The First hanya melambaikan tangan dengan pelan, dan sebuah gelombang kejut transparan menghantam Zian, melemparkannya hingga menabrak dinding laboratorium dengan keras.
"ZIAN!" Elara berteriak.
Kemarahan membakar rasa takutnya. Elara menerjang maju, menggunakan tombak energi untuk menusuk jantung makhluk itu. Namun, The First menangkap bilah energi tombak tersebut dengan tangan kosong. Listrik biru menyambar-nyambar di telapak tangannya, namun ia tidak terluka sedikit pun.
"Kau adalah bagian dariku, Anak Kecil," suara itu kembali bergema. "Berhenti melawan takdirmu. Berikan inti itu, dan dunia ini akan lahir kembali dalam keabadian."
"Dunia ini tidak butuh keabadianmu yang berdarah!" Elara memutar tubuhnya, melepaskan tendangan yang diperkuat oleh sensor taktis setelannya ke arah kepala makhluk itu.
Hantaman itu masuk, namun The First bahkan tidak bergeming. Sebaliknya, ia mencengkeram leher Elara dan mengangkatnya ke udara. Elara meronta, oksigennya mulai menipis.
Tiba-tiba, dari balkon atas, Madame X tertawa histeris. "Lihatlah! Keajaiban yang kita tunggu-tunggu! Dia mengenalimu, Elara! Kau adalah katalis yang akan menghidupkan kembali kekaisaran yang hilang!"
"Madame X... hentikan ini!" Zian bangkit dengan susah payah, darah mengalir dari telinganya. Dia mengambil sebuah perangkat kecil dari tasnya—sebuah granat termit yang dimodifikasi oleh Kael dengan frekuensi resonansi Aegis. "Aegis! Picu frekuensi destruktif pada hitungan ketiga!"
"Zian, jangan! Elara masih di sana!" teriak Kael melalui radio.
"Lakukan saja, Aegis!" perintah Zian.
Aegis memancarkan sinyal nada tinggi yang memekakkan telinga melalui sistem pengeras suara pangkalan. The First tampak terganggu. Pegangannya pada leher Elara melonggar. Zian melemparkan granat tersebut tepat di bawah kaki The First.
BOOOOOMMMM!
Ledakan itu tidak menghasilkan api biasa, melainkan bola energi putih yang menghisap oksigen di ruangan tersebut. Elara terlempar ke arah Zian, dan keduanya berlindung di balik konsol baja yang berat.
The First mengeluarkan suara jeritan yang bukan suara manusia—sebuah gelombang sonik yang menghancurkan semua kaca tabung eksperimen di ruangan itu. Tubuh keperakannya tampak retak, namun dengan kecepatan yang mengerikan, luka-luka itu menutup kembali. Regenerasi tanpa batas.
"Kita tidak bisa membunuhnya dengan senjata fisik," kata Elara sambil terengah-engah. "Aegis, kau bilang dia adalah wadah energi. Jika kita bisa menguras energi itu... atau membalikkannya?"
"Ada generator fusi di bawah lantai ini yang menyuplai daya ke sarkofagusnya," Aegis memberikan peta digital baru. "Jika kalian bisa membalikkan kutub magnetik generator tersebut, itu akan menciptakan medan vakum energi yang akan menarik kembali paksa semua energi biologis ke dalam generator. Tapi itu akan menghancurkan seluruh gunung ini."
"Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Zian.
"Empat menit sebelum reaksi fusi menjadi tidak stabil," jawab Aegis. "Aku sudah meretas protokol keamanannya, tapi seseorang harus memutar katup pengatur secara manual di ruang turbin."
"Aku akan melakukannya," kata Zian tegas. "Elara, kau harus menahan makhluk itu dan Madame X."
"Tidak, Zian. Makhluk itu menginginkanku. Biarkan aku yang menjadi umpannya. Kau lebih cepat dalam urusan teknis mesin," Elara memegang tangan Zian. "Pergilah. Ini adalah satu-satunya cara."
Zian menatap Elara dalam-dalam, lalu mengangguk singkat. Dia berlari menuju lorong bawah tanah yang menuju ke ruang generator.
Elara berdiri di tengah ruangan, menghalangi jalan The First yang kini mulai berjalan mendekatinya dengan langkah yang lebih berat, seolah-olah ledakan tadi sedikit menguras tenaganya. Madame X, melihat rencananya terganggu, mencabut pistol otomatis dan mulai menembaki Elara dari atas.
"Kau tidak akan merusak hari ini, Elara!" teriak Madame X.
Elara menghindar dengan lincah, bersembunyi di balik pilar-pilar batu sambil terus memprovokasi The First agar menjauh dari arah Zian. Makhluk itu terus mengeluarkan gelombang telepatik yang mencoba menghancurkan pikiran Elara, namun Aegis menciptakan "noise" putih di telinga Elara untuk melindunginya.
Di ruang generator, Zian berjuang melawan katup baja yang membeku akibat suhu ekstrim Andes. Dengan kekuatan penuh, ia memutar tuas tersebut hingga tangannya melepuh terkena uap panas.
"Aegis! Katup terbuka! Lakukan sinkronisasi sekarang!" teriak Zian.
"Memulai pembalikan polaritas fusi dalam 30 detik," lapor Aegis.
Kembali di ruang utama, The First tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke bawah, ke arah lantai yang mulai bergetar hebat. Cahaya ungu di tubuhnya mulai tersedot keluar, tertarik oleh medan magnet raksasa dari bawah.
"TIDAK... INI... BUKAN... WAKTUNYA..." suara telepatik itu kini terdengar penuh penderitaan.
Madame X panik. "Apa yang terjadi?! The First! Bertahanlah!"
Elara melihat kesempatan. Dia berlari menuju balkon tempat Madame X berada. Dengan satu lompatan kuat, dia mencapai pagar balkon dan menjatuhkan Madame X ke lantai bawah, tepat ke arah The First yang sedang meronta.
"Kau ingin keabadian, Madame? Rasakan sendiri energinya!" teriak Elara.
Madame X jatuh di dekat The First. Saat energi biologis ditarik kembali ke generator, Madame X ikut terseret dalam pusaran energi tersebut. Tubuhnya mulai mengalami mutasi yang mengerikan karena ia tidak memiliki DNA pelindung seperti Elara.
"ZIAN! KELUAR DARI SANA SEKARANG!" Elara berteriak melalui komunikator.
Zian berlari keluar dari ruang turbin tepat saat ledakan cahaya putih muncul dari pusat ruangan utama. Elara dan Zian bertemu di koridor lift, mereka berdua melompat ke dalam lift darurat yang didesain untuk peluncuran cepat.
KABOOOOMMMM!
Seluruh puncak gunung Andes itu seolah-olah meletus dari dalam. Pangkalan "The Hive" runtuh, menelan The First, Madame X, dan semua teknologi Council ke dalam inti bumi yang membara. Lift darurat Elara dan Zian terlontar keluar dari lereng gunung, meluncur di atas salju dengan kecepatan gila hingga akhirnya berhenti di lembah yang tenang.
Keheningan kembali menyelimuti pegunungan Andes. Elara dan Zian keluar dari lift yang rusak, tubuh mereka penuh luka dan memar, namun mereka masih bernapas.
"Apa dia benar-benar mati?" tanya Zian, menatap puncak gunung yang kini sudah rata dengan tanah.
"Energinya sudah ternetralisir," jawab Aegis melalui komunikator yang mulai rusak. "Namun, Elara... data sisa dari Council menunjukkan bahwa mereka bukan satu-satunya yang menemukan sarkofagus seperti itu. Ada dua lokasi lagi: satu di dasar Palung Mariana, dan satu lagi di bawah lapisan es Antartika."
Elara menghela napas panjang, menatap langit biru Peru yang cerah. "Jadi, kita baru saja membunuh satu dewa, dan masih ada dua lagi yang menunggu?"
Zian merangkul bahu Elara, menariknya mendekat. "Setidaknya untuk hari ini, dewa itu kalah."
Elara tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di bahu Zian. Mereka tahu bahwa kedamaian ini hanya sementara. Council of Eternity mungkin telah kehilangan pangkalan utamanya, namun mereka masih memiliki aset di seluruh dunia. Dan yang paling penting, Elara kini tahu bahwa dirinya adalah kunci bagi masa depan—atau kehancuran—umat manusia.
"Aegis," kata Elara pelan. "Siapkan misi berikutnya. Kita tidak akan menunggu mereka membangunkan yang lainnya."
"Diterima, Mayor Vanya. Tujuan selanjutnya: Kedalaman Samudra," sahut Aegis.
Di kejauhan, helikopter penyelamat Unit Phoenix mulai terlihat di cakrawala. Pertempuran di Andes telah berakhir, namun perang untuk menentukan siapa yang pantas memiliki "keabadian" baru saja memasuki babak yang lebih dalam dan lebih gelap.