"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23
Arina melihat pria itu di mimpinya, tak lama kemudian dia terbangun. Gambaran wajah pria itu masih ada di pelupuk ingatan Arina.
"Bagaimana pria itu bisa ada penjara? Dan dia tahu siapa aku? Apa dia bisa melihat aku?" Ujar Arina penuh dengan tanda tanya. Dia ingin tahu siapa pria yang barusan mimpinya di masuki oleh Arina.
Kemudian dia menggambar wajah pria itu dengan detail, dan memotretnya, menyisakan pencarian di internet.
"Antonio Sean, pengusaha." Ujar Arina dalam rasa bingungnya.
Arina semakin bingung, siapa Antonio Sean ini? Mengapa saat memasuki mimpinya, Antonio Sean bisa melihat Arina? Buasanya jika Arina memasuki mimpi seseorang, dan melihat dari dekat dia tidak akan terlihat dari orang itu, kecuali.....
"Dia bisa melihat hal yang tidak bisa di lihat manusia. Dia Indigo." Ujar Arina rntah pada siapa dia bicara, agak nya oada dirinya sendiri.
Jika Antonio Sean bisa melihat Arina, maka Antonio Sean juga akan bisa melihat hantu. Sebab Arina seperti roh yang masuk ke dalam mimpi Antonio Sean.
"Tapi dia mengenalku. Dari mana dia tahu namaku?" Tanya Arina pada dirinya sendiri lagi.
Arina menggelengkan kepalanya, dia tidk ingin berpikir lagi soal Antonio Sean. Mungkin dia akan bertanya pada Tion soal Antonio Sean. Tion pasri tahu soal pria itu.
Arina kembali merebahkan dirinya ke tempat tidur, kali ini dia tidak ingin masuk ke mimpi siapapun. Dia ingin tidur saja, dan menikmati malamnya dengan damai. Malam akhirnya menunjukkan pukul dua belas. Arina terbangun dengan nyawa yang masih separuh, dan merasa lapar. Dia ingin sekali makan sesuatu yang pedas.
Arina lalu menemui kepala pelayan, Alisha Kepala pelayan baru yang sedikit lebih tua dari Arina menghampiri majikannya. Alisha sudah lulus kuliah tahun lalu, dia menggantikan kakaknya yang bekerja di rumah utama, dan menjadi seorang kepala pelayan juga.
"Ada apa Nona?" Tanya Alisha pada Arina.
"Lisha, aku lapar, tolong masakkan mie pedas." Ujar Arina pada Alisha.
Tanpa banyak bicara, Alisha langsung saja memasak untuk sang majikan. Dia memasak mie instan pedas untuk Arina, di campur dengan telur, san sawi. Setelahnya dia menyajikan pada Arina mie tersebut.
"Emm... Enak." Ujar Arina pada Alisha.
Alisha tersenyum senang mendengarnya, dia senang Arina menikmati makanannya. "Makannya pelan-pelan nona." Nasehat Alisha pada Arina.
Arina hanya menganggukkan kepalanya pada Alisha, lalu makan dengan perlahan. Dia juga tidak mau bersikap konyol, lalu tersedak makanan. Arina lalu berbincang dengan Alisha setelah makan.
"Kamu gak kuliah S2? Apa kamu punya impian?" Tanya Arina pada pelayannya yang baru bekerja itu.
"Saya ingin melayani nona Arina saja, sebenarnya saya ingin menjadi seorang asisten di perusahaan. Itupun jika nona Arina yang jadi pemimpinnya, jika tidak saya akan menjadi pelayan saja, agar bisa melayani nona." Ujar Alisha pada Arina.
Arina menganggukkan kepalanya mengerti, Alisha memang setia padanya. Jika di bandingkan dengan Alina kakaknya, Alisha bisa di bilang lebih setia. Alina cenderung setia pada Thomas Andrews, sementara Alisha setia pada Arina. Tion Andrews juga memiliki seprang kepala pelayan di rumahnya, namanya Sebastian. Berbeda dengan ayah, dan adiknya, kepala pelayan Tion adalah seorang laki-laki. Itu sebab Tion lebih nyaman jika kepala pelayannya laki-laki.
"Alisha, sebentar lagi aku akan kuliah di Singapore. Ikutlah denganku ke sana, dengan begitu aku juga ada yang mengurus, sekalian kamu ambil S2." Ujar Arina Pada Alisha.
Alisha menolak dengan sopan ajakan Arina, dia tahu maksud Arina bukan menjadikan dia pelayan, melainkan ingin Alisha kuliah lagi.
"Ayolah Alisha, jika kamu ingin menjadi asistenku kamu harus punya kemampuan kan?" Ujar Arina. Kata-kata Arina membuat Alisha ingin belajar lagi.
Arina benar, jika ingin menjadi asisten Arina tidak boleh setengah-setengah, harus dengan niat penuh.
"Baiklah nona, tapi aku tidak bisa ikut denganmu, aku akan ke Inggris untuk melanjutkan studi ku di sana. Kebetulan ada teman yang tinggal di sana. " Ucap Alisha penuh keyakinan. Kini Arina tersenyum, dia merasa lega sebab Alisha mau melanjutkan studi S2 nya.
Arina pergi ke ruang buku, dan mengajak Alisha ke sana. Alisha tidak pernah ke ruang buku sebelumnya, dia hanya lewat-lewat saja. Sebab bagi pelayan pekerjaan rumah adalah yang terpenting, belajar adalah hal lain.
Alisha melihat Arina yang bersemangat untuk belajar, Arina sangat terobsesi dengan belajar. Berbeda dengan Alisha yang belajar seperlunya saja. Di rumah Arina, sama seperti di rumah utama, ada ruang buku khusus, bahkan ruangannya lebih besar dengan buku lebih banyak.
Arina memang meminta ayahnya untuk membuat ruang buku lebih besar dari pada di rumah utama. Biarlah ruangan lain kecil, asalkan ruang buku nya besar. Begitulah pikir Arina.
Setelah selesai memilih buku, Arina, dan Alisha duduk di sofa ruangan tersebut. Tampak Alisha yang membolak-balik halaman buku, dan membaca dengan serius, berbeda dengan Arina yang menikmati bacaannya. Sesekali Arina menoleh ke arah Alisha. Hingga malam yang larut itu pun membuat mereka berdua kembali mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul dua.
Arina, dan Alisha kembali lagi ke dalam kamar masing-masing. Arina beranjak ke kamarnya, tampak Arina yang mengantuk sekali. Dia berjalan ke kamarnya, dan membuka pintu, setelahnya menutup kembali pintu, dan membaringkan tubuhnya ke atas kasur king size.
Arina tidur, kali ini dia kembali bermimpi, mimpi tentang seorang Tion Andrews. Berbeda dengan Antonio Sean tadi yang di mana Arina masuk ke dalam mimpinya, kali ini Tionlah yang masuk ke dalam mimpi adiknya. Bukan Arina yang masuk ke dalam mimpi Tion.
"Arina. Apa kabar?" Tanya Tion pada Arina. Arina hanya menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"Kakak masuk ke dalam mimpiku?" Tanya Arina pada Tion.
Tion hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia lalu menunjukkan foto sebelum Arina lahir, foto yang menunjukkan ibu hamil. Seorang yang membuat Arina meneteskan air mata.
"Ibu." Ujar Arina yang melihat foto itu. Foto itu tampak ada di dalam kamar Thomas Andrews. Seolah Thomas Andrews menyimpan foto itu untuk dirinya sendiri.
"Bukan ayah yang menyimpannya, tapi Sarah." Ujar Tion.
Arina bingung sekarang, Ibu Sarah menyimpan foto ibunya?
"Sarah adalah teman ibu kita, sebelum ibu meninggal dunia, dia sempat di beri foto yang menunjukkan ibu hamil, tapi naas, nafas terakhir ibu saat melahirkan kamu Arina." Tion memandang ke arah Arina.
"Tapi kenapa Ibu Sarah membawa foto ibu?" Ujar Arina kebingungan.
"Aku juga tidak tahu." Balas Tion.
Mereka lalu beralih ke halaman belakamg rumah besar Thomas Andrews. Di sana tampak bintang-bintang bersinar terang. Tampak rerumputan saja yang membuat mereka tampak bahagia.
Kini kesedihan Arina berubah menjadi kebahagian, dia bahagia Tion ada untunya. "Aku bersyukur ada kau disisi ku kak."
Tion tidak membalas, dia membiarkan adiknya berbaring, sambil menatap bintang-bintang. Lalu Tion mengelus puncak kepala Arina. Arina hanya diam saja membiarkan Tion mengelus kepalanya.
"Andai ibu masih hidup. Pasti aku bahagia bersamanya, dan aku tidak akan di buang." Ujar Arina.
"Apa kamu masih marah pada ayah?" Tanya Tion.
"Mungkin...." Arina lalu menutup matanya. Dan ketika dia bangun, hari sudah berganti, dan Alisha membangunkannya.