NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Dengan Kakak Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Kakak Mantan

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy Ghina

Kekhilafan satu malam, membuat Shanum hamil. Ya, ia hamil setelah melakukan hal terlarang yang seharusnya tidak boleh dilakukan dalam agama sebelum ia dan kekasihnya menikah. Kekasihnya berhasil merayu hingga membuat Shanum terlena, dan berjanji akan menikahinya.

Namun sayangnya, di saat hari pernikahan tiba. Renaldi tidak datang, yang datang hanyalah Ervan—kakaknya. Yang mengatakan jika adiknya tidak bisa menikahinya dan memberikan uang 100 juta sebagai ganti rugi. Shanum marah dan kecewa!

Yang lebih menyakitkan lagi, ibu Shanum kena serangan jantung! Semakin sakit hati Shanum.

“Aku memang perempuan bodoh! Tapi aku akan tetap menuntut tanggung jawab dari anak majikan ayahku!”



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Ervan Semakin Menjadi - Jadi

“Iya, Shanum ingin bercerai seka—“

Mata Shanum terbelalak, bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Ervan dengan kasarnya, bahkan seperti menunjukkan kemarahannya.

Ikhsan dan Bik Laras yang bertepatan masuk ke dalam ruangan ikutan terkejut melihat tuannya berciuman. Hampir saja Bik Laras memekik saking kagetnya, untungnya saja Ikhsan langsung menarik wanita paruh baya itu melangkah mundur tanpa bersuara.

Pada kesempatan itu Bik Laras mengambil ponsel dari tas kecilnya dan merekam adegan yang semestinya tidak ia lihat, tapi harus ia laporkan kepada tuan besarnya.

“Kamu tidak bisa meminta saya untuk—“

Suara tamparan keras di pipi Ervan cukup menggema di ruang rawat, sampai Bik Laras berjengit kaget. Wajah Ervan berpaling ke samping, senyum sinis terlukis di wajah tampannya. Seumur-umur baru kali ini ia kena tamparan dari seorang wanita.

Deru napas Shanum naik turun, tangannya mengusap bibirnya yang baru saja dicium suaminya dengan tatapan penuh amarah.

“Berani juga kamu menampar saya,” ujar Ervan pelan tapi penuh penekanan.

“Berengsek! Anda juga sudah  berani cium bibir Shanum ... huh!!” hardik Shanum dengan sikapnya menantang.

Ervan beranjak dari duduknya, sorot matanya tampak mengintimidasi. “Saya pikir semalam memang sebaiknya kita berpisah, tapi setelah dipikir-pikir ... tidak semudah itu kita bercerai. Kamu harus ganti rugi atas permintaanmu saat meminta saya menikahimu,” tegasnya tanpa ia ketahui jika asisten dan bik Laras sudah berada di ruang rawat.

“Bukk!” Shanum melempar bantal ke arah suaminya. Namun sayangnya, Ervan bisa mengelaknya, dan pria itu semakin tersenyum jahat.

“Argh ... Manusia licik! Lihat saja, Shanum tidak akan pernah takut sama ancaman Bapak. Dan Shanum akan memastikan kita akan segera bercerai. Kalau perlu Shanum bakal bongkar ke mbak Mei—mmpphh!”

Lagi dan lagi Ervan membungkam bibir Shanum dengan bibirnya yang semakin bergerak liar, tak peduli istrinya memberontak bahkan sampai menggigit bibirnya.

“Duh, makin bahaya kalau lama-lama ada di sini,” gumam Bik Laras, memalingkan wajahnya ke belakang. Lama-lama malu melihatnya.

Sedangkan Ikhsan susah payah menelan ludahnya sembari mengusap tengkuknya, mengalihkan perasaan anehnya. Hingga akhirnya ....

“Ehmm.” Akhirnya Ikhsan memutuskan untuk berdeham keras demi keselamatan jiwa jomblonya.

“Permisi Pak Ervan.” Dengan sengaja Ikhsan meninggi suaranya, karena adegan buas Ervan tidak juga berhenti.

Dan, akhirnya suara Ikhsan membuat Ervan menghentikan adegannya, tapi ada gejolak kesal, seakan tak rela melepas pagutannya yang membuat perasaannya aneh. Dan belum pernah ia rasakan jika berciuman dengan Meidina.

Dengan napasnya yang terengah-engah, Ervan dan Shanum sama-sama menatap ke sumber suara. Ervan mendesah pelan sembari menarik dirinya dari hadapan Shanum.

“Oh, udah datang kamu, San,” ujar Ervan berpura-pura tidak terjadi apa, sembari mengusap bibirnya yang rupanya sudah berdarah. Sementara itu, Shanum yang marah sekaligus malu karena terpergok buru-buru merebahkan tubuhnya, lalu menutup wajahnya dengan selimut.

“Sialan ... sialan. Lihat saja kalau Shanum udah sehat,” gerutunya kesal.

“Iya Pak, maaf kalau mengganggu. Ini saya sudah membawa dokumen yang diminta.” Ikhsan berusaha seakan-akan tidak melihat apa pun, sikapnya seperti biasanya melayani atasannya, sementara Bik Laras bergegas menaruh belanjaan. Dan gegas ke pantry kecil. Di sanalah ia langsung mengirim pesan pada Papa Wijatnako, melaporkan apa yang ia lihat pagi ini.

Sementara itu, Papa Wijatnako yang baru saja tiba di depan rumah sederhana, tidak langsung keluar dari mobilnya. Ia tersenyum puas melihat video yang dikirim oleh Bik Laras.

“Rupanya sudah ada kemajuan. Tidak ada salahnya juga Ervan menikahi Shanum, semoga saja rencana pernikahannya dengan Meidina tidak pernah terjadi,” gumam Papa Wijatnako pelan, sudut bibirnya melengkung tipis.

“Maaf Tuan, kita sudah tiba di rumahnya Pak Aiman,” kata Fatur—sopir, saat membuka pintu untuk tuannya.

Papa Wijatnako menegakkan pandangan. “Kamu bawa barang-barang ini,” tunjuknya ke beberapa buah tangan yang sempat ia beli di toko buah dan toko kue.

“Baik Tuan.”

Ketika Papa Wijatnako keluar dari mobil mewahnya, ada beberapa tetangga yang memperhatikan, bisikan-bisikan kepo mulai menguar. Hal itu bisa dirasakan oleh Papa Wijatnako, dan bukan pertama kalinya ia menginjak lingkungan seperti itu.

“Oh, ada Tuan!”  seru Ayah Aiman terkejut saat baru saja membuka pintu rumahnya.

“Assalammualaikum,” sapa Papa Wijatnako ramah, Ayah Aiman langsung menjabat tangan majikannya dengan sikapnya yang mendadak canggung serta bingung.

“Waalaikumsalam, mari masuk Tuan. Silakan duduk,” pinta Ayah Aiman.

“Terima kasih.”

Saat duduk, Papa Wijatnako mengedar pandangannya seakan-akan sedang mencari tahu.

“Aiman, tolong diterima bawaan ini, ala kadarnya,” ujar Papa Wijatnako ketika Fatur menaruh buah tangan ke atas meja tamu.

“Terima kasih banyak Tuan, ini juga sudah terlalu banyak buat saya. Seharusnya tidak perlu repot-repot.”

Papa Wijatnako tersenyum. “Bagaimana keadaan istri Aiman, kemarin saya dapat kabar dari asisten saya kalau sudah boleh pulang?”

“Iya Tuan, alhamdulillah semalam sudah keluar dari rumah sakit, mohon maaf seharusnya hari ini saya sudah masuk kerja. Tapi, istri saya tidak bisa ditinggal. Tidak ada yang menjaganya, soalnya anak saya harus sekolah.”

Alis mata Papa Wijatnako terangkat dengan lirikan penasaran. “Memangnya Shanum ke mana? Setahu saya, Ervan belum membawanya tinggal bersama. Bukankah untuk sementara Shanum bisa menjaga istri kamu sampai benar-benar pulih?” tanya Papa Wijatnako, seakan-akan tidak tahu keberadaan Shanum.

Ayah Aiman tersenyum getir, bahkan duduknya mulai tampak gelisah. “Maaf Tuan, beberapa hari yang lalu saya sudah bicara dengan Tuan Ervan untuk menceraikan Shanum. Mau bagaimana pun Tuan Ervan sudah punya calon istri.”

“Kamu meminta Ervan menceraikan anakmu?” Papa Wijatnako agak terkesiap. Bagaimana bisa seorang ayah meminta menantunya sendiri untuk menceritakan anak perempuannya, apakah sudah tidak waras pikiran Aiman, pikir Papa Wijatnako.

Ayah Aiman mengangguk. “Iya Tuan, anak saya telah bikin malu keluarga Tuan. Maka dari itu—“

Papa Wijatnako mengangkat tangan ke udara. “Sekarang saya tanya di mana Shanum, anakmu yang masih sekolah itu si bungsukan? Dan, tak mungkin Shanum berangkat sekolah!”

Ayahnya Shanum tertunduk bingung, kedua tangannya saling bertautan. Kegelisahan itu terlihat di mata majikannya dengan jelas.

“Shanum, dia—“

“Katakan dengan jujur, dan jangan berbelit-belit. Panggilkan Shanum sekarang juga!” titah Papa Wijatnako.

“S-saya tidak tahu Shanum ke mana, Tuan. Se-sebenarnya istri saya sudah mengusirnya,” jawab Ayah Aiman terbata-bata.

Piaslah wajah Papa Wijatnako, tidak menyangka sopirnya tega berbuat seperti itu. “Dan, kamu pun juga turut mengusirnya!” sentaknya

Ayah Aiman mengangguk pelan.

Papa Wijatnako berdecak kesal. “Ternyata memang masih ada ayah yang bejat pada anaknya. Sungguh sangat mengecewakan sikap kamu, Aiman. Saya mengenalmu sejak bujang sampai menikah dan memiliki Shanum. Apakah kamu tidak ingat bagaimana sayangnya kamu saat Shanum dilahirkan! Dia anak perempuanmu, dia butuh seorang ayah yang merangkulnya, mendampinginya saat memiliki masalah besar. Bukannya diusir begitu saja! Anak saya juga bersalah, tapi saya tidak mengusirnya ... justru memintanya bertanggungjawab walau akhirnya kabur.”

“Kalau seperti ini, sebaiknya kamu tidak perlu bekerja dengan saya lagi, Aiman.”

“T-Tuan.”

Bersambung ... ✍️

1
Vera Wilda
Harus nya temannya tuh tersangka utama nya elaz dan Fanny , jangan sampai lolos ya Thor , dia yg kompor berdua
Vera Wilda
Masukin aja polisi ketiga nya itu dlm sel , elaz , Fanny, dan meidina
Vera Wilda
Jangan kasih kendor untuk elaz dan Fanny , biar dia ngerasain dulu akibatnya yg jadi kompor meledak
Vera Wilda
Ya elah baru juga akur datang lagi sumber masalah , dan itu kayaknya temennya meidina kudet dech gak liat berita yg sedang viral , kan udah ada klarifikasi dr ervan nya …..
Hadeuuuhhh 🤔🤔
Vera Wilda
Shanum kamu jangan lebay ervan itu sudah jatuh cinta sm kamu dia hanya takut kamu lebih memilih Renaldy dr pada Ervan karena d anatara kalian ada anak, kamu paham gak sich Shanum ? Harus nya kamu bilang klo kamu juga sudah mulai jatuh cinta sama Ervan biar kalian sama2 berjuang
Vera Wilda
Lagian kamu meidina bukannya anteng aja dapat klinik , udah jalani aja klinik nya kamu keruk keuntungan sebanyak2 nya kan kamu emang pengen kaya meidina 😁😁
Vera Wilda
Shanum kamu juga gak bisa nyalahin Ervan , Ervan tau apa yg akan d lakukannya , jangan terlalu lebay 🤭😁 “maaf ya Thor “
Vera Wilda
Sudah lah Shanum berdamai lah biar gak banyak pikiran , stress loh klo banyak pikiran 😁
Vera Wilda
Udah d pecat baru d cari anaknya , sebentar lagi anak mu jd orang kaya tau 😁
Vera Wilda
Terima nasib kamu Diba kembali k asal nya
Yuliana Krismaning
tampan sekali kau Ervan 🤭
Vera Wilda
Thor apa saya yg salah baca ya, bukannya Shanum d rawat d ruang vip lantai 7 ya ? 🤔
Vera Wilda
Bentar lagi kamu d pecat Mira 😁
Kalo mereka tau (meidina dan mama Ervan) pasti yg d salahin Shanum , dan kasihan Shanum nanti d teror sm mereka berdua
Vera Wilda
Lucu juga pak wijatniko , cinta kan gak langsung aja datang pak, dan cinta juga tidak bisa d paksakan , seharus nya pak Jatniko beri kesempatan kepada Ervan untuk lebih dekat dg Shanum kapan perlu suruh tinggal d apertemen berdua d temani bik siti, cinta bisa datang karena keseringan ketemu pak
Vera Wilda
Kamu kehilangan anak dan juga pekerjaan Aiman , demi ego kalian sbg orang tua
Vera Wilda
Shanum orang nya lain d hati lain d mulut ya Thor 😁😁, d mulut dia berkata beda tp dalam hati dia mau banget d temenin sm Ervan 😁
Vera Wilda
Mampir saya Thor
Vera Wilda
Ok saya mampir Thor
Lita Widayanti
shanum rapuh banget sih... baperan... susah nih klu punya sifat spt gini...
Yenny Mok
sebenarnya papanya lucu juga ya. dia sendiri yg tdk mampu memaksa anak keduanya pulang utk bertanggung jwb penuh atas kesalahan anaknya sendiri. menunjuk anak pertama utk mnyelamatkan muka keluarga, eh sekrg kok bisa2nya merasa kecewa dgn sikap anak pertamanya? udah jelas anak pertamanya sdh punya rencana masa depan sendiri dari awal.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!