Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersitegang
#5 New
Sebelum pertengkaran.
Ayu berjalan pelan di tepi jalanan desa yang agak sepi, karena cuaca sedang panas, matahari menyengat hanya ia lawan dengan selembar kain selendang untuk menutupi kepala dan rambutnya yang dicepol asal-asalan.
Sesekali punggung tangannya menyeka keringat di dahi, sementara tangan yang satunya berada di pinggang, mengusap perlahan, karena nyeri terus datang jelang hari-hari menuju persalinan.
Akhirnya Ayu tiba di rumah sepetak rumah kecil yang dahulu ditinggali ibunya, sebelum wafat. Debu tipis berterbangan, serta udara pun pengap, karena sudah lama rumah tersebut dibiarkan kosong.
Ayu menghampiri lemari tua yang menjadi tujuannya datang, perhiasan Mak Tinah tersimpan rapi di sana, tak ada yang tahu selain Mak Tinah dan Ayu sendiri.
“Maafkan Ayu, Mak. Terpaksa ini akan Ayu jual untuk biaya persalinan cucu Mamak, boleh, ya?” ucap Ayu, seolah-olah tengah bicara dengan Mak Tinah.
Tak lama Ayu berada di sana, karena tak mungkin juga ia bersih-bersih di rumah kosong, karena kondisi tenaganya yang kian terbatas. Ayu menyelipkan kantong lusuh berisi tiga buah kalung peninggalan Mak Tinah di dalam saku dasternya. Kemudian keluar, tak lupa kembali mengunci pintunya.
Kembali berjalan perlahan melalui tepi jalan desa, tiba-tiba pandangan Ayu kabur dan kepalanya sedikit pening berputar akibat sinar matahari yang terlalu terik. Tubuh Ayu sedikit terhuyung, untunglah seseorang tiba-tiba datang menolong.
“Kau, tak apa-apa, kah?” tanya pria yang menolong Ayu.
“Eh, tak apa-apa,” sahut Ayu dengan cepat sambil berjingkat mengambil jarak.
“Tadi kulihat kau jalan sempoyongan, kupikir mau pingsan,” kata pria itu. “Eh, tunggu dulu, bukankah kau Lembayung?”
Ayu mendongak, ia membuka sedikit celah dari balik selendangnya, “Mahar?”
“Iya, ini aku, Mahar.” Pria itu membenarkan. Mereka dulu teman bermain, hingga meningkat jadi teman sekolah sampai lulus SMA. Setelah lulus SMA, Mahar pergi ke kota dan kerja serabutan di sana, karena keluarganya tak memiliki sawah di desa.
“Kapan, kau pulang?” tanya Ayu langsung akrab.
“Pekan lalu, ada perlu sekejap sama Mamak. Wah, sudah besar juga kandunganmu?”
Mereka melanjutkan perjalanan, sambil bercakap ringan sepanjang jalan. Mahar juga mengajak Ayu istirahat sejenak di warung dekat jalan desa, minum es tebu. Tak hanya mereka, tapi banyak warga yang mondar mandir datang untuk membeli es tebu di tengah cuaca yang panas menyengat.
“Iya, nih. Bu Bidan bilang tak lama lagi persalinan, doakan, ya?” kata Ayu, dengan senyum di bibirnya.
Mahar mengangguk, ia tak berani lama-lama menatap wajah Ayu, karena dulu ia sempat menyimpan kekaguman untuk wanita itu.
Kini Ayu semakin cantik karena efek hormon kehamilannya. Sayangnya guratan kesedihan itu tampak jelas di wajahnya, Maher pikir tak mungkin Ayu sedih, karena bersuamikan Restu yang berasal dari keluarga berada.
Setelah es tebu habis, mereka mengambil jalan terpisah, karena berbeda tujuan. Tapi pemandangan di warung kecil tersebut, tanpa sengaja di lihat Restu yang baru saja pulang, tapi tak menjumpai istrinya di rumah. Pria itu pergi begitu saja dengan rasa cemburu yang kian meradang.
•••
“Kenapa Abang menuduhku, sementara Abang yang terang-terangan pulang bersama wanita selingkuhan Abang?!” balas Ayu dengan lengkingan tajam, kedua matanya ikut menggambarkan kemarahan yang maha dahsyat di dalam dirinya.
Restu pun murka, karena selama ini Ayu tak pernah berbicara keras apalagi membantah kata-katanya. “Berani membantah kau sekarang, ya?!”
Dua orang tengah bersitegang, tapi diam-diam Anjani bersorak kegirangan, seolah-olah, inilah yang ia harapkan. Namun, kebahagiaan Jani tak berlangsung lama.
“Aku tidak membantah, Bang. Aku hanya mengatakan kebenaran. Jika Abang tak salah, mana mungkin aku berani bersikap demikian.”
Kedua mata Ayu yang semula berkaca-kaca, kini telah meleleh menumpahkan air mata kesedihan. “Kenapa Abang tega padaku? Padahal sebentar lagi, kita akan menyambut kehadiran anak kita, Bang.”
Genggaman tangan Restu mulai mengendur, air mata Ayu mulai mengguncang perasaannya. Hingga pria itu menunduk sedih dalam tangis kecilnya. “Maafkan, Abang, Yu. Maaf—”
Dahi Restu menunduk hingga menyentuh pundak Ayu.
“Maafkan Bapak, Nak. Bapak gagal menjadi Bapak yang baik untukmu, dan suami yang baik untuk Mamakmu,” ucap Restu dengan tangis tergugu dan telapak tangannya mengusap perut Ayu yang membuncit.
Tapi Anjani tak suka melihat pemandangan mengharukan itu, karena berpotensi menggagalkan seluruh rencananya. Wanita itu menoleh ke sekeliling, berpikir sambil mencari-cari cara yang sekiranya bisa membuat momen menjengkelkan itu kembali berubah menjadi momen pertengkaran.
Hingga netranya menangkap cahaya berkilau di kolong meja, wanita itu melangkah lau berjongkok guna memastikan penglihatannya tak salah. Kedua mata Anjani berbinar serakah, melihat benda tersebut, membuatnya ingin memilikinya.
“Bang, istrimu bohong! Selain menyeleweng, dia juga membohongimu. Lihat!” Anjani mengangkat kalung milik Mak Tinah di depan wajah Restu.
“Kalungku!” seru Ayu, bermaksud menyambarnya dari tangan Anjani, tapi wanita itu dengan cepat berkelit.
“Dia bilang tak punya kalung, kan, Bang?” tanya Anjani.
Restu yang sesaat lalu menangis tersedu, kedua mata Restu yang berwarna kemerahan akibat efek alkohol, kini kembali menatap Ayu dengan pandangan tajam dan penuh amarah.
Restu mencengkram kerah daster Ayu, “Berani kau bohongi Abang?!”
“Tidak, Bang. Itu kalung untuk simpanan hari persalinan, itu pemberian Mamakku,” jawab Ayu dengan air mata berlinang, ia ketakutan seorang diri, sementara suami yang seharusnya menjadi pelindung, justru berdiri sebagai penyebab ketakutannya.
Anjani kembali tertawa girang dalam hati, ia memasang wajah manja merayu, dengan begitu Restu akan mengabulkan keinginannya. “Bang, aku juga mau kalung, ini juga tidak apa-apa.”
“Tidak!” jerit Ayu tak rela, bila benda peninggalan ibunya di rampas begitu saja, tangan Ayu menggapai-gapai, namun tak pernah sampai.
Dan Anjani semakin merasa bahagia melihat derita wanita yang dulu merebut kekasihnya. Kini ia pun ingin merebut benda yang memiliki nilai sejarah bagi Ayu, yakni benda peninggalan ibunya.
Melihat jerit tangis Ayu, Restu kembali luluh, tak tega pula ia melihat ibu dari anaknya menjerit pilu. “Kembalikan, Jani. Nanti Abang belikan yang lain,” bujuk Restu dengan suara lembut, mencoba meluluhkan Anjani.
Kedua mata Anjani berkaca-kaca, sendu wajah wanita itu ketika Restu lebih memilih mengutamakan Ayu ketimbang dirinya. “Abang, tak cinta aku lagi, kah? Hingga Abang membela dia?”
Restu mengacak rambutnya frustasi, “Tidak, bukan begitu maksud Abang. Tapi kalung itu peninggalan Mamaknya Ayu.”
“Abang percaya padanya? Kalau dia bohong, padahal kalung ini dibeli dengan uang Abang?”
Restu yang merasa tak pernah memberi uang lebih pada Ayu, jelas percaya pada ucapan istrinya. “Percaya, karena benda itu memang milik Mamak mertua aku.”
“Ternyata Abang tak cinta, Abang hanya mencintai dia,” isak Jani, yang tentu saja menjadi sembilu tajam yang menghujam perasaan Ayu sebagai istri sah Restu.
“Tega kau, Bang, padahal anak kita yang menginginkan kalung ini.”
Langit serasa runtuh menimpa kepala Ayu setelah mendengar ucapan Anjani, “B-bang, apa itu benar? Sudah sejauh itu hubungan Abang dengannya?” tanya Ayu dengan suara bergetar, langsung didepan wajah Restu, sementara raut wajah pria itu terlihat frustasi dan kebingungan di wajah pria itu.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah