Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Di atas ranjang, akal sehat Hendra telah menguap sepenuhnya, terbakar oleh pengaruh obat perang-sang yang menjalar ganas di setiap inci aliran darahnya.
Hendra tidak lagi mengingat Aisya. Ia tidak lagi mengingat rasa bersalahnya. Yang ia rasakan hanyalah gelombang panas yang menuntut pelepasan segera.
Di bawah kungkungannya, Rima menggeliat dengan senyum kemenangan, kulitnya yang halus bersentuhan langsung dengan kulit Hendra yang berkeringat.
"Mas... ahh, Mas Hendra," bisik Rima sambil melingkarkan lengannya di leher Hendra, menarik pria itu semakin dalam ke dalam jeratannya.
Hendra mengerang rendah, suara yang lebih mirip geraman singa yang kelaparan. Tanpa banyak kata, ia menyatukan tu-buh mereka dalam satu hentakan yang kuat dan kasar.
"Argh... Rima..." Hendra melenguh saat merasakan sensasi yang luar biasa ketat menyambutnya.
Obat itu membuat sensitivitas sarafnya meningkat berkali-kali lipat. Milik Rima yang terasa begitu sempit dan hangat seolah menghisap seluruh kesadaran Hendra, membuatnya kehilangan kendali atas gerakannya sendiri.
Ia mulai bergerak dengan ritme yang cepat dan penuh tenaga, menghentak kuat-kuat seolah ingin menumpahkan seluruh rasa frustrasinya di sana.
Rima menjerit, namun bukan jeritan kesakitan. Itu adalah pekikan kenikmatan yang meluap. Ia mencengkeram bahu kokoh Hendra, kuku-kuku merahnya meninggalkan bekas di kulit suaminya Aisya itu.
"Lagi, Mas... ahh, jangan berhenti! Terus...!" seru Rima dengan napas tersengal.
Hendra semakin membabi buta. Di matanya yang memerah, ia tidak lagi melihat dunia luar. Fokusnya hanya pada titik temu tubuh mereka yang terasa begitu nikmat.
Setiap sentuhan yang ia berikan seolah melepaskan beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya. Ia merasa seperti penguasa di atas ranjang ini, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat berada di bawah tekanan ibunya atau rasa kasihan pada Aisya.
"Kenapa rasanya begini gila?" Hendra menggeram dengan suara parau. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rima, menghirup parfum mahal wanita itu yang semakin memicu gairahnya.
"Karena aku memang tercipta untukmu, Mas... bukan wanita mandul itu," bisik Rima.
Mendengar kata-kata itu, Hendra justru semakin terpacu. Ia membalikkan posisi Rima dengan kasar, membuatnya menung-ging di bawahnya, lalu kembali menyerang.
Suara kulit yang beradu dan deru napas yang memburu memenuhi ruangan kedap suara itu.
"Oh Tuhan, Rima... aku... aku akan keluar!" Hendra berbisik dengan gigi gemeretak.
"Keluarkan saja, Mas! Berikan semuanya padaku! Aku siap mengandung benihmu" jawab Rima sambil membusungkan dadanya ke belakang, menikmati setiap inci sentuhan pria yang sudah lama ia incar ini.
Hendra memejamkan mata erat. Puncak kenikmatan itu datang seperti badai besar yang tidak bisa dibendung. Tubuhnya menegang hebat, otot-ototnya menonjol, dan dengan satu hentakan terdalam, ia menumpahkan seluruh benihnya di dalam rahim Rima.
Cairan hangat itu seolah menjadi segel pengkhianatan yang paling nyata.
Hendra ambruk di atas tubuh Rima, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka yang masih menyatu.
Rima membelai rambut Hendra dengan lembut, senyum liciknya merekah di balik kegelapan.
"Sekarang kamu benar-benar milikku, Hendra. Tidak akan ada jalan pulang bagimu setelah malam ini," batin Rima penuh kepuasan.
Ia tahu, satu kali kejadian ini saja sudah cukup untuk menghancurkan pernikahan Hendra. Terlebih lagi, ia sudah menyiapkan kamera tersembunyi di sudut meja rias yang merekam seluruh pergulatan panas mereka sejak awal.
Rima tidak hanya mendapatkan tubuh Hendra, ia mendapatkan bukti kehancuran pria itu.
Hendra perlahan mulai sadar dari pengaruh obatnya. Rasa pening masih ada, namun ia mulai menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia menatap tubuh polos Rima di bawahnya, lalu menatap sekeliling kamar hotel mewah itu.
"Apa yang sudah aku lakukan?" bisik Hendra. Ia baru saja menghancurkan martabatnya dan mengkhianati Aisya dengan cara yang paling kotor.
Rima hanya memeluknya erat, menahan pria itu agar tidak segera pergi. "Kamu hanya sedang menikmati hidup, Mas. Jangan dipikirkan."
Bagi Hendra, penyesalan itu datang terlalu lambat. Ia telah jatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri, tanpa tahu bahwa besok pagi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
*
*
PRANG!
Gelas berisi air putih yang dipegang Aisya terlepas begitu saja dari jemarinya dan pecah berkeping-keping di lantai dapur.
Aisya mematung, menatap serpihan kaca itu, sementara jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Firasat buruk itu datang lagi.
Ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul empat pagi. Cahaya fajar mulai mengintip malu-malu di ufuk timur, tapi kursi di ruang tamu masih kosong. Hendra tak kunjung pulang.
Suaminya benar-benar membiarkannya terkunci dalam kecemasan sepanjang malam setelah kejadian menyakitkan di hotel itu.
"Ya Allah, apa yang sedang terjadi?" bisik Aisya lirih.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini merembes kembali. Tubuhnya merosot di samping serpihan gelas. Ia memeluk lututnya sendiri, merasa begitu kerdil dan sendirian.
"Mas kenapa kamu setega ini padaku? Jika kamu marah karena aku ada di hotel itu, kenapa kamu tidak pulang dan memakiku saja? Kenapa kamu membiarkan aku mati perlahan dalam ketidakpastian?"
Aisya sadar, ia tidak bisa terus terpuruk dalam pikiran negatif yang membisikkan hal-hal buruk tentang suaminya dan Rima. Ia harus mencari tempat bersandar yang paling kokoh.
Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi. Air wudu yang dingin menyentuh kulitnya, seolah membasuh sedikit demi sedikit api kegelisahan di dadanya.
Di atas sajadah, Aisya bersujud dalam salat tahajud.
"Ya Rabb, hamba tidak tahu apa yang sedang suaminya hamba lakukan di luar sana. Jika ia sedang khilaf, jemput lah hatinya. Jika hamba yang bersalah, lapangkan lah dada hamba. Tenangkanlah hati yang sedang bergejolak ini..." isaknya pecah di tengah sujud yang panjang.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣