NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Girls time

Sesuai yang sudah dijanjikan, setelah magrib, Laras menjemput Rara di rumah. Sedangkan Rani dan kedua pegawainya mereka saling ketemuan di mall tempat bioskop yang dituju.

Walau awalnya sempat canggung, Rara dengan cepat menguasai situasi. Gadis kecil itu dengan pandai membangun suasana yang seru dengan pendekatan maksimal pada kedua pegawai Rani.

Mereka masuk ke bioskop beberapa menit sebelum film dimulai. Rara juga menyempatkan berselfie ria dan membuat video pendek untuk membuat story Instagram.

Semua teman Laras masuk kedalam frame, bahkan dalam waktu sekejap, Rara sudah saling mutualan Instagram dengan pegawai Rani. Menandai semuanya kecuali Laras di story Instagramnya.

"Adikmu selebgram ternyata, keren juga." puji salah satu pegawai Rani, pandangannya terus tertuju pada ponsel, menggulir profil Rara dengan serius. Kagum dan lucu dalam waktu yang sama.

Sekitar 2 jam mereka di dalam bioskop, menonton dengan serius saat film di mulai. Beberapa kali tertawa karena adegan lucu bahkan sampai greget sendiri. Film itu membuat mereka puasa sampai akhir. Terutama Rara dan Rani yang begitu tergila-gila dengan tokoh Nick. Ah berbagai story di buat dengan lagu dari film tersebut.

Bercerita betapa keduanya sangat mengidolakan sosok Nick yang keren itu.

Dalam hati Laras sependapat. Sosok Nick secara tidak sadar membangunkan sosok perempuan dalam diri Laras. Membayangkan bagaimana jika kepribadian seperti Nick ada didunia nyata.

"Ayo beli cemilan, laper banget!" Rara merengek, ketiga gadis itu secara mempunyai adik manja. Rani langsung mengiyakan, tidak seperti Laras yang ogah-ogahan.

"Ayo, mau beli apa?"

Orang-orang mungkin akan berpikir jika Rara adiknya Rani. Keduanya malah lebih lengket, sedangkan Laras dan kedua pegawai Rani mirip seperti bodyguard yang berjaga disamping kanan kirinya.

Rara mengajak semuanya ke kedai kebab kesukaannya. Rani mengikuti Laras dan Rara dengan mobilnya, kedua pegawainya juga dibawa karena mereka berdua datang dengan ojek online.

Jalanan semakin ramai saat jam setengah 10, Laras dengan hati-hati mengendarai motornya. Menuju kedai kebab yang dimaksud Rara.

Sebuah kedai kecil dengan pengambilan yang bersih. Penjaga kedai merupakan cowok yang mungkin seumuran dengan Laras dan Rani, terlihat maskulin dengan penampilan sederhana. Cukup untuk menarik pelanggan, terlihat jelas sebagain besar pembelinya perempuan.

Karena memang posisinya di pinggir jalan, Laras memilih pergi ke tempat yang lebih lenggang. Agak sedikit jauh dari kedai, sedangkan adiknya dan Rani yang mengantri di depan kedai.

Laras dan kedua pegawai Rara menunggu dengan duduk di bahu jalan yang sepi. Mengambil kedai-kedai lainnya dan kendaraan yang berlaku lalang di depannya. Beberapa kali Laras juga memperhatikan Adiknya. Memastikan gadis kecil itu agar tidak hilang dari pandangannya.

 Laras memang terkenal cuek bahkan judes, pada siapapun termasuk adiknya. Tapi hal itu tidak menghilangkan perasaannya sebagai seorang kakak.

Sebuah Intrusive thoughts muncul di tengah kegabutan, Laras berdiri sembari melihat-lihat ke arah jalan. Entah, mungkin pikiran itu lebih baik disebut insting sebagai kakak. Dari Jarak dekat sebuah motor melaju cepat dan seperti hilang kendali. Laras yang melihat posisi Adiknya begitu mepet dengan jalan, dengan langkah cepat berlari. Pengendara motor semakin dekat, serta beberapa teriakan mulai terdengar. Ada yang hampir tertabrak tapi untungnya selamat karena memiliki respon secepat kucing. Tapi adiknya yang malah seperti orang bingung, menoleh ke kanan dan kiri seperti orang linglung. Laras dengan cepat menarik Adiknya dengan gerakan memutar untuk memindahkan beban dengan dirinya sebagai tumpuan. Rara terlempar, menabrak Rara yang berdiri tidak jauh darinya dan sedikit menabrak gerobak Kebab. Kepanikan timbul sedangkan beberapa teriakan melengking mulai terdengar.

Awalnya Laras merasa semua berjalan dengan lancar, tapi saat pinggangnya terbentur stang motor dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, dirinya kaget untuk beberapa saat. Dorongan yang kuat, serta gesekan pada mata kaki dan lutut menimbulkan luka yang cukup mengerikan bagi sebagian gadis. Jujur Laras paling ngeri dengan hal semacam itu, tapi otaknya tidak berpikir lebih jauh karena keselamatan adiknya jauh lebih penting.

"Kamu nggak papa kan Ra?" Bahkan Laras masih sempat menanyakan keadaan Adiknya.

 Rara menangis, berjongkok sambil berusaha membantu Laras berdiri. "Kak Laras aku takuttt, kak Laras pasti sakit banget yaaa." gadis kecil itu gemetar, untung saja Rara dan beberapa orang di sana segera membatu. Menuntun Laras untuk menepi.

"Jangan bilang sama ayah sama ibu, jangan bilang sama siapapun. Cukup kita yang tau!" Laras memberi peringatan.

Rani dengan cepat memberi ultimatum untuk semua yang menjadi saksi mata agar tidak meng-videokan Laras. Kedua pegawai Rani dengan sigap membantu mengawasi semuanya.

Pengemudi motor itu dengan tertatih mendekati Laras, meninggalkan motornya yang kini terjerembab pada pagar tanaman. Membiarkan orang-orang yang mengurus motornya.

Pengemudi yang merupakan seorang montir itu terlihat panik melihat kondisi Laras.

"Kak, mana yang luka? saya minta maaf banget kak, Ya Allah. Motorku blong rem-nya."

Laras mengangguk lemah, gadis itu menahan perih. "Aman, santai aja."

"Aman gimana sih? Orang kamu berdarah-darah gitu kok." Rani tidak terima, pandangannya beralih pada sang montir. "Kakaknya jangan kabur yaa, tanggung jawab sama temenku!"

"I-iya mba, saya pasti tanggung jawab kok."

"Sini KTPnya, biar saya foto dulu." Rani memaksa montir itu menyerahkan indentitas diri untuk di foto.

Sebenarnya hanya sedikit darah yang keluar, tapi Rani begitu melebih-lebihkan. Biar bagaimanapun, gadis itu sangat peduli pada temannya.

"Ran, udahlah. Ayo kita pulang." Laras memohon, gadis itu sudah tidak tahan, risih karena dirinya menjadi tontonan.

Setelah perdebatan singkat, Rani memaksa Laras menaiki mobilnya. Begitu pula dengan Rara dan kedua pegawai Rani. Sedangkan montir yang keadaannya malah baik-baik saja itu mengendarai motor Laras, mengikuti para gadis dari belakang setelah menitipkan motor miliknya pada salah satu angkringan.

Rani awalnya ingin membawa Laras ke klinik terdekat, tapi Laras selalu menolak. Gadis itu dengan kekeuh ingin segera pulang karena merasa keadaannya tidak begitu buruk. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, begitulah Laras terus meyakinkan mereka semua. Tapi satu hal yang Laras pikirkan saat ini. Gadis itu tidak mungkin pulang ke rumah karena pasti akan membuat orang tuanya heboh. Tapi jika ke apartemen? Tentu Rani yang akan heboh. Mungkinkah sudah saatnya Rani untuk mengetahui statusnya?

Laras diam sejenak memikirkan matang-matang keputusan yang akan diambil, sedangkan mobil terus melaju ke rumah orang tuanya.

Tidak ada pilihan lain, Laras menoel lengan Rara. Menyuruh adiknya untuk menjadi petunjuk jalan menuju apartemen.

Awalnya Rani melirik penuh tanda tanya, tapi Laras berjanji akan menjelaskan begitu mereka sudah sampai. Mobil berputar mencari rute baru, montir yang dari tadi dibelakang hanya pasrah saja mengikuti.

Begitu sampai. Rani menyuruh pegawainya untuk pulang dan memesankan mereka taksi online, begitu pula dengan Rara. Awalnya Rara tidak mau pulang, gadis yang masih diliputi perasaan bersalah itu bersikeras untuk menginap. Tapi Laras menolak, mengatakan orang tuanya akan terus bertanya macam-macam jika Rara tidak juga pulang.

"Jangan beritahu siapapun, bersikaplah seperti biasanya." Laras memberi wejangan terakhir sebelum berpisah.

Laras juga menyuruh montir itu pulang begitu selesai memarkirkan motor Laras. Tapi si montir menolak. Dirinya ingin memastikan Laras dan Rara masuk ke unit dengan baik, lagipula cowok itu sedang menghubungi kakaknya yang kebetulan seorang perawat untuk datang. Tidak mungkin dirinya pulang dengan tidak bertanggungjawab sedikitpun.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!