NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak Amarah

Saat makan malam, Kinanti memilih diam. Ia tidak menceritakan kejadian siang tadi kepada Keenan. Baginya, masalah itu sudah selesai. Lagi pula, ia tidak ingin suasana makan malam berubah menjadi tegang.

Namun, semuanya berubah ketika Daffa tiba-tiba membuka percakapan.

“Ayah, pengamen itu apa?” tanyanya polos.

Kinanti yang sedang menuangkan nasi langsung menoleh. Ia memberi isyarat dengan tatapan mata agar bocah itu tidak melanjutkan cerita. Sayangnya, Daffa yang memiliki rasa penasaran tinggi sama sekali tidak menangkap kode tersebut.

Keenan mengernyit.

“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

“Ayah jawab dulu. Pengamen itu apa?”

“Pengamen itu orang yang mencari uang dengan cara menyanyi atau memainkan alat musik. Biasanya mereka ada di terminal, lampu merah, atau tempat umum lainnya,” jelas Keenan.

Daffa mengangguk-angguk.

“Oh... gitu. Ayah tahu nggak? Mas Yudha punya teman pengamen."

Keenan tersenyum tipis.

“Mana mungkin. Kakakmu masih sekolah. Teman-temannya tentu anak-anak seusianya yang juga masih sekolah.”

“Tapi tadi temannya ke sini,” jawab Daffa polos.

Senyum Keenan perlahan memudar. Ia meletakkan sendoknya lalu menatap putra bungsunya dengan serius.

“Tadi ada teman kakakmu datang ke rumah?”

“Iya.”

Keenan beralih memandang Kinanti. “Apa benar begitu?”

Kinanti tampak bingung. Ia memang sempat melihat seorang laki-laki berada di kamar Yudha siang tadi setelah Daffa berteriak, tetapi ia tidak tahu siapa orang itu dan kapan tepatnya orang tersebut datang.

“Ehm..."

“Tadi aku kaget, ada laki-laki yang tidur di kamar Mas Yudha. Aku kira perampok, makanya aku teriak. Ternyata dia temannya Mas Yudha.”

“Yudha,” panggil Keenan.

Tidak ada jawaban.

“Yudha… keluar sebentar. Ayah mau bicara.”

Baru setelah dipanggil untuk kedua kalinya, remaja itu keluar dari dalam kamarnya.

“Iya, Yah.”

“Sejak kapan kamu berteman dengan pengamen?”

“Aku nggak punya teman pengamen,” bantah Yudha.

“Daffa tidak mungkin mengarang cerita.”

“Beneran, Yah. Aku nggak punya teman pengamen.”

“Jadi kamu mau bilang adikmu berbohong?” tanya Keenan tajam. “Kalau begitu, laki-laki yang tidur di kamarmu itu siapa? Hantu?”

Yudha terdiam sejenak.

“Dia temanku. Tapi bukan pengamen.”

“Tapi … Pak Arya yang bilang kalau laki-laki itu pengamen di terminal,” sela Daffa.

Keenan kembali terdiam. Ia mengenal Pak Arya sebagai orang yang sering bepergian ke luar kota menggunakan bus. Sangat mungkin pria itu mengenali para pengamen yang biasa mangkal di terminal. Semakin dipikirkan, semuanya semakin janggal.

“Apa kamu meminta izin kepada ibumu sebelum membawa temanmu ke rumah?” tanya Keenan lagi.

“Aku mau minta izin, tapi dia kelayaban terus.”

Mata Kinanti langsung membulat.Ia hendak menjelaskan, tetapi Daffa lebih dulu menyela.

“Tante Kinan cuma ke rumah nenek nganterin opor ayam. Kenapa Mas bilang Tante kelayaban?"

Yudha mendecih pelan.

“Temanku cuma mau mampir sebentar. Masa aku harus mengusir dia?"

Remaja itu berusaha memutar balikkan fakta.

Tepat saat itu, Tiara keluar dari kamarnya. Gadis itu segera menangkap suasana yang sedang memanas.

“Sudahlah, Yah. Cuma masalah begini kenapa harus dibesar-besarkan? Bukankah Ayah sendiri yang selalu bilang kalau kita nggak boleh memilih-milih teman?"

Keenan menghela nafas panjang. “Kamu tahu rumah kita baru saja kemasukan pencuri,” katanya. “Dan itu terjadi karena kecerobohan kakakmu.”

Tiara terdiam.

“Belum selesai masalah itu, siang tadi kakakmu malah membawa orang asing masuk ke rumah tanpa izin. Bahkan membiarkannya tidur di kamar.”

“Tapi rumah ini nggak kehilangan apa-apa ‘kan?” bantah Tiara. Jelas sekali gadis itu sedang membela kakaknya.

Keenan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

“Yudha, minta maaf kepada ibumu.”

“Kenapa aku harus minta maaf?”

“Karena kamu membawa orang lain masuk ke rumah tanpa izin."

“Malas ah.”

“Yudha!” Suara Keenan menggelegar.

Semua orang di meja makan terdiam.

“Dia itu pengganti ibumu,” lanjut Keenan dengan nada lebih rendah, “Setidaknya hormati dia.”

Yudha hanya memutar bola mata dan membuang muka.

Melihat suasana yang semakin tegang, Kinanti segera angkat bicara.

“Sudah, Mas. Tidak apa-apa kok.”

“Yudha…lain kali kalau mau mengajak teman ke rumah, bilang ya. Biar Tante bisa menyiapkan minum atau makanan.”

Ucapan itu justru membuat Yudha semakin kesal.“Perempuan ini memang aneh. Sudah diperlakukan dingin, masih saja bersikap baik,” gumamnya.

“Yudha, Tiara. Kalian berdua belum makan malam, kan? Ayo makan dulu,” ajak Kinanti lembut.

Meski baru saja diperlakukan dingin dan tidak dihargai, perempuan itu tetap bersikap seperti biasa. Tidak ada nada kesal, apalagi kemarahan. Seolah apa pun yang dilakukan kedua anak sambungnya tak pernah mengurangi ketulusannya.

Di saat bersamaan, terdengar suara seorang pedagang dari arah jalan depan rumah.

“Sate... sate...!”

Suara khas penjual sate yang mendorong gerobaknya terdengar semakin mendekat.

Yudha dan Tiara saling berpandangan sekilas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, keduanya meninggalkan ruang makan lalu berjalan cepat menuju teras.

Keenan memperhatikan kepergian kedua anaknya dengan perasaan tak nyaman. Ia tahu betul alasan mereka memilih keluar. Bukan karena benar-benar ingin makan sate, melainkan karena tidak ingin menyentuh masakan Kinanti.

Setelah Yudha dan Tiara menghilang dari ruang makan, Keenan menghela napas pelan.

“Mas minta maaf,” ucapnya.

Kinanti menoleh.

“Untuk apa, Mas?”

“Karena mereka sering membuatmu kesal.”

Alih-alih mengeluh, Kinanti justru tersenyum lembut.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Mungkin mereka memang lagi kepingin makan sate.”

Jawaban itu membuat hati Keenan semakin terasa sesak. Ia tahu istrinya hanya berusaha menjaga suasana tetap baik. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Tiba-tiba terdengar suara Daffa yang sedang mengunyah dengan penuh semangat.

“Opor ayam masakan Tante lebih enak daripada sate.”

Bocah itu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, lalu mengangguk-angguk sendiri seolah sedang mencicipi makanan dari restoran bintang lima.

“Hmmm... enak banget.”

Kinanti tak kuasa menahan senyum. Sementara itu, Keenan ikut tersenyum tipis melihat tingkah putra bungsunya.

Setelah makan malam selesai, Kinanti segera membereskan meja makan. Tak lama kemudian, mereka bertiga menunaikan shalat Isya' berjamaah.

Usai salat, Kinanti masih duduk di mihrab. Jemarinya membuka mushaf Al-Qur'an, lalu mulai melantunkan ayat demi ayat dengan suara lirih yang menenangkan.

Sementara itu, Keenan dan Daffa berjalan menuju ruang tengah. Mereka berniat menonton televisi sebentar sebelum beristirahat.

“Kakak-kakakmu mana? Apa mereka belum pulang sejak beli sate tadi?” tanya Keenan.

“Tuh, mereka di luar,” jawab Daffa sambil menunjuk ke arah teras.

Udara malam mulai terasa dingin. Keenan berniat menyuruh kedua anaknya masuk ke dalam rumah.Namun, baru beberapa langkah mendekati pintu teras, langkahnya mendadak terhenti. Sebuah kalimat yang terdengar dari luar membuat tubuhnya membeku.

“Apa? Pengamen itu gagal tapi tetap minta bayaran?”

Itu suara Tiara.

Kening Keenan langsung berkerut.

“Iya,” jawab Yudha kesal. “Dia bahkan mengancamku kalau aku nggak ngasih uangnya.”

Jantung Keenan mulai berdetak lebih cepat.

“Tunggu dulu, memangnya Mas punya uang dari mana buat bayar pengamen itu?”

“Aku jual handphone lamaku. Memang cuma laku tiga ratus ribu, tapi Bang Ucok mau dibayar segitu.”

Keenan masih berdiri di balik pintu. Wajahnya perlahan mengeras. Sementara di luar sana, Yudha dan Tiara sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

“Padahal tadi tinggal sedikit lagi rencana kita berhasil. Eh…Daffa bangun dan lihat Bang Ucok lagi tidur di kamarku. Memang sih, dengkurannya berisik banget. Makanya aku sampai keluar kamar.”

Kedua remaja itu terkekeh. Sementara itu, tangan Keenan mulai mengepal. Urat-urat di lehernya tampak menegang.

Yudha lalu melanjutkan,“Padahal aku sudah membayangkan, ayah bakalan marah besar kalau melihat ada laki-laki di kamar perempuan kampungan itu. Ayah pasti langsung mengusirnya, atau bahkan langsung menjatuhkan talak.”

Kalimat itu menjadi batas terakhir kesabaran Keenan. Selama beberapa detik ia masih berusaha mengendalikan emosinya, namun gagal.

“Brak!”

Pintu depan terbuka keras. Yudha dan Tiara sontak menoleh. Wajah keduanya langsung pucat pasi. Di hadapan mereka berdiri Keenan. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Dadanya naik turun menahan amarah yang sudah berada di puncaknya.

“Yudha! Tiara!”

Suara itu menggelegar memenuhi halaman.

Kedua anak itu refleks berdiri. Jantung mereka seakan berhenti berdetak. Untuk pertama kalinya, mereka melihat ayah mereka semarah ini.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!