Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Calon istri
Sementara itu...
Mobil hitam milik Alexander akhirnya memasuki area parkir sebuah rumah sakit swasta ternama di Jakarta. Lampu-lampu gedung mulai menyala seiring matahari yang perlahan tenggelam.
Mobil berhenti, sopir segera turun dan membukakan pintu belakang. Alexander keluar lebih dulu, sedangkan Dara masih duduk diam beberapa detik di dalam mobil.
Ia menatap bangunan rumah sakit di depannya lalu menghela napas pelan. Benar-benar berlebihan. Menurutnya, tamparan itu tidak sampai membutuhkan pemeriksaan rumah sakit.
"Tuan..." Dara mencoba sekali lagi.
Alexander menoleh.
"Saya sungguh tidak apa-apa."
"Tidak ada penolakan." Jawabannya singkat.
"Tapi..."
"Saya sudah bilang. Ini bukan diskusi."
Dara langsung menutup mulut.
Beberapa saat kemudian ia akhirnya turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki lobi rumah sakit. Begitu pintu kaca otomatis terbuka, beberapa petugas langsung mengenali Alexander.
"Tuan Alexander."
Pria itu hanya mengangguk singkat. Tanpa perlu banyak proses, mereka langsung diarahkan menuju area pemeriksaan VIP. Dara yang berjalan di samping Alexander mulai merasa tidak nyaman. Semua orang tampak begitu menghormatinya. Beberapa perawat bahkan tampak gugup saat menyapa.
"Tuan Alexander, dokter sudah menunggu."
"Hm."
Mereka memasuki ruang konsultasi. Seorang dokter wanita paruh baya berdiri dari kursinya. "Selamat sore, Tuan Alexander."
"Sore."
Tatapan dokter itu kemudian beralih kepada Dara. "Apa yang terjadi?"
Sebelum Dara sempat menjawab, Alexander lebih dulu berbicara. "Dia ditampar."
Dokter itu berkedip.
Sedangkan Dara langsung ingin menghilang dari ruangan itu. "Tamparan biasa saja, Dok."
Alexander menoleh.
Dara seketika langsung terdiam.
Dokter itu berusaha menahan senyum melihat interaksi keduanya. "Baik. Mari saya periksa dulu."
Dara akhirnya duduk di kursi pemeriksaan. Dokter memeriksa pipinya secara hati-hati. Beberapa menit berlalu.
"Tidak ada cedera serius."
Dara langsung menghela napas lega.
"Tapi jaringan kulitnya memang mengalami benturan cukup keras." Dokter menatap bekas kemerahan yang masih terlihat jelas. "Kemungkinan akan membiru besok pagi."
Senyum Dara langsung menghilang. "Hah?"
Dokter mengangguk.n"Saya akan berikan salep dan kompres dingin."
Alexander yang sejak tadi berdiri di samping langsung bertanya. "Ada kemungkinan cedera lain?"
Dokter itu menatapnya. "Tidak ada indikasi saat ini."
"Pastikan."
Dokter itu tersenyum tipis. "Tenang saja, Tuan Alexander. Kalau ada sesuatu yang serius, saya pasti akan memberitahu."
Alexander akhirnya mengangguk.
Pemeriksaan selesai beberapa menit kemudian. Saat Dara turun dari kursi pemeriksaan, dokter menyerahkan salep kepadanya.
"Gunakan dua kali sehari."
"Baik, Dok."
Namun sebelum Dara sempat menerima salep itu, Alexander lebih dulu mengambilnya. Dara langsung membeku, Dokter itu juga tampak sedikit terkejut.
Alexander memasukkan salep tersebut ke sakunya. "Saya yang pegang."
Dara berkedip. "Tuan, saya bisa..."
"Tidak."
Dara langsung menelan sisa kalimatnya. Dokter itu berdeham kecil, berusaha menyembunyikan senyumnya. Beberapa menit kemudian mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Koridor rumah sakit sudah jauh lebih sepi sekarang. Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai marmer.
Dara berjalan sedikit di belakang Alexander. Pikirannya masih berantakan. Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi. Mulai dari Sabrina, keluarga Dirgantara, hingga fakta bahwa Alexander membawanya ke rumah sakit hanya karena sebuah tamparan.
"Tuan."
Alexander melirik ke arahnya.
"Terima kasih."
Langkah pria itu melambat sedikit. "Untuk apa?"
"Karena sudah membela saya."
Alexander terdiam. Mereka berjalan beberapa meter lagi sebelum akhirnya pria itu menjawab.
"Kau bekerja untukku."
Dara tersenyum kecil. "Tetap saja tidak semua atasan akan melakukan hal yang sama."
Alexander tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan. Namun beberapa saat kemudian suaranya terdengar pelan.
"Aku tidak membelamu karena kau bawahanku."
Dara membeku, jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Sedangkan Alexander tetap berjalan tanpa menoleh. "Aku membelamu karena kau tidak salah."
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menghangatkan daripada salep apa pun yang baru saja diberikan dokter.
Koridor rumah sakit akhirnya berganti dengan jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu malam. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil relatif tenang.
Dara beberapa kali mencoba membuka percakapan, tetapi setiap kali melihat Alexander yang sedang membaca laporan di tabletnya, niat itu langsung menghilang.
Sementara Alexander terlihat sibuk. Namun sesekali, tanpa sadar, tatapannya masih berpindah ke pipi Dara yang mulai memerah lebih jelas.
Sekitar empat puluh menit kemudian...
Mobil hitam itu memasuki kawasan yang jauh berbeda dari lingkungan tempat Alexander biasa tinggal. Gedung-gedung tinggi mulai berganti menjadi ruko tua, warung pinggir jalan, dan deretan rumah sederhana.
Dara yang sejak tadi diam akhirnya menunjuk ke depan. "Tuan, belok kiri."
Sopir mengikuti arahannya. Beberapa menit kemudian.
"Tuan, cukup sampai sini saja."
Mobil melambat, di depan mereka terlihat sebuah gang kecil yang hanya cukup dilalui sepeda motor dan pejalan kaki. Alexander menoleh ke luar jendela, gang itu sempit. Lampu jalannya tidak terlalu terang. Beberapa anak kecil masih bermain di ujung jalan.
Dan tepat di depan mulut gang, seorang pria sedang duduk santai di atas motor gede berwarna hitam. Pria itu mengenakan jaket kulit gelap. Kakinya menapak di aspal sambil memainkan ponsel. Namun saat mendengar suara mesin mobil mendekat, kepalanya terangkat.
Dara langsung mengenalinya. "Aldi?"
Pria itu tersenyum lebar. "Nah, akhirnya pulang juga."
Alexander yang masih duduk di dalam mobil memperhatikan sosok tersebut tanpa bicara. Matanya menyipit sedikit... Aldi. Dalam hati Alexander langsung muncul satu pertanyaan. Untuk apa dia berada di sini?
Tatapannya beralih kepada Dara, sedangkan Dara terlihat sama bingungnya. Mobil berhenti, sebelum Dara sempat membuka pintu, Aldi sudah berjalan mendekat. Senyumnya yang tadi santai langsung menghilang begitu melihat kondisi wajah Dara.
"Tunggu."
Langkahnya terhenti, mata Aldi langsung tertuju pada bekas merah di pipi kiri Dara. Ekspresinya berubah dalam hitungan detik.
"Dara." Nada suaranya menjadi serius. "Siapa yang melakukan ini?"
Dara refleks menyentuh pipinya. "Ini tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa dari mana?"
Aldi mendekat lagi, rahangnya mulai mengeras. Alexander yang melihat perubahan ekspresi pria itu hanya diam. Namun tatapannya semakin dingin, sedangkan Aldi sama sekali belum memperhatikan keberadaan Alexander.
Fokusnya hanya pada Dara. "Siapa yang nampar kamu?"
"Dara." Suara berat Alexander tiba-tiba terdengar dari dalam mobil.
Dara langsung menoleh.
Alexander menatapnya datar. "Jangan berdiri terlalu lama di luar."
Aldi akhirnya memperhatikan sosok yang duduk di dalam mobil itu. "Astaga. Pria itu langsung menyeringai. "Ada Bos besar ternyata."
Alexander hanya melirik sekilas. "Hm."
Aldi menunjuk pipi Dara. "Kenapa pipinya Dara merah begini? Lo apain, Bos?"
Dara langsung memejamkan mata. Ya Tuhan... kenapa pertanyaan pertama harus itu?
Alexander tidak menjawab, sebaliknya, ia malah bertanya datar. "Kamu sedang apa di sini?"
Aldi berkedip. "Hah?"
Tatapan Alexander tetap tenang. "Kamu sedang apa di sini?" ulangnya.
Aldi menghela napas. "Ya nunggu Dara lah." Lalu ia melirik wanita itu. "Tadi gue kirim pesan nggak dibalas."
Dara langsung merasa bersalah. Ponselnya memang sejak siang hampir tidak disentuh.
Aldi kembali menatap Alexander. "Setelah lo ajak Dara ke rumah keluarga lo, terus kalian nggak balik ke kantor, ya gue khawatir."
Alexander tetap diam, sedangkan Dara mulai memperhatikan kedua pria itu bergantian. Aldi dan Alexander selalu terlihat akrab dengan cara mereka sendiri.
Tatapan Aldi kembali jatuh ke pipi Dara. Kemudian ia menghela napas panjang. "Pasti ini ulah Sabrina ya?"
Dara terdiam, dan itu sudah menjadi jawaban.
Aldi langsung menggeleng. "Lagian lo ngapain sih, Lex, ngajak Dara ke rumah keluarga lo?"
Alexander tetap tenang. "Situasinya mengharuskan."
"Situasi apaan?"
"Masalah pribadi."
"Dan sekarang Dara yang kena dampaknya." Aldi menunjuk pipi Dara lagi. "Jadi begini kan risikonya."
Dara yang menjadi bahan pembicaraan hanya bisa berdiri canggung. Sementara Alexander melirik bekas tamparan di wajah Dara. Tatapannya langsung mengeras sedikit, sepertinya ia juga tidak menyukai fakta itu.
Beberapa detik kemudian ia berkata, "sebaiknya kau pulang, Aldi."
Aldi mengangkat sebelah alis. "Hm?"
"Dara harus istirahat."
"Iya, gue tahu." Aldi mengangguk. "Gue kesini cuma khawatir aja." Tatapannya kembali kepada Dara. "Karena lo ngajak dia ke rumah keluarga lo." Lalu kembali ke Alexander. "Dan ternyata kekhawatiran gue benar."
Sunyi sesaat, lalu Alexander membuka pintu mobil dan turun. Tinggi badannya langsung membuat suasana terasa berbeda. Namun ekspresinya tetap datar seperti biasa.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin dibahas." Alexander memasukkan kedua tangannya ke saku. "Sebaiknya kamu pulang."
Aldi menatapnya beberapa detik. Lalu tiba-tiba tertawa. "Yaelah."
"Kenapa?"
"Bos protektif banget sama Dara."
Dara langsung membelalak. "Pak Aldi!"
Namun pria itu malah menyeringai. "Serius." Ia menunjuk Alexander. "Lo sekarang lebih mirip calon suaminya Dara."
Deg.
Dara langsung membeku, wajahnya memanas dalam sekejap. "Pak Aldi!"
Namun yang membuatnya semakin panik adalah... Alexander tidak terlihat terganggu. Pria itu hanya menatap Aldi tenang. Sampai akhirnya ia berkata, "Kalau saya calon suami Dara..." Alexander berhenti sejenak. Tatapannya tetap lurus pada Aldi. "Kamu mau apa?"
Aldi yang tadinya santai langsung tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Apa!"
Dara bahkan merasa jantungnya berhenti berdetak. Apa? Kenapa Tuan Alexander mengaku di depan Pak Aldi.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Aldi menatap Alexander. Lalu menatap Dara, kemudian kembali menatap Alexander. Ekspresinya perlahan berubah menjadi tidak percaya.
"Tunggu." Ia mengangkat satu tangan. "Lo lagi bercanda kan?"
Alexander tetap datar. "Apa saya terlihat bercanda?"