NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

...27: BERTEMU SOSOK HEBAT...

...****************...

Rava dan Ryujin yang awalnya ingin bersantai menikmati waktu senggang mereka untuk melepas rasa letih di tubuh, dan kini terpaksa harus menerima kenyataan pahit.

Dengan perasaan kaget dan bingung, mereka diseret begitu saja oleh Kenzie untuk pergi ke suatu tempat yang sama sekali tidak mereka ketahui. Hati kedua orang tersebut benar-benar hancur dan dongkol setengah mati. Namun, mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan seorang Kenzie Laurent—pria yang memiliki kehebatan terlampau jauh di atas batas manusia pada umumnya.

Di dalam kendaraan langit milik Arvendel yang melaju membelah awan, Rava dan Ryujin sebenarnya memendam kejengkelan yang teramat sangat. Di dalam benak mereka, ada keinginan besar untuk meronta-ronta dan memberikan pukulan telak ke arah wajah santai Kenzie. Namun, emosi negatif itu seketika teralihkan oleh kekaguman luar biasa saat melihat kehebatan kendaraan super megah nan mewah yang tengah mereka naiki.

Keduanya terkesima melihat bagaimana Kenzie bisa menguasai sihir tingkat tinggi yang mampu memanggil mahakarya terbang seperti ini—sesuatu yang tidak dapat mereka tiru atau ungguli sama sekali. Pada akhirnya, Rava dan Ryujin hanya bisa pasrah dan terpukau. Perasaan yang campur aduk itu perlahan mereda, membuat keduanya terdiam sembari menikmati suasana pemandangan langit yang begitu indah, sejuk, dan memanjakan mata.

Melihat kedua rekannya mendadak terhanyut dalam kedamaian di atas kereta terbang, Kenzie melirik mereka dari sudut matanya. Karena rasa penasaran yang operates, Kenzie memutuskan untuk merusak suasana hati romantis mereka.

"Ada apa dengan kalian berdua?.. Tampaknya kalian baru kali ini merasakan terbang di atas awan, ya?" seru Kenzie dengan nada meremehkan yang khas.

Seketika, suasana hati Rava dan Ryujin kembali dongkol. Mereka menoleh dan menjawab dengan nada ketus sekaligus malas.

Ryujin menyahut pertama kali sembari memonyongkan mulutnya ke depan, "Memangnya kenapa kalau iya? Masalah buatmu?!"

"Kami berdua memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang, dan ini adalah kali pertama dalam hidupku melihat dunia secara langsung dari atas langit," sambung Rava ikut ketus.

"Begitu, ya... Memang dasar dari orang lemah ya seperti ini. Kalau bukan kurang berkelas, pasti mereka cabul!" celetuk Kenzie tanpa filter sama sekali, menghina kedua temannya secara instan.

"Heeh?! Apa?!" Ryujin langsung berteriak tidak terima. Logikanya benar-benar menolak perkataan Kenzie yang melompat terlalu jauh. Sembari menggerutu dan mengerutkan wajahnya yang memerah, ia memprotes, "Mengapa jadi cabul?! Apa kaitannya status orang lemah dengan sifat cabul?! Di mana letak hubungannya?!"

"Iya, betul sekali, Adik Junior!" dukung Rava yang juga tidak habis pikir. "Coba pikirkan, orang lemah kenapa bisa dituduh jadi orang cabul? Hubungannya ada di mana? Aku benar-benar cukup heran dengan isi kepala Kakak Senior Kenzie ini."

Kenzie dengan santai menopang kepalanya, lalu mengeluarkan omong kosong andalannya dengan ekspresi narsistik. "Dasar kalian orang awam yang kurang pengetahuan. Dengar ya, kalian tidak akan mampu memahami perkataan orang pintar sepertiku ini. Memang dasar otak kalian saja yang lemah, sehingga tidak mampu berpikir setinggi dan sejenius aku!"

"Maksudnya apa sih?! Aku benar-benar kurang paham!" sahut Ryujin memasang wajah datar yang terlihat sangat bodoh sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

*Sialan! Pria berpenampilan manja ini pasti mulai mempermainkan kami lagi!* benak Rava menggerutu hebat. Di dalam pikirannya, ia sudah meraung-raung ingin memberi Kenzie pukulan bertubi-tubi. Namun, demi keselamatan dirinya, Rava terpaksa memasang senyum palsu. "Hehehe... Saya paham apa yang dimaksud oleh Kakak Senior sekarang," ujar Rava tertawa canggung.

"Baik, baguslah kalau kamu cukup mengerti maksud cerdas dari ucapanku," ucap Kenzie sembari mengangguk-angguk puas, berlagak seperti seorang senior berhati malaikat yang baik budi.

*Hehehe... Kedua bocah ini begitu gampang dipermainkan!* benak Kenzie tertawa usil di balik telapak tangan yang sengaja menutupi mulutnya.

"Sepertinya kita telah tiba di tujuan. Sekarang, berpeganglah yang erat karena kita akan segera mendarat!" ucap Kenzie yang tiba-tiba memicu rencana usil berikutnya untuk membuat kedua temannya panik. "Siap-siap, pegang erat-erat dinding kereta karena mungkin akan terjadi guncangan hebat yang bisa mematahkan tulang! Dalam hitungan satu... dua... tigaaa!.." tegas Kenzie dengan wajah yang menahan tawa sekuat tenaga.

Mendengar gertakan itu, Rava dan Ryujin seketika panik setengah mati. Mereka mencengkeram erat-erat dinding kayu kereta terbang sembari berteriak histeris, "AAAHHH!.." Keduanya menutup mata rapat-rapat, berharap tubuh mereka tidak hancur saat menghantam tanah.

Melihat respons yang begitu dramatis, Kenzie justru memasang ekspresi datar tanpa dosa karena tidak menyangka Rava dan Ryujin akan bersungguh-sungguh menanggapi leluconnya. Kereta terbang itu mendarat dengan teramat mulus tanpa guncangan sedikit pun di halaman.

"Sudah cukup. Kita sudah sampai di bawah. Diamlah dan jangan merengek seperti bocah!" ujar Kenzie menatap malas ke arah kedua anak lebay itu.

"Ahh tidak!.. Kakiku... aku tidak ingin lumpuh di usia muda! Ahh!.." teriak Ryujin masih menutup mata, berakting sangat dramatis seolah kakinya sudah patah.

*Plak!..*

Satu pukulan mentah dari tangan Kenzie mendarat tepat di atas kepala Ryujin, menghentikan teriakan berlebihan yang membuat telinganya berdengung.

Sementara di sudut lain, Rava masih komat-kamit dengan bibir bergetar, merapalkan doa meminta keselamatan untuk hidupnya. "Tolong lindungi aku Dewa Bela Diri, lindungi hamba Dewa Langit!.."

Melihat hal itu, dengan iseng Kenzie maju dan mengguncang kuat-kuat tubuh Rava dari belakang. Alhasil, Rava berteriak penuh histeris memecah kesunyian tempat tersebut, "MAMA!.. ANAKMU KINI JADI CACAT!.."

"KITA TELAH SAMPAI DI DARATAN!! TENANGLAH KALIAN BERDUA MATA DUITAN...!" teriak Kenzie dengan suara lantang, berusaha menyadarkan kedua orang tersebut dari lingkaran kebodohan mereka.

Rava dan Ryujin perlahan membuka mata mereka. Setelah menyadari bahwa kondisi mereka baik-baik saja dan kereta sudah berhenti sempurna, rasa lega yang luar biasa langsung menyerbu. "Ehh.. Kita... Kita selamat! Yeahh!" seru keduanya secara berlebihan, lalu secara spontan berpelukan erat sembari menangis haru.

Kenzie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Di matanya, kedua temannya ini telah berada di tingkat kebodohan akut yang sudah sangat sulit untuk diselamatkan oleh tabib mana pun.

"Sudah cukup bercandanya. Cepat turun dan ikuti langkahku. Kita akan menjumpai orang penting yang sangat hebat di tempat ini. Ingat satu hal, jaga etika dan mulut kalian dengan baik ketika bertemu dengan kedua orang ini," tegas Kenzie mengubah intonasi suaranya menjadi sangat serius dan dingin.

Mendengar perubahan nada bicara Kenzie yang tidak biasa, Rava dan Ryujin sontak saling pandang. Mereka menelan ludah dengan berat saat merasakan aura ketegangan yang mendadak menjalar di sekujur tubuh mereka. Tanpa berani mengeluarkan suara lagi, keduanya melangkah turun dari kereta dan mengekor di belakang Kenzie secara hati-hati dengan langkah yang gemetaran.

Di area halaman depan kediaman rahasia yang asri, sosok Arvendel dan Vargan rupanya sudah berada di luar sejak tadi. Keduanya tampak sedang duduk santai di kursi kayu, ditemani oleh teko arak legendaris yang aromanya menguar nikmat. Mereka memang tengah menunggu kedatangan Kenzie yang berniat mengambil barang-barang pesanannya—yaitu lima pedang kayu khusus yang dilengkapi *crystal magic* pengatur gravitasi ekstrem, serta satu tongkat tulang naga gajah esensi kura-kura yang telah disiapkan secara khusus oleh Arvendel.

Saat melihat dari kejauhan ada tiga sosok yang berjalan mendekat, Arvendel sedikit mengangkat sebelah alisnya. Ia terkejut melihat murid nakalnya itu ternyata tidak datang sendirian, melainkan membawa dua orang asing bersamanya.

Sesampainya di hadapan kedua pria agung tersebut, Kenzie segera membungkukkan tubuhnya, memberikan penghormatan formal yang sopan ke arah Vargan.

Di sisi lain, Rava dan Ryujin yang baru saja tiba seketika membeku. Mereka merasakan gelombang aura tekanan spiritual yang terlampau kuat dan masif memancar dari tubuh dua pria di hadapan mereka, membuat dada mereka terasa sesak hanya dengan berdiri di sana. Menyaksikan Kenzie membungkuk, keduanya dengan cepat mengikuti gerakan Kenzie; mereka membungkuk dalam-dalam dan memberikan salam dengan tubuh yang gemetaran.

Di dalam hati, Rava dan Ryujin saling berkomunikasi lewat tatapan mata yang dipenuhi rasa syok yang luar biasa. Mereka sangat kaget dengan fakta betapa mengerikannya lingkaran kenalan yang dimiliki oleh Kenzie. Tidak heran jika Kenzie memiliki kekuatan seperti monster, ternyata orang-orang yang berada di sekitarnya pun jauh lebih hebat dan memiliki kedalaman energi yang tidak bisa diukur oleh akal sehat mereka!

Namun, setelah melihat Kenzie selesai memberi hormat kepada Vargan, pemuda berambut perak itu justru mengabaikan sosok di sebelahnya. Arvendel yang merasa tidak dihargai langsung berdehem keras, memberikan kode tegas agar muridnya itu menyapa gurunya sendiri.

Akan tetapi, tanggapan yang keluar dari mulut Kenzie benar-benar berada jauh di luar bayangan Arvendel.

"Oh... Halo Pak Tua, kita berjumpa lagi di sini. Bagaimana kabarmu hari ini? Masih belum mati, kan?" celetuk Kenzie dengan wajah tanpa dosa.

*Uhuk! Uhuk!*

Kalimat kurang ajar itu seketika membuat Arvendel tersedak hebat tepat saat ia sedang meneguk cangkir arak miliknya dengan gaya anggun. Citra agungnya hancur dalam sekejap.

Mendengar pria dewasa yang masih memiliki paras tampan, gagah, dan menawan itu disebut sebagai "Pak Tua" oleh Kenzie, Rava dan Ryujin seketika terperangah dengan mata membelalak sempurna. Mereka benar-benar syok dan ketakutan setengah mati atas kelancangan Kenzie.

Bagi mereka, tindakan Kenzie di hadapan seorang Master yang memiliki aura energi sekuat itu adalah bentuk bunuh diri murni! Itu adalah tabiat buruk yang sangat lancang yang bisa menjerumuskan nyawa mereka bertiga ke dalam jurang kematian dalam hitungan detik. Bagaimana tidak? Orang yang auranya saja bisa memberikan tekanan ketakutan sedahsyat ini, tentu bisa membunuh mereka hanya dengan satu jentikan jari jika mereka mau.

Dan benar saja, sedetik kemudian, kemarahan Arvendel langsung meledak-ledak. Tubuhnya seketika diselimuti oleh kobaran aura energi khas miliknya yang berwarna pekat dan mengintimidasi. Ia begitu murka pada murid nakalnya yang sama sekali tidak memberikan muka atau menjaga harga dirinya di depan teman-teman yang ia bawa sendiri.

"BOCAH KURANG AJAR! KAU BENAR-BENAR MINTA DIKULITI, HAH?!" bentak Arvendel dengan suara yang menggetarkan tanah sekitar.

Rava dan Ryujin tersentak kaget, lutut mereka lemas dan rasa takut yang teramat sangat membuat mereka berdua hampir saja mengompol di dalam celana.

Melihat pemandangan ekstrem itu, Vargan hanya bisa tersenyum canggung sembari menggelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa kelakuan sepasang guru dan murid ini memang selalu aneh. Demi mencegah dua tamu muda di hadapannya pingsan karena ketakutan, Vargan segera melangkah maju untuk mencairkan suasana yang terlampau menekan tersebut.

"Halo, anak-anak muda. Namaku Vargan, panggil saja aku Master Vargan," sapa Vargan dengan senyuman hangat nan ramah, seketika menetralkan aura ketegangan di udara. "Kalau boleh tahu, nama kedua teman Kenzie yang sopan ini siapa?" tanya Vargan dengan nada lembut.

Mendengar teguran halus dari sahabat karibnya, Arvendel akhirnya mulai melunakkan auranya, meski ia sama sekali belum menerima permohonan maaf dari murid nakalnya. Sembari mendengus kecil, Arvendel ikut berbicara, "Hmph! Kali ini aku memaklumi perilakumu yang tidak tahu adat itu, Kenzie. Tapi lain kali, aku sendiri yang akan memberimu pelajaran fisik! Salam kenal, anak muda, namaku Arvendel dan kalian bisa memanggilku Master Arvendel. Silakan sebutkan nama kalian berdua."

Merasa aura mengerikan itu telah lenyap, Rava dan Ryujin tetap masih gemetaran tapi dengan segera menyebutkan nama mereka yang terdengar terbata-bata.

"A-Aku... namaku Rava, Master," sahut Rava dengan tergesa-gesa sembari menundukkan kepala.

"Dan aku... namaku Ryujin," sambung Ryujin ikut memperkenalkan diri dengan sikap yang teramat santai namun penuh rasa segan.

"Mohon maafkan kelancangan kami, Master Arvendel dan Master Vargan... karena kami telah lancang datang dan mengganggu waktu kebahagiaan bersantai kalian hari ini," ujar Rava dengan sigap meminta maaf, berusaha membersihkan nama kelompok mereka dari tabiat buruk Kenzie.

Sementara itu, Kenzie justru berdiri dengan sangat santai di samping mereka. Kedua tangannya ditaruh di belakang kepala sembari menatap geli ke arah kesopanan berlebihan dari kedua temannya yang terlihat sangat ketakutan hingga wajah mereka pucat pasi.

Arvendel yang melihat hal itu kembali mendengus, lalu menunjuk Kenzie dengan cangkir araknya. "Bocah nakal, lihatlah! Kedua temanmu ini memiliki tabiat dan sopan santun yang sangat baik, sedangkan kamu sebagai muridku justru tumbuh menjadi makhluk yang begitu kurang ajar dan menyebalkan!" ujar Arvendel menyelipkan secercah makian sayang kepada Kenzie.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!