NovelToon NovelToon
Istriku Mengubah Hidupku

Istriku Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramirisss

Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.

Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.

Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.

Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.

[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 Menemani Sisil

​Beberapa hari berlalu dengan ritme perburuan yang intens. Berkat efisiensi sihir petir dan pedang Dissord miliknya, reputasi Arka meroket tajam.

Melalui aplikasi resmi di ponselnya, ia tersenyum puas melihat simbol keperakan yang kini diperbarui: Userator 2 Stars.

​Perubahan kasta itu berbanding lurus dengan kondisi finansialnya. Dari yang dulunya harus memeras keringat demi recehan, kini Arka mampu meraup puluhan juta ITD hanya dalam hitungan hari. Dunia kuli bangunan benar-benar sudah ia tinggalkan jauh di belakang.

​Namun, hari ini Arka memilih untuk menyimpan pedangnya.

Tidak ada jadwal berburu, karena hari ini adalah hari khusus untuk memenuhi permintaan sang istri yang ingin ditemani keluar.

​"Kamu sudah selesai, Sayang?" tanya Arka, bersandar di dekat pintu kamar kontrakan mereka yang kini terasa jauh lebih nyaman.

​"Sebentar lagi, Mas," sahut suara lembut Sisil dari balik pintu.

​Beberapa menit kemudian, knop pintu berputar. Saat pintu terbuka, Arka seketika terpaku di tempatnya. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

​Sisil keluar dengan penampilan yang sepenuhnya berbeda. Gadis itu mengenakan gaun feminin kasual berwarna pastel yang pas di tubuh mungilnya, dipadukan dengan riasan tipis alami yang membuat wajahnya terlihat luar biasa segar.

 Rambutnya yang biasa diikat asal kini tertata rapi, membingkai sepasang matanya yang bulat jernih. Aura keimutannya meningkat berkali-kali lipat.

​"Ayo, Mas. Aku sudah siap," ucap Sisil, memiringkan kepalanya sedikit.

​Arka berkedip beberapa kali, matanya masih enggan beralih. "Kamu... cantik banget, Sil. Aku sampai bingung harus melihat ke mana lagi."

​Wajah Sisil langsung merona hebat. Ia menunduk malu, jemarinya meremas tas selempang kecilnya.

"Ih, Mas! Jangan dilihat terus begitu, ah. Kan setiap hari juga sudah sering liatin aku. Ayo jalan sekarang!" ucapnya salah tingkah, menyembunyikan senyum bahagianya.

​"Iya, iya, ayo," kekeh Arka geli.

​Begitu melangkah keluar rumah, Arka dengan sigap meraih dan menggenggam erat jemari lembut Sisil, menuntunnya menyusuri jalanan distrik.

​"Kita mau ke mana hari ini, Sayang?"

​"Hmm, aku mau belanja beberapa kebutuhan pokok, Mas. Mau cari pakaian sehari-hari dan beberapa perlengkapan lainnya," jawab Sisil.

​"Kalau begitu, ayo kita ke mall terbesar di pusat kota!" ajak Arka bersemangat.

​Sisil menoleh, agak ragu. "Eh? Tapi aku cuma mau beli pakaian biasa saja, Mas. Ke toko di pinggir jalan juga sebenarnya sudah cukup."

​"Sekali-kali tidak apa-apa, sekalian beli pakaian yang mewah untukmu," sahut Arka tegas namun lembut.

​Sisil menghela napas pasrah, tetapi binar bahagia di matanya tidak bisa disembunyikan.

"Ya sudah... tapi sekalian aku juga mau membelikan pakaian untukmu, ya? Aku lihat kaus-kaus harianmu yang dulu sudah mulai kusam semua."

​"Siap! Apapun yang dipilihkan istri tercinta, pasti aku pakai," ucap Arka sambil menepuk dadanya bangga.

​Sisil hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang kini jauh lebih ceria dan terbuka.

"Habis belanja... bagaimana kalau kita dating? Makan malam di luar?" tambah Arka dengan kedipan mata nakal.

​Mendengar kata dating, mata Sisil berbinar. Tanpa ragu, ia langsung melepaskan genggaman tangannya dan beralih memeluk erat lengan kokoh Arka sepanjang sisa perjalanan.

​Mereka akhirnya tiba di salah satu pusat perbelanjaan termewah di Benua Axia. Bangunan megah bertingkat itu dipenuhi deretan toko berkilau dan lautan manusia.

 Arka dan Sisil berjalan beriringan dengan mesra, menaiki eskalator menuju lantai dua yang khusus menjual pakaian.

​"Wah... besar sekali tempatnya. Tokonya banyak banget, aku sampai bingung, Mas," gumam Sisil, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan takjub.

​"Kalau bingung, kita borong saja isi semua toko yang ada di lantai ini," canda Arka dengan nada santai khas orang kaya baru.

​"Ih, Mas! Jangan bercanda deh, uangnya disimpan, jangan boros!" cetus Sisil sambil mencubit pelan pinggang Arka, membuat pemuda itu mengaduh geli.

​"Aduduh! Iya, iya, ampun, Sayang. Cuma bercanda," Arka terkekeh sambil mengusap pinggangnya.

​Langkah Sisil terhenti di depan sebuah butik pakaian yang dekorasinya terlihat elegan namun tetap hangat. "Kita coba lihat di sana yuk, Mas."

​Begitu mereka melangkah masuk, seorang staf toko langsung menyambut mereka dengan membungkuk hormat.

 "Selamat datang di toko kami, Tuan dan Nona. Silakan melihat-lihat, jika ada ukuran atau model yang dicari, saya siap membantu."

​Sisil segera menjelajahi deretan gantungan baju dengan mata berbinar. Dengan penuh perhatian, ia memilihkan beberapa kemeja dan celana kasual yang menurutnya cocok untuk bentuk tubuh atletis Arka. Setelah itu, barulah ia memilih beberapa gaun untuk dirinya sendiri.

​Setiap kali keluar dari ruang ganti dengan pakaian baru, Sisil akan berputar pelan di depan Arka, meminta penilaian.

 Di mata Arka, semua yang melekat di tubuh istrinya terlihat sepuluh kali lipat lebih indah. Alhasil, respons Arka selalu sama: wajah takjub dan dua jempol yang teracung tinggi.

​Setelah puas memilih, mereka membawa tumpukan belanjaan ke meja kasir.

​"Total semuanya menjadi 180.000 ITD, Tuan. Metode pembayarannya ingin menggunakan debit, kartu Userator, atau tunai?" tanya kasir dengan ramah.

​Arka langsung mengeluarkan Kartu Userator miliknya yang memancarkan pendar keperakan, lalu menyerahkannya ke petugas.

​Sisil yang melihat itu berbisik pelan, "Lho, Mas, kenapa kamu yang bayar? Uang belanja yang kamu transfer kemarin kan masih banyak di rekening."

​"Uang yang kemarin itu mutlak milikmu, simpan saja. Hari ini, kalau sedang jalan berdua, biar Masmu ini yang menanggung semuanya," jawab Arka, menepuk dompetnya dengan senyum bangga.

​Mendengar perdebatan kecil pasutri baru itu, staf kasir ikut tersenyum geli.

"Nona, suami Anda benar. Uang pemberian suami itu paling pas dipakai saat Anda sedang sendirian atau ada keperluan mendesak. Tapi kalau sedang pergi berdua, biarkan Tuan yang menunjukkan perannya," goda sang staf sambil mengedipkan mata.

​Wajah Sisil merona merah. "I-iya deh..." bisiknya pasrah.

​"Ini kartu dan notanya, Tuan. Terima kasih banyak telah berbelanja di toko kami," ucap kasir menyerahkan kembali kartu Userator tersebut.

​Setelah keluar dari butik pakaian, Sisil kembali menarik lengan Arka menuju sebuah toko di sudut koridor yang memiliki dekorasi serba merah muda dan pencahayaan temaram yang estetik.

​"Selamat datang di gerai kami, Nona. Koleksi pakaian dalam terbaru kami baru saja tiba, silakan dipilih," sambut staf toko tersebut dengan senyuman penuh arti.

​Arka seketika membeku di ambang pintu. Matanya terbelalak melihat sekeliling toko yang dipenuhi pajangan pakaian dalam wanita—mulai dari yang berenda halus hingga model yang sangat minim dan menggoda.

 Atmosfer di dalam toko itu mendadak membuat tenggorokan Arka terasa kering.

​Berbeda dengan Arka yang mendadak kaku laksana patung batu, Sisil justru berjalan dengan santai memilah-milah gantungan produk.

​"Mas, menurutmu... apa warna ini cocok untukku?" tanya Sisil tanpa dosa, membalikkan tubuhnya sembari menunjukkan sebuah bra berenda warna biru elektrik yang sangat seksi.

​Darah Arka berdesir hebat. Bayangan Sisil mengenakan benda tersebut langsung berputar liar di kepalanya.

 "Co... Cocok banget, Sil. Ambil saja," jawab Arka terbata-bata, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​"Oke, aku coba dulu ya." Sisil membawa beberapa pilihan ke ruang ganti.

​Guna menghindari tatapan canggung dari para staf wanita, Arka bergegas menuju area ruang tunggu yang disediakan di sudut toko.

 Di sana, sudah ada tiga pria lain yang duduk dengan pasrah, memegang tas belanjaan pasangan masing-masing.

​Arka duduk di salah satu kursi kosong, lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan sebagai bentuk sapaan sesama pria.

 Ketiga pria itu membalas dengan anggukan yang sama—sebuah kode solidaritas tanpa suara dari para suami yang sedang terdampar di wilayah kekuasaan wanita.

​"Menemani pacar atau istri, Bro?" bisik pria di sebelah Arka, mencoba memecah keheningan.

​"Istri saya," jawab Arka dengan senyum tipis.

​Pria itu menepuk pundak Arka dengan tatapan bersimpati. "Sabar ya, Bro. Babak ini biasanya memang yang paling lama dan menguras iman."

​Arka hanya bisa tertawa renyah. Beberapa menit kemudian, seorang staf toko menghampiri area tunggu. "Tuan Arka? Istri Anda memanggil Anda ke area ruang ganti."

​Arka bangkit berdiri, merasakan tatapan "semoga beruntung" dari rekan-rekan senasibnya di ruang tunggu. Ia melangkah menuju bilik ruang ganti yang ditutupi tirai kain tebal.

​"Tunggu sebentar ya, Tuan. Nona Sisil sedang mencobanya," ucap staf tersebut sebelum pamit undur diri.

​Detik berikutnya, tirai kain itu bergeser pelan. Sisil melangkah keluar dengan canggung, dan pertahanan mental Arka runtuh seketika.

​Sisil mengenakan sebuah lingerie tipis transparan berwarna hitam pekat yang membungkus sempurna lekuk tubuh indahnya.

Kontras antara kulit putih mulusnya dengan kain hitam satin itu terlihat luar biasa eksotis. Ditambah lagi, sepasang stocking jala tipis membungkus kaki jenjangnya hingga ke paha.

​"Ba... Bagaimana, Mas? Apa aneh ya? Petugasnya tadi yang menyarankan model ini..." bisik Sisil, wajahnya sudah memerah sempurna hingga ke ujung telinga, tangannya berusaha menutupi bagian dadanya yang terekspos samar.

​Arka menelan ludah dengan susah payah. Otaknya mendadak blank.

​"Beli. Sekarang juga. Ambil semua warna yang ada untuk model ini," ucap Arka tanpa basa-basi, suaranya terdengar berat dan penuh tuntutan.

​Sisil tersentak, lalu buru-buru masuk kembali ke dalam tirai dengan wajah yang hampir meledak karena malu. "I-Iya!"

​Ketika mereka keluar dari toko tersebut beberapa menit kemudian dengan kantong belanjaan baru, wajah keduanya sama-sama memerah.

 Arka berjalan dengan langkah agak kaku, berusaha keras menahan "aset pribadinya" di balik celana yang mendadak bergejolak hebat akibat stimulasi visual tadi.

​Untuk mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran liar, Sisil menarik Arka menuju sebuah gerai elektronik berlogo mewah yang memajang jajaran ponsel terbaru.

​"Ayo kita ke sana, Mas," ajak Sisil.

​"Kamu mau beli ponsel baru, Sayang?" tanya Arka, mencoba menetralkan napasnya.

​"Iya. Aku ingin punya ponsel sendiri supaya bisa menghubungi Mas kalau Mas sedang berada di luar. Sekalian... aku mau membelikan yang baru untukmu. Lihat deh, ponsel Mas layarnya sudah retak-retak begitu," ucap Sisil penuh perhatian, menunjuk saku celana Arka.

​Hati Arka menghangat mendengarnya. Di tengah tumpukan uang yang ia miliki sekarang, justru Sisil yang pertama kali menyadari hal-hal kecil seperti ponsel lamanya yang rusak.

​Mereka disambut oleh seorang pramuniaga yang langsung memamerkan produk unggulan mereka.

 "Selamat datang di gerai kami. Jika Anda mencari performa terbaik, kami sangat merekomendasikan seri Flagship terbaru ini, Tuan, Nona. Ponsel berlogo anggur digigit ini memiliki spesifikasi tempur tertinggi, kamera sejernih kristal, ketahanan air tingkat tinggi, dan fitur pengisian daya nirkabel tercepat saat ini."

​Arka memeriksa unit sampel sejenak. Desainnya sangat elegan dan tipis. "Saya mau dua unit untuk seri tertinggi ini. Tolong siapkan."

​Sisil terkejut dan berbisik, "Eh? Mas, beli yang biasa saja kali... itu harganya pasti mahal sekali."

​"Tidak apa-apa, Sayang. Untuk alat komunikasi kita, harus pakai yang paling bagus dan awet supaya tidak perlu gonta-ganti lagi dalam waktu dekat," jawab Arka mutlak, sambil menyerahkan kartu Userator-nya ke kasir.

​"Total untuk dua unit seri tertinggi setelah potongan diskon paket pasangan adalah 1.970.000 ITD, Tuan. Transaksi berhasil, terima kasih banyak atas kunjungannya!" ucap petugas kasir dengan senyum lebar setelah melakukan proses pemindaian kartu.

​Dengan dua kotak ponsel premium di tangan, mereka melangkah keluar dari toko.

​"Kita mau ke mana lagi, Sayang? Ada yang kurang?" tanya Arka melihat kantong belanjaan mereka yang sudah menumpuk.

​Sisil memegangi perutnya yang tiba-tiba berbunyi kecil, lalu menyengir menggemaskan.

 "Sudah cukup semua, Mas. Tapi... sepertinya perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ayo cari tempat makan."

​"Siap, Bos. Mari kita cari restoran terbaik di lantai atas," ucap Arka bersemangat.

​Namun, baru saja Arka hendak melangkah menuju area lift, sebuah kilatan cahaya keemasan yang familiar tiba-tiba berkedip di sudut penglihatannya, memunculkan baris-baris teks semi-transparan dari sistem.

​Ting!

​[Selamat! Anda telah berhasil membahagiakan istri Anda hari ini!]

​[Seluruh Atribut Stat Dasar Anda Mengalami Peningkatan!]

​[Mendapatkan Skill Aktif Baru: 'Domination']

​[Mendapatkan Skill Pasif Baru: 'Cure']

​[Mendapatkan Skill Pasif Baru: 'Swordsmanship']

​[Hadiah Bonus Tambahan: 1 Unit Luxury Sports Car (Gratis). Unit telah dialokasikan dan dapat diambil kapan saja di dealer resmi terdekat dengan menunjukkan Kartu Userator Anda.]

​Arka menghentikan langkahnya sejenak, menatap rentetan hadiah yang luar biasa masif itu dengan rasa takjub yang tak terbendung dalam hati.

​"Hanya dengan menemani belanja dan membelikan barang-barang ini... sistem langsung menganggapnya sebagai pencapaian membahagiakan istri?" pikir Arka, menggelengkan kepalanya tak percaya.

 Peningkatan stat dan tiga skill baru sekaligus, ditambah sebuah mobil sport mewah secara cuma-cuma.

​Arka menoleh ke samping, menatap wajah Sisil yang sedang tersenyum manis sambil bersenandung kecil sembari memeluk lengannya, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membuat suaminya bertambah kuat berkali-kali lipat.

​Sebuah senyuman hangat terukir di bibir Arka.

​"Padahal... jika boleh jujur... di sepanjang hari ini, justru aku yang merasa menjadi pria paling bahagia di dunia karena memilikinya."

​Bersambung...

1
Alia Chans
lanjut thor😣
like+ bunga🌹✍️






kalo berkenan mmpir y thor😉
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
**Maulina**
lanjut thor💪
Arts: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Zem Pioneer
namalu dapin bg?
Zem Pioneer: temen cewek gw baru putus namanya sisil ga lama ini,kali aja lu cowoknya yg gamon...sorry dah 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Dell AliNka
up yg banyak Tor
Arts: ditunggu ya
total 1 replies
Nyxara_09
keren! btw semangat kak!
Nyxara_09: iya kak, maaf yaa🙏
total 2 replies
sakura
...
Kim Borahae
hii, ceritanya seru.. SUKAAAA😍 Semangat terus ya 💪.


Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/
Key Kastara
Halo author, smangat selalu buat cerita kerennya 😍👍
Arts: makasih
total 1 replies
Sahabat Oleng
Hadir thor☝️
Arts: thankyou udah hadir
total 1 replies
Ofu Madu
💪
Ofu Madu
bagus👍..up yg bnyk torr
Arts: ditunggu ya, makasih udah mampir
total 1 replies
Ofu Madu
lanjut 👍
cila_aa
ihh seruu next chapter selanjutnya thor/Smile/
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!