NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAWANCARA AKHIR

Hari wawancara akhir dimulai dengan suasana yang lebih resmi dibanding tahapan seleksi sebelumnya. Evan mengenakan baju kemeja putih bersih dan celana panjang hitam, membawa folder berisi dokumen penting serta portofolio yang berisi catatan tentang pengalaman dan pengetahuannya dalam ilmu pengobatan tradisional.

Setelah melalui proses administrasi dan sedikit menunggu di ruang tunggu yang elegan, Evan diarahkan ke sebuah ruangan konferensi yang terletak di lantai atas Kantor Komando Militer Daerah III/Siliwangi. Di dalam ruangan, tiga perwira tinggi sudah menunggu dengan sikap yang tegas namun ramah.

Di tengah duduk Kolonel Hasanuddin, seorang perwira berpengalaman yang telah melayani selama lebih dari 25 tahun. Di sisinya duduk Letnan Kolonel Siti dan Mayor Prasetyo, masing-masing ahli di bidang kesehatan militer dan operasional lapangan.

"Silakan duduk, Evan Saputra," ujar Kolonel Hasanuddin dengan suara yang dalam namun ramah. "Kami telah melihat hasil tes dan evaluasi kamu selama seleksi ini. Prestasimu sangat mengesankan, terutama dalam tes kebugaran fisik dan pengetahuan tentang pengobatan tradisional."

Evan duduk dengan tegak, menjawab dengan sopan, "Terima kasih banyak, Pak Kolonel. Saya hanya melakukan yang terbaik dan mengandalkan pelajaran yang saya dapatkan dari keluarga serta leluhur saya."

PEMBICARAAN MULAI

Wawancara dimulai dengan pertanyaan tentang latar belakang keluarga, pendidikan, dan alasan Evan ingin menjadi tentara. Evan menjelaskan dengan jelas dan lugas tentang Kakek Darmo, warisan ilmu beladiri dan pengobatan tradisional yang diterimanya, serta impiannya untuk menggabungkannya dengan ilmu kedokteran modern untuk membantu lebih banyak orang.

Letnan Kolonel Siti yang merupakan dokter spesialis kesehatan masyarakat mulai mengajukan pertanyaan lebih mendalam. "Kamu menyebutkan bahwa ingin mengembangkan pengobatan komplementer di dalam militer. Bagaimana pandanganmu tentang integrasi antara pengobatan tradisional dan modern di lingkungan kesehatan militer?"

"Menurut saya, Pak Letnan Kolonel," jawab Evan dengan percaya diri, "keduanya memiliki kelebihan masing-masing yang bisa saling melengkapi. Di daerah terpencil atau saat fasilitas kesehatan modern terbatas, ilmu tradisional bisa menjadi solusi yang efektif. Namun kita juga harus memastikan bahwa pengobatan tradisional yang digunakan telah melalui uji keamanan dan efektifitas yang sesuai dengan standar ilmiah."

Ia melanjutkan, "Saya berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang tanaman obat lokal yang bisa digunakan sebagai pelengkap pengobatan militer, terutama untuk kondisi seperti nyeri otot, demam, dan masalah kulit yang sering terjadi pada prajurit di lapangan."

Mayor Prasetyo kemudian mengajukan pertanyaan tentang kemampuan kepemimpinan dan kerja sama tim. "Jika kamu harus memimpin sekelompok prajurit dalam situasi sulit, bagaimana cara kamu mengambil keputusan dan memastikan keselamatan serta kesejahteraan anggota tim?"

"Saya akan memprioritaskan keselamatan semua anggota terlebih dahulu, Pak Mayor," jawab Evan dengan tegas. "Saya akan mendengarkan pendapat dari setiap anggota tim karena setiap orang mungkin memiliki pengalaman dan pandangan yang berbeda. Setelah itu, saya akan mengambil keputusan yang terbaik berdasarkan informasi yang ada dan dengan mempertimbangkan kepentingan keseluruhan."

Ia menambahkan, "Kakek Darmo selalu mengajarkan saya bahwa seorang pemimpin yang baik bukanlah yang selalu benar, namun yang mampu mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan dan siap membantu anggota timnya dalam setiap kondisi."

MOMEN ISTIMEWA

Kolonel Hasanuddin yang selama ini hanya mendengarkan dengan seksama mulai berbicara. "Kami telah membaca surat rekomendasi dari masyarakat kampungmu dan juga dari guru-gurumu. Semua mereka mengatakan hal yang sama – kamu adalah orang yang memiliki integritas tinggi, penuh rasa tanggung jawab, dan selalu siap membantu orang lain."

Ia melihat langsung ke mata Evan dengan tatapan yang penuh perhatian. "Namun ada sesuatu yang membuatmu berbeda dari peserta lain yang saya wawancarai selama ini. Saya merasakan bahwa kamu membawa sesuatu yang istimewa – bukan hanya kemampuan fisik atau pengetahuan, namun juga semangat dan tujuan yang jelas dalam hidupmu."

Kolonel Hasanuddin kemudian mengambil sebuah berkas dari mejanya. "Kami telah menerima informasi tentang program kedokteran komplementer yang akan kamu ikuti di Universitas Padjadjaran. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak universitas untuk menyusun program kolaborasi khusus untukmu."

Ia melanjutkan dengan senyum, "Kami melihat potensi besar dalam dirimu, Evan. Kamu bisa menjadi jembatan antara dunia tradisi dan modernisasi dalam militer kita. Oleh karena itu, kami ingin menawarkan kamu tempat di program khusus Korps Medis Angkatan Darat yang fokus pada pengembangan pengobatan komplementer dan pelayanan kesehatan di daerah terpencil."

Evan merasa hati nya berdebar kencang mendengar penawaran tersebut. Ini adalah kesempatan yang lebih besar dari yang ia harapkan – kesempatan untuk mengembangkan ilmunya sambil memberikan kontribusi yang berarti bagi militer dan negara.

"Apakah kamu bersedia untuk menerima penawaran ini dan berkomitmen untuk melayani negara dengan segenap hati?" tanya Kolonel Hasanuddin dengan serius.

"Ya, Pak Kolonel!" jawab Evan dengan penuh semangat. "Saya bersedia dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik saya untuk melayani negara dan membantu sebanyak mungkin orang."

PESAN TERAKHIR

Sebelum wawancara selesai, Kolonel Hasanuddin memberikan beberapa pesan penting kepada Evan. "Menjadi bagian dari program khusus ini tidak akan mudah. Kamu akan menghadapi tantangan yang lebih besar dan tanggung jawab yang lebih berat. Namun kami yakin bahwa kamu memiliki kemampuan dan karakter yang dibutuhkan untuk menjalankannya."

Ia menambahkan, "Jangan pernah melupakan nilai-nilai yang kamu anut dan warisan yang kamu terima dari leluhurmu. Itu adalah kekuatan sejati yang akan membimbingmu melalui setiap kesulitan yang kamu hadapi."

Letnan Kolonel Siti juga memberikan nasihatnya. "Kamu akan memiliki kesempatan untuk belajar dari banyak ahli baik di dalam maupun di luar negeri. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan ilmu pengobatan komplementer yang bermanfaat bagi semua orang."

Sebelum Evan pergi, Mayor Prasetyo memberikan sebuah buku tentang sejarah korps medis militer Indonesia. "Buku ini akan memberitahu kamu tentang perjuangan para prajurit medis sebelum kamu. Semoga kamu bisa mengambil inspirasi dari mereka dan menjadi bagian dari sejarah yang lebih baik untuk masa depan."

PERJALANAN PULANG

Setelah wawancara selesai, Evan keluar dari kantor militer dengan langkah yang lebih ringan dan hati yang penuh kegembiraan. Ia langsung menghubungi keluarga dan Rina untuk memberitahu kabar baik tersebut.

Suara ibunya menangis bahagia ketika mendengarnya, sementara ayahnya memberikan kata-kata kebanggaan yang membuat Evan merasa sangat bersyukur. Rina juga sangat senang dan mengatakan bahwa akan selalu mendukung Evan dalam setiap langkahnya.

Pada perjalanan pulang, Evan berhenti sebentar di makam Kakek Darmo yang terletak tidak jauh dari jalan raya. Ia membawa bunga putih yang telah ia beli dan menyebarkannya di atas makam leluhurnya.

"Saya sudah melewati semua seleksi, Kakek," bisik Evan dengan suara penuh emosi. "Mereka melihat potensi dalam diriku dan memberikan kesempatan yang luar biasa untuk mengembangkan ilmunya. Saya akan terus bekerja keras untuk tidak mengecewakanmu dan untuk mewujudkan impian kita berdua."

Ia merasakan angin lembut menyapu wajahnya, seolah Kakek Darmo sedang memberikan dukungan dan restunya. Dengan hati yang penuh tekad dan harapan, Evan berjalan meninggalkan makam, siap untuk menghadapi babak baru dalam hidupnya – babak yang akan membawa dia lebih dekat untuk menjadi orang yang bisa memberikan kontribusi berharga bagi negara dan masyarakat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!