NovelToon NovelToon
ALVEGAR

ALVEGAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.

AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tembok Tak kasat mata

Rangga memulai fase baru dalam permainannya: Isolasi. Dia tidak ingin Arazka dan Danis bicara satu sama lain secara langsung, karena komunikasi bisa menghancurkan adu dombanya. Maka, dia membuat mereka berdua sangat sibuk dan saling curiga.

🔇 Protokol Baru ALVEGAR

Di markas, Rangga memasang papan pengumuman baru. Dia membagi tugas inti menjadi dua tim yang tidak akan pernah bertemu jadwalnya.

"Zka, buat jaga profesionalisme pasca keributan kemarin, gue bagi jadwal piket markas. Danis dan tim lapangan di pagi, loe dan tim inti di sore. Biar nggak ada gesekan fisik lagi di sini," lapor Rangga dengan wajah tanpa ekspresi.

Arazka mengangguk setuju. "Bagus. Gue emang lagi males liat muka penghianat."

Sementara itu, saat Danis datang di pagi hari, Rangga memberikan narasi berbeda. "Dan, Arazka minta loe jangan muncul pas ada dia. Dia bilang aura loe cuma ngerusak fokus dia buat event besar nanti. Sabar ya, gue bakal coba bujuk dia pelan-pelan."

Danis mengepal tinjunya. "Dia bener-benar anggep gue sampah sekarang, Rang?"

Rangga hanya menepuk bahu Danis pelan, sebuah gestur "simpati" yang sebenarnya adalah racun.

📉 Sabotase Proposal Maura

Maura sedang pusing tujuh keliling. Proposal kegiatan OSIS yang seharusnya sudah disetujui Arazka tiba-tiba ditolak mentah-mentah dengan alasan "dana ALVEGAR sedang dialokasikan untuk hal lain".

Maura mendatangi Rangga di perpustakaan. "Rang, bisa loe kasih tau Arazka? Ini proposal penting buat kesejahteraan siswa. Kenapa dia hambat?"

Rangga memperbaiki letak kacamatanya, menatap Maura dengan tatapan dingin yang manipulatif. "Maura, jujur aja... Arazka bilang ke gue kalau dia sengaja persulit loe. Dia bilang, loe harus belajar 'tunduk' kalau mau urusan OSIS lancar. Dia ngerasa loe terlalu deket sama Danis, jadi dia pake powernya di organisasi buat nekan loe."

"Dia... dia sejahat itu sekarang?" suara Maura bergetar.

"Gue cuma bisa kasih saran, Maur. Jangan lawan dia sekarang. Dia lagi di puncak egonya. Mending loe minta tolong Danis buat cari dana alternatif. Itu bakal bikin Arazka makin marah, tapi seenggaknya acara loe jalan," saran Rangga.

Saran itu terlihat seperti solusi, padahal itu adalah jebakan. Rangga tahu jika Maura meminta bantuan Danis di belakang Arazka, itu akan menjadi sumbu ledak yang sempurna.

🕯️ Makan Malam yang Sunyi

Malam itu, Arazka mengajak Maura makan malam di sebuah kafe. Namun, Rangga sudah mengirimkan "informasi" ke ponsel Arazka beberapa menit sebelum mereka bertemu: sebuah foto lama Maura dan Danis yang diedit seolah-olah diambil baru-baru ini.

Suasana makan malam itu sangat mencekam.

"Loe ada yang disembunyiin dari gue, Maur?" tanya Arazka, matanya menatap tajam ke arah Maura.

"Gak ada, Zka. Gue cuma capek urus proposal yang loe hambat," jawab Maura dingin.

"Atau loe capek karena abis 'rapat rahasia' sama Danis buat cari dana?" tembak Arazka.

Maura tersentak. "Loe mata-matain gue?"

"Gue nggak perlu mata-matain kalau semua orang udah mulai ngomongin pengkhianatan loe!" Arazka berdiri, membanting beberapa lembar uang di meja. "Loe sama Danis... sama aja."

Arazka pergi meninggalkan Maura sendirian di kafe. Maura hanya bisa menatap piringnya dengan mata berkaca-kaca. Di sudut kafe, Rangga duduk di kegelapan, menyesap kopinya dengan tenang sambil menyaksikan kehancuran itu.

Rangga menyentuh sebuah liontin kecil di sakunya, lambang sebuah dendam lama yang belum terbalas. "Baru segini, Zka. Tunggu sampe loe bener-bener sendirian di puncak sana, baru gue bakal dorong loe jatuh."

TO BE CONTINUED

1
Anggi Anggara
semanagtt💪
Anggi Anggara
masih baru dan blum banyak yang baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!