NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

KETULUSAN BUKAN HANYA TERLIHAT DARI SENYUMAN.

Pagi itu, Aira berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya.

Ia merapikan jilbabnya perlahan. Bukan karena ingin terlihat sempurna, tapi karena ia sedang menyiapkan diri, untuk kembali ke dunia yang sempat ia tinggalkan.

Kuliah.

Keputusan itu tidak datang dengan yakin. Datangnya pelan, ragu, tapi cukup kuat untuk membuatnya melangkah keluar kamar rumah sakit setelah memastikan ibunya masih tertidur dengan tenang.

“Aku ke kampus sebentar, Bu,” bisiknya di kening ibunya.

“Nanti siang Aira balik.”

Ibunya tidak menjawab, tapi jemarinya bergerak pelan, seolah merespons.

Itu cukup.

Kampus terasa sama, tapi Aira merasa berbeda.

Langkahnya masih hati-hati, seolah takut semuanya runtuh kalau ia bergerak terlalu cepat. Tapi begitu ia melewati taman fakultas, suara familiar memanggilnya.

“AIRA!”

Bima berdiri sambil melambai berlebihan. Naya di sampingnya menepuk dahi, sementara Raka menyunggingkan senyum kecil yang lega.

“Ya Allah,” kata Naya, mendekat cepat dan langsung memeluk Aira.“Kamu masih hidup.”

“Aku baru dua minggu nggak masuk, nay” jawab Aira pelan.

“Dua minggu di kampus itu sama kayak dua bulan di dunia nyata,” sela Bima serius.

“Drama sudah ganti season.” ujar Raka

Aira tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah ayahnya di tahan dan ibunya masuk rumah sakit, tawanya tidak terasa dipaksakan.

Raka menatapnya dari dekat. “Aku baru sadar kalau Kamu kurusan.”

“Terima kasih,” jawab Aira refleks.

“Itu bukan pujian.”

“Oh.”

Mereka duduk di bangku taman. Bima mulai bercerita soal dosen killer, Naya soal tugas yang tak ada ampun, dan Raka, seperti biasa lebih banyak mendengarkan.

“Kami kangen kamu, Ra,” kata Naya pelan.

“Dan… kalau kamu belum sanggup sepenuhnya, jam ke dua atau ketiga kamu izin aja, nanti kami yang bantu jelaskan ke dosen.”

Aira mengangguk. “Aku udah capek nenangin diri nya, sekarang aku mau lanjutin hidup”

Raka tersenyum. “Nah, itu Aira yang kami kenal.”

Belum lama mereka tertawa, sebuah bayangan berdiri di depan mereka.

“Aira.”

Langit tersenyum melihat Aira

Senyum Bima langsung menghilang. Naya saling pandang dengan Raka. Ada hening yang canggung.

“Aku tunggu kamu di taman,” kata Langit. Nada suaranya datar, tapi mengandung tuntutan.

Aira berdiri. “Aku Kesana sebentar, ya.”

Di taman kampus yang lebih sepi, Langit langsung membuka pembicaraan.

“Kita habiskan hari ini bareng,” katanya. “Aku sudah kosongin jadwal.”

Aira menggeleng pelan. “Aku nggak bisa, Langit. Habis kuliah aku harus balik ke rumah sakit.”

Langit menghela napas kasar. “Sejak kita jadian, kita hampir nggak pernah punya waktu.”

“Karena hidupku lagi berantakan,” jawab Aira jujur. “Ibuku masih dirawat. Ayahku di penjara.”

“Aira,” potong Langit, suaranya meninggi. “Aku pacar kamu.”

“Dan aku anak dari keluarga yang lagi hancur,” balas Aira. “Sekarang bukan waktunya ngambek soal waktu.”

Langit terdiam, lalu tertawa pendek. “Jadi aku selalu nomor dua?”

Aira menatapnya tajam. “Ini bukan soal nomor.”

“Keliatannya iya,” Langit mendekat. “Kamu sama aku sekarang karena kasihan, ya?”

Kalimat itu menusuk.

“Apa?” suara Aira bergetar. “Kamu serius ngomong gitu?”

“Kalau kamu tulus, kamu pasti mau luangin waktu.”

Aira menarik napas panjang. Dadanya sesak, sejak kapan langit berubah, suka memaksa, apa Aira yang tidak menyadari

“oke Aku bisa,” katanya akhirnya.

“setelah matkul ku selesai, kita bisa makan atau ngobrol tapi hanya Dua jam.”

Langit mengangkat alis.

“Dua jam buat ngobrol atau makan,” lanjut Aira tegas.“Setelah itu aku balik ke ibu aku. Nggak ada tawar-menawar.”

Langit menatapnya lama. Wajahnya tidak sepenuhnya puas.

“…Oke,” katanya akhirnya. “Dua jam.”

Di perjalanan pulang, Aira duduk diam di jok penumpang.

Langit mengemudi sambil sesekali meliriknya.

“Kamu berubah,” katanya lagi.

Aira menatap keluar jendela.

“Enggak. Aku cuma lagi berjuang.”

“Berjuang sampai lupa sama aku.”

Aira menggenggam tasnya erat.

Kenapa bersamanya selalu terasa seperti salah?

Kenapa aku harus menjelaskan hal yang seharusnya dimengerti?

Perasaan itu tumbuh pelan, perasaan tercekik.

Sementara itu, di rumah sakit

Ibu Aira berdiri di depan kamar, berniat menghirup udara sebentar. Langkahnya goyah. Kakinya hampir terpeleset.

“Tan!”

Sebuah tangan sigap menopang bahunya.

Kartik.

“Pelan,” katanya singkat.

Ibu Aira terkejut. “Ya Allah… Kartik.”

“Kita duduk dulu Tan” katanya lagi.

Ia segera mengambil kursi roda dari ujung lorong, mempersilakan ibu Aira duduk. Gerakannya cekatan, tapi lembut. Tidak tergesa.

“Kamu nggak kerja?” tanya ibu Aira.

“Lagi libur Tan, kalau Tante butuh sesuatu Tante bis mintak bantu ke suster Tan”

Ia mendorong kursi roda menyusuri lorong. Membawa ibu Aira ke taman rumah sakit, Kartik duduk di kursi taman.

“Dulu,” kata ibu Aira pelan, “Kalau Tante sakit Om Salman yang selalu dorong kursi Tante.”

Kartik berhenti sejenak. Lalu melanjutkan pelan.

“Nanti,” katanya. “Om Salman yang dorong lagi.”

Saat Mereka diam, Asisten kartik datang dengan membawa kotak bekal, Kartik membuka kotak makan, Ia menyuapi ibu Aira perlahan, Setelah ibu Aira selesai makan Kartik mengupas buah, memotong kecil-kecil.

“Kamu ini… CIO, kan?” tanya ibu Aira lirih.

Kartik mengangguk.

“Tante tau pasti om Salman yang memintak kamu jagain Tante dan Aira, kalau kamu lagi sibuk enggak usah di paksakan ya.”

“Saya dibesarkan oleh seorang ibu,” jawabnya singkat.“Merawat Tante sama dengan merawat ibu saya.”

Air mata ibu Aira jatuh.

“Terima kasih, Nak.”

Kartik hanya menunduk. Tangannya tetap bekerja, tanpa kata.

Di lorong rumah sakit yang dingin itu,

ketulusan berbicara lebih keras daripada janji.

Dan tanpa Aira sadari

seseorang sedang menjaga ibunya

dengan cara yang bahkan tak pernah ia minta.

Mobil melaju pelan di jalan yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, seperti garis-garis cahaya yang tak pernah benar-benar menetap.

Aira memecah diam.

“Langit,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kapan kamu mau jenguk ibu aku?”

Langit sedikit mengernyit, tapi tetap menatap jalan. “Maksudnya?”

“Kamu sudah beberapa kali ke rumah sakit,” lanjut Aira. “Tapi setiap aku ajak ketemu ibu, kamu selalu bilang nanti. Capek. Atau ada urusan.”

Langit menarik napas pendek. “Sekarang bukan waktu yang tepat.”

Aira menoleh. “Waktu yang tepat itu kapan?”

“Kalau semuanya sudah tenang.”

“Justru sekarang aku dan ibu butuh kamu ada,” suara Aira melembut, hampir memohon.

“Ibu aku sering nanya. Dia pengin kenal kamu.”

Langit terdiam cukup lama. Lalu berkata, “Aku nggak nyaman dengan situasi itu.”

“Situasi apa?” tanya Aira.

“Keluarga kamu,” jawab Langit jujur. Terlalu jujur.

Kalimat itu seperti menampar.

“Keluarga aku bukan aib,” ucap Aira lirih.

“Aku nggak bilang aib,” Langit cepat menyela. “Aku cuma… belum siap.”

Aira tersenyum tipis, pahit. “Aku pikir kamu bilang kamu menerima semuanya.”

Langit tidak menjawab. Mobil melambat.

“Aira,” katanya kemudian, “aku harus belok.”

“Kenapa?”

“Ada kerjaan mendadak.”

Mobil berhenti di pinggir jalan.

“Aku turunin kamu di sini aja, ya.”

Aira menatapnya, tak percaya. “Langit… ini masih jauh.”

“Kamu bisa naik ojek,” katanya cepat. “Aku benar-benar harus pergi.”

Hening menggantung di antara mereka.

“Baik,” kata Aira akhirnya.

Ia membuka pintu, turun tanpa menoleh. Mobil Langit langsung melaju pergi, meninggalkan angin dingin yang menyusup ke tulang.

Aira berdiri sejenak.

Dadanya sesak.

Bukan karena jalan pulang yang jauh.

Tapi karena jarak yang makin terasa di antara mereka.

Langkah Aira mempercepat saat memasuki kamar rumah sakit.

Pintu terbuka perlahan.

Dan ia berhenti.

Ibunya duduk bersandar di kasur. Wajahnya cerah, matanya berbinar. Tawanya pecah, ringan, tawa yang sudah lama tidak Aira dengar.

Di kursi dekat ranjang, Kartik duduk. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Tangannya memegang potongan apel yang sudah dikupas rapi.

“…terus ayah kamu jatuh ke kolam ikan koi,” ibu Aira tertawa lagi. “Padahal katanya mau kelihatan gagah.”

Kartik tersenyum kecil. Tipis. Datar. Tapi matanya hangat.

“Waktu itu ayah saya bilang,” katanya pelan, “kalau harga diri bisa kering, tapi baju nggak.”

Ibu Aira tertawa sampai bahunya bergetar.

Aira menelan ludah.

Ia berdiri di ambang pintu beberapa detik, lalu melangkah masuk.

“Assalamualaikum.”

Ibunya menoleh cepat. “Waalaikumsalam! Aira!”

Wajah itu langsung berbinar lebih terang.

Kartik berdiri. Menoleh ke arah Aira.

Senyumnya tetap sama, tenang, sopan, tidak berlebihan.

“Kamu sudah pulang,” katanya.

“Iya,” jawab Aira pelan.

Ibunya memperhatikan wajah Aira. “Kamu kelihatan capek, Nak. Kenapa pulang ya sorean?”

Aira duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam selimut.

“Tadi… Aira makan dulu sama Langit.”

Kalimat itu jatuh di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

Kartik tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar. Ia hanya mengangguk kecil, seolah informasi itu tak lebih dari cuaca hari ini.

“Oh,” kata ibunya. “Langit baik, ya?”

“Iya, Bu.”

Kartik melangkah mundur sedikit, memberi ruang. Tangannya memasukkan ponsel ke saku. Rahangnya mengeras sepersekian detik, cukup cepat untuk tak terlihat siapa pun.

Cemburu itu datang. Tajam. Diam-diam.

Tapi ia menelannya bulat-bulat.

Saya tidak punya hak.

Saya hanya penjaga.

Cinta saya tidak boleh menuntut.

Bukankah cinta yang tulus… tidak memaksa?

Ibunya menoleh ke Kartik. “Kartik, terima kasih ya. Tadi Tante ketawa sampai lupa kalau Tante sedang sakit”

“Sama-sama, Tan.”

Hanya itu. Tidak ada kalimat manis. Tidak ada janji. Tapi kehadirannya tetap di sana.

Aira menatap Kartik sekilas.

Ada sesuatu di dadanya yang bergetar.

Perasaan bersalah yang tak tahu harus diarahkan ke siapa, kepada ibunya.

Malam kembali turun pelan.

Dan Aira, tanpa sadar, mulai memahami satu hal yang paling menakutkan

Kadang, yang paling tulus

adalah yang paling diam.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!