Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7_TATAPAN YANG TERLALU ANEH
Devan bukan orang yang mudah curiga. Raka lebih sering tertawa daripada berpikir panjang. Dion? Dia biasanya memilih diam.
Tapi pagi itu, ada sesuatu yang terasa janggal.
Mereka bertiga duduk di bangku depan kelas, menunggu guru datang, sementara Azka berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan. Seperti biasa, aura dinginnya tetap sama. Tidak banyak bicara. Tidak banyak ekspresi.
Namun mata Devan justru tertuju ke satu arah lain.
Nayla.
Gadis itu baru saja masuk kelas dengan langkah santai. Tidak menunduk. Tidak menghindar. Bahkan sempat bercanda pelan dengan Dani sebelum duduk.
“Sejak kapan Nayla jadi begitu?” gumam Raka pelan.
Dion mengangkat alis. “Begitu gimana?”
“Berani,” jawab Raka singkat. “Kemarin di lapangan, dia lawan Azka.”
Devan melirik Azka sekilas. “Dan Azka nggak meledak.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Biasanya, Azka tidak suka dibantah. Apalagi di depan umum. Tapi kemarin? Azka hanya diam. Menatap. Lalu membiarkan. Itu bukan Azka yang mereka kenal.
Guru masuk. Pelajaran dimulai.
Namun Devan tidak bisa fokus. Matanya berkali-kali berpindah antara Azka dan Nayla. Dan setiap kali Nayla berbicara atau bergerak, Azka tanpa sadar melirik. Cepat. Singkat. Tapi terlalu sering untuk kebetulan.
***
Jam istirahat.
Mereka berkumpul di kantin seperti biasa. Azka duduk di ujung meja, sibuk dengan ponselnya. Raka langsung menyerobot duduk di sampingnya.
“Ka,” ujar Raka santai, “Lo kenal Nayla dari kapan, sih?”
Azka tidak menoleh. “Kenapa?”
“Enggak. Cuma nanya,” Raka menyeringai. “Soalnya keliatan akrab.”
Azka akhirnya mengangkat wajahnya. “Akrab dari mana?”
“Cara lo nyerang dia,” sahut Dion datar. “Itu personal.”
Beberapa siswa di sekitar mereka melirik. Azka menurunkan ponselnya perlahan.
“Jangan sok analisis,” ucap Azka dingin. “Dia cuma murid biasa.”
Devan menyandarkan tubuh ke kursi. “Murid biasa yang sering kena target lo?”
Azka menatap Devan tajam. “Masalah?”
Devan mengangkat kedua tangan. “Santai. Gue cuma heran.”
Raka terkekeh kecil. “Biasanya lu nggak peduli sama murid yang nggak penting.”
Kalimat itu membuat Azka terdiam sesaat.
Hanya sesaat.
“Lagi mood,” jawabnya singkat.
Jawaban itu tidak memuaskan siapa pun.
***
Di sisi lain kantin, Nayla duduk bersama Dani dan Sena. Ia tertawa kecil menanggapi cerita Dani, ekspresinya lepas, berbeda jauh dari Nayla beberapa hari lalu.
Sena melirik ke arah meja Azka. “Lo sadar nggak, mereka ngeliatin lo dari tadi?”
Nayla mengikuti arah pandang Sena, lalu mengangkat bahu. “Biasa.”
“Biasa?” Dani mendengus. “Itu Azka Mahendra dan gengnya.”
Nayla menyedot minumannya. “Ya terus?”
Dani menghela napas. “Lo beneran berubah, Nay.”
Nayla tersenyum tipis. “Aku cuma capek jadi target empuk.”
***
Sepulang sekolah, Azka keluar gedung lebih lambat dari biasanya. Devan, Raka, dan Dion menunggu di dekat mobil.
“Lo kenapa belakangan ini aneh?” tanya Raka tanpa basa-basi.
Azka membuka pintu mobil. “Apanya yang aneh?”
“Kamu,” sahut Dion. “Terlalu banyak hal yang lo perhatiin.”
Azka berhenti.
Perhatiannya?
“Kalian kebanyakan mikir,” kata Azka akhirnya.
Devan menatapnya lurus. “Ka, gue kenal elo dari kecil.”
Azka menoleh.
“Dan gue tahu,” lanjut Devan, “lo nggak pernah buang energi buat orang yang nggak berarti.”
Hening.
Angin sore berembus pelan.
Azka menutup pintu mobil lebih keras dari perlu. “Topik ini selesai.”
Ia masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir jalan.
Raka menghela napas panjang. “Fix. Ada yang dia sembunyiin.”
Dion mengangguk pelan. “Dan pusatnya satu.”
Devan menatap punggung mobil Azka yang menjauh. “Nayla.”
***
Malam itu, di rumah Mahendra, Azka turun ke dapur untuk mengambil minum. Lampu sudah diredupkan. Suasana sepi.
Nayla duduk di meja kecil, mengerjakan PR dengan hoodie besar dan rambut diikat asal. Ia terlihat santai. Tenang.
Azka berhenti melangkah tanpa sadar.
Nayla mendongak. “Kenapa?”
Azka terdiam sepersekian detik. “Kamu… hari ini kenapa ribut di sekolah?”
Nayla mengangkat alis. “Ribut?”
“Bercanda, jawab orang, nyolot,” kata Azka. “Itu bukan kamu yang biasanya.”
Nayla menutup bukunya. “Mungkin kamu cuma baru sadar.”
Azka menatapnya lama.
“Aku nggak mau bikin masalah buat kamu,” lanjut Nayla datar. “Aku cuma nggak mau diinjek.”
Azka mengepalkan rahang. “Kamu bikin orang lain merhatiin.”
Nayla terkekeh kecil. “Sejak kapan itu urusan kamu?”
Kalimat itu membuat Azka kehilangan kata.
Nayla berdiri, mengambil gelasnya. “Tenang aja. Rahasia kita aman.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Azka sendirian di dapur.
Untuk pertama kalinya, Azka merasakan sesuatu yang tidak ia suka. Bukan kehilangan kendali. Tapi takut. Takut kalau sahabat-sahabatnya mulai melihat apa yang selama ini ia sembunyikan.
Dan Nayla, perlahan berubah menjadi pusat kecurigaan mereka semua.