NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yasinan

Pagi itu Tarman masih membahas tentang almarhumah anaknya dengan Mbah Surip. Atas desakan istrinya, akhirnya Tarman kemudian menelfon pak RT agar datang ke rumahnya. Dan tak lama pak RT datang, ia pun ikut nimbrung perbincangan itu.

"Ada hal aneh lainnya gak mbah?" Tanya pak RT pada Mbah Surip

"Emm, saya sempet liat orang itu, di malam ketujuh berada di dekat kuburan anaknya pak Tarman, ia seperti memutari kuburan itu beberapa kali sambil membawa seperti mangkuk tanah yang mengeluarkan asap..mungkin semacam dupa atau kemenyan." Ujar mbah Surip

"Siapa Mbah?" Sahut Tarman dengan raut wajah penuh emosional

"Itu..orang yang rada-rada kurang itu, Mbah-mbah yang tinggal di gubuk deket rawa, yang dulu pernah di usir sama warga kampung sebelah. Katanya dukun itu lho.."

"Apa...? Mbah gak samperin dia? Tanya-tanya dia lagi ngapain di kuburan itu?"

"Saya gak berani, karena dia kan orang gak waras takutnya dia ngamuk gak jelas, saya sempet keluar mencari warga yang melintas. Saya pikir harus ngajak orang buat nyamperin orang itu, tapi gak lama dia pergi. Dia gak lama di situ, satu menit mungkin cuma muterin kuburan itu beberapa kali abis itu pergi." Tutur Mbah surip

"Ini udah gak beres pak RT, pasti orang itu bermaksud buruk di makam anak saya." Ujar Tarman penuh penekanan

"Sabar pak..sabar..emm...coba kita komunikasi baik-baik sama Mbah itu...saya ajak beberapa warga. Siapa tau kita dapat titik kejelasan." Ucap pak RT

"Emm.. hati-hati pak RT, dia orang gendeng bisa aja dia ngamuk."

"Iya, makanya nanti saya bawa beberapa warga."

"Bener pak, istri saya pengennya di bongkar kuburan itu..dia punya firasat gak enak soal jenazah Lastri. Saya bingung, di tambah desas desus berita di kampung ini yang bilang kalau arwah Lastri gentayangan. Istri saya jadi tambah yakin kalau ada yang gak beres." Ucap Tarman

"Jangan di bongkar dulu pak Tarman, sabar... Itu melibatkan polisi. Kita gak boleh sembarangan. Gini aja, kita ajak rundingan warga setempat malem Jum'at besok di kediaman rumahnya Yitno..dia ngambil giliran yasinan."

"Emm.. ya udah pak RT, gitu juga boleh... Saya gak pengen ada apa-apa sebenernya. Maaf kalau udah buat geger kampung atas kematian anak saya." Ucap Tarman

"Gak pak Tarman, kematian anak bapak gak ada hubungannya sama semua ini. Saya yakin itu, udah pak Tarman gak usah mikir yang terlalu jauh nanti malah ngedrop jadi sakit."

Akhirnya pak RT dan Mbah Surip pamit undur diri...

***

Sementara itu di kediaman rumah Yitno begitu ramai, banyak ibu-ibu yang rewang memasak ala kadarnya. Karena nanti malam ada acara yasinan giliran tiap malam Jum'at yang kebetulan di rumah Yitno.

"Ssstt...yasinan entar malem bakal ada rundingan penting lho...pada tau gak?" ucap salah satu ibu-ibu yang menggunakan daster 50 rebuan motif bunga-bunga dengan rambut keriting melintir yang di paksakan dikuncir.

"Rundingan apa to mbak? Jangan-jangan iuran desa lagi? huh mana belom panen."

"Heeehh bukan lho..masalah teror yang lagi santer di kampung kita, masalah anaknya Bu Tarman."

"Hah...?? Rundingan gimana emangnya mbak?"

"Ya gak tau, aku denger dari Bu Tarman sendiri, kemarin aku liat pak RT ke rumah mereka."

"Ada apa ya...kok aku jadi takut Yo.."

"Sssttt...bude juga di ganggu ya...?" Tanya ibu-ibu kepada ibu Yitno

"He'eh...aku denger suara cekikikan..hiii...merinding aku kalau inget itu. Yitno tu berapa kali aja di ganggu..emm tapi dia gak bilang dia ngeliat hantu si Lastri apa bukan. Dia cuma bilang ngeliat hantu..masuk kamarku terus meluk aku...lah aku kaget 'kan? tak kira aku mau di apa-apain sama anak sendiri..."

Hahahaha....semua ibu-ibu pada tertawa mendengar cerita ibu Yitno

"Yit..! Yitno....!!" Panggil ibunya

"Ngapa Mak?"

"Buat api, bikin Luweng pake batako di belakang. Luweng di dapur lagi di pake. Rebus kacang yang di sumur itu, udah mamak cuci tadi, jangan lupa di kasih garem.." perintah ibunya

"Iya Mak.."

"Eghhmm...bude, Yitno apa belum mau nikah to? Udah umur lho..ntar kalau ketuaan jadi males lho..." Ujar emak-emak dengan suara pelan, takut Yitno mendengar.

"Emm..ya dia udah pengen, tapi emang belum ada jodohnya. Kasian aku sama dia juga, kerjaan gak tetep..sekarang dia fokus mandiri udah gak mau lagi kerja ikut orang. Dia milih ternak ikan tu di sebelah. Katanya kalau udah panen dia mau buka warung di depan. Ya jualan rumahan, bensin ya pulsa..gitu katanya.. ini dia lagi buat kandang. Katanya mau ternak burung..ntah burung apa yang mau dia ternak." Ujar ibu Yitno

"Sebenernya Yitno itu anaknya rajin, mau kerja apa aja..mungkin dia pemalu ya bude kalau sama perempuan?"

"Gak tau juga, bisa jadi."

Selepas isya' acara yasinan di gelar. Tampak Yitno berdiri di pintu depan menyambut para warga anggota yasinan yang datang. Acara yasinan pun berjalan dengan lancar dan selesai pukul setengah sembilan malam. Pak RT lalu meletakan mix dan berbicara tanpa mix.

"Saya ingin membahas sesuatu kepada saudara dan bapak-bapak semua yang ada di sini.." ucap pak RT

Lalu pak RT berusaha menjelaskan duduk permasalahan serta apa yang di lihat oleh Mbah Surip pun ia ceritakan. Tarman yang hadir hanya tertunduk mendengarkan...sedangkan Yitno menelan ludah mendengar penuturan pak RT yang berencana mendatangi Mbah dukun di rawa itu. Tampak Yitno begitu gemetar...

"Mampus aku! Bisa ketahuan kalau Mbah dukun itu buka mulut. Bahaya ini" batin Yitno cemas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!