"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Peringatan dari Kampus
Di tengah alam yang liar, harapan tumbuh dari keteguhan jiwa. Akankah mereka menemukan jalan keluar, ataukah hutan ini akan menjadi kuburan mereka?"
Ayu, Dina, dan Puri berlari sekuat tenaga, semakin jauh ke dalam hutan yang gelap dan lebat. Suara teriakan dan tembakan semakin menjauh, tapi mereka tahu mereka belum aman. Pak Kepala Desa dan orang-orangnya pasti akan terus mengejar mereka.
Setelah berlari selama beberapa jam, mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat yang agak aman. Mereka bersandar di sebuah pohon besar dan mengatur napas. Keringat membasahi tubuh mereka, dan kaki mereka terasa sakit.
"Kita harus istirahat," kata Dina dengan nada terengah-engah. "Aku tidak bisa berlari lagi."
"Aku juga," sahut Ayu. "Tapi kita tidak bisa beristirahat terlalu lama. Mereka mungkin akan segera menemukan kita."
Puri melihat sekeliling dengan cermat. "Kita harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi," katanya. "Mungkin ada gua atau reruntuhan bangunan di dekat sini."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri hutan yang semakin gelap dan berbahaya. Mereka harus berhati-hati agar tidak tersesat atau terluka. Mereka juga harus waspada terhadap binatang buas atau makhluk gaib yang mungkin menghuni hutan ini.
Saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik di semak-semak di dekat mereka. Mereka berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
"Ada sesuatu di sana," bisik Ayu.
Mereka mengintip melalui semak-semak dan melihat seekor rusa sedang memakan rumput. Mereka merasa lega.
"Hanya rusa," kata Dina. "Aku kira itu sesuatu yang berbahaya."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, tapi mereka tetap berhati-hati. Mereka tahu bahwa bahaya bisa datang dari mana saja.
Setelah berjalan selama beberapa jam lagi, mereka akhirnya menemukan sebuah gua kecil di
Tanggung jawab menanti di tengah bahaya. Bisakah mereka menyeimbangkan tugas suci dengan ancaman yang nyata?"
Setelah keputusan nekat untuk kembali ke Bale Pesanggrahan, Ayu, Dina, dan Puri dihantui oleh bayangan tanggung jawab KKN yang terbengkalai. Mereka tahu bahwa mereka seharusnya membantu masyarakat desa, bukan malah bersembunyi di hutan dan terlibat dalam intrik berbahaya.
Beberapa hari berlalu sejak mereka melarikan diri ke hutan. Mereka bertahan hidup dengan memakan buah-buahan dan tumbuhan liar, serta meminum air dari sungai. Mereka merasa semakin lelah dan putus asa.
Saat mereka sedang beristirahat di gua, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Mereka segera bersembunyi di balik batu-batu besar.
Setelah beberapa saat, mereka melihat seorang pria datang ke gua. Pria itu adalah salah satu warga desa yang mereka kenal.
"Ayu, Dina, Puri," panggil pria itu dengan suara pelan. "Aku punya sesuatu untuk kalian."
Ayu, Dina, dan Puri keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka merasa lega melihat pria itu.
"Apa yang kau bawa?" tanya Ayu.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya dan memberikannya kepada Ayu.
"Ini surat dari kampus," kata pria itu. "Surat ini ditujukan untuk kalian."
Ayu menerima amplop itu dan membukanya dengan hati-hati. Ia membaca surat itu dengan seksama.
Saat membaca surat itu, wajah Ayu semakin pucat. Dina dan Puri melihatnya dengan cemas.
"Ada apa?" tanya Dina. "Apa yang terjadi?"
Ayu menunjukkan surat itu kepada Dina dan Puri. Mereka membaca surat itu bersama-sama.
Surat itu berisi peringatan keras dari pihak kampus. Pihak kampus menyatakan bahwa mereka telah menerima laporan tentang KKN Ayu, Dina, dan Puri yang tidak berjalan dengan baik. Pihak kampus juga menyatakan bahwa mereka telah menerima laporan tentang Ayu, Dina, dan Puri yang terlibat dalam kegiatan yang mencurigakan dan berpotensi membahayakan diri mereka sendiri dan masyarakat desa.
Jika Ayu, Dina, dan Puri tidak segera memperbaiki kinerja KKN mereka dan menjelaskan kegiatan mencurigakan mereka, pihak kampus akan memberikan sanksi tegas, termasuk membatalkan KKN mereka dan memberikan nilai buruk untuk mata kuliah KKN.
"Ini gawat," kata Dina dengan nada panik. "Jika KKN kita dibatalkan, kita bisa tidak lulus."
"Kita harus melakukan sesuatu," kata Puri. "Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi."
Ayu berpikir sejenak. "Aku punya ide," katanya. "Kita akan kembali ke desa dan menemui Pak Kepala Desa. Kita akan menjelaskan kepadanya tentang kegiatan KKN kita dan
meyakinkannya bahwa kita tidak terlibat dalam kegiatan yang mencurigakan. Kita akan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi dan berjanji untuk memperbaiki kinerja KKN kita."
"Apa kau yakin itu ide yang bagus?" tanya Dina. "Pak Kepala Desa adalah orang yang berbahaya. Ia mungkin tidak akan percaya pada kita."
"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mencoba. Jika kita tidak melakukan apa-apa, KKN kita pasti akan dibatalkan."
Puri mengangguk. "Aku setuju dengan Ayu. Kita harus mencoba. Tapi kita harus berhati-hati. Kita tidak bisa membiarkan Pak Kepala Desa menjebak kita."
Mereka bertiga sepakat untuk kembali ke desa dan menemui Pak Kepala Desa. Mereka tahu mereka sedang mengambil risiko besar, tetapi mereka merasa bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus menyelamatkan KKN mereka, dan mereka harus melakukannya sekarang, sebelum terlambat.
Namun, di dalam hati mereka, ada keraguan dan ketakutan yang menghantui. Mereka tahu bahwa Pak Kepala Desa adalah orang yang licik dan jahat. Ia mungkin memiliki rencana tersembunyi yang bisa membahayakan nyawa mereka.
Saat mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, Rendra datang menemui mereka. Ia mendengar tentang surat dari kampus dan merasa khawatir.
"Apa kalian yakin ingin melakukan ini?" tanya Rendra. "Ini sangat berbahaya. Pak Kepala Desa bisa melakukan apa saja untuk menghentikan kalian."
"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi kita harus mencoba. Kita tidak bisa membiarkan KKN kita dibatalkan."
"Aku akan ikut dengan kalian," kata Rendra. "Aku tidak akan membiarkan kalian pergi sendirian."
Ayu, Dina, dan Puri merasa lega mendengar tawaran Rendra. Mereka tahu bahwa mereka akan membutuhkan bantuannya.
Mereka berempat kemudian berangkat menuju desa. Mereka berjalan dengan hati-hati, menghindari patroli orang-orang Pak Kepala Desa. Mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati agar tidak tertangkap.
Saat mereka mendekati desa, mereka melihat sesuatu yang aneh. Mereka melihat banyak orang bersenjata berkumpul di depan rumah Pak Kepala Desa.
"Apa yang terjadi?" tanya Dina dengan nada cemas.
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres," jawab Ayu. "Kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi."
Mereka berempat bersembunyi di balik pohon-pohon besar dan mengamati situasi. Mereka melihat Pak Kepala Desa keluar dari rumahnya dan berbicara dengan orang-orang bersenjata.
"Kita harus segera menemukan mereka," kata Pak Kepala Desa dengan nada marah. "Jangan biarkan mereka lolos!"
Ayu, Dina, Puri, dan Rendra terkejut mendengar perkataan Pak Kepala Desa. Mereka menyadari bahwa mereka sedang berada dalam bahaya besar. Pak Kepala Desa sudah mengetahui rencana mereka, dan ia sedang mempersiapkan diri untuk menangkap mereka. Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka harus tetap pergi ke rumah Pak Kepala Desa dan menghadapi risikonya, ataukah mereka harus melarikan diri dan meninggalkan KKN mereka?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*