Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Davina ragu dengan kata-kata papanya, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak berani membantah ucapan sang papa. Gadis itu hanya bisa berdoa semoga saja apa yang dikatakan papanya itu benar.
Davina juga bingung bagaimana harus menghadapi opa dan omanya nanti. Mereka pasti sudah sangat kecewa terhadapnya. Selama ini mereka begitu menyayanginya seperti cucunya sendiri, sementara dirinya sendiri berbuat jahat pada Kenanga. Dia hanya bisa meminta maaf jika nanti bertemu.
Lagipula apa yang dia lakukan juga tidak sepenuhnya salah. Sebagai seorang anak tentu saja Davina menginginkan kedua orang tuanya bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh. Semoga saja keluarga itu mengerti apa yang menjadi keinginannya.
Bima dan Davina pun memutuskan untuk ke kampung halaman Kenanga sore itu juga. Tidak apa-apa jika nanti mereka sampai sana malam hari. Justru itu bagus dengan begitu Ilham dan Salma pasti ada di rumah karena saat siang hari biasanya mereka sibuk di kebun dan sawah. Kedua mertuanya jadi tidak memiliki alasan untuk tidak menemuinya.
Setelah memakan waktu hampir tiga jam, Bima dan Davina akhirnya sampai juga di depan rumah Ilham tepat menjelang magrib. Lampu jalanan juga sudah mulai menyala, begitu pun dengan di rumah Ilham. Suasana terlihat begitu tenang, cocok untuk menghilangkan rasa lelah setelah bekerja seharian.
Bima dan Davina ragu untuk pergi ke rumah itu, khawatir jika nanti malah mereka akan diusir, tetapi tidak mungkin juga mereka kembali tanpa hasil sama sekali. Kalaupun Kenanga tidak ada, setidaknya mereka sudah berusaha untuk mencari.
Terlihat Toni sedang menikmati kopi di teras. Pria paruh baya itu sebenarnya sudah mengetahui jika ada mobil yang berhenti dan tahu jika itu Bima, hanya saja berpura-pura tidak melihatnya. Dia sangat tahu apa yang ingin dilakukan oleh calon mantan suami dari Kenanga itu.
"Pa, sampai kapan kita terus nunggu di sini?" tanya Davina yang sudah tidak sabar.
"Iya, ayo kita masuk!" sahut Bima yang kemudian turun dari mobil terlebih dahulu. Dia menunggu putrinya turun dan berjalan dan mendekati rumah bersama-sama.
"Assalamualaikum, Pak Toni," sapa Bima terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam," jawab Toni setelah menyeruput kopi miliknya.
Pria itu menatap Bima dengan datar. Sejak dulu dia tidak pernah menyukainya, hanya saja terpaksa berbahasa-basi di depan Kenanga agar wanita itu tidak bersedih jika tahu dirinya tidak suka dengan Bima. Bagaimana mungkin dirinya tega membuat wanita yang sudah dianggap putrinya sendiri bersedih.
"Kalian berdua saja?" tanya Toni berbasa-basi, sengaja ingin tahu jawaban Bima. Namun, dia kecewa karena jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Iya, Pak. Saya mau ketemu sama Papa Ilham dan Mama Salma. Mereka ada 'kan?"
"Ya, tentu saja. Silakan masuk! Saya akan memanggilnya."
Bima dan Davina pun duduk di ruang tamu, sementara Toni mencari keberadaan kedua majikannya itu, yang ternyata saat ini berada di kamar.
"Bu, Pak, ada tamu di luar," ucap Toni sambil mengetuk pintu.
Salma membukakan pintu dan bertanya, "Tamu siapa bertemu jam segini?"
"Bima dengan putrinya," jawab Toni tanpa embel-embel 'pak' lagi.
Salma dan sang suami saling berpandangan. Keduanya bisa menebak niatan dari menantunya itu datang ke sini. Ingin sekali menolak mereka. Namun, Halim dan Salma juga ingin mendengar secara langsung dari mulut pria itu mengenai keadaan Kenanga.
Semoga saja nanti Halim tidak lepas kendali dan menghajar menantunya itu. Dari kecil Kenanga selalu dimanja dan diperlakukan seperti seorang putri, tapi sekarang setelah menjadi istri justru disia-siakan. Ayah mana yang tidak terluka melihatnya.
"Kita lihat apa yang diinginkan oleh Bima. Papa jangan emosi dulu."
"Mana bisa Papa tidak emosi saat tahu putri kita diperlakukan dengan buruk oleh mereka. Yang Papa tidak habis pikir itu justru Davina. Kenanga sudah menyayangi dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Kita berdua juga tidak pernah memperlakukan dia dengan buruk, bahkan tidak jarang kita juga menuruti apa pun keinginannya, tapi bisa-bisanya dia malah ikut-ikutan seperti papanya!"
"Sudah, Papa yang sabar. Ayo, kita keluar! Jangan sampai membuat tamu kita menunggu."
Salma dan sang suami pun berjalan beriringan menuju ruang tamu. Tampak Bima yang duduk berdampingan dengan putrinya. Bima berdiri, ingin menyalami sang mertua. Namun, Halim sama sekali tidak menghiraukannya dan yang duduk begitu saja di depan mereka. Begitupun dengan Salma yang mengikuti langkah sang suami.
Bima jadi merasa malu karena tidak dihiraukan. Di awal saja sudah begini entah bagaimana nanti jika dirinya sudah menyampaikan tujuannya datang ke sini. Davina pun memahami situasi tersebut dan tidak berkata apa pun. Dia hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu