NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 : CERITA YANG TIDAK DIMINTA

Tabib Hua Yuan menatap botol kecil itu di atas telapak tangannya selama waktu yang lebih panjang dari yang biasanya dibutuhkan oleh seorang tabib untuk memeriksa sesuatu.

"Ini..." Kakek itu membuka tutup botolnya dan mencium aroma yang keluar, lalu menutupnya lagi dengan sangat hati-hati. "Ini benar-benar asli."

Hua Ling yang berdiri di sisinya menoleh ke kakeknya. "Benar-benar asli?"

"Aku sudah pernah membaca deskripsi ramuan ini tiga kali dalam hidupku. Dua kali di literatur kuno yang sudah setengah hancur. Lalu satu kali di catatan tabib istana Feng Hua yang disita Long Yuan dua generasi lalu." Hua Yuan meletakkan botol itu kembali ke tangan Haifeng dengan gerakan yang sangat hati-hati. "Aku tidak pernah mengira akan melihatnya langsung."

Haifeng mengantongi botol itu. "Artinya Kakak tidak punya alasan lagi untuk melarangku."

Hua Ling masih memproses informasi itu ketika matanya bergerak ke titik di belakang Haifeng dan berhenti. Hua Yuan juga menoleh.

Bai Mei berdiri dua langkah di belakang Haifeng dengan tudung di kepalanya, ekspresinya tidak ada perhitungan di sana. Tidak ada yang disembunyikan dengan cara yang aktif, selain ekspresi seseorang yang sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak mudah dan tidak mundur sebelum melakukannya.

Oleh karena itu Haifeng menoleh.

Diikuti Bai Mei yang membuka tudungnya. "Tuan Muda Haifeng. Kalau tidak keberatan, apakah Anda punya waktu?"

Buritan kapal adalah bagian yang paling sepi pada jam ini.

Semua orang yang tidak berjaga ada di sisi depan atau di bawah dek, dan di sini hanya ada suara ombak yang pecah di belakang lunas kapal dan langit yang mulai kemerahan di arah barat. Bai Mei berdiri di railing dengan matanya ke laut, dan ketika Haifeng datang berdiri di sampingnya, dia tidak langsung bicara.

Haifeng juga tidak terburu-buru.

"Ayahku adalah prajurit resmi Long Yuan," kata Bai Mei. "Dia berperang di bawah komando Wei Changsong. Bukan karena dia punya pilihan. Karena memang begitulah caranya."

Haifeng mendengarkan semua itu dengan tenang.

"Ayahku tidak pernah betul-betul berperang, sebenarnya. Wei Changsong selalu menghabiskan lawan-lawannya sendiri. Ayahku lebih banyak membersihkan medan setelah selesai, mengangkat mayat, membangun kemah, mengurus kuda. Tapi dia tetap prajurit resmi. Namanya ada di dalam daftar." Bai Mei menekan satu tangannya di railing. "Dia akhirnya meninggal bukan karena pedang musuh. Tapi karena penyakit yang dia bawa pulang dari perbatasan. Infeksi yang sudah ada sejak berminggu-minggu di kamp, tidak diobati karena tidak ada tabib yang mau repot-repot dengan prajurit kelas bawah."

"Aku masih dua belas tahun waktu itu. Adikku sembilan, dan ibuku tidak punya keahlian apa pun selain mengurus rumah." Bai Mei menghela napas yang tidak berisi kesedihan lagi, hanya fakta yang sudah terlalu sering dipikirkan untuk masih bisa membuat sakit seperti pertama kali. "Kami akhirnya mengajukan nama ayah ke istana. Dia prajurit resmi. Seharusnya ada kompensasi, ada bantuan untuk keluarga yang ditinggalkan. Akan tetapi selalu tidak ada yang menjawab."

"Ibuku terpaksa melakukan apa saja yang bisa dia lakukan. Sementara adikku mulai sakit-sakitan sejak kecil dan membutuhkan obat terus-menerus." Bai Mei berhenti sebentar. Tangannya di railing semakin menekan. "Hingga wabah penyakit datang waktu adikku berusia tiga belas. Aku sudah cukup besar untuk memahami bahwa kami tidak punya apa-apa untuk membeli obat yang benar. Sementara ibuku meninggal duluan karena sudah terlalu lemah, dan adikku menyusul dua minggu kemudian."

Haifeng menundukkan kepalanya, mengingat wabah itu. Dia mengingat cara orang-orang di istana membicarakannya seperti membicarakan sesuatu yang ada di luar tembok dan tidak perlu terlalu dipikirkan oleh orang-orang di dalam tembok.

"Aku tahu Wei Changsong tidak langsung bertanggung jawab atas itu semua," lanjut Bai Mei, suaranya tidak berubah nada. "Tapi dia adalah bagian dari sistem yang tidak pernah melihat orang seperti ayahku sebagai manusia yang perlu dipertanggungjawabkan. Dan istana yang tidak menjawab surat kami, itu adalah istanamu juga."

"Aku minta maaf," kata Haifeng.

"Aku tidak—"

"Bukan atas nama ayahku atau ibuku atau kekaisaran," Haifeng menyela dengan halus. "Atas namaku sendiri. Karena waktu wabah itu datang, aku memang aman di balik tembok yang sama yang tidak membiarkan suratmu masuk."

Bai Mei diam selama beberapa hitungan sebelum berucap.

"Kau berbeda dari yang kukira. Aku salah menilaimu dari awal... dan waktu kau masuk ke aula itu dan menendang ular itu jauh-jauh dan mencabut sumbatan dari mulutku..." Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Aku tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih."

Lantas Haifeng menatap laut di depan mereka. "Tidak perlu sampai mencuri pedangku untuk balas dendam ke kekaisaran, Bai Mei."

Keheningan yang turun sesudahnya memiliki kualitas yang berbeda dari keheningan sebelumnya.

Bai Mei menutup mulutnya dengan tangan karena kaget. "Da-dari mana kau tahu?"

Haifeng menunjuk ke dirinya sendiri dengan ibu jari sembari tersenyum miring. "Aku memang pintar sejak awal, aku mengetahui hampir semua hal."

Bai Mei pun mengerucutkan bibirnya. Ekspresinya berada di suatu tempat antara kesal dan sesuatu yang lebih ringan dari itu.

Sementara Haifeng melepaskan Pedang Samudera dari punggungnya dan meletakkannya di lantai dek di antara mereka berdua. "Kau tidak perlu repot-repot mencuri. Ambil saja."

Bai Mei menatap pedang itu. Kemudian menatap Haifeng. "Kau serius?"

"Sangat serius."

Bai Mei membungkuk dan memegang gagang Pedang Samudera dengan kedua tangannya. Menarik-narik meski pedang itu tidak bergerak seperti sesuatu yang memutuskan untuk tidak ikut. Wanita itu menarik lebih keras. Lututnya hampir ikut turun ke lantai dari usaha itu. Namun Pedang Samudera tetap di tempatnya seperti sudah melekat dengan kayu dek.

Hingga dia melepaskan tangannya, berdiri lalu menghela napas panjang.

"Ini tidak adil," katanya.

"Itu karena pedang ini sudah punya pemiliknya," kata Haifeng, memungut Pedang Samudera dari lantai dengan satu tangan tanpa usaha yang terlihat. "Jadi kau bisa berhenti merencanakannya mulai sekarang."

Bai Mei menggeleng dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa rencananya selama ini memiliki cacat fundamental yang harusnya sudah dia pertimbangkan lebih awal. "Kau menyebalkan."

Haifeng tertawa sampai bahunya naik turun, dan suaranya keluar lebih keras dari yang dia niatkan di udara terbuka ini.

"TUAN MUDA HAIFENG!"

Panggilan itu menimpali dari atas, dari arah menara pengawas di tiang utama, turun ke dek dengan sangat jelas.

"Ada kapal di cakrawala timur laut! Kapal asing!"

Tawa Haifeng langsung berhenti. Tangannya sudah mengambil teropong dari pinggangnya bahkan sebelum kakinya bergerak ke tangga dek atas. Sementara langkah-langkah di belakangnya terdengar cepat, baju besi perak berkilau di sudut matanya ketika Qinghan muncul dari arah tangga lain.

Teropong itu naik ke matanya.

Kemudian di cakrawala timur laut, ada kapal. Satu kapal saja, tapi satu kapal yang tidak bisa disalahartikan sebagai apa pun selain apa adanya. Lambungnya hitam legam dengan permukaan yang terlalu rata dan terlalu keras untuk kayu biasa, lebih menyerupai baja yang ditempa dalam bentuk kapal daripada kapal yang dilapisi baja. Di layar-layarnya yang gelap, gambar satu simbol raksasa terbentang dari ujung ke ujung, tengkorak hitam di atas dua tulang bersilang.

"Kerajaan Tengkorak Hitam," gumam Haifeng.

Sedangkan kapal itu bergerak tepat ke arah mereka.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!