NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, namun cahayanya terasa dingin di kulitku. Aku berdiri di balik jendela besar ruang kerjaku, menatap gedung-gedung pencakar langit yang mulai sibuk dengan hiruk-pikuk manusia. Di tanganku, sebuah tablet menampilkan laporan terbaru dari tim investigasi pribadiku. Semalam, setelah para penyidik pergi, aku tidak tidur. Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggali lubang kubur bagi karier Vivian.

Aku bukan tipe pria yang gemar membalas dendam secara impulsif, namun Vivian telah melakukan kesalahan fatal: dia mengira ketenangan yang kutunjukkan adalah sebuah kelemahan. Dia mengira aku akan membiarkannya menyerang privasi Andini tanpa konsekuensi. Dia salah besar.

Pintu ruang kerjaku diketuk pelan. Pak Gunawan masuk dengan ekspresi yang sangat rapi, membawa setumpuk dokumen yang sudah kutunggu.

"Semua sudah siap, Pak Charles," ucapnya tenang. "Bukti transfer dana dari Vivian ke beberapa akun media *online* abal-abal sudah terlacak. Begitu juga dengan rekaman pembicaraannya saat mencoba menyuap salah satu staf administrasi di sekolah Andini agar memberikan keterangan palsu kepada pihak kepolisian."

Aku mengambil dokumen itu, membolak-baliknya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Dia sangat ceroboh. Keinginannya untuk berkuasa membuatnya lupa bahwa di dunia digital, setiap langkah meninggalkan jejak."

"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanya Gunawan.

"Hari ini ada rapat darurat dewan direksi," jawabku sambil memperbaiki letak jam tanganku. "Vivian pasti hadir di sana, bersiap untuk menuntut pengunduran diriku dengan dalih 'skandal moral'. Kita akan membiarkannya bicara. Kita akan membiarkannya merasa menang sejenak sebelum kita menjatuhkan bom ini tepat di hadapan Kakek dan seluruh pemegang saham."

Aku keluar dari ruang kerja dan mendapati Andini sedang duduk di meja makan, sedang menyesap cokelat panasnya dengan tenang. Dia sudah tidak terlihat seperti gadis ketakutan yang kulihat semalam. Keberaniannya saat menghadapi penyidik tampaknya telah mengubah sesuatu dalam dirinya. Dia tampak lebih dewasa, lebih tegar.

"Aku akan pergi ke kantor," ucapku sambil menghampirinya. Aku meletakkan tanganku di pundaknya, merasakan kehangatan yang menjalar. "Mungkin akan sedikit berisik di luar sana hari ini, tapi jangan khawatir. Gunawan dan tim keamanan sudah berjaga. Tetaplah fokus pada tulisanmu."

Andini mendongak, menatapku dengan mata cokelatnya yang jernih. "Berhati-hatilah, Charles. Aku tahu Vivian berbahaya, tapi jangan biarkan dirimu menjadi seperti dia hanya untuk mengalahkannya."

Kata-katanya seperti siraman air dingin di tengah api kemarahanku. Dia selalu bisa menyentuh sisi manusiaku yang paling dalam. Aku mengangguk pelan, lalu mengecup keningnya—sebuah janji bisu bahwa aku akan kembali sebagai pria yang tetap ia kenali.

Gedung Utama Group terasa mencekam saat aku melangkah masuk. Bisik-bisik di lobi segera terhenti saat langkah sepatuku menggema. Aku tidak menoleh ke kiri atau ke kanan; tujuanku hanya satu: lantai teratas, ruang rapat dewan direksi.

Di dalam ruangan, suasana sudah memanas. Kakek Utama duduk di kursi utama dengan wajah tanpa ekspresi, sementara Vivian berdiri di dekat meja panjang dengan tumpukan berkas berita yang sengaja dicetak besar-besar.

"Charles!" Vivian menyambutku dengan suara yang dibuat-buat prihatin. "Akhirnya kau datang. Kami baru saja membahas bagaimana reputasi perusahaan ini anjlok karena tindakanmu yang... tidak bertanggung jawab terhadap gadis di bawah umur itu."

Aku menarik kursi di hadapannya, duduk dengan sangat tenang, lalu melipat tanganku di atas meja. "Silakan, Vivian. Selesaikan pidatormu. Aku ingin mendengar sejauh mana kau sudah merancang kebohongan ini."

Vivian tampak tersinggung, namun ia melanjutkan dengan penuh semangat. Ia memaparkan tuduhan manipulasi, penggunaan kekuasaan untuk menikahi anak di bawah umur, dan bagaimana hal itu melanggar kode etik perusahaan. Beberapa direktur tampak mengangguk-angguk ragu. Mereka adalah orang-orang yang selama ini memang ingin melihatku jatuh.

"Oleh karena itu," Vivian menutup presentasinya dengan senyum penuh kemenangan, "saya mengusulkan agar Charles Utama dinonaktifkan sementara dari jabatannya sebagai CEO hingga proses hukum ini selesai, demi menjaga nama baik keluarga Utama."

Kakek Utama berdehem, suaranya berat menembus keheningan. "Charles, kau punya pembelaan?"

Aku berdiri perlahan. Aku tidak menggunakan layar proyektor. Aku hanya mengeluarkan satu buah *flashdisk* dan meletakkannya di tengah meja.

"Aku tidak butuh banyak bicara," ucapku datar. "Di dalam sini terdapat bukti autentik bahwa Vivian Rahardja telah melakukan penyuapan kepada media, pencemaran nama baik, dan manipulasi saksi. Dia tidak sedang menyelamatkan reputasi perusahaan. Dia sedang melakukan upaya kriminal untuk menggulingkan kepemimpinan yang sah demi ambisi pribadinya."

Wajah Vivian seketika memucat. Ia mencoba meraih *flashdisk* itu, namun Gunawan lebih cepat menahannya.

"Dan satu lagi," lanjutku sambil menatap Vivian tajam. "Laporanmu ke polisi semalam sudah dibatalkan karena saksi kunci yang kau coba suap justru memberikan keterangan tentang tindakanmu. Sekarang, justru kaulah yang sedang dicari oleh pihak berwajib atas laporan balik dari pengacaraku mengenai pelanggaran privasi dan eksploitasi anak untuk kepentingan politik kantor."

Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara napas Vivian yang memburu terdengar jelas. Satu per satu direktur yang tadinya mendukungnya kini membuang muka. Mereka tidak ingin tenggelam bersama kapal yang bocor.

Kakek Utama berdiri, menatap Vivian dengan tatapan penuh kekecewaan yang mendalam. "Kau adalah kerabat yang sangat aku percaya, Vivian. Tapi kau tega menggunakan seorang gadis yang tidak bersalah hanya untuk memuaskan haus kuasamu. Keluar dari gedung ini sekarang juga. Kau dipecat secara tidak hormat."

Vivian mencoba bicara, mencoba membela diri, namun suaranya tercekat. Ia keluar dari ruangan dengan langkah gontai, dikawal oleh petugas keamanan. Ia kehilangan segalanya dalam hitungan menit—posisinya, hartanya, dan reputasinya.

Setelah ruangan kosong, Kakek menghampiriku. Ia menepuk pundakku. "Kau melakukan hal yang benar, Charles. Tapi ingat, badai ini belum sepenuhnya berlalu. Jagalah Andini. Dia adalah jantung dari kekuatanmu sekarang."

Aku mengangguk, namun pikiranku sudah melayang kembali ke apartemen. Kemenangan ini terasa hambar jika aku tidak segera membaginya dengan Andini. Aku menyadari satu hal hari ini: kekuasaan Utama Group memang penting, tapi melihat Andini tersenyum tanpa beban adalah pencapaian terbesar dalam hidupku.

Aku berjalan keluar gedung dengan langkah ringan. Di dalam mobil, aku mengirimkan pesan singkat padanya.

> *Semua sudah berakhir. Aku pulang. Ingin makan malam di luar hari ini?*

>

Malam ini, aku bukan lagi CEO yang sedang berperang. Aku hanyalah seorang pria yang ingin menjemput istrinya untuk memulai hidup yang sesungguhnya, tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!