Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Nisa mulai gelisah, dari tadi ia berkali-kali menatap kaca spion, memastikan apakah motor putih itu masih membuntutinya. Sialnya iya. Ia jadi ngeri kalau gini. Gimana kalau ternyata dia adalah begal? Tapi...sepanjang jalan yang ia lewati sampai rumah, adalah jalanan ramai, masa iya ada yang berani begal? Dan lagian, motornya jelek, motor matic sejuta umat yang kembarannya ada dimana-mana, dan tahunnya juga sudah lama banget, body udah baret-baret, dulu ia belinya second.
Ia menambah kecepatan motor, tapi apalah daya, motor bututnya mana bisa bersaing dengan motor kekinian Ojan.
"Pelan-pelan, Mbak." Teriak Ojan yang sengaja mensejajari Nisa.
Nisa menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Enggak, dia gak mau kayak gini terus, ketakutan. Melewati jalanan yang lumayan terang dengan banyaknya lampu jalan dan kursi besi di trotoar, Nisa menepikan motornya lalu berhenti. Tanpa melepas helm, langsung turun, menemui Ojan yang berhenti di belakangnya.
"Kamu ngikutin aku?"
"Enggak." Ojan menggeleng cepat. Pria itu masih tetap duduk di atas motornya. "Aku mau pulang, kebetulan jalannya sama. Ini jalan umum Mbak, gak usah kegeeran."
Nisa mendengus kesal. "Kalau memang enggak, kenapa aku berhenti kamu ikut berhenti?" tanyanya ketus.
"E... e...Ketahuan deh, hehehe." Ia tertawa garing sambil memasang wajah tanpa dosa yang nyebelin banget, bikin Nisa pengen nampol. "Maaf Mbak, gak ada niat buruk kok. Aku cuma mau mastiin kamu selamat sampai tujuan. Itu aja."
"Emang kamu siapa?"
"Aku." Ojan menunjuk dirinya. "Namaku Abrisam Achazia Januar, panggilannya singkat padat dan jelas, Ojan. Tadi kan udah kenalan."
"Gak nanyak!" Nisa melotot.
"Loh, tadi nanya."
Nisa membuang nafas kasar. "Maksudku, kamu siapa aku? Bukan siapa-siapa kan. Jadi gak perlu repot-repot mastiin aku selamat sampai tujuan segala."
"Aku cuma gak bisa aja Mbak, ngebiarin cewek yang nangis sepanjang jalan, sendirian. Takut kenapa-kanapa."
"Kamu..." Nisa tak menyangka kalau Ojan tahu.
"Mata kamu gak bisa bohong, Mbak." Ojan melepas helm, mencantolkan ke kaca spion. "Pas aku ngeliat kamu di jembatan tadi, mata kamu bengkak, kayak habis disengat sejuta lebah."
Nisa mendengus mendengar ejekan Ojan. Tapi apa iya, matanya sebengkak itu, sampai orang langsung tahu.
"Hehehe, becanda Mbak. Tapi yang jelas, kalau seorang cewek berani berdiri sendiri di jembatan tadi, udah pasti sedang punya masalah. Konon ceritanya, banyak orang yang liat penampakan Mbak kunti disana. Ngeri kan." Ojan bergidik.
"Tahu gak, penelitian membuktikan, kalau orang yang sedang dalam masalah, menjadi lebih pemberani," lanjut Ojan. "Semakin besar masalah, semakin berani dia. Contohnya, orang yang punya banyak masalah, berani minum pembersih lantai atau obat nyamuk. Coba yang gak punya masalah, mana berani. Jangankan minum obat nyamuk, gak sengaja pas mangap kena semprot dikit aja, kumur-kumurnya langsung ribuan kali, takut mati."
"Tenang aja, aku belum sepemberani itu." Nisa memutar kedua bola matanya malas.
"Bagus kalau gitu. Tapi tetap saja, biarkan saya ngintilin Mbak sampai rumah. Takutnya di jalan pikiran Mbak tiba-tiba kosong, kerasukan Mbak Kunti, oleng, terus nabrak, bahayakan. Orang kalau ada masalah, kalau bisa jangan bawa kendaraan sendiri, mending naik ojol aja, aman."
"Promosi, Mas?" Nisa nyengir.
"Anggap aja gitu," Ojan cekikian. "Sambil menyelam minum air dan sekaligus kalau bisa nyari ikan sekalian."
Nisa menghela nafas panjang, lalu balik badan. Bukan kembali ke motornya, melainkan menuju salah satu kursi kosong yang ada di trotoar. Ia duduk disana, menatap nanar kendaraan yang berlalu lalang. Matanya tiba-tiba kembali berkaca-kaca. Dulu, Sandi sering ngajak dia duduk di trotoar seperti ini. Ngobrol hal-hal receh, tapi rasanya menyebabkan sekali.
Ojan beranjak dari motornya, menghampiri Nisa, duduk di sebelahnya. "Semua orang punya masalah Mbak, bukan hanya kamu sendiri. Dan Allah ngasih cobaan itu sesuai kemampuan, jadi jangan pernah mikir itu terlalu berat atau kamu merasa gak sanggup."
Nisa meletakkan helm di sebelah kaki bangku, menutup wajah dengan kedua telapak tangan lalu menangis.
"Haduh, malah nangis."
"Hwaaa!"
Tangis Nisa makin kencang, membuat Ojan panik. "Mbak, jangan kenceng-kenceng, nanti dikira orang, kamu hamil tapi aku gak mau tanggung jawab."
"Kenapa sih, cowok itu jahat banget?"
"Enggak Mbak, aku gak jahat kok." Ojan menggeleng cepat.
"Apa 8 itu gak berarti apa-apa?"
Ojan garuk-garuk kepala, bingung.
"Kamu tahu, hari ini aku diputusin cowokku setelah pacaran 8 tahun." Nisa tiba-tiba ingin curhat pada orang yang tak dikenal. Ingin mengurangi sesak di dada, tanpa merasa malu karena tak kenal dan mungkin ini pertemuan pertama sekaligus terakhir.
Mulut Ojan langsung menganga lebar. "Gak salah Mbak, pacaran 8 tahun? Itu kalau buat nyicil mobil, udah dapat 2 loh."
Ngomongin soal nyicil mobil, Nisa menangis sekaligus tertawa. Tahun lalu, uangnya dipinjam Sandi 5 juta untuk tambah DP mobil.
"Lagian sabar banget sih, nungguin kepastian sampai 8 tahun," Ojan tersenyum sambil geleng-geleng.
Nisa tersenyum kecut, benar yang dikatakan Ojan. 8 itu terlalu lama untuk ukuran orang pacaran. 8 tahun jagain jodoh orang, 8 tahun buang-buang waktu, energi, dan uang.
"Dia punya yang lain?" Ojan jadi penasaran, menoleh pada Nisa yang wajahnya merah padam karena menangis.
"Mungkin, aku juga gak tahu. Tapi alasan yang dia katakan, tidak setara." Tersenyum simpul.
"Gak setara?" Ojan mengerutkan kening. "Maksud dia kaya kamu miskin gitu?"
Nisa auto melirik tajam. Dia memang miskin, tapi apa iya harus disebutkan sejelas itu.
"Maaf Mbak, gak menghina." Ojan mengusap tengkuk, tersenyum keki. "Cuma menebak."
"Menurut kamu, lulusan SMA itu memalukan ya?" Nisa bertanya, tapi tatapannya lurus ke depan.
"Enggaklah. Pemerintah aja mewajibkan sekolah 9 tahun, itu artinya sampai SMP aja. Berarti lulusan SMA ya udah termasuk bagus."
"Sayangnya, gak semua orang pemikirannya kayak kamu. Masih banyak orang yang mikirnya, kalau anaknya sarjana, jodohnya juga harus sarjana, anaknya kerja kantoran, jodohnya juga musti seimbang." Nisa mengambil tisu di dalam tas, menyeka air matanya.
"Enggaklah. Aku yakin gak semua orang pikiranya gitu."
"Mereka fikir, aku gak pengen kuliah apa? Mereka fikir, aku gak pengen kerja kantoran? Aku juga pengen." Nisa makin sesenggukan, bahunya berguncang hebat. "Tapi kadang kondisi yang tidak memungkinkan. Andai disuruh milih, aku juga pasti milih kuliah, milih kerja kantoran."
"Sabar, Mbak." Ojan pengen mengusap bahu Nisa, tapi takut dianggap gak sopan.
"Kamu sendiri, pasti kamu kalau bisa milih, gak mau kan, kerja jadi ojol. Kamu pasti juga pengen kerja kantoran, duduk di tempat ber AC tanpa harus panas-panasan di jalan," menoleh pada Ojan.
"Ini pilihanku kok, aku suka jadi ojol." Namun smua itu hanya diucapkan Ojan dalam hati. Di depan Nisa, ia hanya tersenyum simpul.
"Siapa sih yang bikin dongeng Cinderella, aku pengen protes. Jangankan orang miskin dapat jodoh pangeran, dapat jodoh staf kantor saja gak bisa." Nisa kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis.
"Gak ada yang tidak mungkin Mbak. Positif thinking, mungkin Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk kamu."
"Gak usah ngedongeng."
"Diaminin napa, Mbak."
"Aamiin." Ujar Nisa ogah-ogahan.
"Yang kenceng dong, kayak orang belum makan 7 tahun aja."
"AAMIIN!" teriak Nisa kencang hingga beberapa pengemudi motor menoleh ke arahnya.
Ojan menutup mulut, tak bisa menahan tawa.