Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menyerah, Pa!
Dinding pembatas di ruang tamu itu terasa dingin saat Arini menyandarkan punggungnya di sana. Nafasnya tertahan, rasanya benar-benar sesak setelah tahu kebenaran yang baru saja menghantam seluruh sendi kehidupannya. Setiap kata yang terlontar dari mulut Galang dan Dita di ruangan itu bagaikan belati yang meneliti harga dirinya. Pernikahan yang selama ini ia Bela mati-matian, ternyata hanyalah sebuah Panggung Sandiwara yang naskahnya telah disusun rapi oleh mereka.
Tanpa suara, Arini menarik diri. Ia melangkah mundur, keluar dari rumah yang kini terasa seperti penjara yang penuh dengan tipu daya. Ia harus pergi sebelum air matanya jatuh dan menunjukkan kelemahannya. Ia ingin mencari udara segar dan menghirup oksigen banyak-banyak yang tidak terkontaminasi oleh aroma penghianatan mereka.
Deru ombak di cafe pinggir laut itu sedikit meredam kebisingan dan kemarahan di kepala Arini. Ia duduk mematung, menatap hamparan laut biru yang membentang tanpa batas. Di sana, di antara aroma garam dan angin yang membawanya pertahanan Arini pun akhirnya runtuh juga. Arini menangis dalam diam untuk meluapkan semua kekecewaan dan rasa sakit yang ia rasakan.
Dengan tangan gemetar, Arini merogoh ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang selama ini ia hindari demi menjaga gengsi.
"Papa...! " suara Arini tercekat.
"Arini? Ada apa sayang? " suara berat di seberang sana langsung berubah menjadi cemas.
" Aku menyerah, Pa. Aku mau pulang! "
Hening sejenak. Arini bersiap untuk mendapat rentetan kalimat 'Papa bilang juga apa' atau penghakiman lainnya dari Papanya.Tapi sang Papa hanya menghela nafas panjang, sebuah nafas yang mungkin bisa merasakan kesedihan anaknya saat ini.
"Pulanglah! Pulanglah jika kamu lelah. Kamu masih memiliki keluarga yang bisa menerimamu untuk kembali. Papa sudah menyiapkan tempat untukmu."
" Makasih Pah. Tapi... Aku butuh waktu, Aku ingin membalas mereka dan tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja, Aku tidak akan membiarkan mereka tertawa di atas kebohongan yang sudah mereka ciptakan. Aku akan mengambil kembali apa yang sudah aku berikan kepada mereka." ucap Arini dengan tatapan tajam lurus ke depan.
"Baiklah Papa mengerti. Papa tidak akan bertanya apapun sekarang, papa akan mencari tahu sendiri apa yang sudah membuat putri Papa menyerah pada pilihannya. Lakukan apa yang harus kamu lakukan hari ini. Papa akan mendukungmu dari belakang."
" Terima kasih, Pa. Aku merasa lega karena sudah bicara dengan papa."
Waktu Seolah berhenti sampai hari ini merasa cukup kuat untuk menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Saat ia membuka pintu, sebuah pemandangan yang seharusnya terlihat hangat, kini tampak memuakkan di mata Arini.
di ruang tengah terlihat kita duduk dengan tenang menemani Galih. di sofa lain Galang tampak fokus dengan laptopnya. Mereka terlihat seperti potret keluarga kecil yang sempurna. Sementara Arini sendiri merasa seperti orang asing, seorang pengganggu dalam cerita yang mereka ciptakan.
Tanpa sepatah kata pun, dan tanpa menyapa mereka Arini berjalan lurus melewati mereka menuju kamarnya.
"Arini, kamu baru pulang?" suara Galang terdengar, namun hari ini terus melangkah tak menghiraukannya sama sekali hingga masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Di dalam kamar ia merosot dibalik pintu. Rasa sesak itu kembali datang . Mengingat kembali bahwa setiap pelukan dan setiap perhatian Galang kepadanya hanyalah bagian dari rangkaian rencana busuknya dengan Dita.
Tok, tok, tok.
"Arini! Kamu kanapa? Kamu baik-baik saja kan? " Galang berdiri di balik pintu, suaranya terdengar sangat perhatian, sungguh akting yang luar biasa. Dia pantas mendapatkan hadiah nobel.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Tolong jangan ganggu aku, aku ingin istirahat. " kata Arini sedikit berteriak
"Oh, ya sudah kalau begitu, istirahatlah. Aku akan membeli makanan untuk makan malam kita nanti." kata Galang lalu segera pergi dari sana. kembali ke ruang tengah menemui Dita.
"Apa katanya, mas? " tanya Dita penasaran.
"Dia cuma kecapean. Dan butuh istirahat, kita tidak boleh mengganggunya. " kata Galang dengan wajah lesu.
"Apa jangan-jangan Arini tau sesuatu mas, " tebak Dita, wajahnya menyiratkan kegugupan yang luar biasa..
Galang menggeleng pelan, mencoba menenangkan wanita di hadapan nya. Ia mengusap bahi Dita dengan lembut.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita sudah bermain cantik selama ini, san Arini tidak mencurigai apa pun. Arini... dia hanya sedang kecapean dan butuh istirahat. Tinggal sedikit lagi Dita, dan setelah semua selesai, kita tidak perlu bersandiwara lagi. " ucap Galang dengan yakin.
Dia mengajak Dita kembali ke ruang tengah dan menemani Galih belajar mewarnai.
"Papa, gambar ini bagus nggak? " Galih menunjukkan sebuah gambar keluarga kecil disana ada seorang pria dan wanita juga anak kecil.
"Bagus sekali, Galih sudah pintar mewarnai sekarang. " Galang memberikan pujian kecil untuk mengapresiasi anaknya. "Kalau boleh tau, ini gambar siapa saja sayang? "
"Ini Papa, Ini Aku dan ini ibu Dita. " ucapnya polos sambil menunjuk gambar itu.
Galang dan Dita saling berpandangan dan tersenyum. Bahkan dalam senyum Dita tersirat sebuah kemenangan, karena selama ini dia selalu mengatakan kepada Galih kalau ibunya adalah Dita bukan Arini. Dan anak kecil yang masih polos itu bisa menerima Informasi itu dengan baik. Dia memangggil Dita dengan panggilan ibu sedangkan Arini dengan panggilan mama.
"Kenapa ini ibu Dita, bukan Mama Arini? " tanya Galang menyembunyikan senyumnya.
"Karena selana ini Ibu Dita yang bersama Galih, sedangkan mama hanya sibuk kerja. Jadi aku lebih suka sama ibu Dita daripada mama Arini. "
Galang tersenyum tipis mendengar itu, dia merasa kalau selama ini rencana sempurna dan Arini tidak pernah tau apa-apa. Dia tidak tau saja kalau Arini sudah merencanakan berbagai pembalasan yang akan dia lakukan kepada para penghianat ini untuk menghancurkan senyuman mereka.
***
Di sisi lain, Bayu papa Arini tersenyum penuh kepuasan kepada seseorang di hadapannya. Karena pada akhirnya anaknya menyerah setelah lima tahun begitu keras kepala pada pilihannya.
"Kau dengar itu Kevin." ucapnya pada sosok pria tampan di hadapannya.
"Ya, aku dengar semua, om. " jawab Kevin.
"Dasar anak bodoh. Kenapa harus butuh waktu lima tahun yang sia-sia untuk mengetahui kebusukan pria yang dia cintai. " Bayu geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan sifat anaknya yang satu ini. "Kini aku serahkan padamu, Kevin. Jika dia datang padamu, bantu dia membalas semua penipuan yang sudah dilakukan Galang kepadanya. Dan setiap kerja kerja keras yang dilakukan anakku harus dia bayar mahal. "
"Baik, Om. Aku mengerti. Aku pasti akan membantu Arini, dan kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi." ucap Kevin penuh tekad.
"Bagus... Hanya kau pria yang pantas untuk anakku."