NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: PELEBURAN TAKDIR

Benturan itu tidak lagi menghasilkan suara dentuman logam, melainkan sebuah frekuensi tinggi yang seolah merobek selaput ruang di puncak Menara Welder. Saat bilah es murni Haidar menghantam obor las The Welder tepat di tengah pusaran api biru, dunia di sekitar mereka seakan membeku dalam satu bingkai waktu yang mengerikan. Uap panas bertemu dengan suhu nol mutlak, menciptakan badai kabut yang menelan seluruh aula, menyisakan dua siluet yang sedang bertaruh nyawa di tengah pusaran energi.

​Haidar bisa merasakan setiap inci tubuhnya bergetar hebat. Panas dari api The Welder mencoba mencari celah di balik zirah es kristalnya, namun kekuatan Cryo yang telah terkondensasi sempurna di tubuhnya sejak di ruang pendingin bawah tanah bekerja dengan cara yang berbeda sekarang. Rasa perih yang biasanya membakar di matanya setiap kali ia memaksakan Mata Niskala kini telah lenyap sepenuhnya. Pandangannya jernih, setajam silet, mampu menangkap setiap getaran molekul udara di hadapannya tanpa rasa sakit sedikit pun. Di tengah kabut uap itu, ia melihatnya dengan jelas—titik pusat mesin The Welder yang berbentuk karburator tua yang berkarat dan berdenyut merah.

​"Kau pikir dengan membeku kau bisa memperbaiki waktu yang sudah hancur, Haidar?!" suara The Welder menggelegar, namun kini nadanya berubah, lebih mirip suara klakson truk yang melengking panjang di tengah hujan. "Kau tidak sedang bertarung denganku! Kau sedang bertarung dengan pilihanmu sendiri yang salah!"

​Haidar menggeram, giginya beradu hingga hampir pecah. "Aku tidak pernah memilih untuk meninggalkan dia!"

​"Tapi kau memilih untuk berbalik arah demi sebuah benda mati!" The Welder menekan obornya lebih dalam, api birunya mulai meretakkan permukaan es di bahu Haidar. "Lihat sekelilingmu! Ini bukan menara! Ini adalah pabrik tempat kau sering membeli suku cadang motor Kesayangan mu! Tempat di mana kau menabung keping demi keping demi sebuah janji yang akhirnya kau bayar dengan nyawa! Jam 19.30, Haidar! Lihat jam tanganmu! Angka itu adalah waktu di mana duniamu berhenti berputar!"

​Bayangan itu kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Haidar melihat dirinya sendiri melaju di bawah guyuran gerimis, memacu motor bebeknya dengan terburu-buru. Ia melihat tangan kirinya yang sesekali membetulkan posisi boneka beruang mata besar di jok belakang agar tidak jatuh. Lalu, cahaya lampu truk itu datang dari arah samping—begitu terang, begitu mendominasi, hingga segalanya menjadi putih dalam satu detik yang sunyi.

​"DIAAAAM!"

​Jeritan Haidar meledakkan energi dari dadanya secara brutal. Ia membiarkan seluruh frekuensi jiwanya mengalir ke tangan kanannya. Cahaya biru elektrik merambat dari lengannya menuju belati hitam yang ia pegang. Seketika, belati itu bereaksi secara liar. Es murni yang menyelimutinya mulai menyerap sisa-sisa energi panas dari obor The Welder, namun bukan untuk mencair, melainkan untuk berevolusi.

​KREEEEKKK—BRAKKK!

​Bilah belati itu memanjang secara tidak alami. Kristal es abadi tumbuh dari permukaannya, membentuk gerigi-gerigi tajam yang nampak haus akan mangsa. Belati itu kini berubah bentuk, menjadi Glacial Fang. Haidar melakukan satu putaran tubuh yang sangat cepat, memanfaatkan seluruh momentum dari berat senjatanya yang tiba-tiba meningkat secara ekstrem.

​CRAAAASSSHHH!

​Belati itu membelah obor las The Welder menjadi dua bagian yang sempurna seperti membelah kertas. Ledakan api biru terakhir menyembur ke segala arah, namun Haidar terus menerjang tanpa ragu. Ia melewati kobaran api itu seperti hantu es yang tak tersentuh. Dengan satu serangan pamungkas yang didorong oleh seluruh sisa tenaganya, ia menghujamkan Glacial Fang tepat ke pusat karburator di dada The Welder.

​"Beku... Mati!"

​Energi dingin yang tak terhingga menyembur keluar dari ujung belati, membekukan The Welder dari dalam ke luar dalam hitungan detik. Raksasa besi itu tidak sempat berteriak. Seluruh tubuhnya yang tadi membara merah kini berubah menjadi monumen es biru yang retak-retak. Di dalam kristal es itu, cahaya jingga di mata The Welder meredup, menyisakan tatapan kosong yang mencerminkan kekosongan di hati Haidar.

​Detik berikutnya, seluruh tubuh The Welder hancur berkeping-keping menjadi debu perak yang berkilauan ditiup angin menara. Sektor Ferrum mendadak sunyi. Api di tungku raksasa padam total. Kabut uap menghilang. Yang tersisa hanyalah Haidar yang berdiri terengah-engah di tengah reruntuhan, dengan tangan kanan yang masih menggenggam belati barunya.

​Namun, saat ia mencoba menarik napas, Haidar menyadari sesuatu yang aneh. Rasa perih di matanya memang sudah tidak ada, namun tangan kanannya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Ia menatap Glacial Fang di genggamannya. Senjata itu tidak lagi seringan dulu; rasanya sekarang seperti ia sedang memegang batang baja padat yang beratnya tidak masuk akal. Belati itu menarik lengannya ke bawah dengan paksa, membuat otot-otot bahunya menegang keras.

​Tangan kanannya pun mulai berubah. Kulitnya kini memutih sepenuhnya, kaku dan dingin seolah-olah aliran darahnya telah digantikan oleh cairan es. Jantungnya berdegup jauh lebih lambat, mengirimkan hawa dingin yang membuat perasaan Haidar mendadak terasa hampa dan sangat tenang—sebuah ketenangan yang menakutkan karena ia mulai merasa sulit untuk marah atau sedih.

​"Kau sudah mengalahkannya, Haidar," Sersan mendekat, pedang merahnya sudah tersarung kembali. Ia menatap tangan Haidar dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kau mendapatkan kekuatan yang lebih besar, tapi kau juga mulai membayar harganya. Kau menyatu lebih dalam dengan es ini. Rasamu akan mulai memudar. Kau akan menjadi lebih kuat sebagai pejuang, tapi kau akan mulai kehilangan sisi manusiamu sedikit demi sedikit."

​Haidar menatap telapak tangannya yang kaku dan putih. Anehnya, ia tidak merasa takut mendengar ucapan Sersan. Ketakutan yang biasanya menghantui setiap kali ia teringat kecelakaan itu seolah-olah telah terkubur di bawah lapisan salju yang sangat tebal di dalam kepalanya. Ia hanya merasa fokus, dingin, dan kosong.

​"Selama aku bisa melangkah maju, itu tidak masalah," ucap Haidar datar. Suaranya kini tidak lagi memiliki nada getaran emosi; terdengar monoton seperti detak mesin yang presisi.

​Di lantai aula yang hancur, dua benda berkilau di antara debu logam The Welder. Haidar membungkuk dengan gerakan yang terasa lebih lambat dan kaku karena beban belatunya. Ia mengambil sebuah kunci berbentuk roda gigi perak yang berat—kunci menuju gerbang Portus. Dan di sampingnya, terdapat sepotong kecil kain dari telinga boneka beruang.

​Haidar menatap kain itu sejenak. Ingatannya tentang Kinaya yang tertawa saat meminta boneka itu kini terasa seperti sebuah film lama yang warnanya mulai pudar, namun ia tahu benda ini penting. Ia menyimpannya di saku yang paling dekat dengan dadanya.

​"Ayo," ajak Haidar tanpa menoleh pada Sersan. "Thalassa sudah menanti."

​Ia melangkah menuju portal frekuensi biru yang terbuka di ujung aula. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak kristal es yang tidak akan pernah mencair di lantai besi. Berat belati di pinggangnya membuat setiap langkahnya menimbulkan suara dentuman pelan yang berwibawa namun berat. Haidar masuk ke dalam portal tersebut, membiarkan tubuhnya ditelan oleh pusaran cahaya biru.

​Seketika, atmosfer berubah total. Hawa panas dari pabrik sparepart Baron menghilang sepenuhnya, digantikan oleh udara lembap yang terasa sangat asin dan menusuk kulit. Bau solar, oli kapal, dan aroma air laut yang payau mulai memenuhi penciuman Haidar.

​Haidar membuka matanya dan mendapati dirinya berdiri di atas dermaga beton yang sangat luas dan sepi. Di sekelilingnya, ribuan kontainer berwarna-warni bertumpuk setinggi gedung pencakar langit, menciptakan labirin raksasa yang menutupi ufuk. Kabut tebal menyelimuti permukaan air pelabuhan yang hitam pekat, membuat pandangan sejauh apa pun terasa terbatas dan penuh ancaman.

​Inilah Sektor Thalassa (Portus).

​Di kejauhan, di balik dinding-dinding kontainer yang dingin, terdengar sebuah suara yang sangat familiar bagi Haidar. Suara yang dulu adalah bagian dari rutinitas harian pekerjaannya di jalanan, tapi kini adalah teror yang paling nyata dalam frekuensi jiwanya.

​HOOOOONNNNKKKKKK!

​Suara klakson truk kontainer yang melengking panjang membelah kesunyian pelabuhan, suaranya memantul di antara dinding-dinding besi kontainer menciptakan gema yang mengerikan. Haidar terdiam kaku. Jantungnya berdenyut kencang untuk sesaat sebelum es di dalam dirinya kembali menekannya hingga ia menjadi tenang kembali secara paksa. Di antara celah labirin kontainer itu, sepasang lampu depan yang sangat terang menyala, menembus kabut seperti mata predator, dan mulai bergerak perlahan namun pasti menuju ke arahnya.

​Haidar menggenggam gagang belati Glacial Fang-nya yang kini terasa luar biasa berat. Ia tahu, di kota pelabuhan ini, ia tidak hanya akan bertarung dengan monster frekuensi biasa. Ia akan berhadapan dengan perwujudan dari pelaku utama yang telah mengakhiri perjalanannya di perempatan jalan malam itu. Sang Kapten sudah menantangnya dari balik kabut pelabuhan yang dingin.

​"Kau dengar itu, Sersan?" tanya Haidar, matanya menatap tajam ke arah dua lampu terang yang mendekat dari balik kabut.

​Sersan tidak menjawab, ia hanya berdiri di belakang Haidar, mengawasi setiap pergerakan Haidar dengan tangan yang tetap siaga di gagang pedangnya. Sersan tahu, di Thalassa ini, kebenaran yang ia coba sembunyikan dari Haidar akan mendapatkan ujian yang paling berat. Karena di sini, suara mesin truk adalah melodi kematian yang tidak akan pernah bisa dihilangkan dari ingatan bawah sadar Haidar.

​Haidar mengangkat belati beratnya, mempersiapkan posisi kuda-kuda yang kini jauh lebih kokoh karena berat senjatanya. Di pergelangan tangannya yang kaku, sisa frekuensi dari menara jam Arcapada berkedip sekali lagi, seolah-olah sedang memberikan peringatan terakhir sebelum badai yang sesungguhnya datang. Angkanya tetap sama, tak pernah berubah.

​19.30.

​Waktu kematian telah lewat, namun di Thalassa, perjuangan untuk menebusnya baru saja dimulai.

1
Wawan
Hadir ingin kenal Kinaya ✍️
Suparni
rekomend👍👍👍
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!