Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Dini hari, Nisa terbangun karena suara ponsel. Bukan alarm, tapi ada panggilan masuk. Buru-buru ia bangun, meraih benda pipih menyala yang menggelepar-gelepar dia atas nakas, berharap itu panggilan dari Ojan. Sayangnya, Nisa harus menelan kekecewaan, bukan Ojan yang telepon, melainkan Dinda. Sialan, tahu gitu ia gak bangun tadi. Saat tersambung, yang terdengar malah suara Dinda nangis.
"Ada apa, Din?" Gak mungkin Nisa tak panik mendengar tangisan Dinda.
"ATM ku Nis, ATM ku ketelen. Hua..." Tangisan Dinda makin kencang.
Nisa tepuk jidat sambil mengumpat dalam hati. Kirain ada apaan, ternyata cuma soal ATM. "Kapan?"
"Barusan."
Otomatis, Nisa melihat jam di ponselnya. Baru jam 4 dini hari, ngapain Dinda sudah main ke ATM? "Kamu ngelindur atau gimana sih, jam segini ke ATM."
"Semalam ibuku telepon Nis, Bapak masuk rumah sakit. Aku gak bisa tidur semalaman, jam 3 aku nekat ke indoapril, mau tf, tapi ATM malah ketelen. Untung pas udah selesai tf."
"Ya udahlah, hari ini izin kerja, kamu urusin dulu ATM kamu ke bank." Nisa menutup telepon sesudah itu. Orang lagi ada masalah, masih juga kena masalah. Kasihan Dinda, definisi sudah jatuh tertimpa tangga.
Gara-gara telepon Dinda, Nisa tak lagi bisa tidur. Ia mengecek pesan, masih seperti kemarin, tak ada pesan dari Ojan. Mumpung belum subuh, ia putuskan untuk sholat tahajjud saja. Di rumahnya, meski ukurannya tak terlalu besar, ada ruangan khusus untuk sholat. Saat hendak masuk, langkahnya terhenti mendengar suara isakan. Ternyata di dalam ada ibunya, menangis sesenggukan. Tak ingin seperti semalam, Ayahnya malu, Nisa memutuskan tidak jadi masuk. Ia beralih ke dapur, mencuci wadah magigcom lalu masak nasi. Lanjut, ia menyiapkan lauknya juga.
Suasana sarapan terasa canggung. Bu Wiwik tak banyak bicara, hanya diam sembari makan penyet tempe buatan Nisa. Naina juga ikut sarapan, meski sepanjang itu, dia hanya diam.
"Suruh Sandi dan keluarganya kesini Sabtu nanti," ujar Pak Bambang. Matanya fokus pada makanan, sama sekali tidak menoleh pada Naina.
"Iya, Yah."
Ini sudah hari ketiga Ojan tanpa kabar. Nisa bukan lagi merasakan baterainya tinggal 1 persen, tapi udah kosong, melompong. Setiap keluar rumah, tempat pertama yang ia lihat, adalah gerbang, berharap ada Ojan disana, tapi sama seperti kemarin, tak ada.
Apa mungkin, selama ini Ojan sengaja mengejarnya, lalu setelah ia luluh, merasa tak ada tantangan lagi. Mungkin cowok itu sudah bosan padanya. Ojan masih muda, tampan, pasti gampang nyari cewek. Ngejar-ngejar dia selama ini, mungkin cuma buat ngisi kegabutan.
Nisa sudah siap di atas motor, hendak menarik gas, tapi tiba-tiba, ponsel di dalam tasnya berdering. Halah, palingan Dinda, ia tak menjawab, nanti saja di kantor, daripada telat, jaga-jaga kalau jalanan macet.
Sesampainya di pantry, saat membuka HP, mulut Nisa menganga mengetahui yang telepon tadi ternyata bukan Dinda, tapi Ojan. Nyesel banget tadi gak ngecek dulu. Cowok itu juga ngirim pesan.
[ Mbak ]
Isi pesannya benar-benar minimalis, tidak menjabarkan perasaan seseorang yang lama tak berkabar dan sedang dilanda rindu.
Tanpa pikir panjang, apalagi mikirin gengsi, Nisa menelepon Ojan.
"Ojan, kamu kemana aja?" tanyanya saat telepon tersambung. "Bisa gak sih, kalau ada apa-apa itu minimal ngabarin, jangan main hilang aja. Dua hari kamu gak ada kabar sama sekali. Jangankan antar jemput, nanya aku udah bangun apa belum aja enggak. Kamu kayak hilang ditelan bumi, padahal kirim pesan itu cuma butuh gerakin jari doang, dan gak sampai semenit, itu pun gak kamu lakukan."
"Busyet! Panjang kali lebar benget," Ojan menahan tawa.
Nisa terdiam, wajahnya memanas, malu. Diantara sekian banyak cerocosannya tadi, semoga saja gak ada keceplosan ngomong kalau dia kangen.
"Kenapa gak langsung intinya aja sih, Mbak? Kamu kangen aku, iya kan?"
Tenggorokan Nisa tercekat, tak tahu harus menjawab apa. Bohong jika tidak kangen, tapi malu mau bilang iya. "Kamu kemana aja?" Belum pernah, ia selega ini saat ditelepon seseorang. Baterainya langsung terisi 50 persen, saklar didalam dirinya seperti sudah ditekan, lampu menyala, ia kembali bersemangat.
"Jawab dulu pertanyaanku? Kangen gak?"
"Em..."
"Gak kangen ya?" Ojan menghela nafas panjang.
"Kangen." Nisa akhirnya mengakui meski agak ragu-ragu karena malu.
"Jan."
Nisa mendengar suara wanita memanggil Ojan.
"Buruan!"
Wanita itu kembali bicara.
"Iya Mah, tunggu bentar," teriak Ojan.
Oh, mamahnya
Merasa lega untuk yang kedua kalinya.
"Mbak, udah dulu ya, aku buru-buru ini," ujar Ojan.
"Eh, nanti bisa jemput aku gak?" Nisa bertanya cepat sebelum sambungan diputus. Padahal ia bawa motor, tapi bisa-bisanya malah minta dijemput.
"Maaf Mbak, gak bisa."
"Tapi kalau besok, bisakan antar jemput?"
Ojan membuang nafas kasar, diam beberapa saat. "Sekali lagi maaf Mbak, aku gak bisa."
"Oh, gitu ya." Nisa tertunduk lesu, kecewa.
"Udah dulu ya, Mbak."
Nisa melihat layar ponselnya, telepon sudah diakhiri, bahkan sebelum Ojan memberi penjelasan kenapa dua hari ini, tak menghubunginya. Cowok itu sepertinya tergesa-gesa, entah mau pergi kemana.
Kamu lagi sibuk apa sih Jan???
Si Nai padti haply jadi nikah sama Dandi restu ayah ibu jalur hamil bukan jalur iklad
bikin reader kangen loh Jan 😁🤣
seru ini..
next. thor......