NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Terakhir

BAB 33 — Pelukan Terakhir

Pintu terbanting keras. Suara langkah kaki Alena yang berlari menjauh terdengar samar, hilang ditelan suara hujan dan kebisingan malam.

Tinggal Adrian berdiri kaku di tengah ruangan yang seakan ikut menjadi dingin. Kata-kata “Aku membencimu” masih bergema keras di telinganya, menusuk jauh ke dalam ulu hati sampai rasanya sulit bernapas.

Rasa bersalah, rasa takut, dan rasa cinta yang bercampur aduk meledak menjadi satu dalam dadanya.

"Tidak... tidak bisa begini saja," gumam Adrian parau. Matanya yang tadi lemas kini kembali menyala dengan tekad yang membara. "Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dengan rasa benci seperti itu. Aku tidak bisa membiarkan dia berpikir aku tidak cinta."

Tanpa mempedulikan apa pun, Adrian berlari menyusul keluar.

 

🌧️ Mengejar di Bawah Hujan

Hujan turun sangat deras membasahi kota London. Langit gelap, jalanan licin, dan udara terasa menusuk tulang.

Adrian berlari secepat kilat menuruni tangga darurat, melewati koridor, dan keluar menuju area parkir di mana dia melihat mobil Alena baru saja akan melaju.

"ALENA!! TUNGGU!!" teriak Adrian sekuat tenaga, suaranya menyalip suara hujan dan petir.

Mobil Al yang sudah menyala itu berhenti mendadak.

Pintu pengemudi terbuka. Alena turun kembali, wajahnya basah bukan hanya karena air hujan, tapi juga karena air mata yang tak henti mengalir. Dia berdiri mematung di bawah guyuran air, menatap pria yang berlari menghampirinya dengan napas memburu.

Dalam beberapa detik, Adrian sudah berdiri tepat di hadapan gadis itu. Keduanya basah kuyup, pakaian menempel di tubuh, rambut berantakan, tapi tidak ada yang peduli.

"Jangan sentuh aku..." bisik Alena lemah, mundur selangkah saat tangan Adrian terulur. "Kau dengar kan? Aku benci kau."

"Aku tidak peduli kalau kau membenciku sekarang!" potong Adrian cepat, suaranya berat dan bergetar. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau dengar penjelasanku! Sebelum kau tahu kebenarannya!"

 

🛡️ Kebenaran yang Terungkap

Adrian mengambil langkah maju, kali ini Alena tidak mundur lagi. Dia terpaku di tempatnya, menatap mata pria itu yang tampak begitu hancur dan memohon.

"Kenapa aku menjauh? Kenapa aku bersikap dingin? Kenapa aku menghilang?" Adrian menarik napas panjang, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Bukan karena aku tidak cinta. Bukan karena aku malu. Dan bukan karena aku takut pada reputasiku sendiri..."

Suara Adrian pecah.

"Aku melakukannya... karena aku TAKUT KEHILANGANMU! Aku takut kau terluka lebih parah! Aku takut dunia yang kejam ini akan menghancurkan masa depanmu yang cerah!"

Adrian menceritakan semuanya dengan terburu-buru, dengan air mata bercampur hujan.

Dia cerita soal masa lalunya yang hancur karena skandal.

Dia cerita soal pengkhianatan Sophia.

Dan yang paling penting... dia cerita soal ancaman Sophia baru saja malam ini.

"Sophia yang menyebar foto itu, Len. Dia yang mulai api ini. Dan dia punya semua bukti untuk menghancurkan kita berdua kalau aku tidak menuruti kemauannya untuk kembali padanya."

Wajah Alena memucat mendengar itu. Semua teka-teki mulai terjawab.

Jadi Adrian bukan lari... dia sedang berperang.

Jadi Adrian bukan tidak peduli... dia sedang berkorban.

"Kalau aku terus dekat denganmu, kalau aku terlihat membela mu... Sophia akan menghancurkanmu, Len. Dia akan membuat namamu kotor selamanya. Aku tidak sanggup melihat itu. Aku tidak sanggup melihat orang yang paling aku cintai diinjak-injak seperti dulu aku diinjak-injak."

Adrian menggenggam kedua bahu Alena kuat-kuat, menatapnya sungguh-sungguh.

"Jadi aku memilih menjadi orang jahat. Aku memilih menjadi pengecut di matamu. Aku membiarkan kau membenciku... asalkan kau selamat. Asalkan kau bisa lulus dengan tenang dan punya masa depan yang baik walaupun tanpa aku."

 

❤️ Cinta yang Tak Bisa Dipungkiri

Mendengar semua itu, benteng pertahanan hati Alena runtuh total.

Rasa marah, rasa benci, rasa kecewa... semuanya lenyap seketika, digantikan oleh rasa haru, rasa sedih, dan rasa sayang yang begitu besar.

Jadi selama ini pria itu memikul beban itu sendirian?

Jadi selama ini dia menyiksa diri sendiri demi melindunginya?

"Adrian..." panggil Alena pelan, suaranya hancur. Air matanya makin deras. "Kenapa... kenapa tidak bilang dari dulu? Kenapa biarkan aku menyiksa diri sendiri berpikir aku dibuang?"

"Karena aku bodoh! Karena aku pikir caraku itu benar! Karena aku takut kalau kau tahu bahayanya, kau malah akan menjauh dariku karena kasihan atau takut!" Adrian mengusap wajah Alena dengan kedua tangannya yang besar dan basah, menghapus air mata dan air hujan di sana.

"Tapi sekarang aku tidak peduli! Aku tidak peduli risiko! Aku tidak peduli Sophia mau apa! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi berpikir aku tidak sayang!"

Adrian menundukkan dahinya menyentuh dahi Alena, napas mereka memburu dan bercampur di bawah hujan.

"Dengar aku, Alena. Di dalam hati ini... cuma ada kau. Selalu cuma kau. Sophia tidak ada artinya lagi. Dunia tidak ada artinya kalau tidak ada kau di sini."

"Aku juga sayang kamu, Adrian... Aku juga sayang banget..." isak Alena tak kuasa menahan lagi. "Aku takut... aku takut banget kehilangan kamu. Rasanya hidup tanpa kamu itu mati rasa."

 

🫂 Pelukan yang Menyatukan

Tidak butuh kata-kata lagi.

Dengan gerakan serentak, mereka saling menerjang dan bertemu dalam sebuah pelukan yang sangat erat. Sangat kuat. Sangat mendesak.

Seolah ingin menyatukan kedua tubuh itu menjadi satu agar tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi rasa takut.

Adrian memeluk pinggang Alena sekuat tenaga, menekan tubuh gadis itu seerat mungkin ke dadanya, seolah ingin memindahkan semua rasa rindu dan rasa bersalahnya lewat pelukan itu.

Alena memeluk leher Adrian, mendekap wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma tubuhnya yang familiar, mencari ketenangan yang sudah lama hilang.

Mereka berdiri di bawah hujan deras, di tengah kegelapan malam, tidak peduli dingin, tidak peduli basah, tidak peduli siapa yang melihat.

Hanya ada mereka berdua. Hanya ada detak jantung yang berirama bersamaan.

Ini bukan pelukan karena gairah atau nafsu.

Ini pelukan karena rindu yang membunuh.

Ini pelukan karena rasa takut kehilangan.

Ini pelukan dua hati yang saling terluka tapi saling menyembuhkan.

"Maafkan aku... maafkan aku ya Sayang..." bisik Adrian berulang kali di telinga gadis itu, mencium rambut basahnya berkali-kali. "Maaf sudah bikin kau nangis. Maaf sudah menyakitimu. Aku janji akan cari jalan keluar. Kita hadapi bareng ya?"

"Iya... bareng..." jawab Alena terisak, mengeratkan pelukannya. "Jangan tinggalin aku lagi ya. Jangan biarkan aku sendirian lagi."

 

⏳ Kata Terakhir di Bawah Hujan

Beberapa menit berlalu dalam kehangatan pelukan itu. Namun sadar akan kenyataan bahwa situasi masih sangat berbahaya dan waktu tidak berpihak pada mereka, Adrian perlahan melepaskan pelukannya sedikit saja.

Dia menatap wajah gadis itu lama sekali, seolah ingin mengabadikan setiap detail wajah itu ke dalam ingatannya selamanya. Tatapan itu penuh cinta, penuh penyesalan, namun juga penuh kesedihan yang mendalam.

Dia tahu ancaman Sophia masih mengintai. Dia tahu permainan ini belum selesai, dan taruhannya masih sangat tinggi.

Mungkin besok, mungkin lusa, segalanya bisa berubah buruk. Mungkin dia terpaksa harus melakukan hal yang tidak diinginkannya demi menyelamatkan Alena.

Dengan suara sangat pelan, bergetar, dan penuh beban, Adrian berbisik lirih tepat di bibir gadis itu:

“Ini mungkin terakhir kali aku bisa memelukmu.”

"Jadi tolong... ingat rasa ini. Ingat cintaku. Apapun yang terjadi nanti, ingat bahwa aku sangat mencintaimu.

1
Purqon Purqon
semangat Alena💪💪💪
Purqon Purqon
😍😍😍😍
Purqon Purqon
aku suka
wiwi: makasih kak
total 1 replies
jeakawa loving❤️
kapan dong Alena ketemu Adrian udah lho masa sedih terus udah 4 tahun kapan bahagianya
wiwi: sabaaar ada masanya kok🤣
total 1 replies
jeakawa loving❤️
terlalu bodoh Alena yang dengan mudahnya percaya sama Adrian
jeakawa loving❤️: ya tapi lama lama kesel juga😄
total 2 replies
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!