Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
"Assalam mu'alaikum!" Maira mengucap kan salam ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam!" Jawab Azam sambil menoleh ke arah pintu masuk.
"Mas, kata nya kamu ada urusan hingga gak bisa jemput aku, kok kamu ada di rumah?" Maira langsung bertanya pada suami nya.
"Itu,,, itu dek, baru aja selesai dan rencana nya baru saja akan jemput kamu, eh kamu nya udah pulang!" Azam memberikan alasan pada Maira.
"Mai, kok bisa sih gaji kamu telat? Ini pasti gara - gara kamu yang berulah dia kantor hingga gaji kamu sengaja di tahan!" Mama Wina langsung nyerocos begitu saja tanpa perduli perasaan Maira.
"Ma, bukan cuma aku yang telat gajian, tapi semua karyawan mengalami hal yang sama!" Maira berkata dengan nada lembut.
"Alah,,, alasan saja kamu!" Dengus Mama Wina dengan kesal.
Maira hanya bisa beristighfar di dalam hati, telat satu hari saja Maira memberikan uang pada mereka, kata - kata kasar keluar begitu saja dari mulut nya.
Maira mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru rumah, sampah bungkus cemilan bertebaran di mana - mana. Mama Wina dan Nia seharian berada di rumah, tapi tidak ada inisiatif nya untuk membersihkan rumah sama sekali.
"Mas, aku mau kita pake pembantu saja!" Tiba - tiba Maira berkata pada suami nya.
"Buat apa pake pembantu, itu nama nya pemborosan. Lebih baik uang nya di gunakan untuk biaya yang lain dari pada bayar pembantu!" Belum sempat Azam menjawab, Mama Wina sudah nyerocos lebih dulu.
"Ma, aku gak sanggup harus ngerjain semua ini sendiri. Aku juga harus kerja, pulang sudah sore menjelang malam harus berkutat dengan pekerjaan rumah, aku capek Ma!" Maira mulai mengeluarkan uneg- uneg di hati nya.
"Dasar kamu nya saja yang pemalas, manja amat mau pake pembantu segala!" Omel Mama Wina lagi.
"Jika Mama gak mau pake jasa pembantu, ya udah Mama aja yang ngerjain semua nya!" Ujar Maira dengan berani nya.
"Kurang ajar kau Maira, aku ini nyonya di rumah ini dan aku tidak pantas mengerjakan pekerjaan rumah!" Mama Wina berkata dengan sombong nya.
"Mama bener Mai, buat apa pake pembantu jika semua nya bisa di kerjakan sendiri!" Azam membela Mama nya.
Nia dan Mama Nia tersenyum licik mendengar penuturan Azam, mereka puas sekali melihat wajah Maira yang tampak sangat kesal.
"Aku akan tetap pake jasa pembantu di rumah ini, dan aku sendiri yang akan membayar nya, entah kalian setuju atau tidak, aku tidak perduli!" Maira berkata dengan tegas.
"Dasar menantu kurang ajar kamu, siapa kamu berani membuat keputusan di rumah ini!" Mama Wina membentak Maira dengan suara lantang.
"Baik lah Ma, jika memang seperti itu terserah Mama. Tapi satu hal yang harus kalian ingat, aku kembalikan semua nya pada mu mas, sebagai kepala keluarga di rumah ini. Mulai hari ini kau bertanggung jawab akan semua pengeluaran di dalam rumah ini, aku tidak mau ikutan lagi!" Maira berkata dengan berani.
Sudah cukup selama ini dia mengalah, dia di jadikan pembantu di rumah nya sendiri. Dia juga harus menanggung semua kebutuhan mereka, sementara Azam tidak pernah memberikan nafkah pada nya.
Seketika wajah Azam langsung pucat mendengar ucapan Maira, dari mana dia bisa memenuhi tanggung jawab di rumah ini jika Maira sudah lepas tangan.
"Baik lah, biar Mama yang akan atur semua keuangan dan kebutuhan di rumah ini. Berikan saja uang nya pada Mama!" Mama Wina berkata dengan suara lantang.
"Mai, kok kamu gitu? Kamu kan istri aku, jadi udah kewajiban mu memastikan semua kebutuhan orang - orang di rumah ini terbukti dengan baik!" Azam tidak mau jika sampai Maira benar - benar lepas tangan.
"Aku akan pastikan semua nya aman, mas. Tapi dengan satu syarat, penuhi kewajiban mu sebagai suami pada ku. Berikan aku nafkah dan juga uang belanja, mas!" Maira berkata sambil menadahkan tangan nya pada Azam.
"Buat apa aku kasih uang sama kamu Mai, kamu kan kerja. Beda sama mbak Nia, dia kan gak kerja sama sekali!" Azam menolak syarat dari istri nya.
"Baik lah mas, kalau begitu kamu minta sama mbak Nia untuk memenuhi tanggung jawab di rumah ini. Karena dia lah yang mendapat kan nafkah dari mu!" Maira berkata lagi.
Setelah itu, Maira langsung pergi ke kamar nya. Dia malas harus berdebat dengan mereka semua, Maira merasa menjadi wanita yang bodoh selama ini. Mau - mau nya dia di manfaat kan oleh suami nya dan juga keluarga nya.
"Istri mu udah benar - benar keterlaluan Zam, mana dia belum kirim uang bulanan lagi buat mbak. Mbak kan mau belanja sekalian ke salon!" Nia terlihat kesal dengan Maira.
"Pokok nya Mama gak mau tahu ya Zam, Maira harus memberikan Mama uang bulanan seperti biasa nya!" Mama Wina berkata pada Azam.
Azam duduk di sofa sambil memijit pelipis nya, dia pusing mendengar ancaman istri nya tadi. Bisa kacau semua nya jika Maira tidak mau tahu lagi semua kebutuhan di rumah ini. Gaji Azam sendiri tidak akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya, Gaji Azam biasa nya hanya numpang lewat saja. Untuk membeli bahan bakar mobil saja, Maira lah yang harus mengeluarkan uang.
"Ma, biarin aja lah jika Maira mau pake jasa pembantu, kan yang bayar dia sendiri. Lagian kan Ma kalau ada pembantu, Mama juga yang seneng kan. Bisa Mama perintah ini itu!" Azam membujuk Mama nya agar setuju dengan keinginan Maira tadi.
"Tapi Zam, sayang uang nya. Uang untuk bayar pembantu jika di kasih sama Mama kan lumayan! Lagian kan, semua itu memang sudah menjadi tugas nya Maira, melayani kita semua!" Mama Wina masih saja berfikir tentang uang.
"Begini saja Ma, Mama biarkan Maira pake jasa pembantu, tapi Mama juga harus ajuin syarat sama Maira. Minta uang bulanan buat Mama di tambah lagi, gimana ma?" Nia memberikan usul pada ibu mertua nya.
"Boleh juga tu, dengan begitu kita bisa bersenang - senang!" Mama Wina tampak tersenyum puas.
Maira langsung membersih kan diri nya, rasa lelah karena seharian bekerja sedikit berkurang dengan berendam di dalam bath up. Menjelang azan magrib, Maira menyudahi acara mandi nya. Sore ini Maira sengaja tidak memasak untuk mereka semua, di tambah lagi stok bahan makanan di dalam kulkas juga sudah habis dan Maira belum belanja.
"Kita lihat saja mas, seperti apa kau dan keluarga mu tanpa uang ku!" Gumam Maira sambil merapikan pakaian nya.
Mulai Malam in, Maira sudah memutuskan bahwa dia tidak akan mau lagi menjadi Atm untuk keluarga suami nya. Silahkan Azam penuhi semua kebutuhan mereka, tanpa campur tangan Maira lagi.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH