NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat Keenan

🦋

Jam istirahat siang itu, langit mendung seperti benak Nadira. Awan menggantung rendah, abu-abu pekat, seolah menahan hujan yang tak kunjung jatuh, sama seperti perasaan di dada Nadira yang berat tapi tak tahu harus tumpah ke mana.

Suara gaduh kantin terdengar dari kejauhan, riuh gelak tawa, bunyi kursi diseret, dentingan sendok yang beradu, dan teriakan penjual yang memanggil pembeli dengan suara lantang. Dunia di luar kelas terasa hidup, ramai, penuh energi. Tapi di dalam kelas 8A itu, Nadira duduk sendirian.

Kepalanya bersandar di meja, lengan dilipat jadi alas. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun tidak beraturan. Sejak pagi tubuhnya terasa aneh, berat, panas, dan pusing seperti diputar. Kepalanya berdenyut, pelipisnya terasa ditekan dari dalam. Setiap kali ia bangkit sedikit, dunia seperti bergoyang.

"Mungkin cuma capek," gumamnya pelan, lebih ke arah pembenaran.

Kurang tidur, kurang makan, terlalu banyak pikiran, semua itu menumpuk tanpa sempat ia urai satu per satu. Pagi tadi ia bahkan nyaris muntah di kamar mandi, tapi ia paksa masuk kelas karena tidak ingin dianggap manja.

Saat ia mencoba memejamkan mata, berharap pusingnya reda walau hanya sedikit, langkah kaki ringan terdengar mendekat. Langkah yang tidak tergesa, tapi juga tidak ragu. Nadira mengangkat wajah perlahan.

Keenan berdiri di depan pintu kelas.

Seragamnya rapi, tas disampirkan di satu bahu. Alisnya sedikit berkerut, matanya langsung tertuju pada Nadira. Raut wajahnya berubah begitu melihat kondisi Nadira, bukan ekspresi penasaran, tapi jelas… khawatir.

"Kamu sakit?" tanyanya perlahan.

Nada suaranya rendah, tidak menghakimi. Nadira menelan ludah sebelum menjawab.

"Hanya sedikit nggak enak badan," jawab Nadira, suaranya serak, nyaris seperti orang habis menangis.

Keenan melangkah masuk tanpa diminta dan menarik kursi, duduk di samping Nadira. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Nadira sadar akan kehadirannya. Bau sabun dari seragam Keenan tercium samar, bersih, menenangkan, dan entah kenapa membuat dada Nadira terasa hangat.

Ia menunduk, menatap meja.

"Sudah minum obat?" tanya Keenan.

"Belum."

"Hm." Keenan menatapnya lama. "Dari tadi aku liat kamu pucat."

Nada itu bukan nada basa-basi. Nadira bisa merasakannya. Ia memalingkan pandangan ke jendela, berusaha menyembunyikan wajahnya.

"Aku baik-baik aja," katanya pelan, meski suaranya tidak meyakinkan.

Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Keenan. Tidak ingin Keenan melihatnya sebagai gadis rapuh yang selalu butuh diselamatkan. Padahal kenyataannya… ia memang sedang rapuh.

Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan, berputar malas di langit-langit kelas.

Lalu Keenan bicara lagi. Dengan nada yang sangat hati-hati.

"Aku saranin… putus aja dari Jaka."

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba.

Nadira tersentak. Kepalanya langsung terasa lebih pening, seolah ada sesuatu yang menghantamnya dari dalam. Ia menoleh cepat ke arah Keenan.

"Kenapa?" suaranya bergetar, antara terkejut dan takut mendengar alasan Keenan.

Keenan menarik napas panjang, dadanya naik turun. Ia tampak ragu, seperti sedang berdiri di tepi jurang kata-kata yang salah ucap bisa membuat semuanya runtuh.

"Kamu murid pintar… berprestasi," ucapnya pelan. "Jaka itu anak liat, Dira. Semua guru tau itu. Semua anak juga tau dia sering bikin onar.”

Nada Keenan tidak tinggi, tidak emosional. Justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih tajam.

Keenan menatap mata Nadira, lebih dalam kali ini. Tatapan yang tidak lari, tidak ragu.

"Aku takut Jaka bakal merusak masa depan kamu."

Diam.

Kelas hening.

Seolah dunia ikut berhenti mendengar.

Nadira menggigit bibirnya. Jari-jarinya mengepal di atas meja. Kata-kata Keenan berputar-putar di kepalanya, menusuk, menyadarkan, tapi juga memunculkan rasa bersalah yang tidak ia mengerti arahnya ke mana.

Ia ingin berkata sesuatu. Membela Jaka. Atau setidaknya menyangkal ketakutan Keenan.

Tapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Karena di sudut kecil hatinya, ada suara yang berbisik pelan, bagaimana kalau Keenan benar?

Keenan akhirnya berdiri.

"Maaf kalau aku lancang," katanya pelan. "Aku cuma… nggak mau kamu kenapa-kenapa."

Lalu ia pergi, kembali ke arah kantin, meninggalkan Nadira sendirian dengan pikirannya yang semakin kusut.

Setelah Keenan pergi, Nadira tetap diam di kelas. Ia menatap meja, lalu jendela, lalu kedua tangannya yang sedikit gemetar. Napasnya masih pendek, dadanya terasa sesak.

"Putus aja dari Jaka."

"Aku takut dia merusak masa depan kamu."

Kenapa hatinya rasanya perih?

Apakah karena Keenan benar?

Atau karena Keenan memikirkannya… lebih daripada orang lain?

***

Sore itu, ketika Nadira baru pulang dan merebahkan diri di kamar, ponselnya bergetar di samping bantal.

Notifikasi dari Jaka.

"Malam ini aku mau ngobrol sama kamu."

Nadira memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Ia benar-benar tidak punya tenaga, baik fisik maupun mental.

Ia mengetik singkat "Aku nggak bisa."

Tidak sampai satu menit, balasan Jaka muncul.

"Kenapa?"

Nadira mengernyit, menahan pusing yang makin kuat. "Aku punya banyak tugas."

Beberapa detik berlalu. Jantung Nadira berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti firasat buruk.

Lalu muncul notifikasi baru.

"Zarra bilang kalo kalian nggak punya tugas."

Jantung Nadira terasa jatuh ke perutnya.

Ada rasa janggal campuran curiga, kesal, dan takut. Jaka tidak biasanya seperti ini. Nada pesannya terasa menekan, seolah ia sedang diinterogasi.

Nadira menatap layar lama.

Ia tidak membalas.

Sebaliknya, ia bangkit, mengganti baju, dan berjalan keluar rumah. Udara sore terasa lembap, langit masih mendung. Langkahnya cepat menuju rumah Izarra yang berada tak jauh dari rumah Kakek Wiratama.

Begitu tiba, Nadira langsung menegur tanpa salam.

"Zarra! Kamu bilang ke Jaka kalau kita nggak ada tugas?!" Nada suaranya naik, penuh emosi.

Izarra terlonjak kaget dari kursinya. "Lho kok marah? Memang kita nggak ada tugas kan…"

"Tapi aku nggak mau ketemu dia malam ini!"

Izarra menghela napas, menyilangkan tangan. "Tapi pacar kamu itu Jaka, bukan Keenan."

Kalimat itu seperti tamparan.

Nadira terdiam, rahangnya mengeras. "Tapi aku mencintai Keenan, Zarra…"

Kata-kata itu akhirnya keluar, jujur, mentah, tanpa pelindung.

Izarra memandangnya lama. "Kamu sadar nggak sih apa yang kamu omongin?"

"Justru aku sadar," suara Nadira gemetar. "Dan itu yang bikin aku takut."

Izarra menghela napas berat. "Lagian selama ini cuma Jaka yang ada buat kamu, bukan Keenan."

Nada Izarra lebih tegas sekarang. "Kamu sakit, siapa yang nanyain? Kamu sedih, siapa yang nemenin? Keenan cuma perhatian pas dia mau. Jaka… Jaka selalu ada."

Nadira terdiam. Ia ingin membantah. Ingin bilang bahwa kehadiran tidak selalu berarti aman. Bahwa perhatian bisa berubah jadi jerat.

Tapi tidak ada kata yang keluar.

Malam itu, Nadira pulang dengan hati yang lebih berat. Di kamarnya, ia duduk memeluk lutut, menatap ponsel.

Pesan Jaka belum terbaca.

Pesan Keenan… tidak ada.

Lucu.

Orang yang ia tunggu, diam. Orang yang ia hindari, mengejar.

"Aku harus gimana…" gumamnya lirih.

Tidak ada jawaban. Dan dalam gelap, kata-kata Keenan kembali bergaung

"Aku takut Jaka bakal merusak masa depan kamu."

Untuk pertama kalinya, Nadira benar-benar mempertimbangkan untuk berhenti.

Dan ia tahu, keputusan itu akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!