Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Reuni Diam Bergerak
Pagi datang tanpa sisa hujan, tapi hotel meninggalkan gema yang tidak menghilang bersama mereka. Andi tiba di kantor lebih awal biasanya, gedung masih setengah hidup—lampu lorong menyala sebagian, mesin kopi mendesis pelan, layar komputer belum dipenuhi grafik dan angka.
Ia membuka email tidak ada pesan penting, teguran, atau apapun, tapi justru itu yang membuatnya waspada.
Di lantai yang sama, seorang perempuan dari divisi komunikasi—semalam hanya mengamati tanpa ekspresi—berdiri di depan papan kaca menempelkan timeline, isu potensial, dan catatan kecil bertuliskan tangan:
“Figur publik internal + non-talent \= risiko narasi liar.”
Belum ada laporan atau rapat; hanya catatan awal.
Andi lewat di belakangnya, mereka bertatapan singkat.
“Reuni lancar?” tanyanya netral, seolah menanyakan cuaca.
“Lancar,” jawab Andi—satu kata, sama seperti jawaban kepada Roni semalam.
Perempuan itu mengangguk, tidak menggali atau menilai.Justru karena ia paham—hal-hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang terlihat sepele.
\=\=\=
Di tempat kosnya gadis itu duduk dengan rambut masih basah bergerai. Ponsel tergeletak di meja, belum disentuh.
Ia membuka laptop—layar menampilkan email kontrak, status talent internal belum sepenuhnya ia lepaskan.
Satu klausul ia baca berulang-ulang:
“Pihak kedua tidak diperkenankan membentuk citra publik yang diasosiasikan langsung dengan figur internal perusahaan tanpa persetujuan tertulis.”
Nayla menutup laptop perlahan, dalam acara reuni ia tidak melakukan apa-apa—tidak berpegangan tangan, berpose, atau memperkenalkan diri sebagai siapapun.
Namun sistem tidak bekerja berdasarkan perbuatan aktual seseorang, melainkan penafsiran orang lain.
Ponselnya bergetar masuk dari nomor tak dikenal “Kita perlu ngobrol. Santai aja. Kopi sore ini?”
" Dimana ?"
" Tempat biasa."
" Gue gak kenal Mba."
" Ini penting, Cafe Djanji Jiwa."
\=\=\=
Sore harinya, Andi dipanggil ke ruang direktur. dua cangkir kopi dan jendela besar menghadap kota.
“Gue lihat foto reuni,” ucap direktur ringan. “Bukan masalah, tapi menarik.”
Andi tidak membela atau menyangkal.
“Lu kelihatan tenang.”
“Karena gue tahu posisi gue,” jawabnya pelan.
Direktur tersenyum tipis.“Itu yang membuat orang percaya sama kamu. Tapi ingat—tenang di ruang privat bisa diterima berbeda di ruang publik.”
Tidak ada larangan atau perintah, hanya kalimat penutup:“Kalau narasi keluar dari kendali, Saya perlu tahu kamu berdiri di sisi mana.”
\=\=\=
Di dalam kamarnya Nayla mengirim pesan singkat, “Ada yang mulai bergerak.”
Balasan datang tidak lama kemudian, juga singkat:“Gue tahu kita tetap di jalur.”
Tidak ada kata sama atau janji apapun, keduanya sadar:diam tidak lagi netral.
Dan cerita tidak akan bergerak lewat kebetulan, melainkan melalui pilihan-pilihan kecil yang konsekuensinya mulai bersuara.
\=\=\=
Kafe seperti gelembung hangat di tengah malam yang sepi. Lampu-lampu string berkelap-kelip menciptakan pola cahaya hangat di dinding bata ekspos, sementara aroma kopi panggang dan kayu manis menggantung manis di udara.
Di sudut dekat jendela, seorang gadis duduk di kursi kayu berlapis bantal beludru biru tua. Meja kecil memuat dua cangkir keramik yang masih mengepulkan asap tipis—satu latte dengan hati berbusa, satu espresso hitam pekat.
Gadis dengan rambut sebahu tersibak mendengarkan musik secara saksama, matanya berbinar lembut di bawah cahaya lampu meja kuning. Tangannya sesekali memutar-mutar gagang cangkir.
Di latar, denting lembu lonceng pintu, desis mesin espresso, dan alunan musik jazz instrumental sayup-sayup menyatu. Dunia di luar jendela gelap tak berarti, di dalam gelembung dan malam menemani cerita.
Kafe kecil bukan tempat yang dipilih orang terlihat, melainkan untuk berbicara tanpa dicatat. Musik mengalun pelan, lampu menyorot hangat. Meja kayu kehilangan kilapnya.
Perempuan itu muncul lima menit kemudian.
Rapi tidak berlebihan. Usia profesional dan masih cukup muda untuk disebut ambisius. Ia tersenyum seperti seseorang yang sudah tahu hasil pembicaraan sebelum duduk.
“Maaf nunggu,” katanya sambil menarik kursi.
“Aku dari divisi yang sama dengan mas Andi… tapi bukan timnya langsung.”
Nayla mengangguk tidak menyebut nama dan bertanya.
“Aku nggak mau muter-muter,” lanjutnya. “Posisi kamu sekarang… agak abu-abu.”
“Kenapa mba menanyakan begitu ? Posisi gue selalu meminta abu-abu,” jawab Nayla pelan. “Gue nyaman di situ.”
Perempuan itu tersenyum tipis.“Masalahnya, perusahaan nggak pernah nyaman dengan abu-abu.” Ia lalu mengeluarkan tablet diletakkan di atas meja, layar menghadap dirinya sendiri.
“Kamu masih tercatat sebagai talent internal. Walau jarang muncul, status itu belum benar-benar selesai. "
Jantung Nayla berdegup kencang, dari mana ia tahu ? Apakah ini sudah menjadi konsumsi publik ? " Itu urusan saya mba, gak perlu mba atur atur." Wajahnya menegang.
" Mohon maaf dek, selama itu masih ada, setiap kemunculan kamu di ruang publik—apalagi dengan figur seperti Andi—punya implikasi.”
“Implikasi apa?”
“Bukan skandal,” jawabnya cepat. “Justru sebaliknya sebuah narasi dan image terbuka."
Ia berhenti sejenak, melanjutkan pelan bersahabat“Kami bisa rapikan semuanya. Kamu keluar baik-baik tanpa konflik dan denda. Bahkan—kalau kamu mau—kami bisa bantu citra personal kamu ke arah yang lebih aman.”
Nayla akhirnya tersenyum tipis.“Aman buat siapa?”
“Buat kamu, mas Andi dan perusahaan.”
Kalimat itu terdengar seperti solusi.
Padahal sejatinya adalah pilihan yang disamarkan.
“Dan kalau gue nolak?”
Ia mengangkat bahu kecil.“Nggak ada konsekuensi langsung. Tapi ruang gerak kamu… akan semakin sempit. Orang akan mulai mendefinisikan kamu sebelum kamu sempat bicara.”
Sunyi jatuh di antara mereka.
Nayla menatap meja kayu tua seratnya tidak rapi. Ia teringat semalam—tatapan di ballroom tanpa janji dan perlindungan.
“Gue pikir dulu,” katanya akhir.
“Silakan,” jawab perempuan itu pelan. “Tapi ingat, sistem jarang menunggu orang yang terlalu lama berpikir.”
\=\=\=
Andi berdiri di depan layar presentasi rapat internal. Topiknya biasa: reputasi, komunikasi, positioning.
Ketika gilirannya berbicara, ia tidak menyinggung apa pun soal reuni, menyebut Nayla dan tidak membuka ruang spekulasi.
Ia hanya mengusulkan satu hal kecil—nyaris teknis:
“Ke depan, figur internal sebaiknya punya batas yang lebih jelas antara urusan profesional dan personal. Bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi.”
Beberapa kepala mengangguk.Catatan dibuat tidak ada yang menolak.
Usulan itu terdengar netral profesional
Namun semua orang paham: itu adalah pernyataan posisi bukan klarifikasi pembelaan tapi penanda bahwa panggung sedang menyala.
Malamnya, satu foto akhirnya muncul di media sosial foto suasana reuni—lampu, meja panjang, orang-orang tertawa.
Namun di sudut frame, pantulan kaca memperlihatkan mereka berdiri dalam satu garis pandang.
Caption-nya ringan:
“Reuni memang selalu punya cerita.”
Tidak ada nama, tapi cukup. Notifikasi mulai berdatangan, sistem sudah mengangkat kepala.
Dan Nayla menatap layar ponselnya di kamar gelap, akhirnya sadar pilihan untuk tidak melakukan apa-apa sudah tidak tersedia lagi.