NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Siang itu, Chloe mendatangi kantor administrasi rumah sakit untuk menanyakan rincian prosedur tambahannya. Staf administrasi yang baru, yang tidak mengetahui instruksi rahasia Andrew, memberikan slip rincian biaya yang menunjukkan saldo nol karena telah dilunasi oleh sebuah akun perusahaan: Wijaksana Group Holdings.

​Chloe terpaku. Nama itu sangat akrab di telinganya. Itu adalah perusahaan milik keluarga Andrew dan Ares.

​Langkah kaki Chloe yang menggerakkan kursi rodanya terasa lebih berat saat ia mencari Andrew. Ia menemukan Andrew sedang duduk di kafetaria, sendirian, menatap laptopnya dengan kening berkerut.

​"Kenapa, Kak Andrew?" tanya Chloe langsung tanpa basa-basi saat ia sampai di depan meja pria itu.

​Andrew mendongak, sedikit terkejut melihat Chloe yang biasanya ceria kini menatapnya dengan pandangan menuntut. "Kenapa apanya, Chloe?"

​"Tagihan rumah sakitku. Bantuan yayasan itu... itu bohong, kan? Semuanya kamu yang bayar." Chloe meletakkan slip administrasi itu di atas meja. "Aku bukan orang kaya, Kak Andrew. Tapi aku juga tidak mau menjadi beban atau proyek amal seseorang hanya karena aku berteman dengan adiknya."

​Andrew menghela napas panjang, ia menutup laptopnya dan menatap Chloe dengan tenang. "Ini bukan proyek amal, Chloe. Dan ini bukan soal kamu beban atau bukan."

​"Lalu apa?"

​"Ini soal rasa terima kasih," jawab Andrew jujur. "Sebelum kamu datang, Ares seperti mayat hidup. Dia tidak punya keinginan untuk sembuh. Tapi sejak bertemu kamu, dia mulai berjuang. Kamu memberinya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang yaitu harapan. Bagiku, biaya pengobatanmu tidak sebanding dengan nyawa adikku yang kamu selamatkan setiap hari secara mental. Anggap saja ini investasi untuk kesembuhan Ares."

​Chloe terdiam. Amarahnya perlahan luruh melihat ketulusan di mata Andrew. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini sedang melakukan segala cara untuk menebus kesalahan masa lalunya pada sang adik.

​"Jangan beritahu Ares," pinta Andrew pelan. "Biarkan dia fokus pada kesembuhannya. Aku tidak ingin dia merasa terbebani."

​Chloe mengangguk pelan, meskipun hatinya bergetar. "Terima kasih, Kak Andrew. Tapi aku janji, setelah aku bisa berdiri nanti, aku akan mencari cara untuk membalas kebaikanmu."

​----

​Dua minggu setelah percakapan rahasia itu, suasana di ruang fisioterapi terasa sangat tegang. Hari ini adalah jadwal Ares untuk mencoba berdiri tanpa bantuan penyangga robotik untuk pertama kalinya.

​Andrew berdiri di sisi kanan, dan Chloe, yang sengaja datang lebih awal, berdiri di sisi kiri, gadis itu sudah mulai bisa berdiri menggunakan walker. Tim dokter memberikan instruksi agar Ares mencoba bertumpu pada kedua kakinya sendiri dari posisi duduk di tepi matras.

​"Fokus pada titik keseimbanganmu, Res. Jangan terburu-buru," instruksi dokter.

​Ares menarik napas dalam-dalam. Wajahnya menunjukkan konsentrasi tingkat tinggi. Ia mencengkeram pinggiran matras, otot-otot lengannya menegang. Ia mulai mendorong tubuhnya ke atas. Kakinya gemetar hebat, keringat mengucur deras di pelipisnya.

​"Ayo, Ares... kamu bisa. Kamu naga, ingat?" bisik Chloe menyemangati.

​Perlahan, tubuh Ares terangkat. Satu inci... dua inci... sampai akhirnya, bokongnya lepas dari matras. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, tulang belakangnya lurus sempurna dan kedua kakinya menapak tanah tanpa bantuan mesin.

​Satu detik...

Dua detik... kaki Ares gemetar seperti diguncang gempa kecil.

Tiga detik... Andrew menahan napas, tangannya sudah bersiap menangkap, namun ia menahan diri agar tidak menyentuh Ares dulu.

Empat detik... Ares menatap Chloe dengan mata yang berkilat penuh haru.

Lima detik.

​"Gue... gue berdiri," bisik Ares parau sebelum akhirnya tenaganya habis dan tubuhnya ambruk kembali ke matras.

​Andrew segera menangkap adiknya, mendekapnya dengan sangat erat. "Lo berhasil, Res! Lo berdiri!" suara Andrew pecah, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga.

​Ares tidak peduli dengan rasa sakit yang menusuk kakinya sekarang. Ia tertawa sekaligus menangis di bahu Andrew. Ia kemudian menoleh pada Chloe yang juga menangis bahagia sambil bertepuk tangan kecil.

​"Chloe! Gue berdiri! Lima detik!" seru Ares penuh kebanggaan.

​"Aku lihat! Itu lima detik paling keren yang pernah aku lihat seumur hidupku!" balas Chloe.

​Momen itu menjadi titik balik yang luar biasa. Lima detik itu adalah bukti bahwa kutukan malam kecelakaan itu mulai patah. Harapan bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sesuatu yang nyata di bawah telapak kaki Ares.

Kemenangan kecil itu dirayakan dengan penuh sukacita. Andrew sudah menyewa sebuah yacht, kapal pesiar kecil untuk membawa mereka bertiga menyusuri perairan tenang di sekitar Marina Bay. Sore itu, langit Singapura berwarna jingga keunguan, memantul cantik di permukaan laut.

​Di atas dek kapal, suasana terasa begitu ringan. Ares tampak jauh lebih segar, meski masih sering menggunakan kursi roda untuk jarak jauh, pancaran matanya telah kembali. Chloe duduk di sampingnya, mereka tertawa sambil menikmati hembusan angin laut. Andrew memandangi mereka dari balik kemudi dengan perasaan lega yang tak terlukiskan. Inilah momen yang ia impikan selama berbulan-bulan, melihat adiknya kembali memiliki gairah hidup.

​Setelah kapal bersandar kembali di dermaga Sentosa Cove, mereka memutuskan untuk menikmati makan malam di sebuah restoran mewah di pinggir dermaga.

​"Kalian tunggu di sini sebentar ya, gue mau ke toilet dulu. Pesan saja apa yang kalian mau," ujar Andrew sambil menepuk bahu Ares dan berlalu menuju area dalam restoran.

​Ares duduk di kursi rodanya di area terbuka yang menghadap ke arah kapal-kapal pesiar yang tertambat. Chloe sedang sibuk melihat menu di meja yang sedikit agak jauh untuk memberikan Ares ruang bernapas.

​Saat itulah, Ares merasa seperti melihat siluet yang sangat ia kenal.

​Seorang wanita dengan pakaian sederhana, jauh dari kemewahan yang dulu melekat padanya, wanita itu sedang berdiri di dekat pagar pembatas dermaga, membelakangi keramaian. Wanita itu memegang sebuah buku sketsa kecil, jemarinya bergerak cepat seolah sedang menangkap sisa cahaya senja di atas kertas.

​Jantung Ares berdegup kencang. Aroma udara laut seolah membawa kembali memori pahit yang sudah ia kubur. "Alana?" bisik Ares hampir tak terdengar.

​Wanita itu menoleh. Begitu mata mereka bertemu, buku sketsa di tangannya jatuh ke lantai dermaga. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak penuh keterkejutan dan rasa bersalah yang amat dalam.

Dan ​itu benar-benar Alana.

​Dia tampak lebih kurus, rambutnya diikat asal, dan tidak ada lagi riasan wajah yang mencolok. Ia tampak seperti seseorang yang sedang bersembunyi dari dunia.

​"Ares..." suara Alana bergetar. Matanya segera turun menatap kursi roda yang diduduki Ares. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. "Ya Tuhan... Ares, kakimu..."

​Ares terpaku. Rasa marah yang dulu membara kini terasa tumpul, berganti dengan rasa sesak yang asing. Di satu sisi, wanita inilah yang menghancurkan dunianya. Namun di sisi lain, melihat Alana dalam kondisi berbera, ia tampak rapuh dan sendirian di negeri orang, membuat Ares menyadari bahwa Alana juga membawa luka yang sama besarnya.

​Alana melangkah ragu mendekat, namun ia berhenti beberapa meter di depan Ares, seolah takut kehadirannya akan menyakiti pria itu lebih jauh. "Aku tidak menyangkan akan bertemu denganmu disini, aku selalu berdoa setiap hari untuk kesembuhanmu, tapi aku tidak pernah di beri kesempatan untuk menemuimu."

​Ares menatap Alana lama, lalu ia menoleh ke arah Chloe yang sedang melambai kecil padanya dari kejauhan, dan memikirkan Andrew yang sebentar lagi akan kembali. Kehidupan Ares sudah mulai tertata kembali. Ia sudah mulai berdiri, ia sudah menemukan Chloe, dan ia sudah berdamai dengan kakaknya.

​"Kenapa kamu di sini, Alana?" tanya Ares dengan suara yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

​Alana menunduk, air matanya jatuh ke aspal dermaga. "Aku melarikan diri, Ares. Dari ibumu, dari Andrew, dan dari rasa bersalahku sendiri. Aku bekerja di sebuah galeri kecil di sini... mencoba bertahan hidup tanpa menghancurkan siapa pun lagi."

​Tepat saat itu, langkah kaki Andrew terdengar mendekat dari arah belakang Ares. Andrew berhenti mendadak saat melihat sosok wanita yang berdiri di depan adiknya.

​Suasana di dermaga yang tadinya ceria berubah menjadi sangat mencekam. Tiga orang yang pernah terlibat dalam tragedi yang menghancurkan keluarga Wijaksana itu kini berdiri di bawah satu langit Singapura, dipertemukan kembali oleh takdir di saat mereka semua sedang mencoba memulai hidup baru.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!