harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Jalannya ngangkang?
Malam ini begitu canggung bagi Anggi, apalagi tangan Hazard yang terus meraba pahanya, membuat Ia merasa tak kuat duduk di sisi pria itu.
setelah pergulatan di ruang kerja Hazard, ucapan pria itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Kalau kamu membiarkan Zuma menyentuh tubuhmu, maka akan saya pastikan, kamu tidak akan bisa berjalan Normal, mengerti.
bayangkan saja Ia di gempur selama 4 Jam tanpa henti dan jeda.
Dia bahkan susah berjalan karena itu.
"Anggi, Zuma ganas banget ya, sampai kamu jalannya kayak gitu," goda Shara tertawa pelan.
Helena tersenyum, Azam sendiri menoleh ke istrinya meminta penjelasan.
Helena hanya berkata tanpa suara."Di ruang kerja, Hot."
Azam baru mengerti dan menggelengkan kepalanya.
Anggi merasa malu dan menunduk dalam.sambil menyingkirkan tangan Hazard yang menempel seperti lintah.
Zuma pulang begitu cepat dari biasanya,tatapan Hazard seketika jadi lebih datar dan dingin.
"Eh adik ipar sudah pulang,"sapa Shara tersenyum.
"iya kak," sahut Zuma, tapi tatapannya ke Anggi yang menunduk.
"Istriku,"sapa Zuma duduk didekat Anggi, Anggi menegakkan tubuh dan melirik Hazard yang memperlihatkan tatapan permusuhan.
Anggi terlihat kesakitan, saat tangan kekar itu meremas pahanya begitu kuat, Zuma yang melihatnya menarik Anggi duduk di kursinya.
"Berani sekali anak pungut ini."batin Hazard, ingin rasanya ia menyiram Zuma menggunakan sup panas di depannya.
Tapi karena wanita bernama Shara disini membuat Ia tak leluasa.
Hazard menatap Shara, yang membalas tatapannya dengan senyuman, Hazard rasanya ingin mual melihat itu.
"Apa saya bunuh saja wanita ini, sangat menganggu keharmonisan rumah tangga saya."
Shara yang di tatap Hazard merasa malu, pipinya memerah seperti tomat.
Helena tahu arti tatapan Hazard merasa gelisah.
"Ya ampun kakak ipar, kamu sepertinya mulai memenangkan hati kak Hazard,"goda Zuma membuat Hazard mengepalkan tangan di bawah meja.
"Zuma ayo kita makan," lerai Helena.
Hazard berdiri dengan kasar, mengundang tanda tanya di benak semua yang disana, kecuali Anggi.
"Sayang kenapa?"tanya Shara.
"Anggi, pekerjaan yang kemarin saya kasih, saya mau periksa sekarang,"kata Hazard dingin.
Anggi mengerutkan kening. " pekerjaan apa? kemarin kan dia sibuk gituin aku terus."
Anggi baru saja akan menjawab, tapi suara Hazard lebih dulu terdengar."Zuma, sepertinya istrimu tidak bisa, apalagi kata Shara, kamu menggempurnya sampai tidak bisa jalan."
Wajah Anggi merah padam, Shara tertawa pelan melihat itu, Zuma cukup terkejut dan menoleh ke arah Anggi yang menunduk dalam.
"emm, Hazard, adikmu baru pulang, sebaiknya kita makan malam dulu, setelah itu baru–" ucapan Helena terpotong begitu saja.
Saat Hazard menarik kerah Zuma dengan kasar dari kursi dan membawanya menjauh.
"Sepertinya, Hazard akan menghajar Zuma,"bisik Helena merasa takut, pada Tuan Azam yang hanya berdehem dan lanjut makan.
Shara mendekat dan duduk di dekat Anggi." Aku juga akan segera menyusul Anggi, mungkin Hazard lebih ganas dari Zuma,"bisik Shara pada Anggi, yang langsung menatapnya dalam diam.
Helena yang melihat itu, cukup tahu apa yang di rasakan keduanya, tapi yang harus di salahkan adalah Hazard yang tak bisa menahan nafsu gilanya itu.
*******
Di ruangan gelap, yang selalu menjadi tempat Zuma maupun Hazard di hukum oleh Tuan Azam, setiap nilai mereka di bawah 100.
Hazard mendorong Zuma sambil melayangkan Bogeman tajam.
Zuma yang awalnya bisa menopang tubuhnya, membentur lantai dingin begitu keras.
"Berani sekali kamu menyentuh istri saya, anak pungut," desis Hazard, menatap tajam Zuma yang malah terkekeh.
"Kak,saya membantu kamu, kalau Shara tahu, dia pasti akan menghancurkan perusahaan, kalau kamu tidak suka, ya sudah, akui saja kak Anggi sebagai istrimu."
Hazard diam saja, tak mampu membalas, ancaman Papa nya membuat Ia tak berkutik.
Ini bukan masalah Hak warisnya, tapi kenangan, sebuah kenangan sosok yang menjadi garda terdepan ia menjadi sekuat ini,yang selalu ada saat ia di pukul habis-habisan.
Dan Hak waris harus jatuh di tangannya, bukan pada anak pungut yang entah dari mana asal usulnya.
Zuma menyeringai, merasa ucapannya mampu membuat pria yang selalu memerintahnya, dan memaksa ia bekerja selama 24 jam, agar segera mati.
"Kak."
"Saya bukan Kakak kamu, jadi jaga batasan kamu anak pungut."
Setelah berkata seperti itu Hazard akan keluar, tapi di ambang pintu ia menoleh."Jika kamu berani menyentuh istri saya lagi, saya pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan wanita tua itu selamanya,"ancam Hazard, membuat Zuma membelalak kaget.
******
Malam ini, Anggi di bawa oleh Shara dan Helena menuju balkon kamar Shara.
Anggi merasa tak nyaman, apalagi Hana dan Sudara di suruh keluar.
"Shara, kamu sering ke luar negeri, tapi kenapa tidak pernah bawa barang luar negeri kemari?" tanya Helena.
"Ma, aku suka banget sama barang Indonesia, makannya, aku meskipun ke luar negeri nggak beli barang luar, tapi barang kita yang di jual di luar negeri."
"Tante, bisa nggak sih, aku di nikahin sama Hazard sama kayak Anggi dan Zuma, nggak perlu Besar-besaran." kata Shara menggoyangkan lengan Helena.
"Nggak bisa gitu dong sayang, kamu itu putri keluarga wiratama, masa nggak mewah, itu nggak mencerminkan status kita, kalau Anggi dan Zuma, kan, mereka sama-sama bukan dari keluarga terpandang."
Anggi menunduk, merasa apa yang di katakan Mertuanya memang benar, toh, dia bukan dari keluarga bangsawan, hanya gadis desa yang di besarkan oleh belas kasihan sang bibik.
Shara merasa tidak enak pada Anggi, Ia melirik Anggi, begitupun Helena."kamu jangan sakit hati ya Anggi, emang kenyataannya begitu."
"Tante," tegur Shara pelan.
"Tapi sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita ma,"kata Hazard datang langsung duduk di dekat Anggi
Anggi meremas tangan yang bertaut.
" Kami tidak bermaksud–"
"Shara, kadang kata-kata harus di pilih dengan baik, meskipun tidak berniat menyinggung, seseorang bisa tersinggung meskipun, kita tidak bermaksud, mengerti," tegas Hazard.
Shara memegang punggung tangan Anggi, Anggi yang merasakan kehangatan Shara mendongak, rasa bersalah.
"Maaf yah,Anggi."
"Nggak papa kok, lagi pula kamu benar, Aku emang bukan dari keluarga terpandang,"ucap Anggi menatap Hazard di sampingnya.
Lalu ke Shara."Seharusnya kalian lebih dulu menikah."
Ucapan Anggi membuat Hazard diam-diam merasa tak di inginkan olehnya.
Shara tersenyum pahit."ini semua karena aku, aku nggak bisa ngatur jadwal kerja aku, aku sampai lupa satu kerjaan yang udah di kontrak, makannya pernikahan kami di tunda, maaf Hazard,"kata Shara menatap Hazard yang diam saja memandangi Anggi yang menatapnya.
"Jika saja, kamu tidak pergi, mungkin saya tidak akan bertemu dengan dia,"ucap Hazard masih memandangi Anggi.
Shara yang mendengar dan menyaksikan tatapan Hazard, mengerutkan kening." Maksud kamu apa?"
Suka tidak sama Bab ini?
kalau ada yang perlu di ubah bilang ya. 😄
Jangan lupa like, minta bunga mawar boleh😙