DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
DI ANTARA DUA NAMA, DI BAWAH LAMPU KOTA
Lorong rumah sakit kembali sunyi setelah beberapa perawat berlalu. Jam dinding berdetak pelan, seperti sengaja memperlambat waktu.
Ibu Aira menyeka air matanya. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Ia menatap Kartik lama, seolah mencoba menyusun ulang masa lalu yang tiba-tiba muncul di hadapannya dalam wujud seorang lelaki dewasa dengan bahu tegap dan sorot mata tenang.
“Kamu… mirip ayahmu,” katanya lirih. “Tatapan itu. Selalu seperti menimbang dunia sebelum bicara.”
Kartik tersenyum kecil. Tidak lebar. Tidak berlebihan. Senyum yang lebih menyerupai penghormatan.
“Ayah selalu bilang, Om Salman orang paling keras kepala yang pernah ia kenal,” ujarnya pelan. “Tapi juga orang paling jujur.”
Aira menoleh cepat. Ia belum pernah mendengar ayahnya disebut dengan nada seperti itu. Bukan sebagai tersangka. Bukan sebagai berita. Tapi sebagai manusia.
Ibu Aira tertawa kecil di sela isaknya. “Dua-duanya keras kepala,” katanya. “Kalau mereka ada di sini sekarang, mungkin sudah berdebat soal siapa yang paling benar.”
Kartik menunduk, menahan sesuatu di dadanya. “Saya minta maaf, Tan. Saya baru bisa datang sekarang.”
Ibu Aira menggeleng cepat. Tangannya menggenggam lengan Kartik. “Kamu datang di saat yang tepat,” katanya. “allah tidak pernah salah waktu.”
Aira berdiri kaku di samping mereka. Perasaan itu datang lagi, asing, campur aduk, seperti melihat hidupnya dibicarakan orang lain tanpa ia tahu harus berdiri di mana.
“Aira,” panggil ibunya lembut. “tadi suster mencari mu nak.”
Aira mengangguk. Ia masuk ke kamar, meninggalkan Kartik dan ibunya di lorong.
Beberapa menit kemudian, Kartik melangkah mundur selangkah dan membungkuk hormat.
“Tante,” katanya. “Saya pamit. Sudah malam.”
“Kamu tidak masuk sebentar?” tanya ibu Aira. “Ayah Aira”
“Saya akan sering ke sini,” potong Kartik
lembut. “Saya janji.”
Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan, lebih pelan, lebih dalam, “Dan… saya akan berusaha sekuat yang saya bisa. Mengeluarkan Om Salman dari penjara.”
Kalimat itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Ibu Aira menutup mulutnya. Bahunya bergetar. Tangisnya pecah, bukan tangis putus asa, melainkan tangis yang selama ini tertahan terlalu lama.
“Terima kasih…” katanya terbata. “Terima kasih sudah tidak melupakan kami.”
Kartik menggeleng pelan. “Jika posisinya di balik, om Salman pasti melakukan hal yang sama, Tan.”
Aira keluar kamar tepat saat Kartik berpamitan. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi belum sempat ia susun.
Kartik mengangguk kecil padanya. “Jaga ibu.”
Aira membalas anggukan itu, kaku, bingung, masih setengah tidak percaya.
Kartik melangkah pergi.
Langkahnya tenang, lurus, tanpa menoleh. Seperti seseorang yang sudah terbiasa berjalan sendirian membawa beban yang tidak ingin dibagi.
Tempat parkir rumah sakit sepi. Lampu neon memantul di kap mobil Kartik.
Ia membuka pintu mobil.
“Kartik!”
Suara itu membuat tangannya berhenti di udara.
Ia menoleh.
Aira berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya sedikit berantakan, jaketnya masih yang tadi. Matanya… penuh tanya.
“Tunggu sebentar,” katanya cepat, seolah takut Kartik keburu masuk mobil. “Aku mau tanya.”
Kartik menutup pintu mobil pelan. “Iya.”
Aira menarik napas. “Selama ini… kamu selalu ada. Di tempat yang sama. Di waktu yang, aneh.”
Ia menyilangkan tangan. Nada suaranya berusaha tegas, tapi gagal menutupi kegugupan.
“Kamu ngikutin aku, ya?”
Kartik berkedip sekali. “Tidak.”
“Jawaban kamu terlalu cepat.”
“karena itu jawabannya jelas.”
Aira mendengus. “Kamu ini aneh.”
“Kamu baru sadar?”
Aira terdiam sepersekian detik. “Kamu… nyindir?”
“Sedikit.”
“Berarti kamu bisa bercanda.”
“Saya juga manusia Aira, jika masuk dalam batas yang wajar.”
“Batas wajar versi kamu itu kayak apa?”
“Tidak tertawa.”
Aira menatapnya kesal. “Itu bukan bercanda, Kartik.”
“Buat saya, itu sudah sangat jauh.”
Aira menghela napas kasar. “Oke, ini serius.”
Ia mendekat setapak. “Ayahku... Apakah ayahku yang minta kamu jaga aku?”
Kartik tidak langsung menjawab.
Lampu parkiran berdengung pelan. Angin malam lewat di antara mereka.
“Iya,” katanya akhirnya. “Om Salman sangat menyangi putri nya yang keras kepala ini.”
“Terus kenapa kamu mau”
“Itukan terserah saya,” potong Kartik, suaranya tetap rendah. “Karena saya tahu bagaimana rasanya keluarga diambil paksa oleh keadaan.”
Aira menatapnya. “Kamu tahu rasanya?”
Kartik mengangguk kecil. “Ayah saya pergi untuk selamanya dan itu termasuk kehilangan yang menykitkan.”
Aira tercekat.
Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi, “Wow.”
Suara itu datang dari arah berlawanan.
Langit.
Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat. Jaket hitamnya terbuka, wajahnya tegang. Tatapannya langsung tertancap pada Kartik.
“Aira,” katanya. “Kamu dari mana.”
“Langit…” Aira terkejut. “Kamu ngapain ke sini?”
“Aku cari kamu,” jawabnya singkat, lalu matanya kembali ke Kartik. “Dan sepertinya aku nemu sesuatu yang menarik.”
Kartik menegakkan badan. Wajahnya tetap datar.
“Kita pernah ketemu?” tanya Langit sinis.
“Belum,” jawab Kartik. “Dan saya rasa tidak perlu.”
Langit tertawa pendek. “Sok dingin.”
Aira menoleh ke Kartik. “Dia Langit.”
“Saya Kartik.”
“Sudah tahu,” kata Langit cepat. “Aku dengar.”
Nada itu… meremehkan.
Aira merasakan udara berubah.
“Kamu ngapain sama Aira?” tanya Langit, suaranya mengeras. “Malam-malam begini.”
“Saya hanya mengantarnya,” jawab Kartik singkat.
“Aira punya aku.
Kartik menoleh padanya. Tatapannya tenang.
“Aira bukan barang.”
Langit maju selangkah. “Dengar, aku nggak tahu kamu siapa, tapi...”
“Langit,” potong Aira. “Cukup.”
Langit menoleh padanya. “Kamu kenal dia di mana, jangan percaya dengan orang asing?”
“Aku...” Aira ragu. “Keluarga kami saling kenal, dan berteman baik”
Langit mendengus. “Teman keluarga atau orang yang pura-pura baik?”
Kartik tidak bereaksi. Ia hanya berkata, “Saya pamit.”
Ia menoleh pada Aira. “Jaga diri.”
Tanpa menunggu jawaban, Kartik masuk ke mobil dan pergi.
Lampu belakang mobilnya memudar di tikungan.
Langit menoleh ke Aira dengan wajah keras.
“Kamu harus jauhi orang itu,” katanya.
“Apa?”
“Aku nggak suka caranya lihat kamu,” lanjut Langit cepat. “Dia punya niat buruk.”
Aira menatapnya tidak percaya. “Kamu serius?”
“Aira, dengar aku. Orang-orang seperti dia...”
“Dia bantu aku,” potong Aira. “Dia bantu keluargaku. Dia kenal ayahku.”
Langit terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil. “Itu justru berbahaya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu punya orang lain yang bisa menolong, kamu nggak butuh aku.”
Kalimat itu jatuh pelan. Terlalu jujur.
Aira membeku.
“Aku nggak mau kamu bergantung ke siapa pun selain aku,” lanjut Langit, suaranya rendah tapi menekan. “Aku cuma mau lindungi kamu.”
Aira menarik napas panjang. Dadanya sesak.
“Melindungi itu bukan mengurung,” katanya pelan.
Langit menatapnya tajam. “Kamu berubah.”
“Mungkin,” jawab Aira. “Atau mungkin aku baru mulai melihat.”
Langit tidak menjawab. Ia hanya berbalik, meninggalkan Aira dengan malam yang terasa semakin dingin.
Di tempat lain, Kartik duduk di mobilnya. Mesin mati. Lampu kabin redup.
Ia membuka map cokelat di kursi sebelah.
Foto-foto. Dokumen. Potongan laporan.
Nama ayah Aira tercetak di banyak lembar.
Kartik menutup matanya sejenak.
“Tenang, Om,” gumamnya. “Saya tidak akan berhenti.”
Ia menyalakan mesin.
Di kota yang sama, di bawah lampu-lampu yang sama, perlahan,
kebenaran mulai bergerak.
Dan Aira, tanpa ia sadari, sedang berdiri di antara dua nama.
Satu ingin memiliki.
Satu ingin melindungi tanpa meminta.
Malam merambat pelan ke dalam kamar rumah sakit.
Lampu kecil di atas kepala ibu Aira menyala redup. Mesin monitor berdetak ritmis, seperti jam yang mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti, hanya menunggu siapa yang paling lelah lebih dulu.
Aira duduk di kursi plastik di samping ranjang. Kedua tangannya saling menggenggam. Punggungnya bersandar, tapi tubuhnya tak pernah benar-benar rileks.
Pikiran itu datang lagi. Tidak diundang. Tidak bisa ditolak.
“Menjauhi Langit.”
Suara ayahnya terngiang jelas di kepalanya. Bukan suara marah. Bukan suara mengancam. Justru suara yang paling ia takuti, suara yang tenang, penuh kepasrahan, seolah ayahnya sudah lama menyiapkan diri untuk kehilangan sesuatu.
Atau… seseorang.
Aira menutup mata.
Ayah atau Langit.
Kenapa hidup selalu memaksa pilihan yang tidak adil?
Kenapa cinta selalu datang bersamaan dengan rasa bersalah?
Ayahnya di balik jeruji, dengan nama yang diinjak-injak orang.
Langit di luar, dengan janji, dengan genggaman yang semakin lama terasa seperti borgol.
Ayah adalah darah.
Langit adalah perasaan.
Dan Aira, terjepit di tengah, diminta kuat oleh semua orang, tapi tak pernah ditanya apakah ia sanggup.
Ia menoleh ke arah ibunya yang tertidur. Wajah itu terlihat lebih tenang saat tidur, seolah beban hidup ikut terlepas sementara. Aira iri pada ketenangan itu.
Ayah…
Kalau aku menjauh dari Langit, apa aku egois?
Kalau aku bertahan, apa aku mengkhianati Ayah?
Air mata jatuh tanpa suara. Ia cepat menyekanya, takut ibunya terbangun.
Tangannya meraih ponsel di tas. Layar menyala. Jam menunjukkan hampir tengah malam.
Sebuah notifikasi muncul.
Raka.
Aira menghela napas kecil. Raka selalu tahu kapan harus muncul, tidak terlalu cepat, tidak terlalu terlambat.
Ia membuka pesan itu.
Raka:
Ai, aku nggak mau cerewet, tapi aku harus nanya.
Kamu sudah izin kuliah dua minggu.
Dosen mulai nanya ke aku.
Kamu kapan mau masuk lagi?
Aira menatap layar cukup lama sebelum mengetik.
Aira:
Aku belum tahu, Rak.
Tiga titik muncul cepat.
Raka:
Aku ngerti kondisi kamu. Ai.
Tapi kamu juga nggak bisa hilang terus.
Aira tersenyum tipis. Raka selalu jujur, kadang terlalu jujur.
Aira:
Aku masih cari waktu yang pas
Balasan datang hampir seketika.
Raka:
Aku tahu.
Tapi kamu juga bukan tipe orang yang lari, Ra.
Kalimat itu menohok lembut.
Aira menyandarkan kepalanya ke dinding.
Bukan tipe orang yang lari.
Kalimat itu dulu membuatnya bangga. Sekarang terasa seperti tuntutan.
Aira:
Aku cuma butuh waktu.
Raka:
Waktu boleh.
Tapi jangan sampai kamu lupa pulang ke diri kamu sendiri.
Aira mengunci ponselnya. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan berdiri. Ia merapikan selimut ibunya, mengecup keningnya pelan.
“Aku belum tahu jawabannya, Yah,” bisiknya dalam hati.
“Tapi aku sedang belajar… untuk tidak hilang.”
Ia kembali duduk. Di luar jendela, lampu kota masih menyala. Kendaraan masih lalu-lalang. Hidup terus berjalan, bahkan saat seseorang sedang bingung harus melangkah ke arah mana.
Bersambung.