"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur lagi
Ruangan itu mulai sepi, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Perlahan ia menyalakan kembali tablet, membuka file desain, dan mulai memperbaiki satu per satu revisi yang harus segera diselesaikan.
Namun pikirannya terus melayang.
Tatapan Reyhan tadi.
Nada suaranya.
Cara ia memperhatikan Rania dengan intens, seolah mencoba membaca sesuatu yang ia sembunyikan.
“Apa sih maunya dia…” gumam Rania, menggelengkan kepala.
Tapi begitu ingatan tentang masa lalu, tentang perlakuan Reyhan yang membuatnya terluka berkelebat jelas, Rania langsung menepis semuanya.
“Stop. Fokus, Ran. Fokus.”
Ia kembali bekerja.
Satu revisi selesai.
Lalu satu lagi.
Layar tablet mulai membuat matanya berat.
Di luar ruangan, waktu terus berjalan tanpa terasa.
---
Sementara itu, Radit dan Reyhan masih berkutat dengan revisi divisi. Namun begitu jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam, Radit berdiri dari kursinya.
“Kayaknya ini udah cukup. Sisanya tinggal tim kita yang rapikan.”
“Kamu gak cek kinerja Rania dulu?”
“Iya. Sekalian mau lihat progresnya.”
Tapi Reyhan tidak membalas. Hanya menatap kakaknya sebentar, seperti memikirkan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.
Radit tak memperpanjang. Ia langsung menuju ruang tempat Rania terakhir kali ia tinggalkan.
Saat ia membuka pintu—
Pemandangan itu membuat langkahnya otomatis terhenti.
Rania tertidur di kursi, tubuhnya sedikit membungkuk ke meja.
“Astaga, Ran…” bisiknya pelan.
Ia mendekat tanpa suara, menyingkirkan beberapa kertas yang hampir jatuh dari meja.
“Sampai ketiduran begini…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ia mengangkat tangan, ingin menyentuh wajah Rania untuk membangunkannya… tapi tangannya berhenti di udara.
Tidak.
Rasanya terlalu kejam membangunkannya saat ia lelah seperti ini.
Radit akhirnya tersenyum kecil, sebelum akhirnya secara naluriah mengambil jasnya sendiri dan meletakkannya pelan di bahu Rania. Menutupi tubuh kecil itu agar tak kedinginan.
Ia berdiri, hendak mematikan lampu, tapi Rania segera bergumam.
“Kenapa kamu gak bangunin aku aja…”
Radit menatapnya lama.
“Kamu udah kerja terlalu keras,” bisiknya. “Udah cukup untuk malam ini.”
Diam-diam, Radit mengambil tablet Rania, duduk di kursi sebelah, dan… mulai menyelesaikan revisi yang tersisa. Meski itu bukan keahliannya, ia berusaha membaca catatan-catatan dan draft yang Rania tinggalkan.
Sesekali ia mengintip Rania dari samping.
Dan terkadang, ia tersenyum tanpa sadar.
Beberapa menit kemudian, Reyhan muncul di pintu.
“Radit? Udah—”
Kalimatnya terhenti ketika ia melihat Rania tertidur dengan jas Radit di bahunya.
Ia mengangkat alis. “Kamu—”
Radit hanya menaruh jari di depan bibir, memberi isyarat untuk tidak bersuara.
Reyhan terdiam sebentar… sebelum akhirnya mengangguk dan mundur beberapa langkah.
“Selesaikan semuanya. Aku tunggu di mobil,” bisiknya pelan.
Radit hanya mengangguk.
---
Tak sampai setengah jam, revisi selesai. Data lengkap. Proposal siap dikirim. Radit berdiri, menatap Rania yang masih tertidur pulas.
Lalu… ia membuat keputusan kecil yang bahkan membuat dirinya ikut heran.
Ia menunduk sedikit, mendekat, dan membisikkan sesuatu di dekat telinga Rania meski gadis itu tak mendengar apa pun.
“Aku janji. Lain kali, aku gak bakal biarin kamu begini.”
Ia menatap wajahnya sekali lagi—lama, penuh rasa yang belum ia pahami sepenuhnya.
Setelah itu, perlahan Radit mengusap bahu Rania, sangat hati-hati, seperti memegang sesuatu yang mudah pecah.
“Ayo pulang, Ran. Kamu udah kerja cukup hari ini.” kata Radit sambil berjongkok di samping kursinya. “Sini, bangun pelan-pelan.”
Rania mencoba meraih tablet—namun tangannya jatuh, terlalu lemas. Radit langsung menangkapnya.
“Awas.”
Suara Radit terdengar serius, tapi lembut.
“Jangan kayak gitu. Aku bisa sendiri.”
“Tadi aja hampir niban meja. Gimana coba kamu bisa sendiri?”
Rania memelototkan mata kecilnya—lebih tepatnya berusaha memelototkan, tapi terlihat mengantuk setengah mati. “Aku capek, Dit… Maafin aku ya.”
“Makanya aku bilang hati hati,” katanya sambil menepuk pelan kepala Rania. Sentuhannya lebih lama dari yang seharusnya. “Kamu itu… bandel.”
Rania belum sadar betul, tapi ia refleks menepis tangan Radit dengan gemas. “Jangan dielus kayak kucing.”
“Tapi kamu lucu,” balasnya cepat—begitu cepat sampai ia sendiri kaget.
“Gak usah gombal tengah malam.”
Radit tertawa. “Bukan gombal. Fakta.”
---
Ketegangan manis itu terhenti saat langkah seseorang terdengar dari arah koridor.
Reyhan.
Suara sepatunya makin dekat.
Spontan, Radit langsung bergerak cepat—menarik kursi Rania sedikit menjauh dari pintu, lalu berdiri menutupi posisinya.
“Dit?” Suara Reyhan menyapa dari luar. “Kamu lama banget.”
Radit menoleh sepersekian detik sebelum pintu terbuka.
“Hampir selesai,” jawab Radit santai sambil memblokir pandangan Reyhan terhadap Rania yang masih merapatkan jas di bahunya. "Aku tinggal kirim filenya.”
Reyhan mengangguk. Matanya menyisir ruangan sekilas—tapi Radit berdiri terlalu dekat dengan Rania, sengaja menghalangi.
“Rania sudah pulang?” tanya Reyhan datar.
Rania—yang baru setengah sadar dan mendengar pertanyaan itu—refleks ingin bangkit.
Namun Radit menekan bahunya pelan.
“Diam,” bisiknya hampir tanpa suara.
Rania langsung membeku.
Radit menatap Reyhan lagi. “Dia di ruangan lain, lagi beresin tasnya. Bentar lagi nyusul.”
Reyhan terlihat hendak memeriksa, tapi Radit menepuk folder besar di tangannya.
“Kamu lihat ini? Ini butuh dikirim sekarang. Kamu mau aku telat gara-gara ngobrol. Kamu duluan aja yang pulang. Aku bisa telpon sopirku."
Reyhan menyerah. “Oke. Kalo gitu”
Begitu pintu tertutup, Rania langsung buang napas keras. “Astaga… nyaris…”
Radit menoleh, menatapnya dengan tatapan geli sekaligus… bangga?
“Tadi kalau kamu nyenggol meja, suara kamu kebangun, atau refleks berdiri, habis kita,” kata Radit sambil menahan senyum.
Rania menggulung bibirnya. “Kamu tuh! Dibilang diam malah ngelawak!”
Radit menyandarkan tangannya di sandaran kursi Rania, merunduk sedikit hingga wajah mereka berjarak beberapa sentimeter.
“Kamu panik tadi?” bisiknya rendah.
“A–apa?”
“Panik ketahuan sama Reyhan?”
“Bukan… aku cuma… gak mau ada masalah lagi.”
Radit mengangkat sebelah alis. “Oh. Kupikir kamu panik karena kamu takut hubungan kita kelihatan.”
Rania spontan menepuk lengan Radit pelan. “Gak usah sok-sok bilang ‘hubungan’. Kita belum resmi apa-apa.”
Radit mendekat lebih dekat.
Terlalu dekat.
Sampai Rania bisa merasakan hembus napasnya.
“Kalau gitu…” suaranya turun satu nada, penuh godaan.
“…kapan kita resmi?”
Rania membeku. “Aku—dit—jangan gitu… aku belum mikir—”
Radit menahan tawa, lalu akhirnya berdiri lurus kembali. “Udah, kita pulang.”
Ia mengulurkan tangan.
“Pegangan. Kamu masih ngantuk.”
Rania mengintip tangan itu sebentar. Ragu. Malu. Tapi ia tahu dirinya hampir oleng kalau berdiri sendiri. Akhirnya ia meraih tangan Radit perlahan.
Dan ketika Rania berdiri, Radit dengan cepat merapikan jas yang menyelimuti bahunya, lalu menepuk pelan kepala gadis itu.
“Lain kali,” ucap Radit lembut, “kalau capek… bilang ke aku dulu, jangan maksa diri sampai ketiduran.”
Rania menggigit bibir bawahnya.
“Aku gak mau ngerepotin kamu.”
“Kamu?” Radit tersenyum kecil sambil menuntunnya ke pintu.
“Kamu memang repot.”
Rania langsung menoleh cepat. “Hah!?”
“Tapi aku…” Radit berhenti sebentar,
“…gak keberatan.”