NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Janji untuk sang calon bayi

Janji untuk sang calon bayi yang ia bisikkan di dalam hati menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tidak segera menyerah pada keadaan yang semakin mencekam. Anindira merangkak menjauhi jendela dan bersembunyi di sudut ruangan yang paling gelap sambil memeluk lututnya dengan sangat erat. Ia memejamkan mata dan mencoba menetralkan suara napasnya yang menderu liar karena rasa takut yang kembali menghantam jiwanya tanpa ampun.

Di luar sana, suara langkah kaki orang-orang itu terdengar semakin mendekat ke arah pintu depan rumah kayunya yang sudah rapuh. Sinar senter mereka memotong kegelapan malam dan menyapu dinding rumah melalui celah-celah papan kayu yang berlubang. Anindira merasakan keringat dingin membasahi punggungnya saat ia mendengar suara gerendel pintu yang coba digoyangkan dari luar secara paksa.

"Aku yakin wanita itu masuk ke daerah ini semalam, ciri-cirinya sangat mirip dengan yang ada di selebaran itu," bisik seorang pria dengan suara berat yang serak.

"Cepat periksa bangunan tua ini, jangan sampai hadiah ratusan juta itu jatuh ke tangan kelompok lain," sahut rekannya dengan nada suara yang penuh dengan keserakahan.

Anindira menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih demi menahan agar tidak ada jeritan ketakutan yang lolos dari mulutnya yang gemetar. Ia meraba perutnya yang masih terasa datar namun hangat, seolah mencoba berkomunikasi dengan nyawa kecil yang sedang berjuang bersamanya di sana. Di tengah situasi hidup dan mati ini, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau memisahkan mereka berdua.

"Ibu tidak akan membiarkan mereka menang, Nak, kita akan selamat dari tempat ini," bisik Anindira dengan suara yang nyaris tidak terdengar oleh telinga manusia mana pun.

Tiba-tiba, suara gonggongan anjing liar dari kejauhan mengalihkan perhatian para pemburu hadiah tersebut ke arah ujung gang yang berlawanan. Mereka nampak berdiskusi sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan area teras rumah kayu tersebut dengan langkah kaki yang terburu-buru. Anindira jatuh lemas ke atas lantai yang berdebu sambil mengembuskan napas lega yang terasa sangat panjang dan sangat menyiksa dadanya.

Malam yang panjang itu akhirnya berganti dengan cahaya pagi yang mulai menyusup melalui lubang-lubang ventilasi di atas dinding rumahnya. Anindira segera beranjak untuk mencari air bersih dan membersihkan sisa-sisa debu yang melekat pada wajahnya yang pucat pasi dan terlihat sangat kuyu. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi tanpa melakukan persiapan apa pun untuk menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti ini.

"Aku harus menukar benda ini agar kita bisa makan dan mendapatkan tempat yang lebih aman," ujar Anindira sambil menatap cincin biru ibunya.

Ia meletakkan perhiasan terakhir yang ia miliki itu di atas telapak tangannya sambil mengenang wajah ibunya yang lembut dan penuh dengan kasih sayang. Rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya karena ia tahu bahwa cincin itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari wanita yang sangat ia cintai. Namun, keselamatan bayinya jauh lebih penting daripada sekadar benda mati yang hanya akan mengundang perhatian orang-orang jahat di sekitarnya.

Anindira keluar dari rumah dengan mengenakan kerudung tua yang ia temukan di lemari sisa penghuni lama untuk menutupi wajahnya dari pandangan publik. Ia berjalan menuju arah pasar induk sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang sedang mengikuti langkah kakinya yang pelan. Suasana pasar yang bising dan penuh dengan manusia menjadi tempat penyamaran yang paling sempurna bagi dirinya untuk sementara waktu.

"Permisi, apakah Tuan menerima pembelian perhiasan kuno di tempat ini?" tanya Anindira saat ia sampai di depan sebuah toko emas kecil yang nampak sepi.

Pria pemilik toko yang mengenakan kacamata tebal itu menatap Anindira dengan pandangan yang sangat tajam dan penuh dengan rasa curiga yang mendalam. Ia mengambil cincin permata biru itu dan mulai memeriksanya dengan menggunakan sebuah alat pembesar yang diletakkan di depan matanya yang sipit. Anindira menahan napasnya sambil berharap agar perhiasan tersebut tidak dikenali sebagai barang milik keluarga besar Adiguna yang sedang dicari-cari.

"Ini barang yang sangat indah dan cukup langka, dari mana Anda mendapatkan benda berharga seperti ini?" tanya pemilik toko dengan nada suara yang menyelidik.

"Ini adalah warisan dari mendiang ibu saya yang harus saya jual karena keadaan ekonomi yang sedang sangat mendesak," jawab Anindira dengan suara yang dibuat tetap tenang.

Pemilik toko itu mengangguk-angguk perlahan meski matanya tetap memperlihatkan keraguan yang sangat besar terhadap kejujuran wanita muda di depannya ini. Ia menyebutkan sebuah harga yang sebenarnya jauh di bawah nilai asli perhiasan tersebut namun Anindira tidak memiliki banyak pilihan untuk melakukan tawar-menawar. Ia membutuhkan uang tunai secepat mungkin agar bisa segera meninggalkan kota ini sebelum identitasnya terbongkar oleh sayembara ayahnya.

Setelah menerima beberapa ikat uang kertas yang nampak kusam, Anindira segera meninggalkan toko tersebut dengan perasaan yang sangat hancur dan penuh dengan rasa bersalah. Ia merasa telah mengkhianati amanah ibunya demi bertahan hidup di tengah dunia yang sangat kejam dan tidak memiliki belas kasihan ini. Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah koran pagi yang diletakkan di atas meja warung kopi dengan judul berita utama yang sangat mengejutkan.

Wajahnya terpampang jelas di halaman depan dengan keterangan bahwa dirinya adalah seorang buronan yang melarikan diri setelah mencuri harta milik ayahnya sendiri. Anindira merasakan bumi seolah berhenti berputar dan pandangannya mendadak menjadi sangat gelap akibat guncangan mental yang sangat luar biasa hebat tersebut. Menjual kenangan terakhir ternyata tidak cukup untuk menutupi jejaknya karena kini seluruh negeri sedang mengincar kepalanya demi mendapatkan imbalan harta yang melimpah.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!