NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pagi ini Dian bangun pukul tujuh. Setelah salat Subuh tadi, ia sempat tertidur kembali karena kelelahan. Naya pun sempat bangun sebentar, hanya meminta susu, lalu kembali terlelap. Pelan-pelan Dian membuka sedikit tirai jendela, mematikan AC, dan menyalakan kipas angin agar kamar tidak pengap.

Ia keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Rumah masih sepi—mertuanya belum bangun, suasana terasa lebih tenang dari biasanya. Di dapur, Dian mengecek bahan apa saja yang masih ada. Setelah berpikir sebentar, ia memutuskan membuat nasi goreng sederhana dan telur mata sapi.

Aroma bumbu yang ditumis mulai memenuhi ruangan. Setelah semuanya matang, Dian menatanya dengan rapi di meja makan. Tidak ada yang istimewa, tapi setidaknya cukup untuk mengisi perut pagi ini.

Tanpa membuang waktu, Dian melanjutkan pekerjaan lain. Ia mulai mencuci pakaian yang sudah menumpuk. Baju Naya ia rendam terpisah, sedangkan pakaian dewasa dimasukkan ke mesin cuci. Baru beberapa menit, terdengar langkah kaki mertuanya memasuki dapur.

“Masak apa kamu, Dian?” tanya Bu Minah dengan suara datar.

“Nasi goreng sama telur, Bu,” jawab Dian dengan sopan sambil membilas pakaian.

Tanpa komentar lain, Bu Minah langsung duduk di kursi makan dan mulai menyendok makanan.

“Dian, Ibu mau ke Batam. Ibu kangen sama Arif. Semalam dia bilang nggak bisa pulang, jadi Ibu yang ke sana. Arif juga sudah transfer uang buat beli tiket,” ujar Bu Minah tiba-tiba.

“Iya, Bu… Dian siap-siap dulu ya,” jawab Dian sopan.

“Ngga usah, Dian. Arif tadi bilang biar Ibu pesan taksi online saja. Kasihan kamu kalau harus ngantar sambil bawa Naya,” balas Bu Minah tanpa ekspresi.

Setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian, Dian mengantar ibu mertuanya ke teras untuk menunggu taksi online yang akan menjemput. Sebelum naik, Bu Minah masih sempat berpesan,

“Jangan lupa siram semua bunga Ibu ya, Ian.”

Dian hanya mengangguk pelan.

Begitu mertuanya pergi, Dian duduk sejenak di ruang tamu. Alhamdulillah… akhirnya nggak ada yang ngomel hari ini, batinnya lega.

Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Dian langsung tahu—itu pasti kurir yang datang untuk menjemput pesanan cireng.

Ternyata Naya sudah bangun.

“Ibu… ibu…” panggilnya sambil berjalan ke ruang tengah dengan mata masih mengantuk.

“Eh sayang, ibu udah bangun, ya?” Dian langsung menghampiri dan mencium pipi Naya. “Iii bacin…,” godanya sambil memeluk putrinya.

Pukul 11.30 siang, semua pesanan sudah selesai diambil.

Dian kemudian menuju dapur untuk menyiapkan makan siang sederhana bagi dirinya dan Naya.

Ponsel Dian bergetar, menandakan ada pesan masuk.

“Mbak Dian, Ibu sudah sampai Batam ya. Aku sudah jemput Ibu.”

Dian membaca pesan itu lalu membalas,

“Iya, Rif. Alhamdulillah.”

Tanpa Dian ketahui, semua ini adalah bagian dari rencana mertuanya. Bu Minah sengaja meminta Andi datang ke Batam, karena ia ingin mengenalkan seseorang kepada putranya. Arif, si bungsu, ikut bekerja sama menjalankan rencana itu.

POV Bu Minah

Sejujurnya, aku tak pernah benar-benar menyukai Dian. Ia berasal dari keluarga yang biasa saja—aku bahkan tak mengerti bagaimana Andi bisa tertarik pada gadis desa seperti itu. Dulu, Andi punya kekasih orang Jakarta yang bekerja di Batam; jauh lebih cocok dan sepadan. Sayangnya, mereka tidak berjodoh.

Awalnya, aku mencoba menerima Dian. Tapi sejak ia melahirkan anak perempuan, rasa tidak sukaku makin menjadi. Aku ingin cucu pertama laki-laki, penerus keluarga. Dan sekarang… aku merasa inilah saatnya.

Kali ini tidak boleh gagal. Andi harus menurut pada kemauanku.

******

Sore harinya di Batam, Andi akhirnya tiba. Ia dijemput oleh Arif dan Bu Minah di depan pelabuhan.

“Sehat kamu, Nak? Ibu kangen sekali sama kamu,” ucap Bu Minah sambil menepuk lengannya.

“Iya, Bu… Andi juga rindu sama Ibu,” balas Andi hangat.

Malam harinya, Bu Minah bersama kedua putranya tiba di restoran tempat mereka membuat janji. Tak lama kemudian, wanita yang ingin dikenalkan Bu Minah datang menghampiri meja mereka.

Dan, di luar dugaan siapa pun, Andi tampak tertarik. Cara Andi tersenyum, cara ia menyambut sapaan wanita itu—semuanya menunjukkan ketertarikan yang bahkan Bu Minah sendiri bisa lihat dengan jelas.

Dalam hati, Bu Minah merasa rencananya mulai berjalan seperti yang ia inginkan.

Dalam perjalanan pulang menuju kos Arif, Andi menoleh pada ibunya.

“Bu… Dian jangan sampai tahu, ya,” ucapnya pelan namun tegas.

“Iya, Nak,” jawab Bu Minah singkat, seolah semua ini sudah bagian dari kesepakatan mereka.

******

Di rumah, Dian sudah masuk ke kamar. Naya pun telah tertidur pulas. Sebelumnya, Dian sempat menelpon ibunya untuk menanyakan kabar. Ia juga berjanji, jika suaminya libur nanti, ia akan pulang ke Bintan untuk menjenguk orang tuanya.

Besok tidak ada pesanan… enak nih bisa ajak Naya jalan-jalan, batin Dian. Biasanya kalau Bu Minah ada di rumah, ia sulit sekali keluar kecuali untuk mengurus orderan.

Dian kemudian membuka media sosial karena matanya belum mengantuk. Ada rasa yang sedikit mengganjal—biasanya suaminya selalu mengirim pesan. Mungkin Andi lagi sibuk banget, pikirnya mencoba menenangkan diri.

Kebetulan pula, besok adalah jadwal gajian suaminya.

Siang itu cuaca cerah. Dian sedang sibuk melipat baju di ruang tengah, sementara Naya asik bermain. Ponsel Dian tiba-tiba bergetar menandakan pesan masuk.

“Udah aku transfer ya,” tulis Andi.

“Iya, Ayah. Makasih ya,” balas Dian cepat.

“Naya, Ayah sudah gajian. Nanti kita jalan-jalan ya,” ujar Dian sambil tersenyum pada putrinya.

Naya langsung berdiri dan berputar kecil sambil berseru riang,

“Jalan-jalan! Jalan-jalan!”

Sore hari, Dian dan Naya sudah siap berjalan-jalan. Naya yang berada dalam gendongan Dian tampak begitu senang. Sepanjang perjalanan menuju tepi laut, tawa kecilnya tidak berhenti terdengar.

Sesampainya di sana, Dian membeli cemilan dan minuman. Mereka duduk di tepi pantai, menikmati angin sore dan pemandangan kapal-kapal yang melintas.

Naya yang sejak tadi riang tiba-tiba menunjuk ke arah laut.

“Ibu, kapal…” ujarnya polos.

“Iya, sayang. Naya suka?” tanya Dian lembut.

Naya mengangguk pelan.

“Suka, Ibu.”

Sebelum pulang, Dian ingin membelikan mainan untuk Naya, sekalian makan malam bersama. Di toko mainan, mata Naya langsung tertarik pada sebuah boneka kelinci berbulu lembut. Ia meraihnya dengan kedua tangan kecilnya, memeluknya seolah sudah menjadi miliknya sejak lama.

Setelah itu, mereka makan malam di sebuah warung dekat rumah. Naya makan dengan tenang sambil sesekali menatap boneka kelincinya. Usai makan, Naya mulai terlihat mengantuk. Kelopak matanya turun perlahan, sementara tangannya masih menggenggam bonekanya erat.

Melihat itu, Dian segera mengajak pulang. Dalam perjalanan, Naya bersandar di bahunya, memeluk boneka kelincinya seolah tak ingin lepas.

Sesampainya di rumah, Dian menurunkan Naya dari gendongan dengan hati-hati, lalu mengunci pagar sebelum masuk ke dalam rumah. Suasana rumah gelap dan tenang; hanya suara jam dinding dari ruang tengah yang terdengar pelan.

Dian menyalakan lampu ruang tamu, kemudian membawa Naya yang sudah hampir tertidur lelap. Boneka kelinci itu masih dipeluk di dadanya.

“Sudah sampai, Sayang,” bisik Dian lembut.

Naya hanya bergumam kecil, matanya tetap terpejam. Dian tersenyum tipis, lalu mengantar Naya ke kamar untuk beristirahat.

Setelah memastikan Naya tidur dengan nyaman, Dian keluar kamar perlahan dan menutup pintu tanpa suara. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang tengah. Masih ada sisa kehangatan di hatinya setelah menghabiskan sore yang menyenangkan bersama putrinya.

Dengan senyum kecil, Dian membuka chat suaminya. Jempolnya mengetik pelan:

“Ayah semangat ya. Kalau ada waktu bole telepon yaaa 😊”

Pesan itu terkirim. Dian menatap layar beberapa detik, berharap tanda “online” muncul. Namun tidak ada. Hanya centang dua biru yang menandakan Andi sudah membaca, tapi belum membalas.

Dian menarik napas perlahan.

“Mungkin lagi capek… atau sibuk,” gumamnya menenangkan diri.

Namun tetap saja, ada rasa asing yang menggelitik dadanya—rasa yang sudah beberapa minggu ini muncul tanpa alasan yang jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!