Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Surabaya di pagi hari adalah perpaduan antara kebisingan knalpot, terik matahari yang mulai menyengat, dan debu jalanan yang beterbangan di sepanjang Jalan Mayjen Sungkono. Di balik kemudi mobil sedan keluarga Adytama, Raditya—yang saat ini memakai identitas sebagai Rio—mengatur napasnya untuk tetap sabar. Di kursi belakang, Bianca tidak berhenti mengoceh tentang mahalnya biaya perawatan kulitnya yang baru saja naik, sambil sesekali memaki kemacetan yang dianggapnya merusak mood pagi ini.
"Rio! Kamu bisa lebih cepat tidak, sih? Aku ada kelas pagi ini dan dosennya sangat galak. Jangan sampai karena kamu lelet, penampilanku yang sudah oke ini jadi sia-sia karena harus lari-lari di lorong kampus!" omel Bianca sambil terus memoleskan lip-gloss di bibirnya.
"Baik, Non Bianca. Saya usahakan cari jalan tikus agar lebih cepat," jawab Raditya datar. Matanya yang tajam menatap spion tengah, melihat betapa kontrasnya Bianca dengan kakaknya, Kirana. Jika Kirana adalah ketenangan di tengah badai, maka Bianca adalah badai yang mencari perhatian di tengah ketenangan.
Begitu mobil berhenti di depan lobi kampus yang megah, Bianca keluar tanpa mengucapkan terima kasih. Ia hanya membanting pintu mobil dan melangkah dengan dagu terangkat, memamerkan tas mewah musim terbaru yang baru dibelikan ayahnya.
Raditya menarik napas lega. "Akhirnya," gumamnya.
Ia segera memutar kemudi, meninggalkan area kampus dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Waktunya sangat sempit. Ia harus segera bertransformasi dari seorang supir serabutan menjadi penguasa Mahardika Group.
Raditya memarkir mobil keluarga Adytama di sebuah parkiran umum yang tertutup, lalu dengan gerakan cepat ia menaiki taksi online menuju apartemen penthouse miliknya di pusat kota. Begitu pintu apartemen terbuka, suasana berubah drastis. Tidak ada lagi bau parfum mobil murah atau debu jalanan. Yang ada hanya aroma kayu cendana yang mewah dan keheningan yang elegan.
Ia melepas kaos gelap dan celana kargonya dengan cepat, melemparkannya ke keranjang pakaian kotor seolah ingin membuang beban identitas Rio untuk sementara. Raditya melangkah ke dalam walk-in closet yang luasnya hampir sebesar rumah petak. Di sana, deretan setelan jas pesanan khusus dari Italia berjejer rapi, disinari lampu LED temaram yang memberikan kesan mewah elegan.
Ia memilih setelan jas berwarna charcoal grey dengan kemeja putih bersih yang disetrika sempurna. Saat ia melingkarkan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya—jam tangan yang harganya bisa membeli sepuluh mobil yang biasa ia supiri—aura Raditya berubah total. Bahunya tegap, tatapannya menjadi sedingin es, dan wibawa seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis properti dan teknologi langsung memancar.
Selesai berpakaian, ia turun ke basement khusus apartemennya. Di sana, sebuah Lamborghini Urus berwarna hitam mengkilap sudah menunggunya. Raditya menginjak pedal gas, deru mesin mobil itu seolah mengumumkan kembalinya sang raja ke singgasananya.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Mahardika Tower, sebuah pencakar langit kaca yang mendominasi cakrawala Surabaya. Begitu ia turun, barisan staf keamanan langsung berdiri tegak dan membungkuk hormat. Tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung.
Di lobi, Bram sudah menunggu dengan wajah serius. Bram adalah orang kepercayaan Raditya sejak lama, satu-satunya orang yang tahu ke mana bosnya "menghilang" selama beberapa hari terakhir.
"Selamat pagi, Pak Raditya," sapa Bram sambil menyamai langkah lebar Raditya menuju lift pribadi.
"Laporan," jawab Raditya singkat, suaranya kini terdengar berat dan penuh otoritas.
"Semua berkas untuk pertemuan dengan klien dari Jakarta sudah saya siapkan di meja Bapak. Klien tersebut meminta presentasi detail mengenai integrasi teknologi smart home di proyek apartemen terbaru kita. Selain itu, ada laporan mengenai beberapa anak magang yang akan masuk lusa, termasuk putri dari Haris Adytama," jelas Bram dengan tenang.
Raditya menyeringai tipis saat mendengar nama keluarga Adytama disebut. "Biarkan saja. Berikan dia departemen yang paling sibuk. Aku ingin lihat sejauh mana dia bisa bertahan tanpa fasilitas mewahnya."
Ting!
Pintu lift terbuka langsung di lantai teratas yang merupakan kantor pribadi Raditya. Ruangan itu berdinding kaca penuh, memperlihatkan pemandangan kota Surabaya secara 360 derajat. Raditya berjalan menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid, di mana tumpukan berkas penting sudah menantinya.
Bram berdiri di depan meja, membacakan agenda demi agenda. Raditya mendengarkan dengan seksama sambil tangannya dengan lincah membolak-balik dokumen. Ia memeriksa setiap angka, setiap klausul hukum, dan setiap proyeksi keuntungan dengan ketelitian seorang predator.
"Pertemuan siang nanti pukul 14.00, Pak. Mereka sangat tertarik dengan sistem keamanan siber yang kita kembangkan. Jika ini berhasil, Mahardika Group akan menguasai 40 persen pasar teknologi domestik," tambah Bram.
Raditya mengangguk. "Pastikan semua tim siap. Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Kirimkan juga salinan draf ini ke tablet-ku, aku ingin membacanya lagi sebelum makan siang."
Saat sedang fokus membaca berkas, pikiran Raditya mendadak terpecah. Ia teringat pada Kirana yang pagi tadi masih pucat saat sarapan di kamar. Ia teringat bagaimana wanita itu bekerja keras di balik layar sebagai CEO KiraPharma tanpa ada satu pun keluarganya yang tahu atau peduli.
"Bram," panggil Raditya tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari berkas.
"Iya, Pak?"
"Cari tahu lebih detail tentang KiraPharma. Aku ingin tahu sedetail pun tentang perusahaan itu."
Bram sedikit terkejut mendengar instruksi pribadi itu, namun ia segera mencatatnya.
"Baik, Pak Raditya. Akan saya laksanakan segera."
Raditya kembali terdiam, matanya terpaku pada barisan angka di depannya, namun hatinya berada di tempat lain. Ia menyadari satu hal yang menarik; di ruangan megah ini, sebagai Raditya Mahardika, ia memiliki segalanya—kekuasaan, uang, dan rasa hormat. Namun, hanya saat menjadi Rio, supir sederhana yang makan nasi bungkus bersama Kirana, ia merasa hidupnya memiliki sebuah tujuan yang lebih nyata daripada sekadar menambah angka di rekening banknya.
Ia harus menyelesaikan urusan di kantor ini dengan cepat. Sebab, sore nanti, ia harus kembali menjadi Rio. Ia harus menjemput Bianca yang mungkin akan mengomel lagi, dan ia harus memastikan bahwa Kirana—wanita yang diam-diam telah mencuri perhatiannya—sudah dalam keadaan baik-baik saja.
"Pertemuan ini harus selesai dalam dua jam, Bram. Aku ada urusan lain setelah pukul empat sore," tegas Raditya.
"Tapi Pak, biasanya makan malam dengan klien setelah pertemuan itu wajib..."
Raditya menatap Bram dengan tatapan yang tidak bisa didebat. "Batalkan makan malamnya. Bilang aku ada janji keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Atur saja jadwal ulang untuk minggu depan."
Bram membungkuk patuh. "Baik, Pak."
Raditya kembali tenggelam dalam tumpukan dokumen. Fokusnya tajam, energinya meledak-ledak. Ia bekerja seolah sedang berpacu dengan waktu. Di ruangan mewah itu, sang CEO sedang mempersiapkan masa depan perusahaannya, sementara di luar sana, takdir sedang mempersiapkan sebuah pertemuan yang akan membongkar semua rahasia yang ia simpan rapat-rapat.
***