NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jalan Terjal Sang Buronan

​Malam itu seharusnya menjadi malam di mana Valerius menyempurnakan sumpahnya pada Aethela. Di dalam kamar menara yang diterangi oleh api sihir biru yang hangat, dunia di luar sana—ancaman Alaric, kemunafikan Dewan, dan dinginnya salju—terasa sangat jauh. Ia sedang menatap Aethela yang duduk di tepi tempat tidur, rambut peraknya tergerai bebas seperti aliran sungai cahaya bulan.

​Namun, kedamaian di Obsidiana adalah ilusi yang rapuh.

​Tepat ketika Valerius hendak melangkah mendekat, sebuah ledakan dahsyat mengguncang fondasi Menara Barat. Bukan suara guntur, melainkan suara sihir pertahanan benteng yang dihancurkan dari dalam.

​DUAARR!

​Kaca jendela pecah berhamburan ke dalam. Valerius secara naluriah menerjang Aethela, memeluknya dan melindunginya dengan tubuhnya sendiri dari serpihan kaca tajam dan angin es yang tiba-tiba menyerbu masuk.

​Adrenalin membanjiri darahnya, menghapus segala kelembutan yang baru saja ia rasakan. Ia mengenali getaran sihir yang meruntuhkan gerbang—itu bukan sihir Solaria. Itu adalah sihir Naga. Pengkhianatan.

​"Valerius?" suara Aethela terdengar kecil di bawah dadanya. "Apa itu?"

​Pintu kamar didobrak terbuka. Darius, panglima kepercayaannya, masuk dengan zirah yang sudah penyok dan darah hitam mengalir dari pelipisnya.

​"Mereka membuka gerbang bayangan, Pangeran!" teriak Darius, napasnya memburu. "Tetua Krow... dia bersekutu dengan Pangeran Alaric. Pasukan Pemburu Bayangan Solaria sudah masuk ke koridor utama. Mereka datang untuk Putri Aethela!"

​Amarah yang mendidih nyaris membuatnya kehilangan Rumahnya. Bentengnya. "Dikhianati oleh tetua yang seharusnya membimbingnya. Ia ingin turun ke aula, berubah menjadi naga penuh, dan membakar semua pengkhianat itu hingga menjadi abu. Tapi kemudian ia merasakan tangan Aethela mencengkeram kemejanya. Jika ia bertarung sekarang, dalam kekacauan ini, Aethela bisa terbunuh atau diculik.

​"Kita harus pergi," kata Valerius, setiap kata terasa pahit di lidahnya. "Darius, siapkan jalur evakuasi lewat Nadi Gunung."

​"Tapi Pangeran, itu jalur bunuh diri di musim badai!" bantah Darius.

​"Lakukan!" perintah Valerius. "Atau kita semua mati di sini sebagai martir bodoh!"

​Aethela merasa dunianya berputar terlalu cepat. Satu detik ia berada dalam kehangatan kamar pengantin, detik berikutnya ia ditarik berlari menyusuri lorong-lorong batu yang gelap dan sempit. Ia tidak sempat mengganti gaun tidurnya yang tipis, hanya sempat menyambar jubah bulu tebal milik Valerius yang digantung di dekat pintu.

​Mereka berlari menuruni tangga spiral rahasia yang tersembunyi di balik dinding perapian. Suara pertempuran terdengar semakin dekat di atas mereka—denting baja, teriakan kesakitan, dan ledakan sihir.

​Ia takut pada apa yang akan dilakukan Alaric jika menemukannya. Ia tahu kakaknya tidak akan membawanya pulang untuk minum teh; Alaric akan memenjarakannya, atau lebih buruk, menggunakannya sebagai senjata hidup melawan Obsidiana.

​"Lewat sini!" Valerius menarik tangannya, membawanya masuk ke sebuah terowongan alami yang dindingnya berlendir dan berbau belerang pekat. Ini adalah Nadi Gunung—sistem gua vulkanik kuno di bawah benteng.

​Tiba-tiba, sekelompok bayangan melesat dari kegelapan di depan mereka. Tiga Pemburu Bayangan Solaria—pembunuh elit yang mengenakan topeng perak tanpa wajah.

​"Pangeran Valerius," desis salah satu pembunuh. "Serahkan gadis itu, dan kami akan membiarkanmu mati dengan cepat."

​Aethela melihat Valerius tidak berhenti. Pria itu bahkan tidak menghunus pedangnya. Sebaliknya, bayangan di sekitar tubuhnya meledak keluar seperti tentakel raksasa.

​"Kalian membuat kesalahan dengan masuk ke dalam kegelapan bersamaku," geram Valerius.

​Dalam sekejap mata, Valerius bergerak. Itu bukan gerakan manusia. Itu adalah tarian kematian. Cakar bayangan merobek para pembunuh itu sebelum mereka sempat merapalkan mantra. Darah menciprat ke dinding gua. Aethela menutup mulutnya, menahan jeritan. Ia pernah melihat Valerius berlatih, tapi melihatnya membunuh dengan efisiensi brutal seperti ini adalah hal yang berbeda.

​Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, rasa aman yang aneh menyelimutinya. Monster ini ada di pihaknya. Monster ini membunuh demi melindunginya.

​Valerius berbalik, napasnya sedikit memburu, matanya berkilat merah sebelum kembali menjadi emas. Ia memeriksa Aethela dengan cepat. "Kau terluka?"

​Aethela menggeleng. "Hanya terkejut. Kita harus terus bergerak, Valerius. Krow pasti tahu tentang jalur ini."

​Mereka berlari selama berjam-jam melalui labirin bawah tanah itu. Valerius memimpin jalan dengan insting naganya, menghindari jebakan gas beracun dan lubang magma. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari takhtanya, semakin jauh dari kehormatannya sebagai Pangeran.

Ia adalah Pangeran Perang yang melarikan diri dari istananya sendiri seperti tikus got. Egonya hancur. Namun, setiap kali ia menoleh ke belakang dan melihat Aethela yang terus berlari tanpa mengeluh, meskipun kakinya yang telanjang (karena sepatunya tertinggal) pasti berdarah di atas batu tajam, rasa malu itu berubah menjadi tekad. Ia tidak lari karena takut mati. Ia lari untuk menjaga satu-satunya hal yang berharga yang tersisa.

​Akhirnya, mereka melihat cahaya redup di ujung terowongan. Angin dingin yang menusuk tulang berhembus masuk, membawa butiran salju.

​Mereka keluar di sebuah celah sempit di sisi tebing curam. Di depan mereka, terhampar The Forbidden Wilds—wilayah liar di balik pegunungan Obsidiana yang tidak dikuasai oleh siapa pun, tempat naga-naga liar dan makhluk purba bersemayam.

​Badai salju sedang mengamuk. Visibilitas hampir nol.

​"Kita tidak bisa kembali," kata Valerius, suaranya harus berteriak melawan deru angin. "Benteng sudah jatuh. Alaric dan Krow memegang kendali sekarang."

​Aethela menggigil hebat di sampingnya. Jubah bulu itu tidak cukup untuk menahan badai ini. Valerius menariknya mendekat, melingkarkan lengannya yang hangat di bahu wanita itu.

​"Ke mana kita akan pergi?" tanya Aethela, giginya gemeretak.

​"Ke tempat di mana sihir Krow dan tentara Alaric tidak bisa melacak kita," jawab Valerius. Ia menatap ke arah puncak gunung tertinggi yang tertutup awan badai abadi di kejauhan. "Ke Kuil Leluhur di Puncak Void. Di sana, legenda mengatakan ada kekuatan yang bisa memanggil The First Flame—Api Pertama."

​Banyak naga mati mencoba mencapai Puncak Void. Tapi apa pilihan lain yang mereka punya?

​"Darius akan menahan mereka di terowongan selama mungkin," kata Valerius berat. "Mulai sekarang, Aethela, kau bukan lagi Putri, dan aku bukan Pangeran. Kita hanyalah buronan. Dan alam liar ini tidak peduli pada gelar kita."

​Aethela menatap hamparan putih yang mematikan di depan mereka. Kakinya yang lecet terasa perih, dan perutnya mulai sakit karena lapar dan dingin. Kehidupan istana yang nyaman, bahkan penjara menara yang dingin itu, kini terasa seperti surga yang hilang.

​Namun, saat ia menatap wajah Valerius—yang kini kotor oleh debu gua dan darah—ia tidak melihat keputusasaan. Ia melihat seorang pria yang telah kehilangan segalanya kecuali dirinya.

Ia menyadari bahwa inilah "jalan terjal" yang sebenarnya. Bukan pernikahan politik, bukan intrik istana, tapi bertahan hidup berdua melawan dunia.

​Ia meraih tangan Valerius yang kasar. "Aku tidak butuh gelar, Valerius. Selama kau tidak melepaskan tanganku, aku akan berjalan sampai ke ujung dunia ini bersamamu."

​Valerius menatapnya, dan untuk sesaat, badai seolah berhenti. Pria itu menunduk dan mencium keningnya—ciuman yang terasa seperti sumpah setia di bawah langit yang runtuh.

​"Ayo," kata Valerius. "Kita cari tempat berlindung sebelum darah kita membeku."

​Mereka melangkah keluar dari perlindungan tebing, masuk ke dalam putihnya badai yang tak berujung. Jejak kaki mereka langsung terhapus oleh angin, menghilangkan bukti keberadaan mereka, seolah-olah Aethela dan Valerius telah lenyap ditelan bumi, meninggalkan dunia yang sedang terbakar di belakang mereka.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!