NovelToon NovelToon
Kau Rebut Suamiku, Ku Rebut Suamimu

Kau Rebut Suamiku, Ku Rebut Suamimu

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cerai / Pelakor / Suami Tak Berguna / Tukar Pasangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

"Ambil saja suamiku, tapi bukan salahku merebut suamimu!"

Adara yang mengetahui pengkhianatan Galang—suaminya dan Sheila—sahabatnya, memilih diam, membiarkan keduanya seolah-olah aman dalam pengkhianatan itu.

Tapi, Adara bukan diam karena tak mampu. Namun, dia sudah merencanakan balas dendam yang melibatkan, Darren—suami Sheila, saat keduanya bekerjasama untuk membalas pengkhianatan diantara mereka, Darren mulai jatuh dalam pesona Adara, tapi Darren menyadari bahwa Adara tidak datang untuk bermain-main.

"Apa yang bisa aku berikan untuk membantumu?" —Darren

"Berikan saja tubuhmu itu, kepadaku!" —Adara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas

"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Darren.

"Jadilah pasanganku. Kita pura-pura menjadi pasangan kekasih. Biar kedua orang itu sakit hati," ucap Adara. Darren mengerutkan dahinya mendengar permintaan Dara.

Darren terdiam beberapa saat. Dia juga sedang memikirkan apa yang terbaik dilakukan. Semata-mata hanya untuk membalas rasa sakit hatinya. Dia takut jika melibatkan Adara, istrinya akan menyakiti wanita itu.

"Apakah kamu siap dengan resikonya jika kita pura-pura pacaran?" Darren balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan Dara.

"Aku siap. Justru pertanyaanku, apakah Kakak siap dengan semua konsekuensi yang akan dihadapi jika pura-pura pacaran. Sebagai publik figur nama baik harus benar-benar di jaga."

"Aku bisa menjaganya. Bukankah kita tak melakukan hal di luar batas," ucap Darren.

"Satu lagi, Kak. Kita hanya kencan pura-pura. Hal pribadi ku tetap tak boleh kakak ikut campur jika aku tak meminta bantuan. Jangan pernah main perasaan. Jika hati sudah bicara takutnya akan ada salah paham!" seru Adara.

"Jangan takut, aku tak akan main hati jika kamu juga tak membukanya," ucap Darren sambil tersenyum menggoda.

Darren dan Adara lalu berjabat tangan tanda setuju. Mereka sepakat mulai besok akan melakukan misi balas dendam ini. Setelah makan, mereka berdua pulang.

**

Hati Galang berdebar-debar ketika dia memasuki gedung perusahaan tempat dia kemarin menjadi pimpinan.Telah satu minggu dia tak ke kantor. Ada rasa rindu pada suasana kerja di perusahaan.

Seorang satpam tiba-tiba memegang tangan memintanya berhenti. Sepertinya satpam baru, karena Galang tak mengenalinya.

"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu. Siapa yang mau kamu temui?" tanya satpam itu dengan nada sopan namun tegas.

"Saya Galang. Suami Adara," jawab Galang,

"Kalau begitu Bapak tunggu sebentar. Akan saya konfirmasi dulu dengan Ibu Adara," ucap pria itu.

Pria itu lalu menghubungi Adara. Setelah itu dia kembali bicara dengan Galang.

Satpam tersebut mengerutkan dahi. "Maaf, Pak. Ibu Adara tidak ingin diganggu."

Galang berusaha menahan emosinya. "Tolong, saya hanya ingin bicara sebentar dengannya," pintanya dengan nada memohon.

Tapi tak ada tanda-tanda bahwa satpam akan mengizinkannya. Justru, pria itu menggelengkan kepala sambil mengarahkan jarinya ke arah pintu keluar. "Saya harus menegakkan aturan. Ibu Adara sudah jelas meminta untuk tidak menerima tamu."

Galang merasakan tenggorokannya tercekat. Kenapa Adara harus segitu tega? Kenapa dia tidak bisa memberi kesempatan untuk menjelaskan?

"Dengar, saya hanya ingin minta maaf. Tolong beri saya satu kesempatan!" desak Galang. Saat keduanya hampir bersitegang, Adara muncul. Sepertinya akan pergi ke suatu tempat.

“Galang,” suaranya datar, tetapi cukup untuk menyayat hati. “Kau seharusnya tidak ada di sini. Kau telah dipecat!"

“Adara, aku—”

“Stop!” Adara mengangkat tangan, memotong ucapannya. “Kau datang ke sini untuk apa? Minta maaf? Atau mengiba lagi? Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar suara itu lagi.”

Dari dalam, rasa sakit itu membakar jantung Galang. Dia ingin sekali berlari mendekati istrinya, memohon agar dia mengerti, bahwa semua yang terjadi bukanlah seperti yang dia lihat. Namun, Adara berdiri tegas, seolah menghalangi semua harapan yang ingin ia sampaikan.

“Dara, aku benar-benar minta maaf. Aku tak akan berhubungan dengan Sheila lagi. Seminggu berpisah denganmu, aku sudah merasa sangat lama. Aku tak bisa jauh darimu, Dara," ucap Galang.

Adara tersenyum simpul. Mungkin Galang pikir dia masih wanita yang bodoh. Dara tahu jika seminggu ini suaminya dan Sheila tinggal satu atap.

"Sudahlah, Galang. Tak ada yang bisa kita bicarakan. Segera tanda tangan surat gugatan cerai itu!" seru Adara.

“Mengapa kau tidak memberiku kesempatan? Aku tahu aku salah, tapi … Sheila bukanlah apa-apa,” suara Galang mulai bergetar. Dia harus bisa meyakinkan Adara jika semua hanya kekhilafan. Dia bisa melakukan hubungan diam-diam lagi tanpa istrinya tahu.

“Jangan lagi menyebut nama itu di hadapanku!" seru Adara.

Ketika Galang ingin mendekat, satpam kembali melangkah maju. “Maaf, Pak. Saya harus mengusir anda dari sini. Bapak ini mengatakan jika dia suami Bu Adara," ucap Satpam itu.

“Dia memang suamiku dan akan menjadi mantan!” seru Adara, tetapi tidak ada nuansa lembut dalam suaranya. “Iya, saya ingin agar dia pergi sekarang juga!”

Akhirnya, Galang merasakan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar sakit hati. Ada amarah yang berkecamuk dalam dirinya, ditambah rasa kecewa. "Kalau kau tidak mau mendengar'ku, maka aku akan memberi pelajaran untukmu, Dara!" ancamnya dengan nada serak.

“Pelajaran apa? Mau balas dendam?” Adara menantang, sinis. “Kau tidak bisa menyentuh kehidupan ku lagi, Galang. Jika terjadi sesuatu denganku, pasti kau pelakunya. Aku sudah mengatakan ini ada pengacaraku!”

“Jangan salah, aku masih tahu banyak tentangmu dan perusahaan ini!” Galang menatap tajam, merasa seolah semua yang dia lakukan akan dibalas tuntas.

Adara menggigit bibirnya, berjuang meredakan amarah yang menggulung di dalam dada. “Kalau kau datang kesini untuk mengancam'ku, jangan harap itu akan membuatku takut. Satpam ... usir orang ini segera!"

Satu detakan jeritan Adara, diiringi dengan detakan hati Galang, seolah menandai akhir dari segalanya. Dia menyadari bahwa semua impian dan harapan untuk bisa memperbaiki semuanya hancur dalam sekejap.

Satpam mendekat dan menggiring Galang ke pintu. “Silakan pergi, Pak. Jangan buat masalah.”

"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri," ucap Galang.

Satpam itu lalu melepaskan pegangan tangan pria itu. Dia memandangi Adara dengan tatapan tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup.

"Dara, aku tak akan tinggal diam. Aku berhak atas perusahaan ini. Aku yang telah mengembangkannya. Aku harap kamu ingat itu. Aku akan menuntutnya di pengadilan. Jika kamu tak mau lagi bersamaku, kita akan hancur bersama. Kau harus memberikan separuh hartamu untukku sebagai harta gono-gini!" seru Galang.

"Semua ini milikku. Kanapa aku harus berbagi denganmu. Jika kau merasa berhak karena menjadikan perusahaan ini berkembang, kau telah mengambil bagianmu, Galang. Jangan lupakan rumah ibu dan adikmu, serta mobil yang dia gunakan memakai uang perusahaan. Anggap saja itu bonus yang diberikan perusahaan!" seru Adara.

"Kau akan menyesal dengan keputusan mu ini, Dara!"

Galang akhirnya pergi setelah mengucapkan itu. Dia pikir istrinya akan mudah luluh. Tapi ternyata masih saja keras kepala. Adara berharap tak akan ada gangguan lagi. Dia akan mulai rencananya dengan Darren minggu depan. Hari ini dia dan Darren akan mengadakan konferensi pers di tempat berbeda untuk mengatakan kalau mereka telah berpisah dari pasangan masing-masing.

1
Purwanti Kurniawan
selamat Andara semoga bahagia lebih cepet di halalin daren
Purwanti Kurniawan
bagus Andara yg tegas sama mantan hanya ingin harta mu dia gk mau hidup susah
Purwanti Kurniawan
bagus Sheila klo punya pemikiran begitu kamu malah lebih bisa berbahagia wlo tanya daren Damai dengan keadaan Sheila
Purwanti Kurniawan
ha ha ha Sheila kena kan perbuatan mu sendiri
Purwanti Kurniawan
sadar Sheila itu perbuatan mu kepada anak mu gimana kamu memperlakukan anak mu Sheila
Purwanti Kurniawan
pd banget bunga pengen deketin daren
Purwanti Kurniawan
udah terima Andara lamaran Daren
Purwanti Kurniawan
Sheila buang jauh2 pikiran picik mu itu Sheila jangan mengada ada Sheila nanti kena batunya bau tau
Purwanti Kurniawan
ya itu salah mu sendiri Sheila kenapa kau dia siakan anak dan suami giliran udah cerai baru kelabakan bingung kan
Purwanti Kurniawan
lanjut gak bersyukur sih Sheila jadi istri punya suami ganteng malah di selingkuhin
Purwanti Kurniawan
sheila lucu ya udah cerai ko masih buntut aja udah cari kehidupan sendiri lah
Purwanti Kurniawan
bunga kepo dengan hubungan daren dan Andara cemburu gk pada tempatnta bunga
Purwanti Kurniawan
bunga terlalu memaksa nanti daren gk nyaman sama kamu lagi gimna bunga syutingnya
Purwanti Kurniawan
dasar bunga gk ada lelaki lain apa selain daren bunga sabar ya daren menghadapinya perempuan yg terobsesi sama kamu daren sabar Andara
Purwanti Kurniawan
sheila kan kamu dari dulu dari jaman sekolah pun selalu iri sama andar karena bisa mandri sheila sedangkan kamu cuma bisa merusaknya
Purwanti Kurniawan
sheila sadar atas perbuatan kamu sendiri susah kan kamu sendiri yg membuat sheila
Purwanti Kurniawan
sadar sheila kesalahan mu udah fatal kenapa sekarang baru ngemis 2dama daren kemaren 2 kemana aja suami setia malah di selingkuhin
Purwanti Kurniawan
Daren jangan bingung klo hati mu udah tenang sama Andara lanjut aja biar Sheila yg menuai perbuatannya sendiri
Purwanti Kurniawan
sheila penyesalan itu datangnya belakang klo datangnya duluan itu masa depan sheila
Purwanti Kurniawan
jangan menyalahkan orang lain sheila itu kan ulah mu sendiri perbuatan mu sendiri jdi orang terlalu angkuh sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!