Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Mengapa Aku Adalah Drama?"
Dewi merasa dada terasa sesak, napas terengah-engah. Dia sudah mengumpulkan semua keberanian yang ada di dalam dirinya, matanya tetap menatap Arif yang berdiri di hadapannya. Kata-kata yang sudah dia siapkan sehari semalam siap keluar dari mulut—kata-kata yang akan mengakhiri semua kesedihan yang dia alami. Tapi sebelum dia sempat membuka mulut, suara-suara yang keras dan akrab terdengar dari arah pintu rumah.
“Wah, kapan lagi kita kumpul gini? Dewi sudah pulang ya!”
Dewi menoleh dan melihat Paman Keempat dan Paman Kelima yang sedang mendekati dengan langkah cepat. Kedua paman itu adalah saudara ayahnya yang paling dekat, yang sering datang ke rumah tanpa pemberitahuan. Paman Keempat memiliki tubuh gemuk dan senyum yang selalu terpasang, tapi hari ini senyumnya terkesan paksaan. Paman Kelima lebih kurus, wajahnya kerucut dan matanya tajam seperti mau menembus.
“Arif juga ada ya! Bagus banget, anak muda yang rajin menunggu pacarnya,” ujar Paman Keempat sambil menepuk bahu Arif dengan kuat. Arif hanya bisa tersenyum, matanya tetap terarah ke Dewi.
Dewi mengangkat mulut, ingin berkata bahwa dia ingin bicara dengan Arif sepenuhnya. Tapi Paman Kelima langsung menyela, suaranya keras dan tegas seperti ledakan petir. “Dewi, apa lagi nih drama-mu yang terus-menerus? Sudah berbulan-bulan kan masalahmu dengan Arif? Semua tetangga sudah tahu, bahkan orang di desa tetangga juga mulai ngomong-ngomong!”
Kata “drama” itu membuat Dewi terkejut. Dia memandang Paman Kelima dengan mata yang penuh kejutan. “Pam, apa yang kamu maksud dengan drama? Ini hidupku—”
“Ya, hidupmu, tapi kamu tidak hidup sendirian!” potong Paman Kelima lagi, tidak memberi kesempatan Dewi bicara. “Kamu adalah bagian dari keluarga. Kalau kamu terus bingung-bingung, membuat Arif kecewa, itu akan membuat nama keluarga kita tercoreng. Orang akan bilang kita tidak bisa mengatur anaknya!”
Dewi merasa darahnya panas. Dia mencoba berbicara lagi, tapi Paman Keempat menggenggam tangannya dengan kuat. “Ayo, nak. Jangan terlalu banyak pikir. Arif sudah berjanji berubah, kan , dia juga sudah rajin banget kerjanya. Dia sudah menunggu kamu selama sebulan di desa nenekmu. Kamu harus bersyukur punya pacar yang sebaik dia. Langsung ikut dia pulang ke rumah aja, nanti bicara lagi dengan tenang.”
“Pam, tolong… aku belum sempat memberitahukan keputusanku,” bisik Dewi dengan suara yang gemetar. Tapi tangannya yang digenggam Paman Keempat terasa kaku, tidak bisa bergerak.
“Keputusan apa lagi yang perlu kamu beritahu? Sudah jelas kan jawabannya?” ujar Paman Kelima dengan nada yang marah. “Jangan terlalu banyak drama, nanti orang ngomong kamu sombong atau terlalu pilih-pilih. Kamu harus ikut Arif pulang sekarang juga!”
Pada saat itu, ibunya Dewi mendekati, wajahnya terlihat cemas. “Pak, tolong deh, berikan Dewi waktu. Dia baru pulang, masih lelah setelah kejadian mobil tadi—”
“Waktu sudah cukup banyak, Bu!” potong Paman Kelima lagi, matanya menatap ibunya dengan tajam. “Kita tidak boleh biarkan dia membuat keputusan yang salah. Dia masih muda, tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Ikut Arif pulang adalah pilihan yang tepat.”
Ayah Dewi keluar dari rumah, melihat situasi yang memanas. Dia mendekati dengan langkah lambat, wajahnya terlihat ragu. “Kakak-kakak, jangan terlalu paksa Dewi ya. Ini masalah dia sendiri.”
“Masalah dia juga masalah keluarga, adik!” jawab Paman Keempat dengan suara yang lebih keras. “Kita harus melindungi nama keluarga. Kalau Dewi menolak Arif, nanti tidak ada orang yang mau menerima dia lagi. Dia akan menyesal seumur hidup!”
Dewi merasa air mata mulai menetes. Dia melihat Arif yang berdiri di sampingnya, wajahnya penuh harapan tapi juga sedikit malu. Dia melihat paman-pamannya yang wajahnya marah dan menuntut. Dia melihat ayah dan ibunya yang tidak berani melawan kedua paman. Semua orang seolah-olah sudah membuat keputusan untuknya, tanpa memberi dia kesempatan sedikit pun untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Ini adalah klimaks yang dia takutkan—ketika semua tekanan keluarga menumpuk padanya, membuat dia terjebak di antara keinginan dirinya sendiri dan harapan orang lain. Dia ingat nasihat si kakek tua di desa: “Kebahagiaan itu milikmu sendiri.” Tapi bagaimana dia bisa mengikuti nasihat itu jika orang terdekatnya memaksanya untuk melakukan yang sebaliknya?
“Pam… aku hanya ingin bahagia,” ujar Dewi dengan suara yang lemah tapi tegas, air mata menetes ke pipinya. “Aku sudah menderita cukup lama bersama Arif. Aku bUtuh hidup yang tidak penuh ketakutan dan kesedihan.”
“Bahagia? Kamu pikir bahagia itu mudah didapat?” tanya Paman Kelima dengan candaan. “Arif sudah mau menerima kamu apa adanya. Apa lagi yang kamu mau? Jangan terlalu banyak drama, nak. Itu yang membuat kita semua capek!”
Dewi tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia mencoba menarik tangannya kembali dari genggaman Paman Keempat, dan kali ini dia berhasil. Dia berlari masuk ke rumah, menutup pintu dengan keras sampai terdengar bunyi thump yang keras. Dia lari ke kamar tidurnya, melompat ke atas kasur, dan menangis dengan sekuat tenaga. Semua perasaan yang dia simpan—rasa sakit, rasa tidak dipahami, rasa terjebak, rasa marah—semua keluar sekaligus.
Dia menangis selama berjam-jam, sampai matanya terasa lelah dan kepalanya sakit seperti mau pecah. Dia berbaring di atas kasur, memandang langit malam yang terlihat dari jendela. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Dia membayangkan neneknya di desa yang selalu memahami, Rafi yang selalu membuatnya tersenyum, si kakek tua yang memberinya cahaya di kegelapan. Dia merindukan kebahagiaan yang dia temukan di sana, merindukan tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut dihakimi.
Mengapa orang terdekatnya tidak bisa memahami? Mengapa mereka hanya melihatnya sebagai orang yang membuat drama? Apakah mereka tidak menyadari betapa sakitnya yang dia rasakan? Apakah mereka tidak peduli apakah dia bahagia atau tidak?
Dewi menutup mata, tapi pertanyaan-pertanyaan itu tetap terngiang-ngiang di hatinya. Dia sudah punya keputusan di hatinya, tapi dia tidak sempat memberitahukannya. Semua yang dia tahu adalah dia terjebak di rumah ini, dengan tekanan keluarga yang membuatnya sulit bernapas.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah sebelum pergi ke rumah nenek nya kemarin ia sudah menceritakan kisah nya kepada semua keluarganya , termasuk paman pamannya , bibi bibinya semuanya, dan bahkan sebelumnya mereka mendukung diri nya . Namun kenapa sekarang sebaliknya? Mereka bahkan tak peduli dengan pendapat ataupun perasaan nya. Kenapa bisa? Dewi benar benar bingung, kenapa bisa seperti ini ? Kenapa bisa paman-pamannya bilang Dewi terlalu banyak drama?