Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Perkenalan
“Berapa banyak orang yang udah kamu bunuh?” tanya cewek di sebelah kananku. Mulutnya lebar banget, membentuk seringai yang membuatku merinding.
Rambut ungu gelapnya kusut dan menutupi sebagian wajah. Dia pakai kaus gambar Ursula sama dua belutnya, "The Little Mermaid". Dari mana dia dapet kaus itu, sih?
“Aku ... bunuh?” tanyaku, makin bingung.
Simpul cemas di perutku mulai mengendur, bukan karena tenang, tapi karena ketakutan yang lebih besar lagi.
Aku memperhatikan sekeliling, sekumpulan psikopat yang kelihatan ceria.
Astaga.
Jangan-jangan aku ada di rumah sakit jiwa khusus pembunuh.
Aku buka mulut, siap untuk serangan panik dan teriak kalau ini semua salah tempat, tapi sebelum sempat ... rasa sakit yang kejam itu kembali lagi.
Dengungan mulai dari pelipis, makin lama makin kencang, sampai rasanya seperti sarang lebah di kepala aku.
“Dia enggak apa-apa?” Aku dengar Torvald bertanya. Suaranya terdengar sedikit khawatir, sementara yang lain menatapku, entah waspada, entah cuek.
Kilasan tentang genangan darah di lantai menyelonong ke dalam kepalaku. Gigi tajam yang menusuk pergelangan tangan. Wajah cowok yang aneh dan buram.
“Sial!” teriakku sambil meringkuk di atas kaki aku sendiri.
“Rowenaaa!”
Aku dengar suara gertakan, lalu semua sensasi itu lenyap.
Aku tarik napas dalam-dalam dan duduk tegak, badanku rasanya remuk.
“Terlalu dramatis,” katanya dingin. “Pokoknya, kamu itu ditemukan di pom bensin dengan tumpukan mayat berdarah. Dan rupanya itu bukan tempat pertama. Ternyata kamu anak kecil yang lapar dan ganas. Bukannya begitu?” tanyanya sambil mengerutkan hidung.
“Hah?” tanyaku, enggak percaya.
“Maaf ...ummm, kejadian yang bikin kamu ada di sini bakal diceritain. Biar pasien lain tahu mereka lagi berhadapan sama apa.”
“Tapi aku enggak membunuh siapa pun,” kataku. Semua orang langsung mendengus sinis dan memutar mata.
“Oke. Waktunya berbagi cerita!” kata Jetta dengan nada menyebalkan.
Cewek lusuh berambut ungu kotor itu mendekati mukaku dan mulai mengelus rambutku.
“Warnanya kayak darah,” katanya senang.
“Ya ampun!” seru Jetta sambil menekan tangan ke dadanya.
“Aku Angel,” kata cewek di sebelahku, masih sambil mengelus rambutku. “Kamu Ariel-nya Ursula aku. Aku …” Dia melirik Jetta. “Maksud aku, hemmm ... aku ini penyihir laut. Eh, kamu bisa nyanyi enggak?”
Fenella condong ke depan dan tarik rambutku dari jari-jari Angel.
“Angel itu cewek Disney,” katanya dengan jijik. “Aku Fenella, dan menurut aku, aku itu iblis dari persimpangan jalan,” lanjutnya sarkas. “Tapi iblis kan enggak ada, ya?”
Jetta cuma memutar mata.
“Dan kalian berdua membunuh orang?” tanyaku.
“Aku cuma membunuh cowok,” kata Angel sambil menyilangkan tangan dan melorot di kursinya.
“Oh, syukurlah,” kataku sarkas.
Apaan sih ini.
“Dan aku cuma ngebunuh orang yang minta dibunuh,” kata Fenella sambil bersihkan kukunya.
Tatapannya seperti bertanya, "Kamu minta dibunuh, ya?"
Mataku bergeser ke Torvald yang masih pakai topeng.
Ya Tuhan, aku enggak mau tahu.
Aku benar-benar enggak mau tahu.
“Kalau kamu?” tanyaku ke dia. “Oh, sial!”
Dia mendengus dan memalingkan wajah dari kelompok itu. Kakinya diayun-ayun, jelas enggak bisa diam.
“Itu Torvald ...” kata Jetta. “Dia enggak suka membahasnya. Dia anak yang sensitif,” tambahnya sambil geleng-geleng penuh iba.
“Itu aku, Si Tuan Sensitif. Sama kayak kepala titiddd,” katanya.
Mata Jetta langsung melotot.
“Aku baru dua kali ketemu kamu, dan dua-duanya kamu ngomongin titiddd,” kataku sambil mendengus.
Astaga.
Aku dengar dia tertawa, lalu dia menengok ke arahku.
“Cukup!” bentak Jetta, mukanya merah padam.
Astaga, perempuan sekaku ini bekerja di rumah sakit jiwa?
Salah tempat banget.
“Kami enggak yakin berapa banyak orang yang udah dibunuh Torvald,” katanya sambil menjilat bibir, gugup.
Apaan lagi ini.
Makin lama makin parah.
“Ehm, jadi … tipe orang kayak apa yang dia bunuh?” tanyaku. “Please jangan cewek, atau yang rambutnya merah, atau siapa pun yang ada hubungannya sama aku.”
Fenella condong ke depan, dan baru saat itu aku sadar warna matanya merah terang, enggak wajar sama sekali.
“Torvald membunuh semua orang.”