Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir di Balik Pintu Kerja Sang CEO
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu, menerangi kamar bernuansa putih bersih tempat Aisha berbaring. Perlahan, kelopak mata Aisha bergerak. Rasa pening yang luar biasa langsung menyerang kepalanya saat ia mencoba membuka mata sepenuhnya.
Aisha mengerutkan kening. Pandangannya menyapu sekeliling. Langit-langit kamar ini begitu tinggi, dihiasi lampu kristal yang mewah. Ranjang yang ditidurinya sangat empuk, jauh berbeda dengan lantai semen halte bus atau tikar tipis di rumah kontrakannya dulu.
"Aku... di mana?" bisik Aisha, suaranya serak.
Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia merasakan ada sesuatu yang hangat dan berat di atas dadanya. Aisha menunduk dan seketika jantungnya berdesir hebat. Seorang bayi mungil berkulit bersih sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Mulut kecil bayi itu masih menempel di dadanya, menyusu dengan sangat tenang dalam tidurnya.
Air mata Aisha otomatis menetes. Sentuhan kulit bayi ini, aroma tubuhnya yang suci, dan rasa kosong di dadanya yang mendadak terisi penuh, membuat seluruh naluri keibuannya bergetar.
"Anakku...?" bisik Aisha penuh harap. Apakah suaminya berbohong? Apakah bayinya sebenarnya belum mati?
"Dia bukan anakmu, Nak."
Suara lembut Bi Asih memecah keheningan. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas air putih.
Aisha mendongak dengan tatapan bingung dan ketakutan. Ia refleks memeluk bayi itu lebih erat. "Bukan... bukan anakku? Lalu, saya di mana? Siapa bayi ini?"
Bi Asih menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan perlahan, ia menceritakan semuanya—bagaimana mereka menemukan Aisha pingsan di halte dengan baju basah karena ASI, dan bagaimana bayi Kael yang kritis mendadak selamat setelah menyusu pada Aisha tadi malam.
Mendengar cerita itu, harapan Aisha kembali pupus. Kenyataan pahit bahwa bayinya telah tiada kembali menghantam dadanya. Namun, saat ia menatap wajah damai bayi Kael, Aisha tidak bisa merasakan penolakan. Bayi ini membutuhkannya, sama seperti dirinya yang membutuhkan seorang anak untuk mengobati hancurnya hati.
"Sekarang, setelah kamu sudah sadar dan baikan, makanlah bubur ini dulu," kata Bi Asih lembut. "Tuan besar sudah menunggumu di ruang kerjanya. Beliau ingin bicara."
---
Satu jam kemudian, setelah membersihkan diri dan mengisi perutnya, Aisha berjalan mengekor di belakang Bi Asih. Langkah kakinya terasa berat dan gemetar saat menyusuri lorong-lorong mansion yang luar biasa megah. Rumah ini begitu luas, sunyi, dan dipenuhi dengan barang-barang antik yang memancarkan aura kekayaan yang mengintimidasi.
Bi Asih berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar berukir. Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari dalam, Bi Asih membukanya. "Masuklah, Nak. Tuan Adrian ada di dalam. Jangan takut, bicara saja dengan jujur."
Aisha mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Pintu di belakangnya tertutup rapat.
Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam dan cokelat tua. Di balik sebuah meja kerja marmer yang besar, duduk seorang pria dengan setelan jas formal hitam tanpa dasi. Lengan kemejanya digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang tegas. Pria itu adalah Adrian.
Aisha tetap berdiri di dekat pintu, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung wajah sang CEO yang memancarkan aura dingin dan berkuasa.
Adrian tidak langsung bicara. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat jemarinya, dan menatap Aisha dengan pandangan menyelidik yang tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita di depannya tampak sangat rapuh, kurus, dan menyimpan duka yang mendalam di matanya. Namun, ada ketulusan murni yang terpancar saat wanita ini menggendong anaknya tadi malam.
"Siapa namamu?" tanya Adrian, suaranya berat, bariton, dan tanpa ekspresi.
"A-Aisha, Tuan," jawab Aisha terbata-bata, meremas ujung bajunya sendiri.
"Aisha..." Adrian mengulang nama itu dengan pelan, seolah sedang menimbangnya. "Aku tidak suka berbelit-belit. Dokter mengatakan anakku hanya bisa bertahan hidup jika meminum air susumu. Kamu sudah menyelamatkan nyawanya tadi malam, dan aku berterima kasih untuk itu."
Adrian membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah dokumen tebal, lalu meletatkannya di atas meja.
"Aku tahu kamu sedang dalam kesulitan. Wanita yang luntang-lantung di jalanan setelah melahirkan pasti punya sejarah yang kelam. Tapi aku tidak peduli dengan masa lalumu," lanjut Adrian dengan nada dingin yang menusuk. "Yang aku peduli hanya kelangsungan hidup putraku."
Adrian mengetukkan jarinya di atas dokumen itu. "Di depanmu adalah kontrak kerja sebagai **Ibu Susu** rahasia untuk putraku, Kael. Aku akan memberikanmu tempat tinggal mewah, fasilitas terbaik, perlindungan, dan uang bulanan yang jumlahnya tidak akan pernah bisa kamu hasilkan seumur hidupmu."
Aisha mendongak perlahan, menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Uang...?"
"Ya, uang. Tapi, tentu saja ada syaratnya," potong Adrian tajam. Tatapan matanya mengunci manik mata Aisha. "Pertama, kamu harus tinggal di paviliun belakang rumah ini dan tidak boleh keluar tanpa izin. Kedua, identitasmu sebagai ibu susu harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik dan media. Dan yang ketiga..."
Adrian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Aisha hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah. Aura intimidasi pria itu membuat Aisha refleks mundur satu langkah.
"...jangan pernah melibatkan emosi pribadimu. Jangan pernah menganggap dirimu sebagai ibu dari anakku. Kamu di sini hanya pekerja yang dibayar untuk memberikan air susumu. Begitu masa menyusui Kael selesai, kamu harus pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun. Paham?"
Mendengar syarat terakhir itu, hati Aisha mencelos. Menjadi ibu susu tanpa boleh mencintai bayi yang disusuinya? Itu adalah hal yang kejam bagi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.
Namun, Aisha tersadar. Jika ia keluar dari rumah ini, ia tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang, dan tidak punya alasan untuk hidup. Di rumah ini, setidaknya ia bisa memeluk seorang bayi yang sangat membutuhkannya.
Aisha menatap mata dingin Adrian dengan keberanian yang mendadak muncul dari rasa keibuannya. "Baik, Tuan. Saya menerima kontrak ini. Bukan karena uang Anda... tapi karena bayi itu membutuhkan saya, dan saya... juga membutuhkannya."
Adrian tertegun sejenak mendengar jawaban Aisha. Sesaat, ia melihat kilau keteguhan yang luar biasa di mata wanita rapuh ini. Namun, Adrian dengan cepat menguasai dirinya kembali dan mendengus dingin.
"Bagus. Tanda tangani kontraknya, dan mulai detik ini, hidupmu adalah milik putraku."
---
Bersambung