NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Megan yang duduk di samping Gavin ikut mengangguk-angguk kecil, memasang wajah pura-pura prihatin namun matanya berkilat senang melihat Eliza dipojokkan, sekaligus curi-curi pandang pada Faas yang duduk tegak dengan ekspresi sedingin es.

Mendengar hinaan yang bertubi-tubi tentang asal-usulnya dan ibu kandungnya, Eliza tidak setetes pun meneteskan air mata. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Jihan dan Jenita dengan sorot mata yang begitu tenang namun tajam.

"Tante Jihan, Jenita... Anda berdua benar," jawab Eliza, suaranya mengalun tenang namun sarat akan penekanan yang berwibawa di ruang makan yang luas itu. "Ibu kandung saya memang melakukan kesalahan di masa lalu, dan saat ini beliau sedang menebus dosanya dengan terhormat di dalam penjara. Saya tidak pernah malu mengakui dari mana saya berasal, seorang ibu pasti menginginkan anaknya bahagia, namun yang ibu saya lakukan memang salah."

Eliza menjeda kalimatnya, senyum tipis yang anggun terukir di wajah cantiknya. "Tapi jika bicara tentang takdir... Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. Hari ini saya berdiri di sini bukan hanya sebagai bagian dari keluarga Daneswara, melainkan sebagai istri sah dari Faas Abrari. Jadi, mulailah membiasakan diri melihat saya di rumah ini, karena posisi saya di sini sah secara hukum dan agama."

BRAK!

"Cukup!" Jihan menggebrak meja, wajahnya merah padam karena skakmat dari Eliza yang sama sekali tidak takut pada sindirannya.

Gavin yang sejak tadi diam, terus memperhatikan bagaimana Eliza mempertahankan harga dirinya dengan begitu memikat. Binar di mata Gavin semakin intens, memicu rasa iri yang mendalam di hati Megan yang duduk di sampingnya.

Sementara Faas, yang sejak tadi diam mengamati, perlahan meletakkan garpunya dengan denting yang pelan namun sanggup membungkam seluruh ruangan. Atmosfer di sekitar Faas mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi, sepasang mata elangnya perlahan menatap Jihan, Jenita, lalu beralih mengunci tatapan Gavin yang sedang menatap istrinya.

"Siapa pun yang berani mengusik istri saya lagi di rumah ini, bahkan hanya lewat kata-kata... maka dia harus bersiap menghadapi saya," ucap Faas, suaranya sangat rendah, dingin, dan mutlak tanpa bantahan.

Atmosfer di meja makan malam itu semakin memanas. Bukannya ciut mendengar ancaman dingin dari Faas, Jihan dan Jenita justru kompak menyunggingkan senyum remeh. Bagi mereka, kata-kata Faas tidak lebih dari sekadar gertakan sambal dari seorang anak tiri yang tidak punya kuasa apa-apa di mansion ini.

"Menghadapi kamu? Sadar diri,Kak Faas!" Jenita mendengus kencang, melipat tangan di dadanya seraya menatap Faas dengan pandangan paling merendahkan. "Kakak pikir Kakak siapa di rumah ini? Cuma numpang hidup! Di luar sana kakak itu cuma pengangguran yang gak punya masa depan. Gak malu apa, nikahin anak Daneswara tapi modal cuma numpang di rumah bokap?"

Jihan tertawa renyah, menimpali ucapan putrinya dengan nada yang tak kalah menyengat. "Betul kata Jenita. Eliza, kamu bangga sekali dibela oleh laki-laki ini? Asal kamu tahu ya, suami yang kamu banggakan ini sepeser pun tidak punya saham di Abrari Group. Dia tidak bekerja, tidak punya penghasilan, dan hidupnya hanya menjadi beban keluarga dan sekarang membawa beban lagi, jadi tambah banyak pengeluaran anggaran rumah tangga. Kasihan sekali, keluar dari rumah mewah Daneswara, kamu malah dapat suami tidak berguna yang cuma bisa mengandalkan otot dan modal tampang!"

Husen yang berada di ujung meja hanya menghela napas berat, tidak berniat menengahi karena di dalam lubuk hatinya, ia juga masih menganggap Faas belum membuktikan apa-apa di dunia bisnis.

Mendapat hinaan sekasar itu di hadapan istrinya, Faas hanya diam. Sesuai dengan karakternya yang penyabar dan penuh perhitungan, ia tidak membalas sepatah kata pun. Raut wajah Arab-nya tetap datar tanpa riak emosi. Namun, di bawah meja, jemari Faas mengusap punggung tangan Eliza, seolah memberi kode agar istrinya tidak perlu mengotori tangan.

Namun, Eliza bukanlah wanita yang akan diam saja saat suaminya diinjak-injak. Rasa hormat dan cintanya pada Faas membuat keberaniannya mendadak berlipat ganda.

"Tante Jihan, Jenita," potong Eliza, suaranya naik satu oktav, memotong tawa ibu dan anak itu hingga terhenti seketika. "Uang dan jabatan di dunia ini bisa dicari, dan itu sama sekali bukan takaran kemuliaan seorang pria di mata saya."

Eliza menatap Jihan dan Jenita bergantian dengan binar mata yang menyala, penuh keberanian tanpa rasa takut sedikit pun. "Kak Faas adalah suami saya. Saya yang memilihnya, dan saya tahu betul bagaimana kualitas aslinya. Dia mungkin diam di rumah ini, tapi diamnya suami saya bukan karena dia lemah, melainkan karena dia masih menghargai Papanya. Berhentilah merendahkan orang lain hanya karena merasa di atas angin, karena roda kehidupan itu berputar sangat cepat."

Faas yang duduk di samping Eliza perlahan menarik kembali tangannya. Sepasang mata elangnya menatap sang istri dari samping dengan kilatan rasa bangga yang mendalam. Ia sengaja membiarkan Eliza melepaskan argumennya, menikmati bagaimana wanita berhijab yang anggun ini bisa berubah menjadi singa betina yang begitu tangguh saat membela kehormatan suaminya.

Di seberang meja, Gavin yang menyaksikan pembelaan berapi-api dari Eliza mendadak merasa dadanya bergemuruh hebat. Sepasang matanya menatap Eliza tanpa berkedip, semakin terpesona dengan keberanian dan kesetiaan gadis itu. "Kenapa wanita sehebat dan seberani dia harus menjadi milik Faas?" batin Gavin egois, ada rasa iri dan gairah yang semakin tersulut di dalam dirinya.

Melihat fokus Gavin yang sepenuhnya tersedot oleh Eliza, Megan yang duduk di sampingnya mulai merasa muak dan tersisih. Rasa irinya pada Eliza yang berstatus istri sah dan selalu dibela oleh Faas yang berwajah sempurna membuat Megan memutar otak. Ia tidak sudi malam ini panggungnya direbut oleh Eliza.

"Aww... Mas... p-perutku... aduh, sakit banget," rintih Megan tiba-tiba, memecah keributan di meja makan.

Megan sengaja menjatuhkan garpunya hingga berdenting keras, lalu kedua tangannya mencengkeram perutnya sendiri dengan wajah yang dibuat sepucat dan sekesakitan mungkin. "Mas Gavin... perutku kram banget. Sakit... tolongin aku..." Megan merengek manja, sengaja menyandarkan tubuhnya ke bahu Gavin demi mencari perhatian seluruh orang di meja makan, sekaligus ingin memutus pandangan memuja Gavin ke arah Eliza.

Jihan yang melihat menantu kesayangannya kesakitan langsung panik. "Gavin! Itu Megan kenapa? Cepat urus istrimu, jangan sampai kandungan cucu Mama kenapa-napa gara-gara keributan ini!"

Gavin mengembuskan napas pendek dengan wajah yang mendadak kembali dingin dan terpaksa. "Ayo, aku antar ke kamar," ucap Gavin ketus, merangkul Megan dengan malas dan membimbingnya berdiri. Sebelum melangkah pergi, Gavin sempat melirik Eliza sekali lagi dengan tatapan emosi tertahan, yang langsung ditangkap oleh tatapan peringatan yang tajam dari Faas.

Keributan di meja makan malam itu akhirnya mereda dengan bubarnya formasi makan malam. Jihan dan Jenita pergi dengan wajah dongkol karena gagal membuat Eliza menangis, sementara Faas dan Eliza kembali ke kamar mereka dengan kemenangan mental yang mutlak. Ketegangan baru saja dimulai, dan Eliza telah membuktikan bahwa dirinya bukan mangsa yang mudah untuk ditundukkan.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!