Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Seminggu setelah ulang tahun Alya, suasana sekolah kembali normal.
Tugas mulai menumpuk, ulangan harian datang bergantian, dan semua siswa sibuk mengejar nilai menjelang akhir semester.
Meski begitu, kebiasaan kecil antara Alya dan Raka tidak berubah.
Setiap pagi mereka saling menyapa.
Saat jam istirahat, kalau sempat mereka makan di kantin bersama Nadya dan Dion.
Dan hampir setiap malam, selalu ada obrolan singkat di chat, meski hanya saling mengirim meme atau mengeluh soal PR.
Suatu pagi, Alya datang lebih awal karena harus mencetak laporan di ruang komputer.
Ketika berjalan melewati lorong kelas sebelas, ia melihat Raka sedang berbicara dengan seorang siswi yang tidak dikenalnya.
Perempuan itu berambut pendek dan mengenakan pin OSIS di seragamnya.
Mereka terlihat cukup akrab.
Bahkan beberapa kali Raka tertawa mendengar cerita dari siswi itu.
Alya yang awalnya ingin menyapa malah mengurungkan niat.
“Paling lagi ngobrol soal kegiatan sekolah,” pikirnya.
Ia melanjutkan langkah menuju ruang komputer.
Namun entah kenapa, bayangan itu terus teringat sampai pelajaran dimulai.
---
Saat istirahat, Raka datang ke kelas Alya seperti biasa.
“Lya, ke kantin?”
Alya menutup bukunya.
“Duluan aja.”
“Kenapa?”
“Masih ada yang dikerjain.”
“Serius?”
“Iya.”
Padahal sebenarnya tugas itu bisa dikerjakan nanti.
Raka mengangguk pelan.
“Oke deh.”
Ia pergi bersama Dion.
Dari balik jendela kelas, Alya melihat mereka berjalan sambil bercanda.
Sesaat kemudian, siswi yang tadi pagi ditemuinya ikut bergabung.
Mereka bertiga mengobrol sebentar sebelum masuk ke kantin.
Alya menghela napas pelan.
Tanpa sadar, semangatnya untuk makan siang hilang.
---
Nadya yang baru kembali dari koperasi langsung menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
“Lo kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Dari tadi melamun.”
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Alya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bercerita.
“Tadi pagi gue lihat Raka ngobrol sama cewek.”
Nadya menatapnya beberapa detik.
“Terus?”
“Ya… nggak apa-apa.”
“Tapi kepikiran?”
Alya tidak menjawab.
Jawaban itu sudah terlihat dari wajahnya.
Nadya tersenyum tipis.
“Namanya juga punya teman.”
“Iya sih.”
“Kalau lo aja boleh ngobrol sama Arvin, masa Raka nggak boleh ngobrol sama orang lain?”
Kalimat itu membuat Alya tersadar.
Benar juga.
Beberapa minggu lalu Raka sempat cemburu karena Arvin.
Sekarang justru ia yang merasakan hal serupa.
“Gue jadi aneh ya?”
“Sedikit.”
Mereka berdua tertawa pelan.
---
Sore harinya, sekolah mengadakan rapat singkat untuk persiapan lomba antarkelas.
Alya datang lebih dulu ke aula.
Saat sedang mencari tempat duduk, seseorang memanggilnya.
“Alya!”
Ternyata siswi yang tadi pagi ia lihat bersama Raka.
“Kenalin, gue Sinta. Dari OSIS.”
“Oh, hai.”
Sinta tersenyum ramah.
“Lo yang sering motret acara sekolah, kan?”
“Iya.”
“Gue mau minta bantuan dokumentasi buat acara bulan depan. Raka yang nyaranin buat ngajak lo.”
Alya sedikit terkejut.
“Raka?”
“Iya. Katanya hasil foto lo bagus dan enak diajak kerja sama.”
Belum sempat Alya menjawab, Raka datang membawa beberapa map.
“Nah, ketemu juga.”
Ia meletakkan map di meja lalu menoleh ke Alya.
“Maaf ya, tadi belum sempat cerita. Sinta lagi nyari tim dokumentasi.”
Alya mengangguk pelan.
“Oh… jadi kalian lagi bahas acara?”
“Iya.”
“Kirain…”
“Kirain apa?”
Alya cepat-cepat menggeleng.
“Nggak jadi.”
Raka memperhatikan wajah Alya beberapa detik, lalu senyum jahilnya muncul.
“Lya.”
“Hm?”
“Lo cemburu ya?”
Alya langsung membelalakkan mata.
“Apaan sih!”
“Kan muka lo tadi beda.”
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Raka tertawa kecil.
“Tenang aja.”
“Tenang soal apa?”
“Gue cuma ngobrol soal kerjaan.”
Pipi Alya mulai terasa hangat.
Untung rapat segera dimulai sehingga pembicaraan mereka terhenti.
---
Setelah rapat selesai, mereka berjalan keluar aula bersama.
Langit sudah mulai mendung.
Angin bertiup cukup kencang hingga beberapa daun kering berterbangan di halaman sekolah.
Raka berjalan di samping Alya sambil memasukkan tangan ke saku.
“Tadi beneran cemburu?”
Alya menghela napas.
“Sedikit.”
“Nah, akhirnya jujur.”
“Soalnya gue lihat kalian ketawa-tawa.”
Raka mengangguk mengerti.
“Padahal dia lagi cerita lucu soal acara OSIS.”
“Hm.”
“Lagian, kalau ada apa-apa pasti gue bilang ke lo.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat hati Alya tenang.
Ia tersenyum tipis.
“Maaf ya.”
“Kenapa minta maaf?”
“Udah mikir yang aneh-aneh.”
“Gapapa.”
Raka malah tersenyum lebih lebar.
“Berarti sekarang impas.”
“Impas?”
“Dulu gue cemburu sama Arvin.”
Alya tertawa kecil.
“Iya juga.”
Mereka berdua saling pandang, lalu sama-sama tertawa.
Tidak ada lagi rasa canggung.
Tidak ada lagi prasangka.
Yang tersisa hanya perasaan lega karena mau saling jujur.
Saat mereka sampai di gerbang sekolah, hujan mulai turun perlahan.
Raka membuka payung yang selalu ia simpan di tas.
“Bareng sampai depan jalan?”
Alya mengangguk.
“Boleh.”
Di bawah payung yang tidak terlalu besar itu, mereka berjalan berdampingan sambil menghindari genangan air.
Tak banyak yang dibicarakan.
Namun sesekali tangan mereka hampir bersentuhan saat langkah mereka menyesuaikan ruang yang sempit.
Alya menatap hujan yang turun di depan mata.
Lalu diam-diam ia tersenyum.
Kadang, salah paham memang bisa membuat hati gelisah.
Tapi kalau diselesaikan dengan jujur, justru bisa membuat dua orang saling memahami lebih dalam.
Dan hari itu, Alya mulai yakin bahwa hubungannya dengan Raka bukan lagi sekadar pertemanan biasa.