⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Rubah Membuat Ulah
Ruangan itu memancarkan kemegahan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh istana raja manusia mana pun. Tujuh singgasana menjulang membentuk setengah lingkaran, masing-masing dihuni oleh sosok dengan aura ilahi yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya bergetar. Di tengah-tengah, berdiri seorang gadis berambut biru panjang tergerai hingga menyentuh lantai marmer putih bercahaya. Kesembilan ekornya dengan perpaduan biru dan putih bergerak-gerak gelisah, mencerminkan situasi yang sama sekali tidak nyaman.
Lucy, Dewi Rubah, berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya yang sebiru lautan menatap satu per satu saudara-saudaranya dengan ekspresi bosan yang nyaris tidak disembunyikan. Bukan pemandangan baru baginya. Sudah entah ke berapa kali dia dipanggil menghadap hanya karena laporan-laporan menyebalkan dari para pengamat alam manusia.
"Lucy," suara berat itu menggema, membuat seluruh ruangan berhenti bergetar sejenak.
Kakak pertama, sang penguasa dunia dan dewa tertinggi yang bahkan tidak memiliki nama, hanya dipanggil dengan sebutan Kakak Pertama atau Tetua Agung, menatapnya dari singgasana tertinggi. Mata abu-abunya seperti badai yang siap menerjang. Rambut peraknya yang panjang diikat setengah ke belakang, menampilkan wajah tegas yang diukir oleh ribuan tahun kebijaksanaan sekaligus kekejaman.
Lucy mendesah pelan. "Ada apa lagi, Kakak Pertama? Aku sedang sibuk, tahu."
"Sibuk?" Suara itu kini mengandung nada yang lebih rendah, lebih berbahaya. "Sibuk bergaul dengan manusia laki-laki? Sibuk mengisap sensasi kehidupan mereka?"
Di singgasana ketiga, kakak perempuan mereka yaitu Dewi Kecantikan dan Kekayaan menghela napas. Rambut emasnya berkilauan bahkan tanpa cahaya. "Lucy, kau tidak bisa terus seperti ini. Sudah tiga kali dalam satu bulan terakhir kau dilaporkan."
"Tiga kali?" Lucy mengangkat alis, bibirnya membentuk senyum kecil yang centil. "Kupikir lebih dari itu. Apa para pengamat itu kurang kerjaan sampai menghitung semua urusanku?"
Kakak keempat Dewi Keberuntungan menutup mulutnya, menahan tawa. Tapi begitu Kakak Pertama melirik, dia langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk memainkan untaian benang keberuntungan di tangannya. Kakak kelima, Dewa Neraka yang berwajah dingin dengan rambut hitam legam, hanya memutar bola matanya malas. Kakak keenam, Dewa Surga dengan postur anggun bersayap putih, menggeleng pelan. Sementara kakak ketujuh Dewi Kesialan sibuk menggerutu karena tanpa sengaja menjatuhkan cangkir tehnya sendiri.
Hanya kakak kedua, Dewa Penyembuhan dengan rambut hijau lembutnya, yang menatap Lucy dengan kekhawatiran tulus. Tapi mulutnya tetap terkatup rapat. Tidak ada yang berani bicara ketika Kakak Pertama sudah mengeluarkan suara.
"Kau tidak menyangkalnya," kata Kakak Pertama, lebih merupakan pernyataan daripada pertanyaan.
Lucy mengibaskan ekornya. "Kenapa aku harus menyangkal? Memangnya siapa yang dirugikan? Mereka para manusia laki-laki itu, mereka bahagia. Aku juga bahagia. Saling menguntungkan, bukan?"
"Harga dari 'kebahagiaan' itu adalah sensasi kehidupan mereka yang kau serap!" Suara Kakak Pertama meninggi, menyebabkan beberapa lilin ilahi di sudut ruangan padam seketika. "Kau tahu itu melanggar aturan! Interaksi dengan manusia boleh, tapi menyerap esensi kehidupan mereka untuk memuaskan kelaparanmu, itu sudah melampaui batas!"
Lucy memutar matanya sebuah gerakan kecil yang sangat tidak sopan dan sangat sengaja dia lakukan. "Ah, jadi aturannya boleh main-main, tapi tidak boleh makan? Itu seperti menyuruhku memasak tapi tidak boleh mencicipi. Kejam sekali."
Kakak ketiga mendesis, "Lucy, jagalah mulutmu."
"Apa? Aku hanya jujur." Lucy mengangkat bahu, gerakan yang membuat rambut birunya bergoyang anggun meskipun situasinya sama sekali tidak mendukung. "Lagipula, Kakak Pertama, kau sendiri yang memberiku sifat ini. Aku gabungan dari Kakak Ketujuh, Keempat, dan Ketiga. Aku membawa kesialan, keberuntungan, dan kecantikan. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik pada manusia? Mereka makhluk yang paling menarik di seluruh ciptaan!"
"Itu bukan alasan."
"Lalu apa? Haruskah aku duduk diam di alam dewa-dewi sambil minum teh dan melihat bunga bermekaran? Membosankan." Lucy mendengus. "Aku bukan Kakak Keenam yang bisa betah berlama-lama di surga."
Kakak keenam Dewa Surga menghela napas panjang. "Aku tidak ikut campur dalam masalah ini, Lucy. Jangan menyeretku."
"Tentu saja kau tidak akan ikut campur." Lucy menatapnya dengan seringai kecil. "Kalian semua tidak pernah ikut campur. Kalian hanya akan duduk di sana, mengangguk-angguk seperti burung merpati, lalu memohon pada Kakak Pertama agar hukumannya tidak terlalu berat untukku. Itu pun kalau kalian berani bicara."
Keheningan menyelimuti ruangan. Perkataan Lucy terlalu tepat sasaran.
Kakak Pertama bangkit dari singgasananya. Gerakan itu sendiri sudah cukup untuk membuat lantai marmer bergetar. Langkahnya berat, terukur, saat dia berjalan mendekati Lucy. Dengan tinggi hampir dua meter, dia menjulang di atas tubuh mungil adik bungsunya.
"Lucy, Dewi Rubah," suaranya kini pelan, tapi setiap katanya menusuk seperti belati. "Karena pelanggaran berulang yang kau lakukan, aku menjatuhkan hukuman: kau akan dikurung di Kastil Penghukuman selama sepuluh abad waktu alam dewa-dewi."
Mata Lucy membelalak. Untuk pertama kalinya, ekspresi bosannya retak. "Sepuluh abad?! Itu... itu sama dengan seribu tahun waktu manusia! Aku bisa mati kebosanan di sana!"
"Itulah intinya," jawab Kakak Pertama dingin.
Lucy menoleh cepat ke arah saudara-saudaranya. "Kakak Kedua! Kakak Kedua, katakan sesuatu! Bukankah kau dewa penyembuhan? Sembuhkanlah sifat Kakak Pertama yang kejam ini!"
Kakak kedua membuka mulut, tapi di bawah tatapan tajam Kakak Pertama, kata-katanya lenyap. Dia hanya bisa menatap Lucy dengan iba dan menggeleng pelan.
"Kakak Ketiga!" Lucy beralih. "Kita sama-sama cantik! Masa kau tega melihat aku terkurung? Nanti kulitku bisa kusam di tempat gelap!"
Kakak ketiga menghindari tatapannya, pura-pura memperbaiki lipatan gaun emasnya yang sebenarnya sudah sempurna.
"Kakak Keempat! Aku bawakan keberuntungan untukmu, ingat? Tanpa aku, kau akan bosan!"
Kakak keempat menggigit bibir, air mata nyaris menetes, tapi dia tetap tidak bicara.
"Kakak Kelima! Nerakamu pasti lebih menarik dari kastil itu! Biarkan aku tinggal di nerakamu saja kalau begitu!"
Kakak kelima Dewa Neraka hanya mengangkat sebelah alisnya. "Nerakaku bukan tempat wisata, Lucy."
"Kakak Keenam!"
"Aku akan mendoakanmu," jawab Kakak Keenam cepat, hampir seperti bergumam.
"Kakak Ketujuh! Ini semua salahmu! Kalau kau tidak memberiku sifat kesialan, aku tidak akan seperti ini!"
Kakak ketujuh, yang baru saja berhasil mengambil cangkir tehnya, langsung menjatuhkannya lagi begitu mendengar tuduhan itu. "A-apa? Kenapa jadi salahku?!"
"SUDAH CUKUP!"
Bentakan Kakak Pertama membuat seluruh ruangan berguncang. Retakan kecil muncul di meja marmer di depannya. Kakak-kakak Lucy langsung membeku, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Kakak Pertama mengangkat tangannya. Dari bayangan di sudut ruangan, muncul seekor kucing hitam besar dengan mata kuning menyala. Kucing itu berjalan dengan anggun, ekornya terangkat tinggi, dan di lehernya tergantung sebuah liontin emas tanda bahwa dia adalah kucing penjaga Kastil Penghukuman.
"Bawa dia," perintah Kakak Pertama.
Lucy menatap kucing itu, lalu kembali ke saudara-saudaranya. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya tatapan iba dan doa-doa diam yang terpancar dari mereka. Bahkan dalam keheningan, Lucy bisa merasakannya, tatapan kakak-kakaknya hanya bisa berdoa untuk keselamatannya, tidak lebih.
Kucing penjaga itu melangkah mendekat dan, tanpa suara, memberi isyarat agar Lucy mengikutinya.
Dengan langkah gontai yang dibuat-buat dramatis, Lucy mengikuti kucing hitam itu keluar dari ruang pengadilan. Pintu besar di belakangnya tertutup dengan suara berat, meninggalkan enam dewa-dewi yang masih membeku di singgasana masing-masing.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang berani.