NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Rahasia Sepuluh Bulan

​Udara Minggu pagi terasa cukup sejuk di kulit. Berjalan kaki sebentar di luar rumah bukan hanya pilihan yang baik untuk melancarkan peredaran darahnya yang kian melambat, tetapi juga sebuah upaya yang Alden harap bisa membantu menenangkan badai di dalam pikirannya yang tengah kacau balau.

​Alden melangkah keluar melewati pintu gerbang rumahnya, menyusuri jalan setapak beraspal halus di lingkungan perumahan yang tenang itu.

Ia sengaja membiarkan langkah kakinya berjalan perlahan, menikmati setiap sudut pemandangan yang kini terasa sedikit berbeda karena dimakan waktu, namun tetap menyisakan rasa akrab di hati.

Pohon-pohon besar yang dulu ia lihat saat masih remaja kini tumbuh semakin rimbun dan menjulang tinggi, membuat suasana sekitar tampak semakin asri dan menyejukkan mata yang lelah.

​Di sepanjang jalan, ia berpapasan dengan beberapa warga kompleks yang sedang berolahraga pagi.

Ada yang berlari kecil dengan peluh mengguyur pakaian, ada yang berjalan santai berpasangan, dan ada pula yang sibuk menyiram tanaman hias di halaman rumah masing-masing.

Beberapa dari mereka sempat menoleh dan melemparkan senyum ramah saat melihat Alden melintas, meski tidak banyak yang benar-benar mengenali sosok pemuda kurus itu, pemuda yang sudah sembilan tahun lamanya meninggalkan tempat tersebut demi melarikan diri ke Australia.

​Di tengah ketenangan visual yang menyelimutinya, pikiran Alden justru menolak diam.

Ingatannya kembali melayang pada percakapan krusial dengan Dokter Handoko sehari sebelumnya.

Sejak detik itu, ada satu kenyataan pahit yang kini menjadi poros baru dalam hidupnya, sebuah vonis mati yang harus ia sandang dengan kepala tegak.

Kekuatannya selama ini adalah Papa dan Ibu tirinya, tanpa mereka mungkin ia tak akan bisa bertahan sejauh ini.

Namun ia membulatkan tekad untuk tidak menjadi beban yang merepotkan. Ia menolak membiarkan sisa waktunya diisi oleh tangisan yang menghitung mundur kematiannya. Ia ingin menjalani sisa umur yang singkat ini dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan bakti dan tawa, bukan dengan keluhan yang membuat orang tuanya sedih.

Sementara bagi orang luar, tetangga, teman lama, atau siapa pun di luar sana, Alden bersumpah akan mengunci rapat-rapat rahasia medisnya. Ia terlalu menyayangi harga dirinya, ia tidak mau sisa hidupnya dipenuhi oleh tatapan iba atau belas kasihan dari dunia luar.

​Tatapannya perlahan jatuh pada kedua tangannya sendiri. Dari luar, tangan itu masih terlihat cukup kuat dan sehat.

Tidak akan ada satu orang pun di kompleks ini yang menyangka bahwa di balik penampilan fisik yang tampak biasa-biasa saja itu, bagian dalam tubuhnya sedang berperang hebat melawan sel kanker yang ganas, sesuatu yang perlahan tapi pasti merenggut seluruh kekuatannya sedikit demi sedikit.

​Alden tersenyum tipis menatap jemarinya. Sebuah senyuman yang lebih menyerupai kepasrahan dan penerimaan mutlak daripada sebuah kebahagiaan.

Ia tahu betul bahwa berpura-pura baik-baik saja di depan orang tua bukanlah hal yang mudah.

Akan ada hari-hari di mana rasa sakit fisik menjadi jauh lebih kuat dan brutal daripada kemauannya untuk sekadar menyunggingkan senyum.

Akan ada saat di mana tubuhnya benar-benar kolaps dan tidak lagi bisa diajak bekerja sama. Cepat atau lambat, semua topeng yang selama ini ia sembunyikan pasti akan terbongkar dengan sendirinya.

​Namun, hingga hari penghakiman itu tiba, Alden telah mengambil keputusan bulat.

Ia tidak ingin sisa waktunya yang berharga dipenuhi oleh tatapan iba, tangis histeris, atau penyesalan yang tidak ada habisnya dari orang-orang sekitar.

Ia ingin mengisi sisa napasnya dengan hal-hal yang berarti. Dengan tawa yang tulus. Dengan kenangan yang manis. Dengan kehadiran orang-orang yang ia cintai.

​Ia ingin dikenang sebagai Alden yang tetap bersemangat, tegap, dan kuat. Alden yang masih bisa membuat orang lain tersenyum meski jiwanya sendiri sedang berdarah-darah di medan juang.

Alden yang pada akhirnya berhasil berdamai dengan seluruh hitam-putih masa lalunya. Dan ketika waktunya benar-benar tiba untuk memejamkan mata nanti, ia berharap orang-orang yang ditinggalkannya akan lebih banyak mengingat fragmen kebahagiaan yang pernah ia berikan, daripada kesedihan mendalam saat kehilangannya.

​"Sepuluh bulan..." gumamnya sangat pelan, nyaris berupa bisikan lirih yang langsung tersapu angin pagi.

Matanya menatap lurus ke depan tanpa fokus yang jelas.

"Waktu yang sangat singkat... tapi harus cukup untuk melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya."

​Langkah kaki Alden akhirnya terhenti di sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Di sudut taman itu, sebuah bangku kayu tua yang warnanya mulai memudar masih berdiri dengan kokoh. Tempat itu adalah saksi sejarah remajanya; tempat yang dulu sering ia jadikan pelarian utama saat sedang marah, kecewa, atau frustrasi pada keadaan rumah.

​Alden mendudukkan tubuh ringkihnya di sana, membiarkan punggungnya bersandar pasrah pada sandaran bangku yang permukaannya terasa sedikit kasar dan dingin.

Ia menatap sekeliling dengan pandangan redup, mengamati beberapa anak kecil yang tertawa riang sambil bermain kejar-kejaran di atas rumput. Suara melengking dan tawa polos mereka seketika memecah keheningan pagi yang damai, menghadirkan kehangatan yang asing di dada Alden.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!