NovelToon NovelToon
REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Anime / Reinkarnasi
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.

Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 4: Penjaga Menara Kembar

Jalur kiri itu menanjak tajam, diapit oleh dinding batu tinggi yang berlumut hitam. Udara di sini terasa berat, seolah setiap langkah harus melawan arus air yang deras. Kabut tidak lagi menyelimuti pandangan, melainkan menggantung di atas kepala seperti atap rendah yang bergerak perlahan ke belakang. Di bawah kaki, permukaan jalan beralih dari tanah keras menjadi ubin batu besar yang terukir pola berulang—lingkaran yang saling berpotongan, sama seperti yang terlihat di menara sebelumnya, namun kali ini ukirannya terasa lebih tajam dan mengancam.

“Pola ini bukan sekadar hiasan,” gumam Rey sambil menunduk sejenak mengamati ubin di bawah kakinya. “Setiap garis ini berfungsi sebagai saluran energi. Selama kita berjalan di sini, kita sedang berjalan di atas jaringan sihir yang hidup.”

“Berarti mereka bisa mengaktifkan jebakan kapan saja,” tambah Kaelan sambil memegang gagang pedangnya lebih erat. “Kita tidak bisa sembarangan melangkah.”

“Jangan ubah ritme langkah,” saran Sylfia, matanya bergerak cepat menyapu setiap sudut celah dinding. “Perubahan tiba-tiba bisa memicu respons. Ikuti aliran yang sudah ada, biarkan energi kita menyatu sebentar saja dengan aliran ini agar tidak dianggap sebagai benda asing seketika.”

Saran itu langsung diterapkan. Tim bergerak dengan irama yang seragam, tidak terburu-buru namun tidak lambat. Di kejauhan, suara langkah kaki lain terdengar—berirama, berat, dan berjumlah terbatas. Bukan gerakan acak seperti makhluk-makhluk sebelumnya, melainkan langkah yang penuh disiplin dan kepercayaan diri.

Akhirnya jalur itu melebar ke sebuah halaman luas yang terletak tepat di antara dua menara. Di tengah halaman itu tidak ada tempat bersembunyi—hanya hamparan batu terbuka yang diterangi cahaya samar dari langit yang kelabu. Dan di sana, tepat di tengah, berdiri dua sosok yang Rey lihat sebelumnya.

Mereka berdua memiliki penampilan yang hampir serupa: tinggi, berbadan tegap, kulit pucat tanpa noda, rambut panjang berwarna ungu gelap yang menjuntai ke punggung, dan mata yang bersinar tajam tanpa kelopak. Perbedaan utamanya ada pada senjata dan aura yang mereka pancarkan. Sosok di sebelah kiri memegang tongkat panjang berujung permata hitam yang berdenyut terus-menerus; aura yang dipancarkannya terasa dingin, menyusup ke tulang, dan membuat udara di sekitarnya bergetar pelan. Sosok di sebelah kanan menggenggam pedang panjang yang bilahnya hitam pekat tanpa kilau; aura yang keluar dari tubuhnya tajam dan menekan, seolah udara itu sendiri berubah menjadi benda padat yang siap menghantam.

“Jadi inilah yang dikirimkan untuk mengganggu ketenangan kami,” suara sosok yang memegang tongkat terdengar tenang namun penuh meremehkan, bergema di seluruh halaman tanpa butuh usaha keras. “Sudah lama tidak ada yang berani melangkah sejauh ini tanpa berbalik atau gila sebelum tiba.”

Valerius melangkah maju setengah langkah, posisinya sedikit ke depan melindungi anggota tim di belakangnya. Pedangnya sudah terhunus sepenuhnya, ujungnya sedikit menurun namun tetap siap bergerak ke segala arah. “Kami datang bukan untuk mengganggu, tapi untuk menghentikan apa yang kalian lakukan. Mengambil alih kekuatan alam bukanlah hak siapa pun.”

Sosok pemegang pedang tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. “Hak? Kata-kata lucu untuk makhluk yang lemah. Di sini hanya ada satu hukum: yang kuat berkuasa, yang lemah tunduk atau musnah.”

Saat itulah Rey merasakan sesuatu yang lain. Energi yang dimiliki kedua penjaga ini terhubung erat satu sama lain, bukan hanya sekadar bekerja sama. Ada ikatan yang jauh lebih dalam, seolah mereka adalah dua sisi dari satu koin yang sama persis. “Kalian bukan sekadar mitra,” ujar Rey lantang, menarik perhatian mereka. “Kalian diciptakan atau diubah secara bersamaan agar bisa mengoperasikan kedua pilar ini sebagai satu kesatuan.”

Sosok pemegang tongkat memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rey dengan lebih tajam. “Kau memiliki mata yang cukup tajam untuk makhluk fana. Tapi itu tidak akan mengubah nasib kalian. Namaku Voren, dan ini saudara seperjuanganku, Kaelix. Kami adalah Penjaga Ganda, dan kami bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu Tuan kami atau kekuatan yang sedang ia kumpulkan.”

“Tuan kalian…” ulang Sylfia pelan, menegaskan dugaan mereka. “Jadi ada seseorang di atas kalian yang mengatur semuanya.”

“Pengetahuan yang berlebihan justru memperpendek umur,” jawab Kaelix, pemegang pedang, dengan nada dingin. “Cukup itu saja yang akan kalian ketahui.”

Tanpa aba-aba lebih lanjut, Kaelix melesat maju. Kecepatannya luar biasa—hampir seketika ia menutup jarak puluhan meter di antara mereka. Serangannya tidak rumit, hanya satu tebasan lurus yang membawa gelombang energi hitam yang membelah udara.

“Pertahanan!” seru Valerius.

Kaelan dan Rina segera mengangkat perisai bersilang tepat di depan. Benturan itu menciptakan ledakan kecil yang menyebarkan debu batu ke segala arah. Kaelan dan Rina terdorong mundur beberapa langkah, kaki mereka tergesek di atas ubin hingga meninggalkan jejak dalam. Kekuatan serangan itu jauh melampaui makhluk apa pun yang mereka hadapi sebelumnya.

Sementara Kaelix sibuk menekan barisan depan, Voren tidak diam saja. Ia mengangkat tongkatnya, dan seketika bayangan di sekeliling halaman memanjang dan bergerak sendiri, menjalar ke arah kaki mereka seperti tali hidup yang ingin melilit.

“Jangan biarkan bayangan itu menyentuh kulit!” seru Rey sambil mengerahkan elemen cahaya. Sinar keemasan menyebar dari tubuhnya, membuat bayangan itu menjauh seolah terbakar. Namun Voren hanya tersenyum dingin dan mengubah arah sihirnya—daripada menyerang langsung, ia menciptakan pusaran angin kencang yang bercampur kabut tebal, menyulitkan penglihatan dan keseimbangan.

“Mereka saling melengkapi kelemahan satu sama lain,” teriak Rey di tengah angin yang menderu. “Satu menyerang fisik, satu lagi mengacaukan kondisi! Kita tidak bisa melawan mereka dengan cara biasa!”

Valerius berhasil membalikkan keadaan sedikit dengan gerakan memutar yang kuat, memaksa Kaelix mundur sejenak. “Kita harus memecah keterikatan mereka! Jika satu terganggu, yang lain akan kehilangan ritmenya!”

“Tapi bagaimana caranya?” Rina berteriak balik sambil menangkis serangan gelombang energi. “Jarak mereka selalu terjaga sama!”

Sylfia, yang selama ini mengamati pola gerakan mereka dari sisi agak belakang, menemukan celah kecil. “Lihat cara mereka melangkah! Jaraknya selalu sama, tapi arah pandang mereka berbeda! Voren selalu mengawasi sekeliling, Kaelix hanya fokus ke depan! Jika kita bisa memancing Kaelix bergerak lebih jauh dari titik tengah, keseimbangan sihir mereka akan terganggu!”

“Kalau begitu, aku yang akan memancingnya!” putus Rey. Ia segera mengalirkan energi angin ke kakinya, lalu melesat maju berhadapan langsung dengan Kaelix.

“Rey, hati-hati!” seru Sylfia, namun ia tidak berhenti—ia langsung mengarahkan perhatiannya ke Voren, melepaskan rentetan panah cahaya beruntun untuk menekan penyihir itu agar tidak bisa membantu pasangannya.

Kaelix menyambut kedatangan Rey dengan serangan bertubi-tubi. Setiap tebasannya membawa kekuatan yang cukup untuk membelah batu, namun Rey tidak berniat mengimbangi kekuatan itu dengan kekuatan yang sama. Ia bergerak lincah, menggunakan kelenturan tubuh dan kendali elemen tanah untuk menciptakan permukaan yang licin atau kasar secara tiba-tiba, memaksa Kaelix menyesuaikan langkah terus-menerus.

Di saat yang sama, Rey perlahan mengarahkan pertarungan itu menjauh dari posisi semula, menjauh dari tempat Voren berdiri. Awalnya perubahan itu kecil, namun Kaelix yang terbawa emosi karena lawannya terus menghindar tanpa terluka mulai tidak sadar bahwa ia semakin menjauh dari titik tengah halaman.

Voren yang menyadari perubahan itu langsung berusaha mendekat, namun serangan panah Sylfia dan gangguan sihir pendukung dari Valerius, Kaelan, dan Rina membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Setiap kali ia mencoba melangkah maju, ia harus membelah atau menangkis serangan yang datang bertubi-tubi.

“Kesempatan ini tidak akan bertahan lama!” seru Voren, suaranya terdengar sedikit tertekan. “Kau membuat kesalahan besar dengan memisahkan kami!”

“Kesalahan atau keberhasilan… kita lihat saja nanti!” balas Rey sambil menahan serangan berat Kaelix dengan gabungan perisai angin dan air. Saat mereka cukup jauh, Rey segera mengerahkan seluruh kekuatan yang tersimpan di dalam lempengan batu pemberian Penasihat Elara. Cahaya putih terang menyelimuti tubuhnya seketika, memancar keluar dalam bentuk gelombang kejut yang menyapu seluruh halaman.

Gelombang itu tidak berniat melukai, melainkan mengganggu resonansi energi yang terjalin di antara Voren dan Kaelix. Saat cahaya itu menyentuh mereka berdua, keduanya tersentak hebat seolah tersengat listrik. Aura yang tadinya menyatu sempurna tiba-tiba retak, membuat keseimbangan gerakan mereka terganggu seketika.

“Sekarang!” teriak Valerius.

Dengan serangan terpadu yang sudah direncanakan diam-diam, seluruh tim melancarkan serangan ke arah yang berbeda: sebagian menekan Voren yang kini kehilangan perlindungan jarak dekat, sebagian lagi memukul mundur Kaelix yang terhuyung sejenak.

Namun Penjaga Ganda itu tidak mudah menyerah. Voren mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dan kedua menara di belakang mereka seolah merespons. Energi ungu pekat turun menyambar ke halaman, membentuk selubung pelindung di sekeliling tubuh mereka. “Kalian mungkin bisa mengganggu kami sebentar,” ancam Voren, matanya menyala lebih terang. “Tapi kalian tidak bisa mengalahkan kami selamanya. Selama kedua menara ini berdiri, kekuatan kami tidak akan habis!”

Kaelix yang sudah pulih kembali menatap tajam ke arah Rey. “Dan kalian baru saja menyadari bagian paling berbahaya dari tempat ini. Kami tidak sendirian.”

Di saat yang sama, dari arah jalur kanan tempat Daren dan Lyra pergi, terdengar suara ledakan keras dan teriakan sinyal bahaya yang samar namun jelas terdengar.

“Daren! Lyra!” seru Rina cemas.

Rey menoleh sejenak, lalu kembali menatap kedua penjaga itu dengan kening berkerut. Ancaman ini ternyata lebih luas daripada yang mereka duga. “Mereka tidak hanya menjaga depan. Mereka mengatur jebakan di setiap sisi.”

Voren tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan penuh kemenangan. “Selamat datang di wilayah kami, Penjaga Keseimbangan. Dan selamat tinggal.”

1
SecretivePlotter
setidaknya bukan keluarga budak
SecretivePlotter
rey keisuke cucunya kakek sugiono
SecretivePlotter
authornya pasti 29 thun juga🤭
SecretivePlotter
bayi koek
SecretivePlotter
kalo lu mau sosialisasi juga gak bakal sepi
SecretivePlotter
nolep
anggita
ikut ng👍like, iklan aja, moga novelnya lancar jaya👌.
Nacha Adhi: 😍😍😍😍 makasih senior
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!