NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Aurora Quinn membeku seketika di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup begitu keras dan bertalu-talu, hingga ia merasa yakin semua orang yang berada di dalam ruangan pesta mewah itu bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Bagaimana tidak? Sosok wanita yang saat ini tengah berdiri tegak di hadapannya memancarkan pesona yang teramat elegan, berwibawa, namun di saat yang sama juga terasa begitu dingin menusuk tulang.

Victoria Kingsley.

Dia adalah ibu kandung dari Alexander Kingsley.

---

Sorot mata tajam milik Victoria perlahan bergerak turun. Mulai dari tatanan rambut Aurora, turun ke wajahnya, beralih meneliti gaun biru tua sederhana yang dikenakannya, hingga akhirnya kembali mengunci pandangan pada wajah Aurora sekali lagi.

Di bawah tatapan intimidasi sepihak itu, Aurora merasa seolah-olah dirinya sedang menjalani sesi wawancara untuk pekerjaan paling krusial dalam hidupnya. Dan sayangnya... ia merasa telah gagal total bahkan sebelum sempat memulainya.

"Selamat malam, Nyonya Kingsley," sapa Aurora, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk tersenyum sopan.

Victoria tidak membalas sapaan hangat itu, melainkan hanya memberikan anggukan kepala yang teramat tipis. Tidak ada seulas senyuman, tidak ada binar kehangatan, dan tidak ada keramahan sedikit pun yang terpancar dari wajah wanita berkuasa tersebut.

Alexander yang berdiri di samping Aurora langsung menyadari atmosfer tidak nyaman yang mulai merayap di antara mereka. "Mom, tolonglah. Aurora sedang sangat gugup saat ini," sela Alexander mencoba mencairkan ketegangan.

Victoria mengalihkan pandangannya, menatap sang putra dengan sorot mata dingin. "Aku sedang tidak bertanya kepadamu, Alexander," sahut Victoria tajam memotong pembicaraan.

Alexander hanya bisa menghela napas panjang mendengar respons sang ibu, sementara Aurora di tempatnya semakin dirundung rasa gugup yang menyiksa.

---

Beberapa detik keheningan berlalu, sebelum akhirnya Victoria kembali memfokuskan perhatiannya sepenuhnya kepada Aurora.

"Jadi, kamu menempuh pendidikan di kampus yang sama dengan Alexander?" tanya Victoria dengan nada suara yang terlampau datar.

Aurora mengangguk dengan gerakan kaku. "Iya, benar, Nyonya," jawab Aurora sopan.

"Jurusan apa yang kamu ambil?" desak Victoria lagi.

"Manajemen Bisnis," jawab Aurora jujur.

Victoria kembali mengangguk-angguk tipis mendengar jawaban tersebut. "Lalu, kudengar kamu juga berkuliah sambil bekerja paruh waktu di kafe kampus?" tanya Victoria menelisik.

Aurora sedikit tersentak kaget di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita kasta atas di depannya ini bahkan sudah mengetahui detail mengenai tempatnya bekerja mencari nafkah. "Iya, benar, Nyonya," jawab Aurora mengonfirmasi.

Victoria tampak terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu, namun ekspresi di wajah cantiknya tetap terasa sangat sulit untuk ditebak. Sayangnya, untaian kalimat berikutnya yang keluar dari belahan bibir wanita itu justru membuat Aurora merasa semakin tidak nyaman.

"Pasti tidak mudah menjalani hidup yang serba kekurangan seperti itu," cetus Victoria dengan nada tenang.

Aurora tahu bahwa secara harfiah, kalimat itu terdengar seperti ucapan simpati yang biasa. Namun entah mengapa, di dalam lubuk hatinya, Aurora bisa merasakan sebuah sindiran halus yang sengaja disisipkan di sana untuk mempertegas perbedaan kasta mereka.

---

Alexander tidak tinggal diam, ia langsung menyela dengan nada suara yang berangsur tegas. "Mom," panggil Alexander memperingatkan.

Victoria melirik sekilas ke arah putranya dengan tidak senang. "Apa?" tanya Victoria menantang.

"Kamu sudah membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu," tegas Alexander membela kekasihnya.

Victoria justru mengedikkan bahunya acuh tak acuh, tampak sama sekali tidak peduli dengan teguran putranya. "Aku tidak bermaksud apa-apa, Alexander. Aku hanya sedang mengobrol biasa dengannya," kilah Victoria membela diri.

Melihat perdebatan kecil yang mulai memanas itu, Aurora buru-buru mengulas sebuah senyuman tipis untuk menengahi. "Tidak apa-apa, Alex. Aku baik-baik saja, kok," bohong Aurora, padahal sebenarnya perasaannya saat ini sedang sangat tidak baik-baik saja.

---

Tidak lama setelah konfrontasi sepihak itu selesai, Victoria akhirnya pamit pergi untuk menyapa tamu-tamu penting lainnya yang baru saja tiba. Begitu punggung wanita itu menjauh, Aurora akhirnya bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan.

"Ya Tuhan... rasanya pasokan udaraku sempat hilang," keluh Aurora sembari memegangi dadanya.

Alexander tertawa kecil melihat ekspresi frustrasi kekasihnya. "Apakah ibuku memang seseram itu di matamu?" tanya Alexander menggoda.

Aurora menatap Alexander dengan pandangan tidak percaya. "Bagimu yang sudah terbiasa mungkin tidak, Alex. Tapi bagiku, tatapannya tadi benar-benar mengintimidasi," ketus Aurora jujur.

Alexander tersenyum hangat, lalu tanpa ragu ia kembali menggenggam jemari tangan Aurora dengan erat. "Maafkan aku, ya," ucap Alexander lembut.

Aurora menolehkan kepalanya bingung. "Hm? Maaf untuk apa?" tanya Aurora.

"Aku tahu ibuku kadang-kadang memang memiliki kepribadian yang cukup sulit untuk dihadapi," aku Alexander dengan nada tulus.

Aurora menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang jenaka. "Hanya kadang-kadang?" tanya Aurora menyindir balik.

Mendengar respons cerdas itu, Alexander langsung tertawa lepas. Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam yang menegangkan itu, Aurora akhirnya bisa ikut tertawa dengan lepas bersamanya.

---

Demi menghindari perhatian publik yang menyesakkan, mereka berdua memilih untuk berjalan perlahan menuju ke arah area taman belakang mansion. Suasana di luar sini terasa jauh lebih tenang, sejuk, dan damai jika dibandingkan dengan riuhnya ruang pesta di dalam aula utama.

Lampu-lampu tumblr berukuran kecil tampak menghiasi pepohonan hijau dengan indah, sementara alunan musik klasik terdengar mengalun samar-samar dari kejauhan. Aurora mengembuskan napas lega sembari merentangkan kedua tangannya. "Akhirnya aku bisa bernapas dengan bebas di sini," ujar Aurora riang.

Alexander tersenyum menatap gurat kebahagiaan di wajah gadis itu. "Kamu benar-benar baik-baik saja, Aurora?" tanya Alexander memastikan sekali lagi.

Aurora mengangguk mantap. "Iya, aku masih hidup dan bernyawa," canda Aurora terkekeh.

Alexander ikut tertawa mendengar seloroh tersebut. Namun, beberapa detik kemudian, guratan jenaka di wajah tampannya perlahan berangsur-angsur berubah menjadi jauh lebih serius. "Aurora," panggil Alexander dengan suara baritonnya yang rendah.

"Hm? Ada apa, Alex?" tanya Aurora menoleh.

"Aku tahu dengan sangat jelas bahwa keluargaku ini bukan lingkaran yang mudah untuk dimasuki," ujar Alexander membuka suara, sementara Aurora memilih diam untuk mendengarkan. "Tapi, ada satu hal penting yang sangat ingin aku pastikan agar kamu selalu mengingatnya."

"Hal penting apa?" tanya Aurora penasaran.

Alexander melangkah mendekat, lalu menatap lurus tepat ke dalam manik mata cokelat milik Aurora dengan ketegasan yang mutlak. "Aku sama sekali tidak peduli tentang siapa pun di dunia ini yang menyukai dirimu ataupun tidak, Aurora," ucap Alexander dengan nada penuh penekanan.

Aurora seketika membeku di posisinya mendengar pernyataan berani itu.

"Yang paling penting dalam hubungan ini adalah perasaanku sendiri," lanjut Alexander lagi, mengunci tatapan mereka agar Aurora bisa meresapi kesungguhannya. "Dan faktanya, aku sangat menyukaimu apa adanya."

Kedua belah pipi Aurora seketika merona merah akibat pernyataan cinta yang mendadak itu. Pria di hadapannya ini benar-benar selalu tahu bagaimana cara yang tepat untuk membuatnya salah tingkah dan kehilangan kata-kata.

---

Namun sayang, momen romantis yang baru saja tercipta di antara mereka tiba-tiba saja harus terganggu. Langkah kaki seseorang terdengar berjalan mendekat, menghampiri posisi mereka berdua di sudut taman.

Sosok itu adalah seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi. Meskipun gurat wajahnya memiliki tatapan mata yang teramat tajam khas seorang penguasa, namun senyuman yang terukir di bibirnya justru memancarkan kehangatan yang tulus.

Melihat kedatangan pria tua itu, seulas senyuman hormat langsung terbit di wajah Alexander. "Grandpa," sapa Alexander menyapa sang kakek.

Aurora tersentak kaget di tempatnya berdiri. Kakek kandung dari Alexander Kingsley?

Pria tua itu tertawa kecil, sebuah tawa berwibawa yang terdengar renyah. "Jadi... gadis cantik ini yang belakangan ini berhasil membuat cucuku yang kaku berubah menjadi lebih manusiawi?" tanya pria tua itu langsung dengan nada menggoda.

Alexander langsung menghela napas panjang, tampak pasrah dengan kelakuan kakeknya. "Kakek, tolong jangan mulai," tegur Alexander dengan wajah memerah.

Pria tua itu mengabaikan begitu saja protes dari cucunya, lalu ia melangkah maju untuk memfokuskan perhatiannya sepenuhnya kepada Aurora. "Namamu adalah Aurora, bukan?" tanya pria tua itu memastikan dengan ramah.

Aurora buru-buru menganggukkan kepalanya dengan gerakan hormat dan sopan. "Iya, benar. Nama saya Aurora, Tuan," jawab Aurora memperkenalkan diri.

Pria tua itu tersenyum lebar mendengarnya. "Bagus kalau begitu," komentar sang kakek pendek.

Aurora mengernyitkan dahinya bingung dengan respons tersebut. "Bagus untuk apa ya, Tuan?" tanya Aurora memberanikan diri untuk bertanya.

"Bagus, karena pada akhirnya seorang Alexander Kingsley memiliki selera yang waras dan memilih seorang manusia sejati sebagai kekasihnya, bukan robot bisnis," jawab pria tua itu diselingi tawa.

Alexander hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar sindiran frontal dari sang kakek, sementara Aurora tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya yang seketika pecah.

---

Pria tua itu kemudian mengulurkan sebelah tangannya ke depan dengan gestur yang sangat bersahabat. "Perkenalkan namaku, Arthur Kingsley," ucap Arthur memperkenalkan identitasnya secara resmi.

Aurora dengan segera menyambut jabatan tangan hangat itu dengan penuh rasa hormat. "Senang bisa bertemu langsung dengan Anda, Tuan Arthur," balas Aurora tulus.

Arthur mengangguk-angguk puas melihat kesopanan yang ditunjukkan oleh Aurora. Lalu, ia membisikkan sebuah kalimat yang sukses membuat Aurora terkejut setengah mati di tempatnya berdiri. "Jujur saja, aku jauh lebih menyukai kepribadianmu yang tulus ini, dibandingkan dengan semua deretan mantan kekasih cucuku yang penuh kepalsuan itu," ungkap Arthur blak-blakan tanpa saringan.

"Kakek! Jaga bicaramu!" tegur Alexander dengan nada panik, sementara wajahnya kini sudah memerah sempurna menahan malu.

Aurora tidak bisa lagi membendung rasa gelinya dan tertawa lepas menyaksikan interaksi unik tersebut, sementara Alexander tampak benar-benar memiliki keinginan untuk menghilang dari muka bumi saat itu juga akibat semua rahasia masa lalunya dibongkar habis-habisan.

---

Namun, tanpa ada yang menyadari, dari kejauhan di balik jendela kaca besar ruang pesta, Victoria Kingsley rupanya terus memperhatikan setiap gerak-gerik mereka di taman belakang sejak awal.

Dari posisinya berdiri, Victoria bisa melihat dengan jelas bagaimana sang mertua, Arthur Kingsley, tertawa lepas bersama Aurora. Ia juga menyaksikan bagaimana sang putra tunggal, Alexander, menyunggingkan senyuman hangat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mereka bertiga terlihat begitu serasi, seolah-olah mereka adalah sebuah kesatuan keluarga yang utuh.

Dan entah mengapa, pemandangan hangat itu justru membuat hati Victoria terasa semakin tidak nyaman dan bergejolak panas. Karena semakin lama dibiarkan... Aurora Quinn justru mulai berhasil mendapatkan penerimaan dari orang-orang yang paling krusial di dalam lingkaran hidup Alexander.

Dan Victoria Kingsley dipastikan sangat tidak menyukai arah perkembangan hubungan tersebut. Sama sekali tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!