NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

******

“Nona, Nona muda.”

Calista tersadar dari lamunannya. Tangannya yang semula menggantung di udara kembali meraih sendok makan yang tadi hendak ia gunakan. Dengan gerakan pelan, ia mencicipi sup hangat di hadapannya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, seolah pertanyaan kepala pelayan barusan tak pernah terdengar olehnya.

“Anda memotong rambut Anda, Nona?” Kepala pelayan itu kembali bertanya, kali ini nadanya sedikit ragu. Baru sekarang ia benar-benar menyadari perubahan penampilan Nona mudanya. Rambut panjang yang dulu selalu tergerai kini terpotong pendek sebahu, memberi kesan segar namun asing.

“Kenapa?” Calista mengangkat wajahnya perlahan. “Bagus, kan?”

“Bagus sekali, Nona,” jawab kepala pelayan cepat. “Anda terlihat sangat menawan dengan gaya baru ini. T-tapi… bukankah Anda tahu bahwa Tuan Damar dan Tuan Arkana lebih menyukai rambut panjang Anda?”

Ia mengucapkannya dengan sangat hati-hati. Nona muda di hadapannya kini terasa berbeda. Tak ada lagi teriakan histeris, tak ada amukan atau lemparan barang. Namun justru ketenangan itu membuat bulu kuduknya meremang— auranya dingin, mematikan, dan asing.

Calista menghentikan suapan supnya. Ia meneguk setengah teh tawar di sampingnya, lalu menoleh ke arah kepala pelayan.

“Lalu?” tanyanya datar.

“I-itu… bukankah selama ini Anda selalu merawat rambut anda agar tetap panjang demi menyenangkan Tuan Damar dan Tuan Arkana?”

Kening Calista berkerut tipis. Kepalanya terasa pening mendengar kalimat itu. Ia mendorong mangkuk sup menjauh— tanda jelas selera makannya menguap begitu saja.

“Sekarang tidak lagi,” ucapnya pelan namun tegas. “Apa gunanya aku menyibukkan diri menyenangkan orang lain, kalau aku sendiri tidak menyukainya?”

“T-tapi, Nona mu—”

“Sudahlah.” Calista berdiri. “Lupakan soal itu. Tolong bawakan aku semangkuk camilan tawar dan tablet. Bawakan ke taman belakang. Aku ingin duduk di sana.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi menuju taman belakang mansion.

“Baik, Nona,” jawab kepala pelayan patuh, meski hatinya dipenuhi tanda tanya.

******

Calista duduk di bangku kosong di taman belakang. Pemandangan di sana memanjakan mata—hamparan bunga terawat rapi, kolam kecil dengan air jernih, serta semilir angin yang membawa aroma wangi dedaunan. Untuk sesaat, dadanya terasa lebih ringan.

Tak lama kemudian, kepala pelayan datang membawa nampan kecil. Semangkuk biskuit tawar, juga segelas air putih, dan tablet yang diminta Calista. Ia meletakkannya dengan penuh kehati-hatian.

“Silakan, Nona.” ujar kepala pelayan dengan hati-hati, ia bisa merasakan suasana hati sang Nona muda tidak baik-baik saja soal pembicaraan mereka tadi di meja makan soal rambut baru Calista dan kedua suaminya.

“Terima kasih,” jawab Calista singkat.

Pupil mata kepala pelayan sedikit membesar. Ia hampir mengira pendengarannya salah. Kata terima kasih? Dari Nona muda yang terkenal angkuh dan dingin ini? Mengucapkan kata Terima kasih atau bahkan maaf pun tidak pernah sekalipun.

Apa ini efek benturan saat jatuh kemarin? pikirnya cemas. Namun ada rasa syukur bila Nona muda nya ini benar-benar akan rubah dengan sikap yang lebih baik.

“S-sama-sama, Nona. Kalau begitu saya pamit. Jika butuh sesuatu, panggil saja pelayan yang ada di sekitar taman.”

Calista mengangguk tanpa menoleh. Perhatiannya sudah tertuju pada layar tablet. Ia membuka berita, jari-jarinya bergerak cepat mencari kabar tentang kecelakaan pesawat—tentang tubuh aslinya.

“Belum ditemukan?” desahnya lirih. Napasnya terasa berat, ia membaca setiap baris berita dengan perasaan hampa.

“Malangnya nasibku…” gumamnya. “Orangtua sudah lama tiada. Keluarga dari pihak ayah dan ibu malah sibuk merebut harta yang sudah payah ku bangun tanpa memikirkan nasib tubuhku yang entah jatuh ke mana.”

Kenangan hidupnya sebagai Aruna berkelebat. Perusahaan yang ia bangun dari nol. Malam-malam tanpa tidur. Kepercayaan yang ia berikan pada orang-orang yang ternyata hanya menunggu kesempatan.

Kini semua itu mungkin telah berubah menjadi ajang perebutan.

Calista—atau lebih tepatnya, Aruna—tersenyum pahit.

“Bahkan setelah aku menghilang, yang mereka cari tetap uang,” gumamnya lirih. “Tidak ada yang benar-benar peduli apakah aku hidup atau mati.”

Ia mematikan layar tablet dan meletakkannya di samping piring berisikan cemilan biskuit yang belum tersentuh.

Pandangannya beralih ke kolam kecil, mengikuti riak air yang bergerak perlahan. Dadanya kosong, bukan sakit—hanya lelah.

Calista melamun. Tak memikirkan apa pun, otaknya benar-benar kosong. Mungkin karena terlalu lelah menjalani kehidupan yang begitu melelahkan dan ditambah lagi kini ia memasuki tubuh seorang wanita tempramen yang memiliki reputasi buruk.

Bahkan langkah kaki yang mendekat ke arahnya pun tak ia sadari.

“Sekar.”

Sapuan tangan di bahu kirinya membuat Calista tersentak, ia menoleh cepat.

Seorang pria berdiri menjulang di samping bangku yang ia duduki. Tatapannya tajam, menusuk, seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.

‘Siapa ini…?’ pikir Calista. ‘Salah satu suami pemilik tubuh ini kah?’

Ia tidak mendapatkan ingatan apa pun—entah karena belum muncul, atau memang sengaja tersembunyi.

Melihat istrinya terdiam, Damar mengerutkan dahi. Tak biasanya Sekar—atau Calista—bersikap seperti ini.

Tatapannya turun, meneliti penampilan istrinya, lalu berhenti pada rambut pendek itu.

“Rambutmu…” ucapnya menggantung. “Kamu memotong rambut panjangmu itu, Sekar?”

“Calista,” potongnya tenang. “Panggil aku Calista mulai sekarang.”

“Calista?” Damar menatapnya tajam. “Ada apa denganmu, Sekar? Benturan di kepalamu kemarin… apa merusak sebagian otakmu?” Nada suaranya dingin, nyaris mengejek.

“Aku hanya ingin memulai hal baru,” jawab Calista santai. “Anggap saja nama Sekar sudah mati dan tergantikan oleh Calista. Kalau kamu tidak menyukai itu, kamu bisa mengajukan cerai. Aku menerimanya dengan sepenuh hati.”

Damar membeku.

Cerai?

Wanita yang dulu memaksa menikah dengannya kini bicara soal cerai dengan wajah setenang ini?

“Kamu ingin menikah lagi, sek- ah, Calista maksud ku. ” ucap Damar rendah, penuh kecurigaan. “Pria mana lagi yang kamu incar sekarang?!”

Prang!

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

Calista yang sibuk mengunyah cemilan tawar seketika tersedak kaget mendengar tuduhan tak berarti Damar padanya.

Menikah lagi katanya?! Apa pemilik tubuh ini memang murahan dan tak punya otak! Hingga pria di depannya ini memikirkan hal itu?

Siapa yang ingin menikah lagi? Ia berdekatan dengan pria saja tidak pernah, nasib sial ia dapatkan karena memasuki tubuh wanita yang memiliki suami lebih dari satu.

Calista pusing memikirkannya.

"Tutup mulut mu, sialan! Siapa juga yang ingin menikah lagi, hah? " kesal Calista, ia menyugarkan rambutnya ke belakang— meredam kesal yang menggerogoti nya.

"Lalu apa maksud mu ingin bercerai? Apa ini salah satu trik murahan mu untuk menarik perhatian ku? Kalau iya, kamu salah besar akan hal itu. Aku yang ada malah makin jijik dengan semua tingkah mu. "

Kalimat itu meluncur tajam, tanpa sisa belas kasihan.

Namun reaksi Calista sama sekali tidak seperti yang ia harapkan.

Ia tidak tersentak. Tidak memucat. Tidak pula memohon.

Sebaliknya, Calista tersenyum kecil—senyum tipis yang nyaris dingin.

“Menarik perhatianmu?” ulangnya pelan, seolah sedang mencerna kata-kata itu. “Kamu terlalu percaya diri, Damar.”

Damar mengernyit. “Apa maksudmu?”

Calista bangkit dari duduknya dan melangkah satu langkah mendekat. Tatapannya lurus, tenang, dan menusuk. Tidak ada lagi bayangan wanita yang dulu selalu menunduk di hadapannya.

“Kalau aku ingin menarik perhatianmu,” ucapnya pelan namun jelas, “aku tidak akan memilih cara yang membuatmu jijik. Aku akan melakukan hal yang kau sukai—seperti dulu.”

Jeda singkat.

“Tapi sekarang aku tidak tertarik melakukan itu.”

Damar tercekat, meski ia berusaha menutupinya dengan tawa sinis. “Berhenti bicara seolah-olah kau punya harga diri. Kau lupa siapa yang dulu mengejarku mati-matian? Siapa yang memohon agar aku membalas perasaan cintamu itu?”

“Aku tidak lupa,” jawab Calista cepat, walau sesungguhnya ia tidak tau apapun. “Justru karena aku ingat, aku ingin berhenti.”

Nada suaranya datar, tidak menghakimi, tidak membela diri. Seolah ia hanya menyampaikan fakta.

“Kau menyebut ini trik murahan,” lanjutnya. “Padahal perceraian adalah satu-satunya hal jujur yang keluar dari mulutku sejak aku berada di rumah ini.”

Damar terdiam sejenak. Amarahnya belum surut, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sikap Calista benar-benar berbeda. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepanikan saat ia dicerca.

“Kau pikir aku akan mengabulkannya?” tanya Damar dingin. “Jangan bermimpi. Aku tidak akan memberimu jalan keluar semudah itu.”

Calista mengangkat bahu ringan. “Aku tidak memintamu mengabulkan. Aku hanya memberitahu.”

Ia berbalik, berjalan kembali ke bangku taman, mengambil segelas air putih, lalu meneguknya dengan tenang. Sikap santainya membuat rahang Damar mengeras.

“Kalau begitu berhentilah bertingkah,” bentak Damar. “Jangan potong rambutmu, jangan ganti nama, jangan bersikap aneh. Kembalilah seperti biasa.”

Calista berhenti minum. Ia menoleh perlahan.

“Seperti biasa?” tanyanya lirih. “Seperti istri yang kau abaikan? Yang kau hina? Yang keberadaannya hanya kau anggap gangguan?”

Hening.

“Kau bilang jijik,” lanjut Calista. “Padahal yang menjijikkan itu adalah bagaimana aku dulu rela menghapus diriku sendiri demi seseorang yang bahkan tidak pernah melihatku sebagai manusia.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan teriakan. Justru karena itu, dampaknya terasa lebih berat.

Damar menatapnya lama. Ada kemarahan, ada kebingungan, dan… sedikit rasa terusik yang tidak ingin ia akui.

“Kau berubah,” gumamnya akhirnya.

“Aku memang berubah,” jawab Calista. “Dan kali ini, bukan untukmu.”

Ia berdiri, menatap Damar untuk terakhir kalinya sore itu. “Kalau kau masih menganggapku wanita murahan yang haus perhatian, silakan. Penilaianmu tidak lagi penting bagiku.” Calista melangkah pergi meninggalkan taman.

Damar berdiri terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, kata-kata kasarnya tidak membuat Calista mengejarnya… dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih mengganggu daripada amukan atau air mata yang biasa ia dapatkan.

******

1
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
Muft Smoker
kak knp bab baru ny jdi 1 lgi ?
gx lanjuut 21 ,, 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!