Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gigitan
Lin Tian dan Jiyue terus saling beradu dahi di tengah hutan lebat itu, tidak ada yang mau mengalah karena mundur berarti mengakui kesalahan. Napas mereka saling berhembus ke wajah masing masing, dan jarak di antara mereka sangat dekat sehingga Lin Tian bisa melihat setiap detail wajah Jiyue dengan jelas. Gadis itu memiliki bulu mata yang panjang, kulit yang halus seperti porselen, dan aroma bunga lavender yang samar menyebar dari tubuhnya. Tapi Lin Tian tidak memedulikan semua itu karena saat ini ia hanya ingin memenangkan perdebatan bodoh ini.
"Hidungmu jelek," ucap Jiyue dengan nada mengejek. "Pesek seperti kera."
"Kau pikir hidungmu bagus? Mancung tapi ujungnya bengkok sedikit, seperti paruh burung beo yang patah," balas Lin Tian tanpa berpikir panjang.
"Matamu seperti mata penagih hutang. Tatapanmu membuat orang ingin kabur."
"Matamu seperti biji coklat yang kehilangan warna. Sayu dan membosankan."
Jiyue mendorong dahi Lin Tian dengan lebih keras. "Kau pria hidung belang. Berani mandi di kolam orang lain seenaknya."
Lin Tian juga mendorong balik. "Kau macan betina kepanasan. Gatal sendirian lalu menyalahkan orang lain."
"Kau... dasar kurang ajar!" Jiyue tidak tahan lagi. Ia membuka mulutnya lalu menggigit bahu Lin Tian dengan keras. Giginya yang putih menusuk jubah putih Lin Tian hingga menembus kain dan mengenai kulit di bawahnya.
"Akh!"
Lin Tian merasakan sakit yang cukup menyengat di bahu kirinya. Tanpa berpikir panjang ia membalas dengan cara yang sama, membuka mulutnya lalu menggigit bahu Jiyue dengan kekuatan yang sama besar. Bahu gadis itu terasa lembut dan kesat di antara giginya, dan aroma lavendernya semakin kuat saat ia menggigit.
"Auwh."
Jiyue menjerit kecil lalu menggigit lebih keras. Lin Tian membalas dengan gigitan yang juga lebih keras. Mereka berdua seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar memperebutkan mainan, bukannya dua kultivator dewasa yang seharusnya menyelesaikan masalah dengan pedang atau teknik. Darah mulai menetes dari bahu Lin Tian, membasahi jubah putihnya yang sudah kotor karena perjalanan. Jiyue juga mengalami hal yang sama, baju lavendernya kini berlumuran darah di bagian bahu kanan.
"Lepaskan!" teriak Jiyue dengan suara cadel karena mulutnya masih menggigit.
"Kau lebih dulu!" balas Lin Tian dengan suara yang sama cadelnya.
"Tidak mau!"
"Aku juga tidak mau!"
Mereka terus saling gigit sambil bergumam tidak jelas, posisi tubuh mereka semakin tidak karuan karena saling dorong dan tarik.
Tiga pasang mata dari kejauhan mengamati pemandangan ini dengan ekspresi yang beragam.
Kakek Jiyue mengelus jenggot putihnya sambil tersenyum puas, menganggap ini sebagai pertanda bahwa cucunya sudah akrab dengan pemuda tampan itu.
Ayah Jiyue menutup matanya dengan telapak tangan karena malu melihat anak perempuannya berkelahi seperti anak jalanan.
Paman Jiyue justru tertawa kecil karena mengingat masa mudanya yang dulu juga sering bertengkar dengan calon istrinya, sebelum akhirnya menikah.
Lin Tian akhirnya melepaskan gigitannya lebih dulu karena ia menyadari bahwa perkelahian ini tidak akan pernah berakhir jika tidak ada yang mengalah. Ia mundur selangkah lalu menahan bahunya yang berdarah sambil menatap Jiyue dengan mata kesal.
"Kau gila, benar-benar gila. Baru pertama kali bertemu, kau sudah menggigit orang," ucap Lin Tian sambil menyentuh bahunya. Luka gigitan itu cukup dalam karena Jiyue tidak main-main.
Jiyue juga memegang bahu kanannya yang berdarah. Wajahnya merah padam karena marah, tapi matanya sedikit berkaca karena rasa sakit.
"Kau yang memulainya dengan mandi di kolamku, dan mengintip. Ini semua salahmu."
Lin Tian menghela napas panjang lalu menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia sadar bahwa berdebat dengan gadis keras kepala seperti ini tidak akan membawanya ke mana mana. Yang lebih penting saat ini adalah mengobati luka di bahunya sebelum terinfeksi. Karena air liur manusia mengandung kotoran yang bisa menyebabkan luka bernanah, jika tidak segera dibersihkan. Ia menyentuh cincin penyimpanannya lalu mengeluarkan sebotol kecil pil luka dan segulung kain perban. Dengan gerakan yang sedikit canggung karena rasa sakit, ia mulai membersihkan luka di bahunya.
Jiyue melihat itu lalu membuang muka. Ia juga mengeluarkan pil luka dan perban dari cincin penyimpanannya, tapi ia tidak bisa membalut lukanya sendiri karena posisinya di bahu kanan agak sulit dijangkau. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, ia menggertakkan giginya dengan frustrasi.
Lin Tian melihat kesulitan Jiyue dari sudut matanya. Ia sebenarnya ingin pura pura tidak melihat, tapi hatinya tidak tega. Gadis itu mungkin menyebalkan, tapi tetap saja dia manusia.
"Kau butuh bantuan," ucap Lin Tian tanpa basa basi.
"Itu tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Bisa apa? Tangan kananmu tidak bisa menjangkau bahu kananmu sendiri. Itu ilmu dasar anatomi manusia."
Jiyue terdiam. Ia tahu Lin Tian benar. Setelah beberapa detik bergulat dengan egonya, ia mengulurkan kain perban dan botol pil ke arah Lin Tian. Wajahnya masih merah, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena malu.
Lin Tian menerima barang barang itu lalu duduk di samping Jiyue. Ia menuangkan cairan pil ke telapak tangannya lalu mengoleskannya ke luka di bahu Jiyue dengan lembut. Jiyue menahan napas karena rasa perih, tapi ia tidak mengeluh. Lin Tian kemudian membalut luka itu dengan kain perban, melilitkannya beberapa kali hingga cukup rapat.
"Selesai," ucap Lin Tian sambil mundur. "Sekarang giliran lukaku."
Jiyue menatap Lin Tian sebentar lalu mengambil botol pil dan kain perban dari tangannya. Lin Tian membuka jubah putihnya di bagian bahu kiri lalu membiarkan Jiyue mengobatinya. Tangan Jiyue sedikit gemetar saat mengoleskan cairan pil ke luka gigitan yang ia buat sendiri, dan rasanya aneh baginya karena beberapa menit yang lalu ia masih membenci pria ini.
Setelah luka mereka berdua terbalut, suasana menjadi canggung, tidak ada yang tahu harus berkata apa. Angin hutan berhembus pelan, membawa suara dedaunan yang bergesekan.
Lin Tian berdiri lalu merapikan jubahnya. "Ini gila. Aku bahkan tidak kenal namamu dengan jelas."
"Jiyue. Namaku Jiyue," ucap gadis itu pelan. "Kau sudah tahu namaku dari kakek, ayah, dan pamanku tadi."
"Lin Tian. Tapi mungkin kau sudah tahu karena aku mengatakannya di depan keluargamu."
Mereka berdiri diam beberapa saat, saling menatap tapi tidak ada yang berbicara. Di luar jarak pandang mereka, tepat di balik semak belukar, tiga pria dari keluarga Jiyue masih mengamati dengan penuh harapan.
"Menurutku mereka cocok," bisik kakek Jiyue.
"Aku setuju, Ayah," jawab ayah Jiyue.
"Mereka sudah saling menggigit, artinya sudah tidak ada jarak lagi," tambah paman Jiyue.
Kakek Jiyue mengangguk puas lalu berbisik, "Kita tunggu sebentar lagi. Biarkan mereka berdua menyelesaikan sendiri."